Blog Oblok Oblok

Hot

Post Top Ad

Cerita Rakyat Sumatera Utara, Sampuraga

19.15 0
Cerita Rakyat Sumatera Utara, Sampuraga
Alkisah pada zaman dahulu kala di daerah Padang Bolak, hiduplah seorang janda tua dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Mereka tinggal di sebuah gubug yang telah reot dimakan usia. Meskipun hidp miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka setiap hari bekerja sebagai tenaga upahan di ladang milik orang lain. Keduanya sangat rajin bekerja dan jujur, sehingga banyak orang kaya yang suka kepada mereka. 

Pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana yang akrab, seakan tidak ada jarak antara majikan dan buruh. 

"Wahai, Sampuraga! Usiamu masih sangat muda. Jika boleh saya menyarankan. Sebaiknya kamu pergi ke sebuah negeri yang sangat subur dan penduduknya sangat makmur.," kata sang majikan. 

"Negeri manakah yang Tuan maksud?" tanya Sampuraga penasaran. 

"Negeri Mandailing namanya. Di sana, rata-rata penduduknya memiliki sawah dan ladang. Mereka juga sangat mudah mendapatkan uang dengan cara mendulang emas di sungai karena tanah di sana memiliki kandungan emas," jelas sang Majikan.

Keterangan sang Majikan melambungkan impian Sampuraga. "Sebenarnya, saya sudah lama bercita-cita ingin pergi merantau dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu saya," kata Sampuraga dengan sungguh-sungguh.

"Cita-citamu sangat mulia, Sampuraga! Kamu memang anak yang berbakti" puji sang Majikan.

Sepulang dari bekerja di ladang majikannya, Sampuraga kemudian mengutarakan keinginannya tersebut kepada ibunya.

"Bu, Raga ingin pergi merantau dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Raga ingin mengubah nasib kita yang sudah lama menderita ini," kata Sampuraga kepada ibunya.

"Kemanakah engkau akan pergi merantau, anakku?" tanya ibunya.

"Ke negeri Mandailing, bu. Pemilik ladang itu yang memberitahu Raga bahwa penduduk di sana hidup makmur dan sejahtera, karena tanahnya sangat subur," jelas Sampuraga kepada ibunya.

"Pergilah, anakku! Meskipun ibu sangat khawatir kita tidak bisa bertemu lagi, karena usia ibu sudah semakin tua, tapi ibu tidak memiliki alasan untuk melarangmu pergi. Ibu minta maaf, karena selama ini ibu tidak pernah membahagiakanmu, anakku" kata ibu Sampuraga dengan rasa haru.

"Terima kasih, bu! Raga berjanji akan segera kembali jika Raga sudah berhasil. Doakan Raga, ya bu!" Sampuraga meminta doa restu kepada ibunya.

"Ya, anakku! Siapkanlah bekal yang akan kamu bawa!" seru sang ibu.

Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga segera mempersiapkan segala sesuatunya. Keesokan harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya,"Bu Raga berangkat! Jaga diri ibu baik-baik, jangan terlalu banyak bekerja keras!" saran Sampuraga kepada ibunya.

"Berhati-hatilah di jalan! Jangan lupa cepat kembali jika sudah berhasil!" harap sang ibu.

Sebelum meninggalkan gubug reotnya. Sampuraga mencium tangan sang Ibu yang sangat di sayanginya itu. Suasana haru pun menyelimuti hati ibu dan anak yang akan berpisah itu. Tak terasa, air mata keluar dari kelopak mata sang ibu. Sampuraga pun tidak bisa membendung air matanya. Ia kemudian merangkul ibunya, sang Ibu pun membalasnya dengan pelukan yang erat lalu berkata: "Sudahlah, Anakku! jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi," kata sang Ibu.

Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan belantara dan melewati beberapa perkampungan. Suatu hari, sampailah ia di kota Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah ditengah-tengah keramaian kota. Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu menandakan bahwa penduduk negeri itu hidup makmur dan sejahtera.

Di kota itu, Sampuraga mencoba melamar pekerjaan. Lamaran pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya raya. Sang Majikan sangat percaya padanya, karena ia sangat rajin bekerja dan jujur. Oleh karena itu sang Majikan ingin memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang diperolehnya ia tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju. Tak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya raya.

Sang Majikan sangat senang melihat keberhasilan Sampuraga. Ia berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah Kerajaan Pidoli.

"Raga, engkau adalah anak yang baik dan rajin. Maukah engkau aku jadikan menantuku ?" tanya sang Majikan.

"Dengan senang hati, Tuan! Hamba bersedia menikah dengan putri Tuan yang cantik jelita itu," jawab Sampuraga.

Pernikahan mereka diselenggarakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara tersebut diselenggarakan. Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih disediakan. Gordang Sambilan dan Gordang Boru yang terbaik juga telah dipersiapkan untuk menghibur para undangan.

Berita tentang pesta pernikahan yang meriah itu telah tersiar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu, termasuk ibu Sampuraga. Perempuan itu hampir tidak percaya jika anaknya akan menikah dengan seorang gadis bangsawan, putri seorang pedagang yang kaya raya.

"Ah, tidak mungkin anakku akan menikah dengan putri bangsawan yang kaya, sedangkan ia adalah anak seorang janda yang miskin. Barangkali namanya saja yang sama," demikian yang terlintas dalam pikiran janda tua itu.

Walaupun masih ada keraguan dalam hatinya, ibu tua itu ingin memastikan berita yang telah diterimanya. Setelah mempersiapkan bekal secukupnya berangkatlah ia ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki untuk menyaksikan pernikahan anak satu-satunya itu. Setibanya di wilayah Kerajaan Pidoli, tampaklah sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilan bertalu-talu. Dengan langkah terseok-seok, ibu tua itu mendekati keramaian. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri.

Oleh karena rindu yang sangat mendalam, ia tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba ia berteriak memanggil nama anaknya. Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya. "Ah, tidak mungkin itu suara ibu," pikir Sampuraga sambil mencari-cari sumber suara itu di tengah-tengah keramaian. Beberapa saat kemudian seorang ibu tua berlari mendekatinya.

"Sampuraga..... Anakku! Ini aku ibumu, Nak! seru ibu tua itu sambil mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Sampuraga. Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya sangat terkejut. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah membara, seakan terbakar api. Ia sangat malu kepada para undangan yang hadir, karena ibu tua itu tiba-tiba mengakuinya sebagai anak.

"Hei perempuan jelek! Enak saja kamu mengaku-ngaku sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Pergi dari sini! Jangan mengacaukan acaraku!" hardik Sampuraga.

"Sampuragaaaaa......., Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Kenapa kamu melupakan ibu? Ibu sudah lama sekali merindukanmu. Rangkullah ibu, Nak!" Iba perempuan itu.

"Tidak! Kau bukan ibuku! Ibuku sudah lama meninggal dunia. Pengawal! Usir nenek tua ini!" Perintah Sampuraga.

Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega sekali mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani menengahinya.

Perempuan tua yang malang itu kemudian diseret oleh dua orang pengawal bayaran Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, perempuan tua itu berdoa: "Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri.

Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara itu ibu Sampuraga menghilang entah kemana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain tiu, juga terdapat dua onggokan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama "Kolam Sampuraga". Hingga kini, tempat itu telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.


Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Aceh, Si Kepar

16.53 0
Cerita Rakyat Aceh, Si Kepar
Pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah di Kabupaten Aceh Tenggara, hiduplah seorang janda bersama dengan anak laki-lakinya yang bernama Si Kepar. Ayah dan ibu Si Kepar bercerai sejak ia masih berusia satu tahun, oleh karenanya ia tidak mengenal sosok ayahnya. Sebagai anak yatim, Si Kepar sering diejek oleh teman-teman sepermainannya sebagai jazah (anak tak berayah). Oleh karena itu Si Kepar ingin mengetahui siapa ayahnya sebenarnya. 

Pada suatu hari, Si Kepar menanyakan hal itu kepada ibunya. Pada awalnya, ibunya enggan menceritakan siapa dan di mana ayah Si Kepar. Akhirnya, ia terpaksa menceritakan semuanya setelah Si Kepar mengancam akan bunuh diri jika ibunya tidak bercerita. Setelah jelas siapa dan di mana ayahnya, Si Kepar pun berniat untuk menemui ayahnya di atas sebuah gunung yang sangat jauh.

Setelah berpamitan pada ibunya, Si Kepar berangkat untuk menemui ayahnya dengan membawa bekal secukupnya. Ia berjalan sendiri melewati hutan belantara, menyeberangi sungai dan mendaki gunung. Akhirnya, sampailah ia pada tempat yang dimaksud ibunya. Dari kejauhan, tampaklah seorang laki-laki setengah baya yang sedang menyiangi rumput di tengah-tengah ladangnya. Si Kepar pun segera menghampiri dan menyapanya.

"Selamat siang, Pak!"

"Siang juga, Nak!" jawab bapak itu.

"Siapakah namamu dan dari mana asalmu?" tanya bapak itu kemudian.

"Saya Si Kepar. Berasal Tanah Alas," jawab Si Kepar.

"Tanah Alas?" Bapak itu tersentak kaget mendengar jawaban Si Kepar.

"Kenapa bapak kaget mendengar nama itu?" tanya Si Kepar.

"Oh, tidak, Nak! Tidak ada apa-apa," jawab bapak itu.

"Apa yang membawa kamu ke sini, Par ?" tanya bapak itu. 

Si Kepar pun menceritakan maksud kedatangannya, namun ia tidak bercerita tentang ibunya yang masih hidup. Setelah mendengar cerita Si Kepar, tahulah Bapak itu bahwa Si Kepar adalah anaknya. 

Sejak itu, Si Kepar mulai silih berganti tinggal bersama ayah atau ibunya. Dalam seminggu, terkadang Si Kepar tidur tiga malam di tempat ayahnya, baru kembali ketempat ibunya. Bahkan, ia mengatakan kepada ibunya, bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Semua ini dilakukan oleh Si Kepar agar kedua orang tuanya menyatu kembali, sehingga ia tidak lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah. 
Segala daya dan upaya dilakukannya agar keinginannya dapat tercapai, meski ia harus berbohong kepada kedua orangtuanya. Setelah berdoa sehari semalam, Si Kepar mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Petunjuk itu adalah agar Si Kepar menyatakan kehendaknya kepada ibunya untuk memiliki ayah tiri. Harapan ini juga disampaikan kepada ayahnya untuk memiliki ibu tiri. Pada suatu malam, Si Kepar menyampaikan harapan itu kepada ibunya. 
"Ibu, sebenarnya Kepar kasihan melihat ibu yang setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika ibu ingin menikah lagi. Kepar tidak keberatan memiliki ayah tiri." 
Mendengar perkataan Kepar itu, ibunya termenung sejenak, lalu berkata, "Benarkah kamu tidak keberatan, Par?" 

"Tidak, Bu! Kepar sangat senang jika memiliki ayah lagi, agar teman-teman Kepar tidak mengejek Kepar sebagai Jazah," Kepar menjelaskan alasan sebenarnya ingin memiliki ayah lagi. 

