Blog Oblok Oblok

Hot

Post Top Ad

Buyung Arai dan Koto Ayam Jago

15.59 0
buyung arai dan koto ayam jago
Dahulu kala, hiduplah seorang anak laki-laki cerdik dari Desa Lubuk Silau, Sumatera Barat. Buyung Arai, namanya. Seorang anak yatim piatu yang tinggal bersama kakeknya, Angku Ketek. Buyung Arai tidak dapat dipisahkan dari Koto si ayam jago, warisan mendiang kedua orangtuanya.

Banyak orang mencari Buyung Arai, mereka ingin memiliki Koto karena konon ayam jagonya itu dianggap yang terhebat. Kokok nyaringnya benar-benar ampuh untuk membangunkan orang-orang yang malas bangun pagi. 
Namun, Buyung Arai selalu menggeleng tegas setiap kali datang padanya saudagar-saudagar kaya  yang ingin menukarkan banyak uang dengan ayam jago miliknya. 

"Huk...Huk...Huk." 
Buyung Arai terkejut. Ia sedih melihat Angku Ketek sakit. Padahal, tidak ada uang untuk membeli obat. Selama Angku Ketek sakit, tugas mencari kayu bakar dikerjakan Buyung Arai sendirian. Buyung Arai lalu berjalan ke pasar untuk menjual kayu bakar. Ternyata di pasar ada pengumuman sayembara dari Raja. Buyung Arai bertekad mengikutinya. 

Hari ini, Buyung Arai berada di istana untuk mengikuti sayembara Raja, barang siapa berhasil mengubah kebiasaan bangun siang Pangeran Bonai menjadi bangun pagi. Raja akan menghadiahkan sekantong emas. 

Buyung Arai duduk bersimpuh di hadapan Raja Tuo dengan Koto di sampingnya. 
"Hmmmm, ayam jago," Raja Tuo menggelengkan kepala. "Istana punya banyak ayam jago. Namun, tidak satu pun suara kokok ayam jago mampu membuat Pangeran Bonai bangun di pagi hari. 

"Benar, Yang Mulia. Sesungguhnya tidak ada seekor ayam jago pun yang mampu membangunkan seseorang untuk bisa bangun di pagi hari," kata Buyung Arai. 

Raja Tuo mengerutkan dahi. 

"Selama ini, orang-orang menganggap kokok ayam jago ini yang membangunkan mereka di pagi hari. Namun, hamba pikir, bukan. Ada orang-orang yang mendengar kokok ayam jago ini, mereka tetap saja tidur. Sedangkan di tempat lain, orang-orang yang tidak pernah mendengar ayam jago ini berkokok, mereka tetap bisa bangun pagi." 

Raja Tuo tampa mengangguk-anggukkan kepala. "Lalu, apa sesungguhnya yang bisa membuat orang mempunyai kebiasaan bangun pagi?" tanya Raja Tuo. 

"Tanggung jawab. "Orang yang biasa bangun pagi karena ia bertanggung jawab akan tugas-tugasnya."

Pangeran Bonai memerah wajahnya mendengar penjelasan Buyung Arai. Selama ini, ia malas bangun pagi, padahal ia adalah calon raja penerus tahta ayahnya. 

Buyung Arai memenangkan hadiah sekantong emas yang dipergunakan untuk membeli obat buat kakeknya. 

Hikmah Cerita

Jadilah anak yang selalu bertanggung jawab terhadap tugas maupun kewajiban yang diamanatkan kepada kita. Banyak kebaikan yang akan kita petik dengan bertanggung jawab.


Sumber: Kompas terbit 7 Desember 2014
Penulis: Pupuy Huriyah 
Ilustrasi: Regina Primalita
Read More

Negeri Kejujuran

04.08 0
negeri kejujuran
Mafi adalah seekor kelinci yang sangat lucu dan lincah, tetapi hari ini Ia tidak seperti biasanya yang selalu lucu dan lincah. Ia terlihat seperti sedang bingung dan sedih karena keinginannya selama ini belum terpenuhi, Dia sangat menginginkan sepeda seperti teman-temannya.

"Aku ingin memiliki sebuah sepeda, tetapi bagaimana mengatakan kepada Mama dan Papa? Pasti mereka tidak akan menyetujui dan membelikan sepeda untukku," kata Mafi bergumam sendiri.

"Apa kamu yakin tidak akan dibelikan sepeda oleh Papa-Mamamu?" kata Suara yang mengagetkan Mafi, yang ternyata adalah Peri Mawar yang keluar dari salah satu bunga mawar yang ditanam oleh mama.

"Aku sangat yakin Peri," kata Mafi sedih.

"Aku ada saran, bagaimana kalau kamu aku ajak ke Negeri Kejujuran?" kata Peri Mawar.

"Wah, Negeri Kejujuran? Dimana itu?" tanya Mafi penasaran.

"Negeri Kejujuran yang berada dalam hatimu," jawab Peri Mawar dengan senyumnya yang merekah seperti bunga mawar.

Kali ini Mafi menjadi bingung apa yang dimaksud oleh Peri Mawar tentang Negeri Kejujuran dan bagaimana caranya supaya sampai ke Negeri tersebut.

"Begini Mafi, sekarang kamu temui Papa dan Mamamu, lalu kamu pejamkan matamu dan kamu katakan apa yang ada dalam hatimu, itu berarti kamu sudah memasuki Negeri Kejujuran," kata Peri Mawar menjelaskan.

"Tetapi kalau nanti aku dimarahin Papa-Mama bagaimana?"

"Kamu jelaskan kenapa kamu minta sepeda untuk bersekolah, itu karena sekolah kamu jauh dan kamu sering terlambat bila berlama-lama di jalan, dan kalaupun kamu sampai kelas kamu akan merasa capek karena terlalu jauh berjalan, jelaskan seperti itu kepada orang tuamu, pasti mereka mengerti,” kata Peri Mawar sambil mengedipkan matanya.

Mafi langsung bergegas menemui Papa-Mamanya yang sedang asyik bercengkrama.
“Ada apa Mafi, kok muka kamu  ditekuk kaya gitu?” tanya Papa meledek Mafi.

Mafi mulai memejamkan matanya dan dia mulai memasuki Negeri Kejujuran yang ada di hatinya, Papa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat anaknya yang kelakuannya aneh.

“Papa-Mama, Mafi boleh meminta sepeda untuk pergi ke sekolah, soalnya Mafi sering terlambat ke sekolah, bahkan kadang sesampai di kelas Mafi tidak mengikuti pelajaran dengan baik karena terlalu lelah dan capek akibat jalan terlalu jauh,” kata Mafi masih memejamkan ke dua matanya.

Kali ini Papa-Mama malah tersenyum melihat tingkah laku Mafi yang lucu.
“Ya sayang, besok Papa belikan, kebetulan hari ini Papa baru dapat rejeki, jadi bisa langsung membelikan sepeda untukmu,” kata Papa.

Mafi langsung terbelalak kaget. Dia tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya. Ternyata benar apa kata Peri Mawar kalau menginginkan sesuatu kita memang harus berani jujur, dan kalau tidak berani pejamkan mata dan mulailah berkata apa yang kita inginkan kepada orang tua, selagi sesuatu itu berguna untuk kita, pasti orang tua tidak akan marah kepada kita.

“Benarkah Papa?” tanya Mafi tak percaya.

“Iya, benar sayang,” Papa menganggukkan kepalanya.

Mafi langsung berlari keluar dan menemui Peri Mawar yang masih menunggunya.

“Terima kasih Peri Mawar, ternyata pergi ke Negeri Kejujuran itu menyenangkan,” kata Mafi.

“Ya, sama-sama Mafi, aku hanya memberikan saran untukmu, dan ternyata saranku berhasil,” Peri Mawar pun pamit kembali ke rumahnya yang berada di salah satu pot bunga.