"Tapi...., siapa lagi yang mau menikah dengan ibu yang sudah tua ini," kata ibu Kepar merendah. 

"Ibu tidak perlu khawatir. Serahkan saja masalah itu kepada Kepar," jawab Kepar dengan perasaan lega, karena jawaban ibunya menandakan bersedia menikah lagi. Keesokan harinya, Kepar pergi ke gunung menemui ayahnya untuk menyampaikan harapan yang sama. 

"Ayah! Bolehkah Kepar meminta sesuatu kepada ayah?" tanya Kepar kepada ayahnya. 

"Apakah itu anakku!" jawab ayah Kepar penasaran?

"Sebenarnya Kepar merasa kasihan melihat ayah yang setiap hari harus bekerja di ladang dan memasak sendiri. Jika tidak keberatan, Kepar akan mencarikan seorang perempuan yang pantas untuk mendampingi ayah," kata Kepar kepada ayahnya. 

"Siapa lagi yang mau dengan ayah yang sudah tua ini?" jawab ayah tersenyum.

"Tenang, ayah! Masih banyak janda-janda yang sebaya dan pantas untuk ayah di Tanah alas," kata Kepar kepada ayahnya memberi harapan.

"Ah, yang benar saja, Par!" jawab ayah Kepar dengan santainya.

Mendengar jawaban itu, Kepar pun tahu kalau ayahnya bersedia menikah lagi. Akhirnya, kedua orang tuanya menyetujui harapan Si Kepar. Namun, mereka belum mengetahui siapa jodohnya yang telah mereka percayakan kepada Si Kepar.

Setelah itu, Kepar mulai mengatur taktik dan strategi untuk mempertemukan kedua orang tuanya yang semula beranggapan bahwa pasangan mereka sudah meninggal sebagaimana keterangan Si Kepar.

Si Kepar mempertemukan mereka di sebuah dusun yang berada di lereng gunung, tidak jauh dari tempat tinggal ayahnya. Pertemuan ini tidak dilakukan di tanah alas, agar ayahnya tidak teringat dengan tempat itu, karena ayahnya dulu pernah tinggal di sana selama puluhan tahun.

Akhirnya, berkat usaha Kepar, kedua orang tuanya bersatu kembali. Mereka hidup harmonis seperti sedia kala. Melihat keadaan itu, kini saatnya Si Kepar menceritakan keadaan yang sebenarnya, bahwa perempuan yang dinikahi ayahnya itu adalah istrinya sendiri yang dulu pernah ia nikahi. Demikian sebaliknya, laki-laki yang menikahi ibunya itu adalah suaminya sendiri yang dulu pernah menikahinya. Setelah mendengar keterangan dari Si Kepar tersebut, tahulah keduanya (ayah dan ibu Kepar) keadaan yang sebenarnya. Meskipun keduanya telah dibohongi oleh anaknya, keduanya tidak marah. Keduanya saling memaafkann atas kesalahan masing-masing yang menyebabkan mereka bercerai. Mereka juga berterima kasih kepada Si Kepar, karena telah menyatukan mereka kembali. Si Kepar pun sangat senang menyambut kehadiran ayahnya. Akhirnya mereka bertiga hidup dalam sebuah keluarga yang rukun, damai dan penuh kebahagiaan. Sejak itu pula, Si Kepar tidak pernah lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah. 

Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011



Read More

Laki-Laki Yang Kawin Dengan Peri

00.48 0
Laki-Laki Yang Kawin Dengan Peri
Mau jadi anggota DPR? Boleh, asalkan dengar cerita ini. Namanya Kromo Busuk. Disebut busuk karena baunya, entah karena luka di kakinya atau keringatnya, wallahu'alam. Menurut ilmu hakekat, yang layak busuk itu hanya hati, tetapi maklumlah orang desa. Disebut kromo, atau suto atau noyo, itu sama saja, karena begitulah orang jawa diberi nama oleh orang sekitar. Kabarnya ia pernah kawin dan punya anak di desa lain. 

Pada mulanya, ia tinggal di tengah desa seperti orang-orang umumnya. Ia juga mempunyai sepetak sawah. Untuk yang tidak berkeluarga seperti dia cukuplah. Ia dapat berkebun, memelihara ayam, dan sesekali menukarkan hasil kebun ke pasar untuk garam dan pakaian. Dalam keadaan ekonomi yang bagaimanapun ia akan bisa bertahan, sebab ia tidak tergantung pada kebaikan hati pasar.

Tetapi rupanya ketenangan itu terganggu sejak tetangganya punya menantu orang luar desa. Menantu inilah yang mula-mula menyebabkan orang menuduh Kromo berbau busuk. Itu dimulai pada malam pertamanya. 

"Kau belum mandi sejak pagi," katanya pada istri. Itu sungguh diluar dugaan. Biasanya ia diam saja meskipun (calon) istri itu tidak mandi barang tiga hari. Ketika istrinya bersumpah bahwa sudah mandi, malah dikatakannya bahwa untuk menghadapi hari itu sengaja dipilihnya sabun yang paling . wangi, menantu itu pun mencari-cari sumber bau itu. Mula-mula mertuanya laki-laki. Laki-laki itu tersinggung, katanya lebih baik tidak punya menantu. Terpaksa orang banyak menyabarkannya. Untuk sementara menantu itu mengalah dan kamar pengantin itu tenang sekali. Tetapi kamar itu ribut ketika menantu minta istrinya untuk menanyakan apakah ibu mertua hari itu tidak lupa mandi. Tentu saja permintaan itu ditolak. Hanya ketika menantu itu mengancam akan menanyakan langsung, istri itu mengalah. Istri itu bisa membayangkan betapa ibunya akan marah, pengalaman dengan ayah yang disangkanya akan tersenyum dengan tuduhan itu sudah membuatnya berhati-hati. Ia tidak langsung menanyakan pada ibunya. Dengan berputar-putar akhirnya ia tahu bahwa ibunya sudah mandi.

Akan tetapi itu tidak membuat suaminya puas. Bau tidak juga hilang dari hidungnya. Maka di kamar itu terjadi lagi keributan. Sekarang giliran tetangga terdekat untuk ditanyai apakah mereka sudah mandi. Kemudian tetangga jauh mendapat giliran. Ternyata tidak juga mau menghilang bau itu.

"Ini sudah keterlaluan," kata ayah. Ketika kemarahan akan ditujukan pada menantu karena tuduhan yang tidak-tidak, tiba-tiba datang orang-orang dari Pos Kamling. Mereka juga menanyakan asal bau busuk itu.  Malam itu juga diadakan penggeledahan. Usaha itu ternyata tidak mudah, terbukti mereka tidak berhasil.

Begitulah, berkat orang-orang dari gardu, seperti kena tenung, tiba-tiba seluruh penduduk desa jadi sadar akan bau itu. Anak-anak di sekolah, di surau, di sungai saling menuduh teman-temannya. Bahkan mereka yang di ladang atau di sawah dapat menciumnya. Pendek kata, sedang bersama atau sendiri. Akhirnya diadakan penelitian dari rumah ke rumah. Pada waktu itu ketahuan bahwa sumber bau busuk itu itu ialah Pak Kromo. Sudah barang tentu hal itu tidak diakui Pak Kromo sendiri. Katanya ia sudah mandi, suruh pakai sabun sudah, suruh minum jamu juga sudah, padahal ia tidak luka sedikit pun.

 ***
DIAM-DIAM Kromo membangun gubug baru di pinggir desa dan pindah ke sana. Akan tetapi, ternyata hal itu tidak memecahkan masalah. Bau busuk tidak juga hilang dari hidung orang desa. Pada malam hari orang masih mengeluh. Ketika Kromo pergi ke warung, warung itu akan ditinggalkan pembeli. Demikian pula kalau dia nonton wayang, orang akan bubar dan tinggal dalang, pesinden, dan niyaga yang melanjutkan dengan menutup hidung sekenanya. Para gadis desa tidak laku, karena jejaka-jejaka takut dengan bau yang akan menghalangi. Malam bulan purnama juga sepi. Desa itu jadi sarang hantu. Pencuri berkeliaran dengan leluasa di malam hari, karena gardu ronda tidak dijaga 

Kromo menyadari hal itu. Malam hari dia akan keluar desa untuk tidur di tengah sawah yang berbatu-batu, dan tidak dikerjakan, karena orang percaya itu tempat angker. Kromo sudah bertekat karena mati pun tidak ada orang kehilangan. Orang sudah berusaha mencegahnya dengan mengatakan bahwa tempat tinggalnya yang di pinggiran desa itu sudah lebih dari cukup. Tetapi ia sudah bertekad bulat. Menjelang malam orang akan melihat dia mengempit selembar tikar usang menuju ke batu di tengah sawah untuk tidur. Baru pagi-pagi ia pulang. Praktis ia tidak bisa bekerja, sebab orang akan bubar untuk menjauhinya. 

Suatu malam, seorang wanita cantik tiba-tiba sudah ada di dekatnya. Ia tidak tahu dari mana perempuan itu datang. 

"Jangan takut, kaki. Saya ingin tahu kenapa kenapa setiap malam kau di sini." 

Entah apa sebanya, tetapi rasa takutnya hilang. Maka ia pun bercerita tentang kesulitannya dengan orang. Ketika dia mengakhiri ceritanya perempuan itu berkata; 
" Sudah, kaki. Kalau bangsa manusia tidak mau mengerti, jangan susah." 

Malam berikutnya, ia dikawinkan di depan penghulu Naib Kecamatan yang sudah dikenalnya. Dihadirkan juga saksi-saksi. Perempuan yang dikawininya rasa-rasanya ia pernah ketemu sebelumnya tetapi ia lupa di mana. Ia enggan bertanya, pokoknya wanita itu cantik di luar bayangan orang yang paling gila sekalipn. Dan Malam itu dia memberikan kenikmatan yang luar biasa - yang tidak mungkin diceritakan demi sopan santun. 

Malam berikutnya, beberapa orang yang kurang pekerjaan mencoba mengikutinya. Tetapi mereka akan kehilangan jejak ketika Kromo sudah memasuki sawah berbatu-batu dan tak ditanami itu. 

Masih disaksikan oleh mereka angin bertiup sepoi-sepoi dan pucuk padi tertunduk teratur, seperti angin sedang berjalan diatasnya. Katak-katak berbunyi serempak juga kunang-kunang menuju tengah sawah. Udara menjadi dingin bukan main dan rasa kantuk yang tak tertahankan menyerang orang-orang dari gardu. Satu per satu mereka menguap dan tertidur di sembarang tempat. Kalau hari hujan dikabarkan bahwa tempat itu tidak kehujanan. 

***
BEGITULAH yang terjadi untuk beberapa lama. Kalau Kromo kesiangan, orang akan menemukannya sedang mendekap sebuah batu. Yang mengherankan ialah rambut Kromo yang tidak putih, meskipun orang sebayanya sudah. Adapun bau tidak juga hilang, malah lebih keras. Kalau dulu hanya di malam hari sekarang juga tercium di siang hari. Sampai-sampai anak-anak sekolah disuruh menimbuni sampah dan membersihkan semak-semak di sekitar sekolah. 