“Mulai besok aku akan bisa bersepeda ke sekolah, terima kasih Papa-Mama dan juga Peri Mawar yang sudah mengajakku pergi ke Negeri Kejujuran,” kata Mafi mengembangkan senyumnya.

Sumber: Buku "Kisah Dari Negeri Dongeng" 
Disusun oleh: Mulasih Tary 
Penerbit: Pustaka Anak-Yogyakarta.
Read More

Misteri Gunung Permata Hijau

23.15 0
misteri gunung permata hijau
Dahulu kala, ada seorang Pangeran bernama Unwar. Pangeran itu baru saja melangsungkan pernikahan. Mula-mula pesta itu berlangsung dengan meriah. Akan tetapi, ketika kedua mempelai hendak memasuki ruang pengantin, istri Unwar di culik oleh jin raksasa. Ia dibawa terbang ke udara dan digendong di pundaknya.

Unwar yang melihat kejadian itu sungguh kaget. "O, istriku, apa yang terjadi padamu? Dapatkah kita bertemu lagi?" katanya sambil menangis.

Unwar punya seekor kuda kesayangan. Ketika ia menangis, kuda itu mendengarnya dari jendela."Hai, Pangeran Khurasan, aku akan menolongmu, karena aku bukanlah kuda biasa, melainkan seorang manusia yang telah disihir menjadi kuda."

Mendengar kudanya dapat berbicara, Unwar lalu keluar," Hai, kuda ajaib, ceritakanlah kepadaku mengapa kau bisa menjadi seekor kuda," kata Unwar sambil mengusap-ngusap pundak kuda itu.

"Sebenarnya, Aku seorang anak muda dari sebuah keluarga bangsawan." kata kuda itu memulai ceritanya. "Aku tinggal di sebuah desa dengan ayah dan ibuku. Mula-mula, kami hidup dalam keadaan tenang dan bahagia., namun akhirnya musibah menimpa kami. Suatu hari, ketika ibuku hendak pergi ke tempat mandi, secara tidak sengaja kerudungnya terbuka. Kebetulan, disana, ada seorang tukang sihir yang melihatnya. Tukang sihir itu tertarik pada ibuku dan berniat hendak membawanya pergi. Ibuku memang seorang wanita cantik. Tapi, tentu saja, aku tidak setuju. Ketika tukang sihir itu hendak membawa ibuku, aku tarik tangan ibuku, lalu kutarik janggut tukang sihir itu. Tukang sihir itu sangat marah padaku, lalu ia baca mantera-mantera untuk kami berdua, maka jadilah aku seekor kuda, namun aku tak tahu dimana ibuku berada. Begitulah kisah sedih yang menimpa diriku. Tapi, dengan jadinya aku kuda, aku lebih banyak tahu tentang tukang sihir dan jin-jin jahat daripada manusia. Jadi aku dapat membantumu."

"Tapi, bagaimana kau dapat membantuku?" tanya Unwar. "Istriku telah dibawa pergi. Jangan-jangan sudah mati.

"Jangan takut, sang pangeran." jawab kuda itu. "Bersiap-siaplah bawa makanan, karena kita akan mengadakan perjalanan. Aku akan menunjukkanmu di mana istrimu berada."

"Bagaimana kau bisa tahu, coba ceritakan padaku, karena aku tidak paham mengenai masalah ini?" tanya sang pangeran semakin bingung.

"Sebelum aku dijual di pasar dan menjadi peliharaanmu," kata kuda itu melanjutkan ceritanya,"Aku dipelihara oleh seorang pedagang. Suatu hari, pedagang itu membawaku pada perjalanan yang jauh, yaitu ke Cathay. Hari demi hari kami lalui. Gunung demi gunung kami lewati, hingga akhirnya sampailah kami pada sebuah gunung. Keindahan gunung itu tidak dapat digambarkan, karena terbuat dari permata hijau. Pedagang itu tidak dapat melanjutkan perjalanannya, karena jalan buntu, baik untuk manusia maupun binatang buas. Akan tetapi, tiba-tiba, terbukalah pintu gunung itu dan sesosok makhluk berkaki besar dan tinggi seperti raksasa muncul dari pintu itu."

"Hai, manusia dan kuda," kata makhluk itu."Tidak ada jalan yang dapat kalian lewati dengan selamat disini. Gunung Permata Hijau ini tempat tawanan kami,  yaitu para gadis desa, puteri raja, atau anak-anak yang akan tumbuh menjadi raja. Semuanya dibawa oleh tuan kami, yaitu Jin Hijau,"

"Mendengar perkataan jin itu, pedagang itu ketakutan, karena sebelumnya ia belum pernah bertemu dengan jin. Tangannya gemetar, lalu ia turun dan mencambukku agar aku bisa berjalan lebih cepat, menjauh dari gunung itu." kata kuda itu mengakhiri ceritanya.

"Oo, begitu,' jawab pangeran Khurasan itu sambil mengusap keningnya. "Jadi kau akan membawaku ke sana? Betulkah tunanganku yang malang itu disembunyikan disana?"

"Ya, mungkin saja," jawab kuda itu," mari kita pergi ke sana."

Pangeran Unwar mengganti pakaian mahalnya dengan pakaian yang sederhana, agar sesuai dengan pakaian seorang pengembara. Kemudian, ia menyiapkan sekarung gandum untuk kudanya dan buah-buahan untuknya, untuk bekal dalam perjalanan.

Setelah berhari-hari dan bermalam-malam melewati lembah-lembah dan padang rumput, akhirnya mereka tiba di jalan setapak menuju ke arah Gunung Permata Hijau.

"Sekarang, dengarlah," kata kuda itu sambil mengunyah gandum di sebelah pangeran Unwar yang duduk di atas batu sambil makan buah-buahan. " Kau harus membiarkan jin penjaga pintu itu tahu bahwa kedatanganmu untuk membebaskan sang puteri. Beritahukan padanya bahwa kau membawa harta yang banyak. Katakan bahwa harta itu ada dalam karung gandum ini. Tawarkan pada jin itu agar ia mau melihat harta itu, dan usahakan agar ia memasukkan kepalanya ke dalam karung gandum ini. Jika kepalanya telah masuk, maka ikatlah. Dengan demikian, kita bisa masuk ke gunung itu.

Ketika Pangeran Unwar dan kuda itu tiba di tempat tersebut, tiba-tiba pintu gunung itu terbuka dan kepala jin penjaga pintu itu muncul.
"Hai, manusia dan kuda, mau apa kalian kesini?." teriak jin itu. "Tidak ada tempat yang dapat kaliwan lewati dengan aman disini, karena Gunung Permata Hijau ini tempat para tawanan yang dibawa oleh jin gunung ini."

Sang Pangeran mengangkat tangannya, " Aku ke sini membawa tas berisi harta. Aku ingin memperlihatkannya padamu. Maka dari itu, lihatlah kemari.

Jin penjaga gunung yang tertarik melihat harta itu, lalu memasukkan kepalanya ke dalam karung itu. Maka, dengan segera Pangeran Unwar mengikatnya dengan kuat. Ia bawa karung itu ke dalam gunung permata hijau. Jin penjaga gunung itu berontak-berontak dan berteriak-teriak dengan kerasnya, tetapi tetap saja ia tidak dapat keluar. Pangeran Unwar meletakkan karung itu di tanah.

Di dalam Gunung Permata Hijau ada sebuah gua yang besar yang terbuat dari permata hijau.  Gua itu memancarkan sinar yang aneh dan menakutkan. Pangeran Unwar melihat banyak gadis dan anak-anak di sana. Tangan mereka diikat di batu. Maka, dengan sigap, ia membebaskan mereka. Akan tetapi, Pangeran Unwar belum juga melihat istrinya.

Tiba-tiba ia mendengar suara tangisan yang datang dari kurungan emas yang tergantung tinggi di sebuah gantungan baja besar.

"Unwar, aku disini, selamatkan aku."teriak sang istri dengan keras sambil menangis, ketika melihat
Pangeran Unwar.

"Tunggu sebentar. Aku akan menolongmu," teriak Pangeran Unwar, lalu ia naik ke punggung kuda dan membuka pintu kurungan, lalu ia membawa sang puteri keluar dari kurungan itu.

"Bagaimana kita bisa lari dari sini?" tanya para tawanan. "Jin Gunung Permata Hijau akan kembali dalam beberapa menit lagi. Dia akan membunuh kita semua."

"Jangan takut," kata kuda ajaib itu. "Aku akan menolong kalian. Masing-masing dari kalian harus mencabut sehelai rambut yang ada dari ekorku. Peganglah rambut itu kalau jin itu datang. Ia tidak akan bisa melihat kalian."

Dengan cepat, setiap tawanan mencabut sehelai rambut dari ekor kuda dan memegangnya. Terakhir, Pangeran Unwar.

Ketika Jin Gunung Permata Hijau itu muncul, ia sangat kaget, karena melihat gua itu tampak kosong. Ia melihat jin penjaga gunung diikat dalam karung, lalu ia berteriak, "Siapa yang telah melakukan ini kepadamu? Katakan padaku. Akan kupotong kecil-kecil. Di mana semua tawananku?" katanya dengan marah.

Jin itu mulai memperhatikan ke sekelilingnya, para tawanan telah hilang. Yang ada hanya seekor kuda.

"Hai, kuda jelek," teriak jin itu dengan nada marah. "Apa yang terjadi dengan tawanan-tawananku? Kalau kau tidak menjawab, akan kurobah kau jadi manusia."

Kuda itu tidak menjawab. Akhirnya, jin itu mengeluarkan manteranya, dan berubahlah kuda itu menjadi manusia. Namun, sebelum jin jahat itu berbuat sesuatu, anak muda itu dengan cepat menyerangnya dan memotong kepalanya dari badannya. Dengan teriakan yang menakutkan jin jahat itu pun jatuh di lantai gua gunung permata hijau.

Semua tawanan gembira melihat jin itu hancur, lalu mereka menunjukkan diri mereka. Mereka menari-nari di sekeliling tubuh jin jahat yang telah mengekangnya selama beberapa waktu, lalu satu per satu mereka keluar dari pintu gunung permata hijua. Mereka berjalan bersama-sama sampai ke rumah. Unwar dan istrinya kembali ke Khurasan, dan anak muda itu kembali ke rumahnya dengan membawa emas yang diberi oleh Unwar.


Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Petualangan Habib Bin Habib"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim (Divisi Zikrul Kids) - Jakarta Timur
Read More

Kisah Anak Peri

07.36 0
kisah anak peri
Suatu hari, pada masa pemerintahan Raja Darius Yang Agung, ada seorang pangeran yang tersesat di tengah hutan. Di hutan itu, tinggal seorang peri yang cantik. Pertama kali melihatnya, Pangeran itu jatuh cinta kepadanya, dan mengajaknya untuk kawin.

"Tidak, aku tidak mau kawin denganmu," kata peri itu. "Karena kau seorang manusia. Jika suatu kali aku kembali lagi ke keluargaku, kau akan menderita.

"Tidak, tidak, aku tidak akan menderita, aku akan mengizinkanmu pulang ke keluargamu," kata pangeran itu. "Tapi aku yakin, kalau kau sudah tinggal di istana ayahku, kau pasti tidak akan pernah mau meninggalkannya,"

Akhirnya, Sang Pangeran berhasil membawa Peri itu ke istana ayahnya dan kawin dengannya. Semua orang sangat kagum dengan kecantikannya. Pangeran membawanya ke Istana Mutiara yang dibuat khusus untuknya. Dalam beberapa bulan mereka hidup dengan bahagia bersama-sama. Akan tetapi, Sang Pangeran mulai merasa bosan, tinggal terus-menerus di istana, maka ia memutuskan untuk berburu lagi.

Karena seringnya berburu, Sang Peri pun mulai sering ditinggalkan sendirian. Hal ini membuat Sang Peri ingat kembali pada keluarganya. Sementara, Sang Pangeran tidak mempedulikannya. Ia lebih tertarik pada teman-teman berburunya. Suatu hari, ketika peri sedang menangis di atas tempat tidur di kamarnya, tiba-tiba munculnya sesosok tubuh wanita berkerudung di kamarnya.
"Siapa kau?" tanyanya.

"Aku Ratu Peri, Anakku, Aku di sini untuk membantumu karena kulihat kau tidak bahagia. Selama kau masih menjadi istri manusia, kau tidak akan pernah bahagia."

"Ratu Peri," kata Peri itu sambil menangis." Mungkin aku tidak bisa kembali lagi pada keluarga kita, karena aku telah mengkhianati mereka." 
 
"O, tidak. Kau boleh kembali ke keluarga kami, tapi kau harus melahirkan anakmu dulu dan mengasuhnya selama lima tahun," kata ratu peri itu, kemudian menghilang.

Setelah beberapa bulan berlalu, lahirlah anak sang peri. Anak itu diberi nama Gulabi-Jan. Peri sangat sayang pada anaknya, hingga ia lupa akan janjinya pada ratu peri.

Ketika lima tahun berlalu, ratu peri menagih janjinya," Apakah kau sudah siap untuk kembali ke keluargamu?" tanya ratu peri.

"Tidak, ratu peri." Katanya sambil menangis. "Aku tidak ingin pulang sekarang."

"Kau tidak boleh mengingkari janji, peri." kata ratu peri itu, sambil merangkul peri dan membawanya pergi. Peri baru sadar ketika ia melihat dirinya telah berada di tengah hutan. Di sana, ia disambut oleh keluarganya dengan gembira.

Gulabi-Jan menangis ketika melihat ibunya tidak ada. Ia lari ke sana ke mari mencari ibunya. Untunglah ada pengasuh istana yang masuk ke kamar itu, sehingga ia bisa menenangkannya. Kabar hilangnya peri, lalu diberitahukan kepada pangeran ketika pulang berburu."

"Peri, peri! aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendiri lagi! Kembalilah, aku akan mencarimu dan aku tidak akan membiarkanmu pergi." teriak pangeran dengan menyesal. Akan tetapi tidak ada jawaban.

Setelah beberapa tahun tidak ada kabar, Sang Pangeran pun lupa pada istrinya, Sang Peri. Ia menganggap bahwa istrinya sudah mati. Maka dari itu, ia kawin lagi dengan seorang wanita jahat, yang bernama Zorah. Istri barunya ini tidak sayang pada Gulabi-Jan. Apalagi setelah ia melahirkan seorang anak wanita yang diberinya nama Zebun, perhatiannya terhadap Gulabi-Jan semakin hilang. Gulabi-Jan disuruh bermain dengan anak-anak pembantu di dapur. Pakaiannya pun  tidak sebagus pakaian anak istri ayahnya yang baru. Sehari-harinya ia bermain di dapur dengan pakaian yang compang-camping.

Dari waktu ke waktu, Gulabi Jan tumbuh dengan wajah yang cantik, sedangkan Zebun tidak. Namun, pakaian Zebun bagus-bagus. Ia punya banyak boneka yang lucu-lucu. Sedangkan Gulabi-Jan, pakaiannya bekas-bekas, dan bonekanya hanya bikinan dari kayu yang dibuat oleh para juru masak di dapur istana. Akan tetapi, orang lebih suka pada Gulabi-Jan daripada Zebun, karena Zebun punya sifat yang jelek. Sang Pangeran tidak tahu banyak mengenai masalah ini, karena waktunya ia habiskan untuk berburu di hutan. Ia sangat terpukul sejak istrinya hilang. Ia tahu bahwa semua ini adalah kesalahannya.