Pak Kromo hampir dilupakan orang, kalau tidak seseorang melihat orang itu tiba-tiba sudah tua renta. Komentar orang bermacam-macam. "Itu biasa karena sebayanya malah sudah mati". "Itu biasa, salahnya kawin dengan peri. Aku punya pengalaman daya sedot peri sungguh luar biasa, hingga tubuh bisa kering-kerontang kalau terlalu sering ketemu. Apalagi tiap malam." 

Pada suatu malam ada dua orang berpakaian seperti ketoprak datang di gardu ronda. Seorang dengan pakaian kesatria lengkap dengan kudanya, seorang lagi berpakaian lebih buruk tapi juga menunggang kuda. Nampaknya mereka pangeran dan pembantunya. Mereka menanyakan kenapa orang-orang desa menghina Pak Kromo, padahal dia orang baik-baik. Ia tidak pernah menyakiti orang, selalu berkata lembut, menundukkan muka, suka menolong, tidak sombong, dermawan dalam kemiskinannya, suka memberi dalam kefakirannya. Pendek kata ia termasuk orang-orang terbaik di desa. Tenta saja itu tidak butuh jawaban. Tidak seorang pun tahu ke mana para penunggang kuda itu pergi. Segera orang berkumpul. Perkara berkumpul tidak ada yang menandingi orang desa. Kemudian terdengar ledakan keras di tengah sawah, sementara bau wangi tercium di mana-mana. Mereka segera pergi ke sawah. Masih mereka saksikan asap membubung ke atas. Tahulah mereka bahwa Pak Kromo sudah meninggal dunia. Mereka hanya menemukan batu-batu, rumput, dan tikar. Mereka mengambil kesimpulan bahwa jenazah Pak Kromo dibawa ke dunia lelembut. Tiba-tiba orang merasa kehilangan. Sebagian orang merasa berdosa telah menyengsarakan Pak Kromo. 

Sejak itulah terjadi pageblug, epidemi, di desa. Tidak bayi, tidak remaja, tidak orang tua semua terkena. Pagi sakit sore mati, sore sakit pagi meninggal, siang masih mencangkul di sawah malam hari sakit, ibu-ibu kehabisan air susu. Orang sudah berusaha dengan membawa obor keliling desa, perempuan-perempuan telanjang mengelilingi rumah dan menyanyikan Dandanggula, "Ana kidung rumeksa ing wengi". Tapi keadaan tidak menjadi baik, malah sebaliknya yang terjadi. Habislah akal orang. 

Akhirnya datanglah kyai itu. Ia mengatakan kalau orang desa kurang bersyukur dan menganjurkan sedekah. Kemudian disepakati bahwa orang desa akan mengadakan kenduri dan mengaji sebagai layaknya orang menghormati yang sudah meninggal. Namun, yang mati tidak akan kembali lagi. Entah bagaimana nasibnya. Ada yang mengatakan dia jadi pengawal di sananya, ada yang mengatakan dia jadi pangeran di sana, ada yang mengatakan dia jadi sais di sana. Ada yang mengatakan dia jadi tukang rumput, dan ada pula yang mengatakan dia jadi rakyat biasa. Yang penting pakaiannya bagus-bagus dan dia jauh lebih muda. Ada yang pernah berjumpa, dan mengajaknya pulang. Betul dia menangis karena dunia ialah tempat yang sebaik-baiknya, meskipun penuh penderitaan, tetapi ia terikat perjanjian. 

Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun. 
 
Yogyakarta, 14 April 1994
Kompas, 24 April 1994

Sumber: 
Penulis : Kuntowijoyo
Buku Laki-laki yang Kawin Dengan Peri ( Cerita Pilihan "Kompas" 1995) 
Penerbit. PT. Kompas Media Nusantara, Juni 1995
Read More

Mencari Calon Putra Mahkota

09.42 0
Cerita dongeng, Mencari Calon Putra Mahkota
Ada seorang raja tua yang mempunyai tiga orang anak laki-laki. Raja itu bingung memilih calon pengganti yang akan ditunjuk sebagai putra mahkota. Sebenarnya, bisa saja ia menunjuk salah seorang putra yang ia sukai, Akan tetapi, tetapi ia khawatir bahwa putra pilihannya itu tidak mencintai rakyatnya. Raja yang tidak cinta kepada rakyat tidak akan memikirkan nasib rakyat. Ia akan dimusuhi rakyatnya. 

Akhirnya raja mendapat ilham untuk menguji ketiga putranya. Ketiga putranya dipanggil menghadap. Raja berkata, "Anak-anakku tercinta, saat ini aku akan menguji kalian dengan satu pertanyaan. Siapa yang paling bagus jawabannya, pertanda ia berhak menjadi putra mahkota yang akan kunobatkan menjadi penggantiku. Bagaimana, siapkah kalian bertiga untuk menjawab?" 

"Siap, Ayah!" jawab ketiga putra itu. 

"Pertanyaannya begini, kalau kalian menjadi raja, seperti apa besar cintamu kepada rakyatmu?" 

Putra tertua mengacungkan tangan. Raja mempersilakan anak itu menjawab. 

"Cintaku kepada rakyatku setinggi gunung," jawab putra tertua. 

Kemudian putra kedua menjawab, " Cintaku kepada rakyatku setinggi bintang." 

"Kini, giliranmu untuk menjawab," kata raja kepada si bungsu. 

"Cintaku kepada rakyatku seperti garam," jawab si bungsu. 

"Sekarang aku ingin tahu, mengapa cintamu kepada rakyatmu setinggi gunung?" kata raja kepada putra tertua.
"Gunung itu tinggi dan besar. Di dunia ini tidak ada benda sebesar gunung. Karena itu, tak ada yang bisa menandingi cintaku kepada rakyatku," jawab putra tertua. 

"Di pulau Madura ini tak ada gunung, yang ada hanya bukit-bukit. Di manakah engkau pernah melihat gunung?" tanya raja. 

"Aku belum pernah melihat gunung. Kata orang di Jawa banyak gunung yang tinggi sampai ke awan." 

"Engkau telah membuat perumpamaan benda yang belum pernah engkau lihat," kata raja agak kecewa terhadap penjelasan putra tertua. Kemudian, ia menunjuk putra kedua untuk mengemukakan alasan. 

"Bintang itu benda paling tinggi, jika cintaku kepada rakyatku setinggi bintang, berarti cintakulah yang paling tinggi," kata putra kedua. 

"Mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti garam?" tanya raja kepada si bungsu. 

"Karena hidupku sehari-hari membuat garam bersama orang-orang kecil. Selain itu, setiap manusia di dunia selalu memerlukan garam pada saat makan. Jika cintaku seperti garam, berarti semua orang akan merasakan secara nyata wujud cintaku. Tak seorangpun rakyatku yang tidak mendapat cintaku, Itu maksud cintaku seperti garam," jawab si bungsu. 

Mendengar jawaban si bungsu, raja mengangguk-angguk sambil tersenyum. Agaknya, raja puas sekali dengan jawaban terakhir itu. Setelah diam sejenak, raja pun berkata, "Sekarang tiba saatnya bagiku memberi penilaian terhadap jawaban kalian. Anakku tertua bermisal dengan benda yang belum pernah dilihat. Pikiranmu terpengaruh pada apa yang engkau dengar dari orang. Jawaban anakku nomor dua yang bermisal dengan bintang menunjukkan bahwa engkau terlalu berpikir tentang benda yang jauh dari bumi, sedangkan benda bumi sendiri kauabaikan. Kemudian, jawaban anakku yang bungsu menunjukkan bahwa engkau berpikir dengan kehidupan nyata yang ada di Pulau Madura ini. Cintamu kepada rakyatmu yang seperti garam sungguh jawaban yang sangat tepat. Hal itu menunjukkan bahwa engkau dekat dengan kehidupan rakyat kecil. Oleh karena itu, aku memutuskan, anak bungsuku yang berhak menjadi putra mahkota." 

Kesimpulan
Cerita ini bisa digolongkan ke dalam dongeng nasehat yang berisi ajaran penting bagi orang-orang yang akan menjadi pemimpin. Menurut cerita ini, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memikirkan kehidupan dan kepentingan rakyatnya sehari-hari. 
Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo
Read More

Pak Molla

00.24 0
cerita dongeng anak pak molla
Malam itu Pak Molla mendayung perahu kecilnya yang bercadik menuju laut lepas. Ketika berangkat meninggalkan kampung nelayan yang kecil itu, hujan gerimis membasahi tubuhnya. Jangankan hujan gerimis, hujan lebat pun kadang-kadang ia abaikan untuk memperoleh ikan di laut. 

Pak Molla adalah seorang nelayan di salah satu pulau di Kepulauan Sapeken. Pulau itu dapat ditempuh dengan berlayar selama lima belas jam dari Pulau Madura. Penghasilannya dari memancing ikan tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk belanja sehari-hari. 

Setelah perahunya agak jauh dari darat, Pak Molla mulai membuka layar. Angin sepoi-sepoi membawa perahu itu melaju di atas ombak yang tidak terlalu besar. Kemudian, ia melemparkan pancing ke laut. Ia bernyanyi-nyanyi menunggu pancingnya didekati ikan. 

Setelah dua jam di laut, beberapa ikan tongkol berhasil ditangkap Pak Molla. Hatinya mulai gembira. Gerimis pun mulai reda. 

Pada saat perahunya sedang melaju, tiba-tiba Pak Molla merasakan perahunya menabrak sesuatu. Dalam keadaan gelap, ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Lalu, ia menghentikan perahunya dan menyelidiki sekitar tempat perahunya menabrak tadi. Setelah mencari ke sana kemari, tiba-tiba ia melihat sebilah papan. Setelah diperhatikan agak cermat, ternyata ada orang memeluk papan itu.

"Pasti awak perahu yang kena musibah di laut," pikir Pak Molla menaikkan orang itu ke perahu. Orang yang ditolong itu hampir tidak punya daya. Pak Molla menanyakan sesuatu kepada orang itu, tetapi ia tak bisa menjawab. Agaknya, ia belum sanggup berbicara karena ingatannya belum pulih benar.

Saat itu juga, Pak Molla memutar haluan menuju kampungnya. Setelah tiba di pantai, ia menambatkan perahunya. Lelaki yang ia tolong itu digendong ke rumah. Pak Molla segera mengganti pakaian orang yang belum diketahui dari mana asalnya itu. Kemudian, orang itu ditidurkan di balai-balai.

Pak Molla segera menyuruh istrinya membuat bubur. Setelah matang, bubur itu disuapkan kepada lelaki yang tidak dikenal itu.

"Meskipun tidak enak. Anda harus berusaha makan agar sehat kembali," kata Pak Molla kepada orang itu.

Lelaki itu mulai membuka mulut. Istri Pak Molla menyuapinya. Setelah kira-kira sepuluh sendok, orang itu menggelengkan kepala. Ia merasa sudah cukup.

Setiap hari lelaki tidak dikenal itu mendapat perawatan dan pelayanan yang memuaskan dari Pak Molla dan istrinya. Bahkan sejak di rumahnya ada lelaki itu, Pak Molla tidak pergi memancing ke laut agar ia bisa memberikan pelayanan dan pengobatan yang baik kepada lelaki malang itu.

Empat hari kemudian, lelaki dari seberang itu sudah mulai duduk. Pak Molla sangat senang karena orang yang ditolongnya punya harapan untuk hidup,

"Saya ingin tahu asal-usul Anda," tanya Pak Molla.

"Saya berasal dari Tanah Bugis, Sulawesi," jawab lelaki itu dengan suara hampir tidak terdengar. Kemudian ia melanjutkan. "Saya seorang awak perahu yang sedang berlayar menuju Pulau Jawa. Setelah beberapa hari berlayar, tiba-tiba perahu saya menabrak batu karang pada malam buta. Perahu itu hancur berkeping-keping. Untunglah, saya dapat berpegangan pada sekeping papan. Saya dihanyutkan arus dan dipermainkan gelombang kesana kemari. Entah beberapa malam saya berada di laut lepas sebelum Bapak menemukan saya."

Setelah mendengarkan pengalaman hidup orang itu. Pak Molla bertanya, "Apa maksud Anda kalau sudah sembuh? Apakah Anda tetap mau berkumpul bersama saya di sini atau Anda ingin kembali ke kampung halaman Anda?"

"Saya ingin sekali pulang," kata laki-laki itu, " saya punya istri dan anak. Mereka tentu sangat mengharapkan kepulangan saya. Saya juga sangat merindukan mereka. Tetapi, apa mungkin saya bisa pulang? Kampung halaman saya sangat jauh dari sini, sehingga saya perlu biaya besar, padahal saya sudah tidak punya apa-apa lagi."

"Tenanglah sahabat," kata Pak Molla sambil memegang pundak lelaki yang mulai meneteskan air mata itu. "Berdoalah kepada Tuhan, agar Anda segera berjumpa dengan anak istri Anda."

Setelah seminggu berada di rumah , Pak Molla, orang yang ditemukan di laut itu sehat kembali. Ia bisa berjalan cepat menuju sumur untuk mandi. Ia sangat berterima kasih atas keikhlasan hati Pak Molla merawatnya sampai ia sehat kembali.

Siang itu, Pak Molla mengajak istrinya ke tepi pantai. Istrinya heran karena hal itu jarang dilakukan Pak Molla. Biasanya Pak Molla mengajak istrinya berjalan-jalan ke pantai pada malam bulan purnama, sambil melihat air laut pasang mengantarkan buih-puih ke pantai.

"Ada apa engkau mengajakku ke pantai pada siang hari seperti ini?" tanya istrinya.

"Ada sesuatu yang perlu kurundingkan denganmu," jawab Pak Molla.

"Kenapa kita tidak berunding di rumah saja?" tanya istrinya.

"Kalau dilakukan di rumah akan terdengar orang yang kita tolong itu. Perundingan ini tidak boleh ia ketahui.

"O, begitu," kata istri Pak Molla. "Ayo katakan segera, aku ingin tahu."

"Begini. Aku akan bertanya kepadamu, bagaimana jika seandainya aku dengan perahuku terdampar di sebuah negeri yang jauh? Kemudian, aku tidak bisa pulang karena tidak punya ongkos, sedangkan aku sangat rindu padamu."

"Aku dan anakmu pasti akan sedih," jawab istri Pak Molla.

"Kemudian, dalam keadaan susah seperti itu, ada seseorang mengulurkan tangan memberi uang secukupnya kepadaku untuk pulang."

"Engkau akan gembira. Aku dan anakmu akan sangat gembira. Kita sangat berterima kasih kepada orang yang memberimu uang itu," kata istrinya.

"Nah, orang yang sangat memerlukan pertolongan untuk bertemu anak istrinya itu sekarang ada di rumah kita. Betapa gembira anak istrinya kalau ia bisa pulang ke kampungnya," kata Pak Molla.

"Apa yang bisa kita bantu? Kita sendiri tidak punya uang," kata istrinya.

"Asalkan engkau mau menolong, bisa saja ia pulang ke kampungnya. Apakah engkau mau menolongnya?" tanya Pak Molla.

"Mau. Aku akan senang menolongnya," jawab istrinya.

"Kalung yang tergantung di lehermu itu kalau dijual kukira cukup sebagai ongkos pulang ke Tanah Bugis," kata Pak Molla.

"O, ya," ujar istri Pak Molla sambil tersenyum. Kemudian, ia melepaskan kalung itu dari lehernya." Juallah kalung ini, aku akan berbahagia  kalau ia bisa berkumpul dengan anak istrinya.

Hari itu juga kalung itu ditawarkan Pak Mola kepada tetangganya. Untunglah kalung emas itu terjual dengan harga yang pantas.

Keesokan harinya, Pak Molla dan istrinya naik perahu mengantarkan orang dari Tanah Bugis itu menuju pelabuhan Sapeken. Di pelabuhan Sapeken ia dilepas, ikut perahu besar menuju ke Surabaya. Dari Surabaya ia akan menumpang perahu ke Makasar, sekarang bernama Ujung Pandang.

Dua tahun telah berlalu, Pak Molla dan istrinya tetap hidup rukun dan damai. Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat keluarga itu agak susah. Sejak membantu orang dari Tanah Bugis itu, rezeki Pak Molla makin berkurang. Jika ia pergi memancing, hasilnya sangat sedikit, tidak sampai sepertiga dari pendapatannya dulu.

"Seandainya kalung Ibu tidak dijual untuk menolong orang Bugis itu, kita tidak akan mengalami paceklik seperti ini," kata anak perempuannya yang sudah remaja.

"Sabarlah, Anakku," jawab istri Pak Molla. "sesuatu yang telah disedekahkan kepada orang tak perlu diingat lagi."

"Ibumu melepaskan kalung itu dengan ikhlas," kata Pak Molla kepada anaknya. "Jangan menggagalkan amal baik yang telah kita perbuat dengan menyesalinya seperti itu. Sepantasnya kita berbahagia karena telah mengorbankan sesuatu kepada orang lain."

Pada suatu malam, saat bulan sedang purnama. Pak Molla tidak pergi memancing karena ia ingin bergembira dengan anak istrinya di pantai. Cahaya bulan yang keemasan terpantul di atas permukaan laut.

Ketika Pak Molla sekeluarga sedang duduk bercanda di atas pasir pantai, tiba-tiba datang seseorang sambil berkata, "Saya ingin menjumpai Pak Molla."

"Ya, saya Pak Molla," jawab Pak Molla agak terkejut. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tidak dikenal itu karena orang itu membelakangi cahaya bulan.

"Saya akan menyampaikan kiriman dari orang yang pernah Bapak tolong di tengah laut," kata orang itu sambil menyerahkan kantong yang tidak jelas isinya. "Uang ini mohon dibelikan kelapa. Hasil panen kelapa itu, untuk biaya hidup Bapak sekeluarga."

Setelah menerima kantong itu, Pak Molla segera membukanya. Terlihat uang logam berkilauan di bawah sorotan cahaya bulan.

"Uang emas! Uang emas!" teriak istri Pak Molla.

Agak lama Pak Molla sekeluarga terpana melihat satu kantong uang emas itu, mereka takjub bercampur gembira. Setelah itu, Pak Molla menoleh untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang menyampaikan kiriman itu. Ternyata, orang itu sudah tidak ada di situ. Pak Molla melihat ke sana kemari. Tidak ada orang. Kemudian, Pak Molla dan anak istrinya melihat ke arah laut. Mereka melihat ada orang berjalan di atas permukaan laut menuju arah bulan purnama. Di kejauhan orang itu menoleh dan melambaikan tangan. Sesudah itu, ia tidak tampak lagi.

Beberapa minggu kemudian, Pak Molla telah membeli seribu batang pohon kelapa dan beberapa hektar tanah. Tidak mengherankan kalau Pak Molla kemudian hidup bahagia lahir dan batin.

Kesimpulan
Cerita ini termasuk dongeng. Hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini adalah orang yang ikhlas beramal untuk kemanusiaan pada suatu ketika akan mendapat berkat dari Tuhan.


Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo
Read More

Dua Ekor Kambing Yang Congkak

18.19 1
Dua Ekor Kambing Yang Congkak
Ada seekor kambing yang sangat sehat meskipun tubuhnya kecil. Karena tanduknya bagus seperti pisau, teman temannya memanggilnya dengan julukan si Tanduk. Dia sangat bangga dengan panggilan itu. Jika pergi minum air ke sungai bersama teman temannya, dia selalu pulang paling akhir. Teman temannya sudah naik dan kembali ke padang, dia masih tetap di sungai. Apa gerangan yang dia kerjakan di situ ? Dia asyik memandangi bayangan tubuhnya dan bayangan kedua tanduknya yang tergambar di permukaan air.

Pada saat mengagumi dirinya seperti itu, dia berkata dalam hati, "Sungguh indah kedua tandukku. Mungkin akulah kambing tergagah di seluruh dunia. Pantas, semua kawanku segan padaku karena mereka takut akan ketajaman tandukku."

Setelah puas memandangi bayang bayang dirinya, barulah dia menaiki tebing sungai dan berkumpul dengan teman temannya.

Padang tempat si Tanduk makan rumput itu terletak di sebelah timur sungai. Sesekali si Tanduk ingin berjalan jalan ke barat sungai untuk memperluas pengalaman. Selain itu, dia ingin memperlihatkan tanduknya yang bagus kepda bangsa kambing yang tinggal di sebelah barat sungai. Meskipun lebar sungai itu hanya lima meter, bangsa kambing agak sulit menyeberang karena sir sungai cukup dalam.
Jembatan yang dipasang manusia untuk menyeberang sungai itu hanya berupa jembatan bambu yang tidak mungkin dilewati kambing. Oleh karena itu, keinginan si Tanduk untuk berjalan jalan ke barat sungai tinggal impian belaka.

Pada bulan Februari, angin barat di Pulau Madura sangat keras bertiup. Curah hujan juga deras. Angin yang bertiup keras itu merobohkan banyak pohon. Sebtang pohon kelapa yang tumbuh di tebing barat sungai roboh. Batang pohon kelapa itu tepat melintang sungai. Orang orang yang akan melintasi sungai itu kini menggunakan pohon kelapa yang roboh itu sebagai jembatan . Enak sekali mereka berjalan di atas pohon kelapa itu.

Melihat manusia lalu lalang melintasi sungai, si Tanduk ingat akan ke inginannya untuk berjalan jalan ke barat sungai. Pikirnya,"Kini tibalah saatku untuk memperlihatkan tandukku ke barat sungai. Kambing kambing yang ada disana pasti kagum akan keindahan tandukku."

Tanpa bicara kepada teman temannya, si Tanduk cepat melangkah mendekati jembatan yang berasal dari pohon kelapa yang roboh itu. Ketika ia mulai naik dari ujung jembatan sebelah timur, dari tebing sebelah barat naik pula seekor kambing hitam berjenggot lebat.