Istri baru Sang Pangeran mulai merasa iri pada Gulabi Jan. Karena itu, ia merencanakan akan berbuat sesuatu yang akan membuat hidup Gulabi-Jan menderita. Ia menyuruh pembantunya Saifudin untuk membawa Gulabi Jan ke tengah hutan, dan meninggalkannya di sana, biar dimakan oleh serigala buas.

Gulabi Jan tidak tahu apa yang sedang dilakukan oleh Saifudin. Matanya ditutup dengan kain kasar dan ia dibawa dalam perjalanan yang jauh. Ketika membuka matanya, ia lihat ia sudah berada dalam kegelapan di tengah hutan. Hanya sinar rembulan di langit yang nampak olehnya. Ia menangis ketakutan, sambil menutupi badannya dengan jubah, karena kedinginan. Akan tetapi, tiba-tiba, ia mendengar suara nyanyian:
Akulah Peri yang sendiri dan sedih, karena telah meninggalkan anak kesayanganku, Gulabi Jan. 

Mendengar suara nyanyian itu, Gulabi Jan bangun dan berlari menuju arah suara itu, lalu ia berteriak," Hai, suara siapakah itu? Mengapa kau sebut-sebut namaku?"

Maka muncullah peri yang cantik. Ia mengatakan kepada Gulabi Jan bahwa ia adalah ibunya yang dulu pernah meninggalkannya selama beberapa tahun. Gulabi Jan sangat gembira. Demikian juga ibunya, karena bisa bertemu kembali.

Namun, tiba-tiba muncullah ratu peri. "Aku sangat senang melihatmu berkumpul lagi bersama anakmu, tetapi dia tidak dapat tinggal di sini bersama kita, karena ia separuh manusia dan dapat membawa kesulitan kepada kita."

"Ratu peri, kasihanilah kami, karena aku tidak dapat hidup sendirian di hutan ini, tanpa anakku dan ayahnya. Jadi bolehkah aku kembali lagi ke istana dan tinggal di sana seperti sebelumnya?" pinta peri sambil bersujud.

"O, peri yang malang, kata Ratu Peri."Tahukah kau apa yang telah terjadi di istana? Suamimu itu telah menikah lagi dengan seorang wanita jahat. Ia telah memperlakukan anakmu dengan tidak baik. Lihatlah, anakmu ada di sini. Semua ini karena ulahnya, ia ingin anakmu dimakan binatang buas."

"Oh, kejam sekali," kata peri. "Karena itulah, Aku tidak akan meninggalkan anakku lagi ke tangan manusia. Biarkanlah anak ini tinggal di sini bersamaku."

"Maafkan, peri, semua ini adalah kesalahanku yang membawamu kemari tanpa memperhitungkannya terlebih dahulu," kata Ratu Peri.

"Baiklah kalau begitu, kau boleh kembali lagi bersama suami dan anakmu, tapi ingat, tunggu sampai suamimu yang mencari ke mari untuk melihat, apakah ia masih membutuhkanmu atau tidak. Kalau ia memang membutuhkanmu, aku merelakan kau keluar dari keluarga peri dan ikut bersama keluarga manusia."

Peri sangat bersyukur atas kebijaksanaan yang telah diambil oleh ratu peri. Namun, belum sempat ia mengucapkan rasa terima kasih, Ratu Peri telah menghilang. Peri dan anaknya sangat gembira. Ketika Gulabi Jan sedang bermain-main, ia mendengar suara pemburu, pasti itu ayah," teriaknya.

"Ya," jawab peri, lalu mereka menunggu sampai pemburu itu mendekat.

Ternyata benar, pemburu yang datang itu adalah ayah Gulabi Jan. Mereka sangat gembira bisa berkumpul kembali, dan Sang Pangeran sangat marah ketika mendengar cerita tentang perlakuan istri keduanya terhadap Gulabi Jan. Setelah menempuh perjalanan tiga hari, akhirnya mereka tiba di istana. Peri dan Gulabi Jan masuk ke dalam kamar di Istana Mutiara.

Melihat kedatangan peri dan Gulabi Jan, Zorah sangat marah," Akan kusiram mereka dengan air panas!" katanya kepada Zebun. Kemudian ia dan anaknya berlari menuju sumur, mengambil air untuk dimasak. Tapi, karena tidak hati-hati, mereka terpeleset dan tercebur ke dalam sumur, hingga  tenggelam. Sementara itu, Pangeran, Peri dan Gulabi Jan hidup dengan bahagia sampai akhir hayat mereka.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Anak Gadis Di Sarang Jin"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim  - Jakarta
Read More

Kisah Nasi Menangis

03.31 0
nasi menangis
"Ayo Noe habiskan nasinya, tidak baik loh membuang-buang makanan terus-menerus," Ibu selalu membujuk Noe untuk menghabiskan makanannya karena Noe suka sekali menyisakan makanan yang dia makan.

"Ah ibu, Noe sudah kenyang. Noe tidak mau menghabiskannya lagi," kata Noe bersikeras untuk tetap tidak mau menghabiskan nasinya tersebut.

"Ya sudah, kalau begitu. Tetapi lain kali jangan seperti ini lagi ya," Kata Ibunya sambil membereskan piring dan membawanya masuk ke dapur.

Noe, hanya diam dan tidak memperdulikan perkataan ibunya, Ia memang selalu seperti itu, padahal di luar masih banyak orang yang kekurangan makanan.

Setelah makan Noe langsung tertidur pulas karena kekenyangan, tapi tiba-tiba ia mendengar suara tangisan dari dapur, Ia pun bergegas untuk menghampirinya, dan ingin tahu siapa yang menangis di dalam dapur.

"Hiks...hiks... kamu jahat Noe, kenapa kamu membuangku? Padahal kan masih banyak yang membutuhkan aku, masih banyak orang yang kelaparan di luar sana," Ternyata suara itu adalah tangisan nasi yang tadi Noe makan dan Noe tidak menghabiskannya. Noe terus saja memperhatikan nasi itu.

"Kalau kamu memang tidak suka memakanku, aku tidak akan berada dalam rumah ini lagi, biarlah kalian semua kelaparan," Teriak Nasi itu marah dan terus menangis.

Noe langsung menghampiri nasi tersebut dan meminta maaf atas kesalahannya, karena bagaimana kalau di rumah itu tidak ada nasi, oh pasti dia akan sangat menderita.

"Maafkan aku nasi, tetaplah di sini karena kamu adalah makanan pokok yang harus aku makan setiap hari," Noe memohon dengan harapan nasi akan memaafkan perbuatannya.

"Aku akan memaafkanmu, tetapi kamu harus berjanji tidak akan menyisakan makanan yang sedang kamu makan, dan tidak akan membuang-buang makanan lagi," Nasi membuat kesepakatan dengan Noe.

Noe pun berjanji, Ia akan selalu menghabiskan makanannya dan tidak akan membuang-buangnya lagi.


Sumber: Buku "Kisah Dari Negeri Dongeng" 
Disusun oleh: Mulasih Tary 
Penerbit: Pustaka Anak-Yogyakarta.
Read More

Pahlawan Dari Persia

19.30 0
Pahlawan dari Persia
Dulu, di Persia ada seorang pahlawan besar. Namanya Rustam. Ia adalah anak pungut dari seekor burung ajaib, bernama Simurg. Ketika Rustam akan kembali ke masyarakat, burung itu memberinya sebuah bulu.

"Jika kau butuh pertolongan," kata Simurg. "Bakarlah bulu ini. Aku akan datang menolongmu."