"Hei, kambing hitam," tegur si Tanduk,. "mau kemana engkau?"

"Jangan seenaknya engkau memanggil aku kambing hitam. Apa engkau tidak melihat jenggotku yang lebat?"

"Ya, aku melihat," jawab si Tanduk.

"Karena itu, panggil aku si Jenggot. Semua kambing kagum akan kehebatan jenggotku yang indah ini. Aku akan berjalan jalan ke timur sungai. Kambing kambing di sana akan kagum pada jenggotku ini. Tolong Kawan, beri aku jalan. Turunlah engkau dari ujung titian sebelah timur itu!" kata si Jenggot.

" Aku yang lebih dulu menginjakkan kaki di atas jembatan ini, " kata si Tanduk bertahan," aku mau ke sebelah  barat sungai. Engkaulah yang harus turun dari jembatan di tebing sebelah barat itu."

" Engkau harus mengalah," kata si Jenggot.

" Engkau yang harus mengalah," desak si Tanduk.

"Apa engkau tidak kenal, siapa aku?"

"Akulah si Tanduk. Lihat tandukku, panjang dan tajam bukan?" kata si Tanduk.

Sambil berdebat, kedua kambing itu terus berjalan.
" Meskipun tandukmu hebat,"kata si Jenggot," aku minta engkau mundur dan memberikan jalan untuk ku."

"Tidak bisa, engkau harus mengalah," kata si Tanduk.

"Semua kambing hormat kepadaku. mentang mentang tandukmu hebat tidak memberikan jalan kepadaku. Ayo mundur!" kata si Jenggot.

"Tidak," jawab si Tanduk," aku tidak akan mundur."

Hati si Jenggot semakin panas. Dia berkata, " Kalau tidak mau mundur, engkau akan ku hantam."

"Baik," sahut si Tanduk," kalau engkau tidak mau mengalah dan tidak mau mundur, kedua matamu akan kutusuk dengan tandukku."

Di atas jembatan itu, si Jenggot menyerang si Tanduk. Si Tanduk pun tidak tinggal diam. Dia segera menanduk si Jenggot sehingga pelipis si Jenggot terluka dan berdarah. Kedua kambing itu terus berlaga dengan hati panas. Mereka lupa bahwa mereka bertarung di atas sungai.

Ketika si Jenggot menyerang dengan seluruh kekuatannya, si Tanduk bertubuh kecil itu tidak mampu bertahan. Akhirnya, dia jatuh ke sungai. Si Jenggot yang menyerang sekuat tenaga terpeleset dan jatuh ke sungai. Kedua kambing yang tidak bisa berenangitu tetap berusaha untuk hidup, tetapi air sungai yang deras menghanyutkan keduanya ke hilir. Beberapa menit kemudian kedua kambing yang malang itu menemui ajalnya.

Kesimpulan
Cerita ini termasuk fabel, yaitu dongeng tentang binatang yang bisa berbicara seperti manusia. Dalam ceritra ini kita mendapatkan pelajaran bahwa sifat sombong dan mementingkan diri sendiri bisa mendatangkan malapetaka. Seandainya kedua kambing itu rendah hati, atau salah satu di antaranya ada yang mau mengalah , tentu keduanya akan selamat.,

Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo

Read More

Pak Jalmo

19.52 1
pak jalmo sombong setelah menjadi orang kaya
Pak Jalmo Sombong Setelah Kaya
Di salah satu pulau yang terletak jauh di sebelah timur Pulau Madura pernah hidup seorang petani sederhana, Pak Jalmo namanya. Ia hidup dengan seorang istri dan dua orang anaknya. Pak Jalmo adalah orang yang sabar, rendah hati, serta suka membantu tetangganya.

Pada suatu ketika, berkunjunglah seorang sahabat Pak Jalmo. Pak Jalmo pun menceritakan kepada sahabatnya itu bahwa hasil panen yang ia dapatkan selalu tidak cukup dimakan selama satu tahun. 

Sahabat yang baik itu merasa kasihan kepada Pak Jalmo. Kemudian, ia berkata, "Hutan di sebelah selatan pekaranganmu ini sebenarnya bisa dibuka untuk pertanian. Tanahnya cukup bagus untuk dijadikan ladang jagung." 

"Tetapi, saya tidak punya biaya untuk membuka hutan," jawab Pak Jalmo. 

"Kalau engkau minta tolong kepada para tetangga, aku kira mereka siap membantumu," kata sahabatnya. 

"Tetapi saya malu minta tolong kepada para tetangga," jawab Pak Jalmo. 

"Kalau engkau malu, biarlah aku akan berbicara dengan mereka. Aku yakin mereka akan sangat senang membantumu." 

Beberapa hari kemudian, orang-orang desa berkumpul di halaman rumah Pak Jalmo. Mereka bekerja menebang pohon-pohon di hutan yang terletak di sebelah selatan rumah Pak Jalmo. Mereka bekerja sambil bernyanyi dengan gembira. Mereka membantu Pak Jalmo dengan hati ikhlas tanpa mengharap imbalan. 

Dua minggu lamanya mereka bekerja menebang hutan, akhirnya terbentanglah tanah ladang seluas empat hektar, Pak Jalmo dan istrinya sangat gembira mempunyai ladang seluas itu. 

"Kini kita menunggu datangnya musim hujan," kata Pak Jalmo kepada istrinya

"Kalau hujan turun, ladang kita itu hendak kau tanam apa?" tanya istrinya. 

"Jagung, ketela, kacang, dan sayur-sayuran," jawab Pak Jalmo. 

Suami istri itu berharap hujan segera turun. Mereka ingin segera mengolah tanah ladangnya menjadi sumber rezeki. Akhirnya, musim hujan pun datang. Pak Jalmo dan istrinya menyambut turunnya hujan dengan hati gembira. Ladang baru itu pun mulai dikerjakan. Karena Pak Jalmo tidak punya sapi untuk membajak, sebagian tetangga membantu membajakkan sawahnya. Demikian pula halnya bibit yang hendak ditanam, karena Pak Jalmo tidak punya persediaan, para tetangga menyumbang bibit padi untuk ditanam. 

Apa pun yang ditanam Pak yang Jalmo di ladangnya, ternyata bisa tumbuh dengan baik, meskipun tidak terlalu subur. Pak Jalmo bersama istrinya tidak bosan-bosannya menyiangi rumput-rumput liar yang dirasa menganggu tanaman. 

Musim panen pun tiba. Hasil panen yang diperoleh Pak Jalmo cukup menggembirakan. 

"Apakah tidak sebaiknya sebagian hasil panen kita itu dijual?" kata istrinya. 

"Untuk apa?" tanya Pak Jalmo

"Untuk dibelikan seekor anak sapi" 

"Usul yang baik," jawab Pak Jalmo sambil tersenyum. 

"Tahun depan, kalau panen baik, kita beli seekor sapi lagi," kata istrinya. "Tiga atau empat tahun lagi setelah anak sapi itu besar, kalau kita hendak membajak tanah tidak perlu pinjam atau minta bantuan tetangga lagi. 

"Terima kasih atas usulmu itu," jawab Pak Jalmo dengan gembira. 

Keesokan harinya, sebagian hasil panen Pak Jalmo dijual. Dari hasil penjualan itu, Pak Jalmo membeli seekor anak sapi. Ia sangat sayang pada sapinya itu. Ia selalu mencarikan rumput yang bagus untuk sapi itu. Tahun berikutnya, hasil panen Pak Jalmo semakin bagus, ia pun membeli seekor anak sapi yang sebaya dengan anak sapi sebelumnya. 

Dua tahun kemudian, Pak Jalmo sudah bisa membajak ladang tanpa bantuan para tetangga. Ia semakin tekun bertani. Kotoran dua ekor sapinya dibakar dengan daun dan rumput, kemudian dijadikan pupuk untuk menyuburkan tanah. Oleh sebab itu, panen yang diperolehnya semakin melimpah. Kini Pak Jalmo telah menjadi orang berkecukupan menurut ukuran orang di pulau itu. 

Kehidupan Pak Jalmo sekeluarga memang sudah berubah. Akan tetapi, perubahan itu bukan hanya dari miskin menjadi kaya. Dulu, ia dikenal sebagai orang yang rendah hati serta suka membantu tetangga, sekarang ia menjadi orang yang kurang senang bergaul. Ia hanya sibuk mengurus pertaniannya sendiri sehingga tidak sempat membantu para tetangga yang memerlukan bantuannya.

Pada suatu hari, dua orang tetangganya bercakap-cakap di sebuah kebun. Salah seorang berkata," Ketika Pak Jalmo belum punya sapi, setiap hendak membajak ladangnya selalu pinjam sapiku. Sekarang, setelah menjadi petani agak kaya, ketika aku mau pinjam sapinya untuk membajak sawahku, ia tak mau membantu. Katanya, sapinya akan dipakai untuk membajak ladangnya sendiri. Setelah aku selidiki, ternyata hari itu ia tidak membajak."

"Yang aku herankan," jawab yang lain," sebelum ia kaya seperti sekarang, ia sering datang ke rumahku. Ia bersahabat akrab denganku. Tetapi setelah berkecukupan, ia tak pernah datang ke rumahku. Aku mencoba mengalah, aku sendiri yang mendatangi rumahnya pada hari raya yang lalu. Ternyata, ia menyambutku dengan dingin, tidak segembira ketika aku bersilaturahmi ke rumahnya lima atau enam tahun yang lalu."

Itulah antara lain kesan-kesan sebagian tetangga Pak Jalmo. Akan tetapi, tidak ada satu orang pun berani mengingatkannya. Tahun pun terus berjalan. Pak Jalmo semakin kaya.

Pada tahun kesepuluh sejak ladang baru itu dibuka, panen Pak Jalmo sungguh diluar dugaan. Jagung, ketela, labu, kacang panjang, kacang hijau, dan lain-lain melimpah memenuhi lumbungnya. Pak Jalmo benar-benar menjadi orang kaya di kampung itu.

Sikap Jalmo yang semakin angkuh dengan kekayaannya itu membuat guru mengajinya sewaktu kecil perlu menjumpainya.

Jalmo, kata guru mengaji itu, "apakah engkau masih mengakui aku sebagai gurumu?"

"Ya, Pak, dulu saya memang pernah berguru kepada Bapak," jawab Pak Jalmo.

"Nah, sebagai guru, aku merasa berkewajiban memberi nasihat padamu. Dulu engkau miskin, sekarang engkau telah kaya. Ketika engkau kaya, perbanyaklah engkau memberi kepada fakir miskin supaya kalau engkau jatuh miskin, engkau tetap diperhatikan orang."

"Apakah saya yang mempunyai harta sebanyak ini masih bisa miskin lagi?" tanya Pak Jalmo.

"Bisa saja kalau Allah menghendaki," jawab pak guru tua itu.

"Tidak bisa, Pak Guru," ujar Pak Jalmo dengan angkuh, "tak ada jalan kemiskinan untuk masuk ke pekarangan rumah saya."

Mendengar jawaban bekas muridnya itu, guru mengaji yang bertongkat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka nasihatnya akan ditolak mentah-mentah. Dengan kesal ia segera meninggalkan rumah Pak Jalmo.

Di pulau itu, setiap tahun diadakan selamatan desa. Semua orang berkumpul di sebuah tanah lapang sambil berdoa dan diakhiri dengan makan bersama. Pada saat selamatan desa itu. Pak Jalmo mengadakan pesta sendiri di rumahnya. Ia tidak mau bergabung dengan orang desa yang miskin.

Pak Jalmo tidak banyak mengundang orang, hanya beberapa kuli yang selalu membantunya bekerja di ladang. Meskipun orang yang hadir hanya sedikit, Pak Jalmo yakin orang-orang akan berdatangan ke rumahnya karena ia telah menyiapkan ribuan petasan besar dan kecil untuk menarik perhatian.

"Aku sengaja memesan mercon yang tidak pernah dibakar orang di pulau ini," kata Pak Jalmo sambil menggantung rentengan petasan besar-besar di dahan jambu di halaman rumahnya. Sebagian mercon yang lain diletakkannya di atas tikar di halaman.

Setelah makan sampai kenyang, di mulailah acara pembakaran petasan. Semua orang kagum pada petasan yang besar-besar itu. Seseorang bertanya kepada temannya,"Berapa harga petasan sebesar botol itu?" temannya hanya bisa menggeleng.

Pak Jalmo pun memantik korek api. Beberapa detik kemudian, terdengar bunyi letusan memekakkan telinga. Mereka terkejut. Ada yang mundur jauh-jauh, ada juga yang menutup telinga.

Tiba-tiba sebuah petasan terbang dan jatuh tepat di atas tumpukan petasan di atas tikar. Satu per satu petasan itu meledak. Ada yang terbang ke atas atap. Pak Jalmo panik. Hadirin kebingungan. Beberapa saat kemudian, atap rumah Pak Jalmo sudah di makan api. Orang orang yang hadir semakin takut. mereka tidak tahu apa yang harus mereka perbuat.

" Tolong, toloooong!' teriak Pak Jalmo sekeluarga. Api telah menjalar ke rumah sebelah, ke lumbung, dan akhirnya ke kandang.

Pak Jalmo, Bu Jalmo, dan anak anaknya hanya bisa berteriak sambil menangis. Karena bingung dengan letusan petasan yang berloncatan kesana kemari, mereka tidak bisa berbuat apa apa untuk menyelamatkan harta mereka. Beberapa saat kemudian, seluruh tempat tinggal Pak Jalmo telah menjadi lautan Api. Asap hitam mengepul ke udara, seolah olah memberitahukan kepada seluruh dunia bahwa ada orang kaya yang jatuh miskin.

Tidak lama kemudian , rumah Pak Jalmo roboh diikuti lumbung dan dapur nya. Pak Jalmo, Bu Jalmo, dan anak anaknya duduk bersimpuh di sudut pekarangan sambil menangis tersedu sedu.

Kesimpulan
Cerita ini mengandung pelajaran bahwa orang yang miskin kemudian menjadi kaya harus tetap ingat akan asalnya. Selain itu, orang kaya tidak boleh menyombongkan kekayaannya. Tuhan Yang Mahakuasa mempunyai banyak bara untuk mencabut kekayaan seseorang. 
 
Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo
Read More

Persahabatan Empat Ekor Binatang

17.52 1
cerita fabel burung gagak, kura-kura, musang dan kijang
Pada suatu hari, burung gagak, kijang, musang, dan kura-kura berjanji bertemu di bawah pohon kesambi besar di kaki bukit. Mereka telah lama menjalin persahabatan dan saling membantu dalam kehidupan. Jika musang menginginkan buah mangga, burung gagak akan mencarikannya. Jika burung gagak memerlukan udang, kura-kura akan mencarikannya di sungai. Jika Kijang ingin makan rumput hijau, burung gagak akan terbang mencari padang dan lembah berumput hijau, kemudian menunjukkan tempat itu kepada sahabatnya. 

Binatang yang pertama datang di bawah pohon kesambi adalah kijang dan musang. Lama sekali mereka menunggu dua temannya yang lain di tempat itu. 

"Heran, biasanya gagak selalu datang lebih dahulu," kata Kijang. 

"Mungkin ia menjemput kura-kura," jawab musang. 

Saat kijang dan musang sedang mempercakapkan kedua temannya, dari kejauhan terdegar suara gagak berkaok-kaok. 

"Nah, gagak telah datang," ujar musang. 

"Ya, tapi suaranya tidak seperti biasanya," kata kijang. 

Beberapa detik kemudian burung gagak telah hinggap di punggung kijang.

"Mengapa terlambat, kawan?" tanya musang. 

"Kura-kura tidak ada di tempat," jawab gagak. 

"Tidak kau cari?" tanya kijang. 

"Telah kucari di sekitar kediamannya, tetapi tidak kutemukan. Aku segera kemari agar kalian tidak menunggu dengan penuh tanda tanya, Sekarang, aku akan kembali mencari kura-kura. Kalian sekarang berangkat juga. Nanti kita bertemu di dekat batu besar di tikungan sungai itu," kata burung gagak. 

"Ya, segeralah kauterbang," ujar kijang. 

Burung gagak segera membuka sayapnya, terbang cepat sambil berkaok-kaok di angkasa. Dia terbang berkeliling ke sana kemari, kemudian menuju sebuah lembah. Dengan mata jeli, dia memperhatikan ke bawah untuk menemukan kura-kura. Hampir satu jam lamanya dia berputar-putar di atas lembah itu, tetapi dia tidak melihat kura-kura. 

Pada saat burung gagak hampir putus asa mencari sahabatnya, tiba-tiba tampak satu titik kecil di tengah sawah. Dia segera membelokkan haluan menuju titik itu. Setelah dekat, ternyata tampak seorang laki-laki sedang menggendong sesuatu. Gagak tertarik pada gendongan orang itu. Setelah diperhatikan dengan cermat, ternyata gendongan itu berupa jaring perangkap. Burung gagak semakin ingin tahu isi jaring yang telah diikat dengan rapi itu. Dia pun terbang rendah mendekati lelaki itu. Alangkah terkejut hatinya setelah melihat kaki kura-kura tersembul dari sela-sela lubang jaring. 

Tanpa pikir panjang, burung gagak segera terbang menemui kedua sahabatnya, kijang dan musang. Mereka telah menunggu di dekat batu besar di tikungan sungai. Gagak hinggap dengan tergopoh-gopoh. 

"Malang sahabat kita," kata gagak dengan napas tersengal-sengal. 

"Apa yang terjadi pada kura-kura? Tanya Kijang. 

"Dia ditangkap seorang pemburu." 

"Di mana kaujumpai dia?" tanya musang. 

"Di tengah sawah yang luas itu. Kura-kura diikat dalam jaring perangkap. Pemburu itu menuju ke arah tenggara. Kira-kira ia akan lewat di jalan sebelah selatan karena tidak ada jalan lain yang bisa melintasi sungai ini." 

"Begitu pemburu itu lewat langsung akan kuserang," kata musang. 

"Pemburu itu biasanya membawa senjata," kata kijang. " Kalau kauserang, enak saja ia memukulmu dengan senjatanya. Apalagi pemburu itu sudah terlatih menggunakan senjatanya. Engkau bisa celaka kalau menyerang tanpa perhitungan." 

"Tidak apa aku mati demi membela sahabatku," jawab musang. 

"Kalau kaucinta kepada kura-kura," kata kijang, "Kita harus kompak, kita atur cara sebaik-baiknya sehingga kura-kura bisa terlepas dari si pemburu." 

"Ya, itu pikiran yang baik," ucap gagak."Ayo sekarang bermusyawarah mencari jalan terbaik untuk menolong kura-kura." 

Ketiga binatang itu bertukar pikiran untuk menolong kura-kura. Setelah bermusyawarah agak lama, mereka bertiga berangkat ke selatan untuk mengatur siasat. 

Kijang dan gagak siap di ladang dekat sungai, sedangkan musang bersembunyi di semak-semak dekat jalan yang akan dilalui si pemburu. 

Beberapa saat lamanya kijang dan gagak menunggu, muncullah si pemburu. Burung gagak berteriak keras-keras lalu pura-pura menyerang kijang. Kijang melompat kesana kemari untuk menghindari serangan gagak. 

Si pemburu sangat tertarik melihat gagak berkelahi dengan kijang. Pikirnya," Wah, kijang yang sedang bertarung dengan gagak itu gemuk sekali. Dagingnya pasti empuk dimakan. Pada saat berkelahi seperti itu dia pasti lalai dan mudah kutangkap." 

Pemburu meletakkan gendongannya ke tanah di tepi jalan. Pelan-pelan ia melewati sela-sela pohon perdu yang tumbuh di situ. Ia mengendap-ngendap mendekati kijang yang sedang berkelahi melawan gagak. Setelah agak dekat, kijang melompat dan gagak terbang agak menjauh. 

Ketika pemburu itu sedang berusaha mendekati kijang, musang pun keluar dari persembunyiannya dan menuju gendongan yang tadi diletakkan si pemburu. Dengan giginya yang tajam, musang cepat memutuskan tali yang mengikat kura-kura. Dalam beberapa menit saja kura-kura sudah bebas. 

"Terima kasih, Sahabatku," kata Kura-kura kepada musang. 

"Cepat ceburkan dirimu ke dalam sungai!" ujar musang."nanti kau tertangkap lagi." 

Dengan cepat, kura-kura berlari dan masuk ke dalam sungai. Sementara itu, musang segera masuk ke dalam rumpun bambu berduri sambil memekik nyaring. 

Mendengar suara musang yang kecil dan nyaring itu, Kijang dan gagak mengerti bahwa kura-kura sudah bebas dan aman. Burung gagak pun terbang ke udara sambil berkaok gembira, sedangkan kijang segera berlari kencang menuju semak belukar. 

Pemburu itu keheranan karena perkelahian kijang dan gagak selesai tanpa ada yang melerai. Kemudian, ia mengambil kura-kura yang tadi ditangkapnya, betapa terkejut hatinya karena ia hanya menemukan jaring perangkapnya yang koyak. 

Kesimpulan
Cerita ini termasuk fabel karena menceritakan kehidupan binatang yang bisa berbicara seperti manusia. Cerita ini menarik karena berisi pelajaran tentang pentingnya persahabatan yang penuh kesetiaan dan kekompakan. Banyak kesulitan hidup yang tidak bisa dipecahkan sendiri, tetapi dapat diselesaikan dengan baik setelah bantuan para sahabat. Oleh karena itu, kita perlu memperbanyak sahabat serta suka menolong orang lain. 

Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo
Read More

Legenda Jaka Tole

22.50 1
Legenda Jaka Tole
Tersebutlah seorang anak Madura bernama Jaka Tole. Karena kesaktiannya, ia berhasil menegakkan pintu gerbang Keraton Majapahit.