Rustam punya seorang musuh. Namanya Bahman. Setiap kali bertemu dengan Rustam, ia selalu menantangnya untuk berkelahi. Suatu hari, ketika sedang berburu singa di gunung, Rustam bertemu dengan Bahman. Di sana, mereka berkelahi sepanjang hari. Barulah setelah malam, mereka berhenti, karena lemas kecapaian. Mereka jatuh bersebelahan di tanah. Masing-masing dari mereka tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.

Rustam bangun dan pergi meneruskan berburunya. Ia mendapatkan banyak singa. Kulit singa itu ia jadikan sebagai baju dan topi. Rustam mempunyai topi kulit singa yang ajaib. Jika topi itu ia pakai, maka ia dapat menghilang.

Sementara itu, Bahman kembali ke istana. Dalam perjalanan ke sana, ia dicemooh orang-orang. "Hai, Bahman, katanya kau dapat menangkap Rustam dengan tanganmu sendiri dan membawanya kepada Sang Raja. Dasar pembohong besar!"

Bahman sangat malu dikatakan sebagai pembohong besar. Wajahnya merah. "Aku akan membuktikan pada rakyat bahwa aku bisa mengalahkan Rustam dan memperoleh julukan pahlawan paling besar di negeri itu," katanya dalam hati. Lalu, Bahman membuat sebuah benteng besar di bukit yang dindingnya terbuat dari baja. Ia tempatkan para penjaga di atas dinding itu dan ia kelilingi benteng itu dengan parit yang lebar.

Setelah benteng itu jadi, Bahman mengundang Rustam untuk mengadakan pertandingan. Rustam datang dengan kudanya, Rasksh. "Selamat datang, Rustam. Masuklah ke bentengku. Kita akan bertarung di sini, untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pahlawan paling besar di seluruh Persia ini," teriak Bahman, ketika Rustam sampai di pintu gerbang benteng itu.

Pintu gerbang itu dijaga oleh jin Kaypush dan Yarapush. Jadi untuk dapat masuk ke dalam benteng itu. Rustam harus dapat mengalahkan kedua jin itu dulu. Rustam dengan pentungan kayunya yang besar dapat mengalahkan Jin Yarapush, sementara kuda Rustam, Rasksh, dengan tendangannya yang dahsyat berhasil melukai kepala Jin Kaypush.

Setelah mengalahkan kedua jin itu, Rustam mengenakan topi kulit singanya, agar ia bisa menghilang. Lalu, ia masuk lapangan Benteng Baja tersebut bersama Rasksh di sebelahnya. Bahman bingung, karena ia tidak melihat Rustam, yang ada hanya kudanya.
"Cepat cari Rustam di semua sudut benteng. Akan kuberi hadiah siapa saja yang pertama melihatnya," teriak Bahman.

Mendengar perintah Bahman, para penjaga benteng dan jin berlarian ke sana kemari, mencari Rustam di setiap kamar, tetapi tidak ditemukan. Padahal, ketika itu Rustam sedang mengadakan penyelidikan di benteng itu. Ia melihat ada empat kamar berpintu baja di benteng itu. Kamar pertama berisi emas dan permata. Kamar kedua berisi tong-tong bubuk mesiu. Kamar ketiga berisi lembing dan tombak. Kamar keempat tertutup. Dari lubang kunci pintunya dapat dilihat bahwa di dalam kamar itu terdapat seorang gadis yang rambutnya diikat ke sebuah gantungan di langit-langit, lalu Rustam meletakkan tongkatnya dan merusak pintu itu. Sebelum melepaskan tawanan itu. Rustam membuka topinya, agar dapat terlihat kembali .

"Maaf, Nona. Apakah kau seorang puteri raja?" tanya Rustam pada gadis yang mengenakan baju kebangsawanan dan perhiasan dari emas permata.

"Ya," kata gadis itu. " Namaku Mah-Naz. Aku tidak tahu mengapa aku bisa diikat dengan rambutku sendiri di benteng yang menyeramkan ini. Terima kasih atas bantuanmu."

"Ikutlah denganku, aku akan membawamu pergi" ajak Rustam. "Tapi. sebelum itu aku harus mengalahkan musuhku dulu, karena ia mengundangku ke tempat ini untuk bertarung."

"Tuan, Aku mohon padamu untuk membawaku ke istana ayahku di Turkestan, tapi jangan sampai ketahuan oleh Bahman," pinta gadis itu.

"Pakailah topi kulit singa ini dikepalamu," suruh Rustam pada gadis itu." Berjalanlah di belakangku, karena aku akan bertarung dengan Bahman dulu. Jika sesuatu terjadi padaku, bakarlah bulu ini, maka pelindungku, Simurg, akan datang. Mintalah kepadanya agar kau diantarkan ke istana ayahmu. Kau akan tiba disana dengan segera setelah kau minta padanya"

"Tidak, tidak, aku tidak mau meninggalkanmu, aku akan tetap bersamamu di sini," kata Mah Naz, lalu ia memakai topi dan memegang bulu itu. Ia berjalan di belakang Rustam menuju ke tengah lapangan benteng itu.

Belum sempat Rustam bertarung dengan Bahman, ia sudah diserang oleh para penjaga benteng itu. Jin Efrit, Kaypush dan Yarapush menyergapnya dan membawanya ke tengah lapangan. Di sana, Bahman sedang duduk di singgasana keramik hitamnya didampingi dengan dua belas jin lainnya.

"Hai, Rustam, Pahlawan Besar Persia," teriak Bahman. "Akhirnya kau terima juga tantangan dariku. Lepaskan dia, Jin Efrit! Berikan dia pentungan yang besar. Kita akan lihat sekuat apa lawan kita ini."

Akhirnya, Bahman dan Rustam bertarung di tengah-tengah para penjaga benteng dan jin yang memberi dukungan kepada Bahman. Sementara, pendukung Rustam tidak ada, kecuali Mah-Naz yang tidak kelihatan. Dalam pertarungan itu, Rustam mengalami kekalahan. Ia jatuh di tanah dan tak dapat berdiri lagi. Mah-Naz menangis ketakutan. Ia pikir Rustam telah mati. Maka, dibakarlah bulu yang diberikan kepadanya. Dalam waktu sekejab, terdengarlah suara kepakan sayap yang keras dari seekor burung raksasa. Kepakan itu membuat suasana di benteng itu menjadi gelap gulita, dan para penjaga benteng berjatuhan.

"Siapa yang berani menyerang Rustam, yang berada di bawah lindunganku," kata Simurg dengan suara yang dahsyat sambil mengusapkan sayapnya ke badan Rustam dan Rustam pun kembali sehat seperti semula.

Sementara itu, Bahman berusaha untuk melarikan diri, tapi terlambat, karena Simurg telah membacakan manteranya.
"Jadilah kau batu, Hai, Manusia jahat!" Dan, semua yang ada di benteng itu pun berubah menjadi batu.

Belum sempat Rustam mengucapkan terima kasih pada Simurg, karena telah menyelamatkannya, burung itu sudah tidak ada. Namun, ia meninggalkan bulu lainnya di atas tanah. Bulu itu disimpan oleh Rustam.

Lalu, Rustam dan Mah-Naz keluar dari benteng itu menuju ke Turkestan. Ketika tiba di Turkestan, rakyat menerima mereka dengan gembira, karena sang puteri yang diculik oleh Bahman telah kembali. Sang Raja menjamu Rustam selama berminggu-minggu dan memberinya hadiah emas.

Sebenarnya, Mah-Naz ingin sekali Rustam menjadi suaminya. Tapi, ketika ia menyuruh pengasuhnya untuk mengatakan hal itu kepadanya. Rustam memakai topi kulit singanya dan menghilang dari pandangan, karena ia selalu mencurahkan hidupnya untuk bertarung dan memburu binatang buas.



Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Anak Gadis Di Sarang Jin"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim  - Jakarta
Read More

Anak Gadis Di Sarang Jin

20.13 0
Anak Gadis di Sarang Jin
Dahulu kala, di atas sebuah lereng gunung di Iran, hiduplah seorang gadis yang diasuh oleh tujuh jin. Gadis itu ditemukan oleh ketujuh jin itu di hutan, ketika mereka sedang berburu, lalu mereka membawa gadis itu ke benteng mereka. Di sana, gadis itu diasuh oleh jin pembantu. Kini, gadis cantik yang bernama Fatima itu umurnya sudah tujuh belas tahun.

Suatu kali, ketika sedang membuka jendela, Fatima melihat seorang pemburu lewat di situ.
"Hai, jin pembantu, lihat ada jenis makhluk sepertiku? Siapakah dia? Aku belum pernah melihat sebelumnya," tanya gadis itu kepada jin pembantu.

"O, itu namanya manusia. Kau tak boleh bicara apa-apa padanya, nanti ketujuh saudaramu marah," jawab jin pembantu.

Akan tetapi, Fatima tak mempedulikannya. "Aku akan membuka jendela dan bicara dengannya, kelihatannya ia kecapean dan kepanasan. Mungkin ia haus dan lapar.

Maka dibukalah jendela itu, dan ia berteriak sekeras-kerasnya, "Hai, manusia, masuklah ke benteng ini, kau pasti butuh makanan atau minuman. Aku hanya sendirian di sini, saudara-saudaraku sedang pergi berburu."

Orang yang lewat di situ ternyata seorang pangeran bernama Nurudin. Ia sedang mencari kudanya yang terlepas. Melihat ada seorang gadis berteriak dari jendela di atas benteng, ia sangat kaget, lalu ia datang mendekati pintu gerbang benteng itu.

Fatima lalu menyuruh jin pembantu untuk membukakan pintu. Di dalam benteng itu. Nurudin disuguhi anggur, keju, dan kue manis yang lezat-lezat. Fatima tampak suka sekali dengan Nurudin, karena Nurudin banyak bercerita tentang dunia luar.

"Rasanya aku ingin sekali melihat apa yang kau ceritakan," kata Fatima. "Tapi, aku harus izin dulu pada saudara-saudaraku."

"Jangan, Fatima," larang jin pembantu. "Ketujuh majikanku tidak akan pernah mengizinkanmu pergi dari benteng ini. Apalagi kalau mereka melihat anak muda ini ada di sini., mereka akan gmembunuhnya."

"Kalau tak diizinkan, aku akan kabur dari benteng ini," jawab Fatima.

"Nurudin sangat kagum dengan keberanian Fatima. Ia berjanji akan menjemputnya dan membawanya ke istana raja, setelah ia selesai berburu. Namun, sebelum selesai ia berbicara, terdengar suara keras dari luar.

"Hai, manusia!" teriak jin pembantu. "Sembunyilah di lemari ini, majikanku telah kembali. Mereka akan mencabik-cabikmu, jika tahu kau ada di sini."

Jin pembantu memang jin yang baik. Ia tidak mau kalau Nurudin jadi mangsa para majikannya. Maka dengan cepat ia, Ia masukkan Nurudin ke lemari. Tak lama kemudian, masuklah ketujuh jin itu.

"Fatima, kau masak apa?" teriak salah satu jin. Sementara, Jin yang lainnya berteriak-teriak dan tertawa sembari menghentak-hentakan sepatunya ke lantai dan meletakkan jubah bulu mereka.

"Hai, Pembantu, ambilkan minuman anggur, kami sangat haus."suruh mereka. Dengan cepat jin pembantu mengambilkan mereka minum.Tiba-tiba, dengan hidungnya yang besar, salah satu dari mereka mulai mengendus bau manusia. " Manusia, manusia, aku mencium bau manusia," kata jin itu.

Fatima pucat dan hatinya mulai berdetak dengan cepat. Padahal, di dalam lemari, pangeran berjubel dengan baju-baju, yang tidak akan tercium baunya.

"Seseorang ada disini! Fatima, di mana dia," teriak jin itu.

Dengan sangat marah, Jin yang lain mulai berdiri. Mereka masuk kedalam ruangan satu persatu sambil mengendus seperti binatang buas, tapi mereka tidak berpikir bahwa manusia yang dicarinya ada dalam lemari. Ketika mereka keluar dari ruangan itu, dengan cepat, Fatima membuka lemari itu dan menyuruh Nurudin untuk keluar.

"Cepat-cepat, aku akan menunjukkanmu ke sebuah jalan rahasia untuk keluar dari benteng ini!" bisik Fatima dengan tangan gemetar.

Fatima dan Nurudin berlari bersama-sama menuju ke sebuah lorong sempit. "Kau ikut aku saja, Fatima. Aku akan menyelamatkanmu dari tempat yang menakutkan ini," bisiknya. Dengan tenang, Fatima mengangguk. Sedikit demi sedikit mereka lewati lorong kecil itu. Akhirnya mereka berhasil keluar di taman belakang benteng itu.

"Apakah di sini ada Kuda?" tanya Nurudin.

Dengan berjalan mengendap-ngendap, Fatima menuntun Nurudin ke kandang kuda. Akhirnya mereka berhasil mengambil kuda dan melarikan diri dari benteng itu, salah satu dari Jin melihat mereka.
"Lihat itu mereka," teriak jin itu. "Kejar mereka"

Kuda itu berlari seperti angin. Di belakang tampak kuda para jin berusaha mengejarnya. "Fatima, Fatima kembali. Kami akan memaafkanmu. Kami hanya ingin menangkap manusia itu saja."

 Fatima takut sekali mendengar gelegar suara jin yang sangat besar itu. Ia tahu kuda-kuda jin itu pasti sudah sangat dekat dengannya. Maka dimasukkanlah tangannya kedalam tasnya dan diambilnya segenggam benih rumput ajaib dari tas itu. Kemudian ia sebarkan benih itu kebelakangnya. Dalam waktu sekejab, benih rumput itu pun tumbuh menjadi padang padang rumput yang luas dan lebat. Dengan adanya padang rumput itu, kuda para jin mulai mendapatkan hambatan. Mereka tidak dapat berjalan dengan cepat seperti sebelumnya. Setelah setengah jam, barulah mereka dapat melewatinya lagi.

"Fatima, lihat mereka ada di belakang kita. Apa yang kita lakukan?" kata Nurudin.

"Jangan takut, Nurudin," kata Fatima sambil memasukkan tangannya lagi ke dalam tas dan mengambil biji-biji pohon cemara. Biji-biji itu kemudian ia sebar ke belakangnya. Dalam sekejap, biji-biji itu pun berubah menjadi hutan cemara yang lebat, sehingga mereka tidak dapat melihat apa-apa yang ada di depannya.

Ketika hampir sampai di istana ayahnya, Nurudin berteriak, Awas, mereka ada di belakang kita lagi. Apa yang harus kita lakukan?"

Seperti biasa, Fatima merogoh tasnya. Kali ini yang diambilnya adalah butiran-butiran garam. Ketika butiran-butiran itu disebar, dalam sekejap, daratan yang ada di belakang Fatima berubah menjadi laut. Ketujuh jin itu pun akhirnya tenggelam, karena tidak bisa berenang.

Setelah melalui perjalanan yang menegangkan, akhirnya mereka tiba di Kota Nishapur. Di sana, Nurudin dan Fatima melangsungkan pernikahan, dengan pesta selama tujuh hari tujuh malam. Sementara itu, kuda-kuda yang mereka bawa kesana, sebulan kemudian menghilang, karena kuda-kuda itu tahu bahwa majikan mereka adalah manusia. Mereka lebih suka melayani para jin daripada manusia, karena jin memiliki keajaiban.



Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Anak Gadis Di Sarang Jin"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim  - Jakarta
Read More

Kiko Semut, Tak Mau Berjabat Tangan

07.51 0
kiko semut
Kiko Semut adalah semut yang suka menolong. Ia sangat baik kepada teman-temannya. Tetapi, pada suatu hari, tangan Kiko terluka karena menolong Kakek Semut membawa makanan ke rumahnya. Kiko bingung bagaimana supaya tangannya sembuh dari luka itu, padahal setiap hari ia harus berjabat tangan dengan teman-teman semut lainnya.

"Kiko..! kenapa muka kamu terlihat murung?" tanya Ibu Lebah pada suatu hari.

"Aku sedih karena tidak bisa lagi bersahabat lagi dengan teman-temanku, mereka menjauhiku karena aku tidak mau berjabat tangan dengan mereka," jawab Kiko kembali murung.

"Apa teman-teman kamu tahu, kalau tangan kamu terluka?" tanya Ibu Lebah.

"Mereka tidak tahu kalau tanganku terluka, mereka pikir aku marah, padahal aku ingin menjelaskan kepada mereka. Tetapi, sekarang mereka malah menjauhiku," mata Kiko berkaca-kaca menjawab pertanyaan dari Ibu Lebah.

"Ya sudah, sekarang kamu jangan sedih lagi ya, nanti Ibu Lebah akan membantumu untuk memberi tahu teman-temanmu," ucap Ibu Lebah lembut.

"Benarkah itu? terima kasih Ibu Lebah," Kiko menjawab dengan senang.

"Sekarang kamu pulang, dan obati tangan kamu biar cepat sembuh," Ibu Lebah pergi meninggalkan Kiko, Ia ingin memberi tahu teman-teman Kiko, bahwa mereka sudah salah paham dengan Kiko.

Keesokan harinya, teman-teman Kiko datang kerumah Kiko dengan membawa makanan, ada yang membawa madu, kue dan masih masih banyak lagi. Kiko sangat senang melihat teman-temannya mau menjenguknya.

"Kenapa kamu tidak memberitahu kami, kalau tangan kamu sakit Kiko?" tanya Oni Semut.

"Aku mau memberi tahu kalian, tapi kalian sudah marah terlebih dulu denganku,"Kiko menjawab dengan malu-malu.

"Ya, sudah, kami minta maaf ya Kiko," Ucap Lola Semut, sambil mengulurkan tangannya.

"Ya, aku maafkan, tapi aku belum bisa berjabat tangan dengan kalian,"Kiko kembali bersedih.

"Sudahlah tidak apa-apa, besok juga bisa sembuh" Lola Semut memberi semangat.

"Oh iya, kita makan-makan yuk? kita kan sudah bawa makanan banyak," ajak Oni Semut.

"Ayo....!!" mereka menjawab serentak.

Tiba-tiba datang Ibu Lebah ke rumah Kiko, Ia ingin menjenguk, dan Ibu Lebah juga membawa banyak madu untuk Kiko.

"Wah banyak sekali makanannya. Terima kasih ya teman-teman, terima kasih Ibu Lebah karena sudah membantu Kiko untuk berkumpul lagi dengan teman-teman," Kiko berkata dan tersenyum manis.

"Iya, sekarang tunggu apa lagi? ayo kita makan," kata Ibu Lebah sambil memberikan madu yang manis rasanya.

Kini Kiko sangat senang, karena bisa berkumpul lagi dengan teman-temanya, yang selama ini mengira Kiko berubah, ternyata itu hanya salah paham, dan ternyata kesalah pahaman bisa merusak persahabatan.

Sumber: Buku "Kisah Dari Negeri Dongeng" 
Disusun oleh: Mulasih Tary 
Penerbit: Pustaka Anak-Yogyakarta.
Read More

Anak Majikan yang Hatinya Dengki

17.16 0
Anak majikan yang hatinya dengki
Dahulu kala, ada seorang bangsawan yang tinggal di sebuah rumah besar, tidak jauh dari Samarkand. Suatu hari, bangsawan yang bernama Abdul Azim itu, membeli seorang budah laki-laki. Namanya Gafur. Anak itu, Ia ajarkan membaca dan menulis, serta ia asuh seperti layaknya anak sendiri. Hal ini membuat jengkel para pembantu lainnya. Bahkan ada yang benci kepadanya. Setiap yang dilakukan oleh Gafur selalu mereka tentang. Mereka selalu membuat cerita-cerita yang jelek tentang Gafur kepada majikannya, agar Gafur dibenci. Akan tetapi, Abdul Azim tahu kalau mereka itu iri, sehingga setiap kali mereka berbuat, ia selalu memarahinya dan menyuruh mereka kembali bekerja.

Setiap hari, Gafur belajar dari buku-buku, sehingga dengan cepat ia dapat menyamai ilmu yang dimiliki oleh Abdul Azim. Mereka selalu bersama-sama pergi ke istana, bergabung mendengarkan pidato-pidato di depan raja.

Suatu hari, ketika Gafur sedang berada di dalam istana, puteri raja, Shiraz melihatnya dari balik tirai singgasana raja. Sang Puteri langsung jatuh cinta kepadanya. Karena itu, ia menyuruh pengasuh untuk mendekati Gafur.

"Tuan Muda,"kata wanita tua itu. "Ini lukisan majikanku. Katanya, ia jatuh cinta pada Tuan.

"Katakan pada majikanmu bahwa aku sudah melihatnya. Tetapi, maukah kau mengatakan padaku, siapa majikanmu itu?"

"O, tidak Tuan," kata wanita tua itu. "Majikanku hanya menyuruhku untuk memberikan gambar ini. Nanti aku akan kembali menghubungi Tuan."

Karena tertariknya dengan masalah itu, secara diam-diam Gafur membuntuti wanita tua itu. Akan tetapi, ia amat terkejut, ketika melihat wanita tua itu masuk ke dalam istana. Siapakah dia?

Sementara itu, Abdul Azim punya seorang anak laki-laki. Anak bangsawan itu sangat iri pada Gafur. Ia sering mengadu pada ayanya bahwa Gafur itu serakah dan licik. Ia juga bilang bahwa Gafur akan mengambil alih kedudukannya sebagai majikan. Abdul Azim termakan juga oleh hasutan anaknya, maka ia memutuskan untuk mengetesnya.

"Gafur," kata Abdul Azim suatu malam. "Aku akan berziarah selama dua tahun. Sementara aku pergi, aku ingin kau menggantikan tugasku. Kau harus menggaji para pembantu dan membayar para pedagang. Kau harus menjaga istri dan anakku, memberi petunjuk pada anakku dan hadir pada setiap pertemuan di istana sebagai wakilku."

"Dua tahun, Tuan," Kata Gafur dengan sedih,"lama juga ya?. Tapi, akan kucoba.

Abdul Azim memandang Gafur dengan penuh keraguan. Apakah semua yang dikatakan Gafur itu benar?

Malam itu Gafur tidak dapat tidur. Akhirnya, ia bangun menuju ke jendela memandang ke arah air mancur. Lalu, Gafur melepas baju tidurnya, dan keluar mendekati air mancur itu. Tiba-tiba ia mendengar suara tawa dari tengah-tengah air mancur itu...ternyata, seorang peri yang cantik.

"Ketahuilah, manusia," kata peri itu. Aku adalah jiwa penunjukmu dan kau adalah tanggung jawabku, karena ketika kau lahir, aku hadir. Ketika itu, akulah yang melindungimu. Sekarang aku harus membantumu, karena kau dalam bahaya."

"Bahaya?," tanya Gafur. "Bahaya kenapa? Aku tidak punya musuh di dunia ini."

Peri itu tersenyum."O, tentu saja ada, anakku! mereka adalah anak majikanmu dan semua pembantu di rumah itu, bahkan sekarang majikanmu sendiri pun akan membencimu."

"Majikanku akan berziarah, aku disuruh menjaga rumahnya," kata Gafur. "Bagaimana ia tidak percaya padaku?"

"Itu hanya tipuan," jawab peri itu.