Agaknya nama Jaka Tole mempunyai nilai tersendiri di hati Raja Majapahit. Oleh karena itu, jika ada hal-hal yang sulit diatasi, Jaka Tole disuruh mengatasinya. Jika ada pemberontakan yang bertujuan mengurangi wilayah kekuasaan Majapahit. Jaka Tole diperintahkan Raja memimpin pasukan untuk memadamkan pemberontakan itu. 

Jaka Tole ternyata seorang prajurit yang tangkas dan cekatan dalam memimpin pasukan. Setiap pemberontakan terhadap Majapahit selalu berhasil ia padamkan dengan tidak terlalu banyak memakan korban. Tidak aneh kalau Raja sangat sayang kepadanya. Ia sering mendapat hadiah dari Raja. 

Karena Raja sangat sayang kepada Jaka Tole, ada beberapa orang iri hati kepadanya. Mereka yang merasa tidak senang itu menyebarkan fitnah bahwa kesetiaan Jaka Tole kepada Raja hanya setengah-setengah. Jaka Tole berjuang bukan untuk kejayaan Majapahit, tetapi sekadar mendapatkan hadiah dari Paduka Raja. 

Fitnah itu akhirnya sampai ke telinga Raja. Raja sebenarnya ragu akan kebenaran berita itu. Raja pun memutuskan untuk menguji kesetiaan Jaka Tole. 

"Jaka Tole, akan ku nikahkan engkau dengan putriku yang buta," pikir Raja dalam hati. "kalau ia menolak, pertanda ia tidak taat kepadaku. Berarti berita bahwa ia tidak setia kepadaku itu memang benar, Tetapi, apabila ia mau menikah dengan Dewi Ratnadi, putriku yang buta, berarti berita yang dilaporkan orang kepadaku hanya fitnah belaka." 

Raja pun memanggil Jaka Tole. Setelah Jaka Tole menghadap, Raja mulai berbicara,"Jaka Tole, aku mempunyai seorang putri bernama Dewi Ratnadi. Maukah engkau seandainya ia kujodohkan denganmu?" 

"Saya siap untuk dijodohkan dengan Putri Paduka," jawab Jaka Tole dengan suara tegas. 

"Tetapi, apakah engkau tidak akan menyesal kemudian hari?" tanya Raja. 

"Mengapa saya akan menyesal?" tanya Jaka Tole. 

"Ketahuilah," kata Raja, "Putriku ini buta. Apakah engkau bersedia mengawininya?" 

"Saya tetap bersedia," jawab Jaka Tole dengan suara mantap.

Raja tersenyum gembira mendengar jawaban Jaka Tole yang meyakinkan itu.

Beberapa hari kemudian, pesta pernikahan Jaka Tole dengan Dewi Ratnadi dirayakan di pusat Kerajaan Majapahit. Ada bermacam-macam komentar atas pernikahan itu. Orang-orang yang tidak senang kepada Jaka Tole menganggap pengantin yang sedang bersanding merupakan lelucon yang tidak lucu. Mengapa ?? Karena mempelai pria gagah seperti Arjuna, sedangkan mempelai wanita buta. Pihak yang senang kepada Jaka Tole merasa tidak puas karena Jaka Tole yang besar jasanya kepada negara Majapahit dinikahkan dengan putri yang buta. Menurut mereka, Jaka Tole sepantasnya dijodohkan dengan putri Raja yang paling cantik.

Setelah upacara dan pesta pernikahan itu selesai, Jaka Tole dan istrinya minta izin kepada Raja untuk pulang ke Sumenep, tetapi Jaka Tole menolak untuk diantar. Katanya, " Selagi badan saya masih kuat menggendong Dewi Ratnadi, izinkanlah kami pulang berdua saja."

Sambil menggendong istrinya, Jaka Tole berangkat ke arah timur meninggalkan pusat pemerintahan Majapahit yang indah permai. Meskipun Dewi Ratnadi buta, Jaka Tole tetap menunjukkan rasa sayang kepada istrinya itu. Dalam perjalanan, ia selalu mencarikan buah-buahan yang disukai Dewi Ratnadi. Putri tidak menyangka Jaka Tole akan mencintainya sedemikian rupa.

Setelah sampai di pelabuhan Gresik, Jaka Tole dan istrinya beristirahat beberapa hari di bandar yang ramai disinggahi perahu-perahu dari berbagai negeri. Kemudian, mereka menyeberang laut menuju ujung barat Pulau Madura. Setelah naik ke darat, Dewi Ratnadi ingin mandi. Jaka Tole bingung karena di sekitar tempat itu tidak ada sumur atau sungai. Lalu, ia mengambil tongkat Dewi Ratnadi dan menancapkannya ke tanah. Setelah tongkat itu dicabut, keluarlah air yang memancar dari dalam tanah langsung menyemprot wajah Dewi Ratnadi.

"Kanda Jaka Tole," teriak Dewi Ratnadi dengan gembira," aneh sekali, mata saya sekarang bisa melihat."

"Benarkah itu, Dewi?" tanya Jaka Tole setengah tidak percaya.

"Betul," jawab Dewi Ratnadi," untuk apa saya berdusta. Coba lihatlah kedua mata saya. Saya sekarang sudah bisa memandang wajah Kanda."

Jaka Tole pun memperhatikan mata istrinya. Tampak mata Dewi Ratnadi sudah terbuka dengan biji mata seindah bintang kejora. Hati Jaka Tole sangat gembira.

Setelah puas mandi. Dewi Ratnadi pun berganti pakaian. Kini, ia bisa memilih sendiri pakaiannya karena kedua belah matanya dapat melihat dengan sempurna.

Air yang keluar dari dalam tanah itu akhirnya menjadi sumber air yang sangat jernih. Tempat itu sampai sekarang di sebut Soca, artinya mata. Mungkin karena di tempat itu mata Dewi Ratnadi yang buta dapat melihat.

Dalam perjalanan selanjutnya, Dewi Ratnadi tidak perlu digendong. Selain sudah bisa melihat, badannya terasa sehat sekali. Mereka terus berjalan ke arah timur.

Berhari-hari lamanya mereka berjalan melewati dataran rendah yang luas dan naik turun perbukitan. Mereka tidak susah mencari makanan karena di daerah yang mereka lalui itu banyak terdapat buah.

Ketika tiba di sebuah tempat, Dewi Ratnadi ingin mandi, Jaka pun menancapkan tongkatnya ke tanah. Keluarlah air yang sangat deras.

Setelah selesai mandi, Dewi Ratnadi terkejut karena pakaian dalamnya dihanyutkan air yang sangat deras alirannya. Ia segera memberi tahu suaminya. Tanpa pikir panjang, Jaka Tole pun memanggil air yang menghanyutkan pakaian dalam istrinya. Air yang jauh mengalir itu pun membelok dan mendekat ke arah Jaka Tole. Setelah pakaian itu tiba di dekatnya, Jaka Tole cepat memungut dan mengembalikannya kepada Dewi Ratnadi.

Sumber besar yang terletak di seberang timur laut kota sampang itu sampai sekarang disebut "Omben". Kata omben berasal dari bahasa Madura, amben, yang berarti pakaian dalam wanita.

Perjalanan Jaka Tole dan Dewi Ratnadi pun diteruskan menuju ke timur. Setelah sampai di Sumenep, Jaka Tole disambut dengan gembira oleh Ayah Bundanya serta masyarakat Sumenep. Apalagi Jaka Tole membawa pulang seorang istri yang cantik rupawan.

Kakak Jaka Tole dari pihak ibu bernama Pangeran Saccadiningrat adalah seorang raja yang memerintah negeri Sumenep. Pemerintahannya berada di bawah kekuasaan Majapahit. Setelah Saccadiningrat mamasuki usia tua, Jaka Tole pun dinobatkan sebagai adipati yang memerintah wilayah Sumenep. Di bawah kepemimpinan Jaka Tole. Masyarakat Sumenep benar-benar merasakan kemakmuran dan keadilan.

Kesimpulan
Cerita ini termasuk legenda karena mengisahkan asal-usul nama sebuah tempat. Legenda ini memberi pelajaran agar orang yang ingin hidup mulia harus tahan hidup menderita. Manusia yang bermental baja dan tahan menderita dalam menggapai cita-cita dengan tetap menghargai hak dan kepentingan orang lain, niscaya akan cepat mencapai cita-cita itu. 
 
Sumber : Buku Cerita Dari Madura
Penulis: D. Zamawi Imron 
Penerbit : Grasindo
Read More

Para Pedagang Kucing

20.31 1
para pedagang kucing (pulau tikus)
"Di kampung kita ini aku seperti tak bisa berbuat apa-apa," kata Jadrin kepada istrinya. "Berdagang kecil-kecilan sudah kucoba, tetapi rugi terus. Bertani sudah kulakukan, tetapi karena tanah yang kumiliki hanya sedikit, hasilnya hanya cukup dimakan tiga bulan. Kali ini aku akan mengadu untung di Pulau Jawa.

"Pekerjaan apa yang hendak kaulakukan di sana?" tanya istrinya. 

"Telah kupikirkan masak-masak, aku akan menjadi kuli. Pekerjaan apa saja yang diberikan orang kepadaku, akan kukerjakan. Pokoknya aku mendapatkan rezeki yang halal."

"Kalau begitu, aku akan ikut ke Jawa," kata istrinya. 

"Jangan dulu! Kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan dan punya penghasilan tetap, engkau akan kujemput." 

"Baiklah kalau begitu," sahut istrinya. 

Tiga hari kemudian, berangkatlah Jadrin menuju pelabuhan. Di jalan ia bertemu dengan seorang perempuan yang menggendong seorang anak kecil. Baju perempuan itu compang-camping, pertanda bahwa ia orang yang sangat miskin. 

"Tolong, Pak," seru perempuan itu kepada Jadrin, "Kucing-kucing ini tolong dibeli. Anak saya ini yatim. Ia ditinggal mati ayahnya sejak dalam kandungan. Ia sekarang sakit karena kurang makan. Kalau Bapak mau membeli tiga ekor kucing saya ini, anak yatim ini baru bisa makan. 

Jadrin memperhatikan anak busung lapar yang berada dalam gendongan ibunya itu. Wajahnya sangat kuyu dan matanya cekung mengundang rasa kasihan. Jadrin pun memperhatikan ketiga ekor kucing dalam kurungan bambu yang ada di dekat kaki perempuan miskin itu. Kucing-kucing itu tampak meronta kesana kemari, ingin keluar dari kurungan. 

Sebenarnya, Jadrin tidak tertarik membeli kucing-kucing itu. Ia tidak yakin, setibanya di Pulau Jawa ada orang yang mau membeli kucing itu. Akan tetapi, kalau kucing itu tidak ia beli, anak yatim itu tidak akan segera mendapatkan makanan. 

"Berapa harga kucing yang akan ibu jual?" tanya Jadrin.

"Bayarlah lima gobang (1 gobang = 2,5 sen) saja!" 

"Saya hanya membawa sepuluh gobang untuk ongkos berlayar ke Jawa. Kalau Ibu setuju, akan saya bayar tiga gobang." 

Wajah perempuan itu tampak berseri-seri. Ia tidak menyangka kucingnya akan terjual semahal itu. Setelah disetujui, Jadrin pun membayar dengan uang tunai. Kemudian, ia melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan sambil menjinjing kurungan berisi tiga ekor kucing. 

Tiba di pelabuhan, Jadrin langsung naik ke perahu. Di atas perahu, kucing-kucing itu mengeong. Orang-orang menjadi heran karena ada kucing akan dibawa ke Pulau Jawa. Lebih heran lagi setelah mereka mendapat penjelasan dari Jadrin bahwa kucing itu akan dijual. Sejak dulu, di Madura tidak ada orang berdagang kucing.

Perahu yang dinaiki Jadrin kini berada di laut lepas. Angin barat yang kencang membawa perahu layar itu melaju cepat. Para penumpang gembira karena perahu yang mereka naiki akan segera sampai di daratan Pulau Jawa. 

Pada malam harinya, turunlah gerimis bersama angin kencang. Bunyi petir bersahut-sahutan di udara memekakkan telinga. Para penumpang ketakutan. Juru mudi tidak mampu mengendalikan perahu karena angin dan arus yang bergerak ke timur. Seharusnya perahu itu menuju ke Selatan, tetapi untuk keselamatan penumpang, perahu dibiarkan mengikuti arah arus dan angin saja.

Keesokan harinya, mereka melihat daratan. Karena ada peralatan perahu yang perlu diperbaiki, pemilik perahu dan para penumpang bersepakat untuk singgah di pulau itu. Setelah tiba di darat, tahulah mereka bahwa daratan yang mereka singgahi itu bernama Pulau Tikus.

"Mengapa disebut Pulau Tikus?" tanya Jadrin kepada penguasa pulau yang ketika itu berada di pelabuhan.

"Sebab di sini banyak sekali tikus. Penduduk pulau tidak berdaya menghadapi puluhan ribu tikus yang setiap waktu menyerang tanaman dan simpanan makanan di dalam lumbung. Pada mulanya, pulau ini sangat makmur. Akan tetapi, setelah adanya tikus yang sangat banyak itu, hidup penduduk menjadi susah."

Kemudian Jadrin memberi tahu penguasa pulau bahwa ia membawa binatang yang suka sekali memakan tikus. Penguasa pulau sangat tertarik pada binatang yang dibawa Jadrin. Ia pun meminta Jadrin untuk mengambil binatang itu di perahu.

Setelah Jadrin menunjukkan ketiga ekor kucing itu, penguasa pulau dan sebagian penduduk di pelabuhan merasa kagum. Itulah kali pertama mereka melihat kucing. Kucing-kucing itu meronta ingin keluar dari kurungan karena mereka sangat lapar.

"Jika binatang ini benar-benar suka makan tikus, saya mau membeli dengan harga lima dinar (mata uang emas lama) seekor," ujar penguasa pula,"tetapi saya ingin melihat bukti dulu."

Bersama penguasa pulau dan para penduduk, Jadrin membawa kucingnya ke perkampungan yang banyak tikusnya. Kucing-kucing  lapar itu tampak semakin liar setelah melihat tikus. Jadrin pun membuka pintu kurungan. Dengan cepat, ketiga ekor kucing itu mengejar tikus-tikus yang sedang berkeliaran. Setelah melahap seekor tikus, kucing-kucing itu pun mengejar tikus yang lain. Berpuluh-puluh ekor tikus berhasil diterkam dan dicabik kucing-kucing itu. Penduduk yang menonton pun bersorak kegirangan.

Saat ketiga ekor kucing itu memburu tikus, penguasa pulau dan beberapa orang kaya membayar harga kucing itu kepada Jadrin. Jadrin menerima lima belas keping uang emas. Setelah itu, ia kembali ke pelabuhan dengan riang gembira.

Perahu yang dinaiki Jadrin sudah selesai diperbaiki. Beberapa saat kemudian, perahu itu mengangkat sauh dan bertolak menuju Pulau Jawa.

Tiba di Pulau Jawa, Jadrin merasa tidak perlu mencari pekerjaan karena ia telah banyak mengantongi uang emas. Ketika ada perahu yang hendak berlayar ke Madura, ia pun pulang untuk menjumpai istrinya. Ia berniat menetap di kampungnya lagi. Uang emas yang dimilikinya akan dipakai untuk membeli tanah pertanian yang subur.

Satu tahun kemudian, Jadrin telah menjadi orang yang hidup layak. Segala keperluan sehari-harinya terpenuhi karena ia rajin mengerjakan tanah dan ladangnya.

Kehidupan Jadrin yang berubah menjadi baik itu membuat heran para tetangganya. Ada yang bertanya langsung kepada Jadri, dari mana dan bagaimana bisa memperoleh harta sebanyak itu. Jadrin mengaku dengan jujur bahwa kekayaan itu didapatnya dengan menjual kucing ketika perahu yang ditumpanginya dihanyutkan arus ke Pulau Tikus.

Secara diam-diam, tiga orang tetangga Jadrin mulai membeli kucing ke kampung-kampung di sekitarnya. Ada  yang berhasil membeli dua puluh lima ekor, dua puluh ekor, dan tiga puluh dua ekor. Semua kucing itu mereka beli dengan dengan harga sangat murah.

Kemudian, mereka bertiga menyewa sebuah perahu untuk mengangkut kucing-kucing itu ke Pulau Tikus. Dalam perjalanan, tidak hentinya mereka membicarakan keuntungan yang akan mereka dapat. Bahkan, mereka sempat pula merencanakan rumah yang akan dibangun, serta memilih sawah yang hendak mereka beli. Deru ombak tidak mereka perhatikan lagi.

Setelah tiga hari tiga malam berlayar, sampailah mereka ke Pulau Tikus. Kurungan-kurungan kucing diturunkan ke darat. Kemudian mereka menjumpai penguasa pulau dan menyampaikan maksud bahwa mereka membawa tujuh puluh tujuh ekor kucing untuk dijual.

"Perlu kalian ketahui bahwa tikus di pulau ini sekarang sudah habis," kata penguasa pulau dengan suara tenang. "Setahun yang lalu, kami membeli tiga ekor kucing. Kucing-kucing itu membantu kami sehingga tikus-tikus punah. Kalaupun masih ada, sudah tinggal sedikit. Jadi, penduduk pulau ini sudah tidak memerlukan kucing lagi."

Ketiga pedagang kucing itu terkulai bagai orang letih. Mereka tidak menyangka akan rugi besar seperti itu. Mereka pun pulang ke Pulau Madura dengan penuh rasa kecewa.

Kesimpulan
Cerita yang bisa digolongkan dalam dongeng ini berisi aneka macam pelajaran, antara lain, orang yang senang membantu anak yatim dan orang yang sedang mengalami penderitaan akan mendapat bantuan tidak terduga. Selain itu, setiap kebaikan di balas Tuhan dengan kebaikan pula. Cerita ini juga menyarankan bagi orang yang akan berdagang atau bekerja untuk tidak berbuat hanya karena latah. Orang yang bekerja hanya karena latah, tanpa perhitungan matang dan seksama, akan tidak memperoleh keuntungan yang diharapkan.


Sumber : Buku Cerita Dari Madura
Penulis: D. Zamawi Imron 
Penerbit : Grasindo
Read More

Kartini Bagi Lili

19.48 0
Kartini bagi Lili
Siang itu di sebuah rumah singgah di Jakarta, tampak beberapa anak kurang mampu sedang bermain main.
" Siapa yang mau pinjam buku?" tiba tiba seorang anak perempuan berpakaian bagus datang ke rumah singgah.

" Aku mau pinjam, Kak," ujar Dito salah seorang anak di rumah singgah.

" Akh, kamu Dito! Anak-anak di sini kan pada tidak sekolah.  Tidak bisa baca,"ujar Lili, seorang anak tuna netra di rumah singgah. Sesungguhnya, Lili iri. Pasti dalam buku itu banyak cerita menarik. Sayangnya, Lili tak bisa melihat, apalagi membacanya.

" Ya sudah, kalau belum pada bisa membaca, aku bacakan, ya", kata Arin, si anak permpuan berpakaian bagus itu. Arin memang dari keluarga berada. Ia bersimpati pada anak anak di rumah singgah.

" Di sebuah istana tinggallah seorang putri..."

" Yang cantik,baik hati dan penolong," potong Lili." Bosan, ah dengar cerita itu," omel Lili.

" Tapi cerita ini lain, lho. Ini kisah putri yang pemberani dan tangguh,yang berjuang mewujudkan mimpi."

Namun, Lili menukas." Mimpi? Kalau aku bilang, aku ingin melihat dunia, apa itu akan terjadi?"

Arin diam sebentar lalu berkata," Aku bisa membantu. Aku akan membacakan buku setiap hari untukmu. Dari buku kamu bisa melihat dunia," ujar Arin.

Lili akhirnya tersenyum. Tawaran Arin sangat menarik. 

Besok siangnya, Arin kembali untuk membacakan buku untuk Lili, Setelah membaca buku, Arin dan Lili berbincang.

" Kalau besar nanti, aku mau jadi guru," kata Lili sehabis Arin membacakan cerita tentang Ibu Kartini yang mendirikan sekolah untuk para perempuan. " Tapi... mana ada guru yang buta?"

" Tentu saja ada. Kamu, Li," sergah Arin." Aku punya sesuatu buatmu."Arin meletakkan sebuah buku di pangkuan Lili. Lili meraba buku itu. Ada titik - titik membentuk pola dalam lembaran- lembaran buku." Apa ini?" tanya Lili.

" Namanya hruf Braille. Huruf khusus untuk tunanetra. Supaya kamu juga bisa baca buku," Jelas Arin.

" Bagaimana cara membacanya?"

" Sini, aku ajari," ujar Arin membimbing tangan Lili." Yang ini haruf A, lalu B,C..."
Mulut Lili komat kamit menghapal huruf-huruf Braille itu.
" Dari mana kamu tahu huruf ini?" Tanya Lili penasaran.

"Tanteku. Seorang guru yang mengajar anak-anak tuna netra. Kelak, kamu bisa seperti dia," kata Arin. 

Hati Lili berdebar senang. Ia kini punya harapan untuk bisa membaca buku. Tiba-tiba Lili ingat cerita yang dibaca Arin tadi. 

"Arin, kamu adalah Kartini bagiku," ujar Lili. "Berkat kamu, aku yakin bisa menjadi guru kelak." 

Arin tersenyum senang. Hatinya bahagia. 

Hikmah Cerita
Meskipun kau punya kekurangan , tetapi jangan berputus asa. Selalu ada jalan bagi mereka yang ingin maju. Tanggal 21 April diperingati di Tanah Air sebagai Hari Kartini yang memperjuangkan kemajuan wanita dan perbaikan kondisi masyarakat Indonesia. 

Sumber : Kompas Minggu 19 April 2015 
Nusantara Bertutur 
Penulis : Fita Chakra
Ilustrasi : Regina Primalita 
 
Read More

Post Top Ad