"Tipuan apa? Berikanlah petunjuk padaku" kata Gafur ingin tahu.

"Besok, ambillah jubah yang sudah robek, masukkan emas ke dalamnya, kemudian jahit. Berikan pada majikanmu, dan katakan bahwa kau tidak bisa menggantikan tugas majikanmu, karena kau tidak pantas. Yang pantas adalah anak majikanmu dan mintalah izin padanya agar kau ikut bersamanya," kata peri itu.

Gafur mulai sadar bahwa ia sedang melamun, tetapi ia yakin bahwa apa yang dikatakan peri itu benar. Hari berikutnya, Gafur siap dengan pakaian jubahnya.

"Gafur," sapa majikan, "mengapa kau mengenakan jubah jelek seperti ini?"

"Tuan, aku tidak bisa menerima tugas yang kau berikan." kata Gafur, "Izinkanlah aku ikut dengan Tuan, biar aku bisa menjagamu kalau kau dirampok atau kalau kau mendapatkan kecelakaan. Aku telah memasukkan banyak emas pada jubah jelekku ini. Biarkanlah puteramu yang mengurus rumah ini."

Melihat sikap Gafur, Abdul Azim langsung memeluknya dan mengatakan bahwa sebenarnya ia tidak akan pergi berziarah. Ia hanya sekedar ingin mengetes, karena ada orang-orang tertentu yang mencurigai Gafur.

Dalam kesempatan itu, Gafur juga bertanya,"Ada salah seorang wanita yang tinggal di istana menyatakan cinta kepadanya, lewat pembantunya. Siapakah dia?

"O, Gafur," kata Abdul Azim, "di istana itu tak ada orang lain lagi, selain Puteri Shiraz. Kau sangat beruntung, jika ia jatuh cinta padamu, dan sang raja pun tak akan menolak, karena ia sedang mencari menantu, sebab umur sang puteri itu sudah dewasa".

"Tetapi aku hanya seorang Budak, tak pantas kawin dengannya," kata Gafur.

"Jangan takut," jawab Abdul Azim. "Sejak saat ini, kau akan kumerdekakan. Aku akan memberimu satu tas berisi emas sebagai hadiah dan aku akan mengangkatmu sebagai anak kedua saya. Keluarga kami adalah satu-satunya keluarga tua dan terhormat, jadi kau akan diterima di istana."

Mendengar semua ini, anak majikan dan para pembantunya meminta maaf pada Gafur, dan dengan senang hati Gafur memaafkan mereka. Akhirnya, Gafur dan sang puteri pun melangsungkan pernikahan. Pada pesta pernikahan mereka, banyak yang mengirimkan hadiah emas dan permata. Para penghuni istana sangat kaget melihat harta yang melimpah.

"Mudah-mudahan kalian hidup bahagia dan diberkahi banyak anak" bisik Peri pada Gafur pada hari pernikahan itu.

Gafur dan puteri raja tinggal bersama-sama dengan senang sampai akhir hayatnya. Setiap hari Jum'at ia membagi-bagikan beratus-ratus uang logam kepada orang miskin. Dan ketika sang raja wafat, Gafurlah yang menjadi raja menggantikannya.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Petualangan Habib Bin Habib"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim (Divisi Zikrul Kids) - Jakarta Timur

Read More

Kemenangan Penghuni Hutan

22.38 0
Kemenangan penghuni hutan
Sudah beberapa hari para binatang sangat gelisah. Hal itu dikarenakan ulah para penebang pohon yang tidak bertanggung jawab. Padahal selama ini kehidupan mereka sangat aman dan damai. Tetapi sekarang kehidupan mereka sangat terganggu dengan kedatangan penebang pohon yang tidak bertanggung jawab.

"Mbremm...mbrem, mbreeeeeem.....!" Suara mesin membuat bising para penghuni hutan. Mereka sudah beberapa kali mengusir penebang pohon yang sangat mengganggu kelangsungan hidup para binatang. Tetapi tidak juga berhasil. Para penebang pohon malah semakin liar sehingga semua binatang amat takut dan membiarkan hutan yang menjadi tempat tinggal mereka menjadi semakin gundul.

"Kita tidak boleh membiarkan pohon-pohon itu terus ditebang. Lama-kelamaan kita semua akan mati jika terus-terusan seperti ini," keluh  Gajah semakin khawatir dengan keadaan hutan.

"Benar sekali apa yang dikatakan Gajah, tetapi bagaimana kita akan melawan mereka. Selama ini kita sudah melakukan berbagai cara, contohnya saja beberapa hari yang lalu. Harimau sempat menakut-nakuti para penebang pohon itu. Tetapi apa yang terjadi. Ia malah terkena senapan dan sekarang masih terluka di rumahnya," kata ular menjelaskan.

"Itu kalau kita mengerjakan sesuatunya tidak kompak. Kalau kita semua kompak pasti kita akan memenangkannya, dan para penebang pohon liar tersebut pasti akan kita kalahkan.," Akhirnya ular mengajukan pendapatnya.

Setelah beberapa saat berpikir. Singa si raja hutan pun menyetujui usulan ular yang dirasa masuk akal tersebut.

"Sekarang yang harus kita lakukan adalah menyusun strategi. Saya akan memberikan tugas masing-masing kepada kalian untuk meminpin pasukan kalian menakut-nakuti para penebang pohon tersebut," Singa memberikan komando kepada setiap pemimpin pasukan.

Setelah setiap pasukan mendapatkan tugas dari sang raja hutan. Mereka bersiap-siap untuk menjalankan aksinya malam ini juga. Karena mereka tidak ingin terlalu lama membuat para penebang pohon itu semakin lama di hutan.

"Baiklah saudara-saudaraku. Sekarang saatnya kita berangkat, yang pertama adalah pasukan gajah dan disusul pasukan ular dan pasukan semut, lalu yang lainnya ikut berjaga-jaga. Apakah kalian siap!" suara singa mulai meninggi membuat para pasukan semakin bersemangat.

"Siap!" seru para binatang dengan kompak.

Mereka lalu beriringan menuju tenda para penebang pohon. Tugas pertama dilakukan oleh ular. Mereka menyelusup ke tenda-tenda para penebang pohon tersebut, para penebang pohon kocar-kacir ketakutan mengetahui banyak ular yang masuk ke tenda mereka. Lalu pasukan gajah yang memang sudah berada di depan tenda. Pasukan gajah langsung masuk kedalam tenda, untuk memastikan keadaan. Para penebang pohon sudah keluar tenda semua, mereka akan mengambil senjata. Kini giliran pasukan semut yang menyerang. Sebelum para penebang pohon membidikkan senjatanya, pasukan semut sudah terlebih dahulu menggigit kaki mereka. Kini para penebang pohon liar itu semakin ketakutan. Mereka berlari tidak karuan di dalam gelapnya malam. Tetapi, pasukan singa serta pasukan macan mengejarnya. Sampai akhirnya para penebang pohon lari dan tidak kembali lagi.

"Hore!" semua penghuni hutan bersorak gembira atas kemenangan mereka. Kini mereka tahu jika mereka kompak pasti semua masalah akan teratasi dengan baik.


Sumber: Buku "Kisah Dari Negeri Dongeng" 
Disusun oleh: Mulasih Tary 
Penerbit: Pustaka Anak-Yogyakarta.
Read More

Petualangan Habib bin Habib

20.30 0
Petualangan Habib bin Habib
Habib adalah seorang pembuat karpet. Sepanjang hari kerjanya hanya duduk di depan perkakas tenunnya, melihat murid-muridnya yang sedang belajar menenun darinya. Sementara, anaknya Habib bin Habib tak pernah kelihatan hadir. Ia tidak tertarik menjadi pembuat karpet. Yang dilakukannya hanyalah pergi ke tempat para khafilah lewat, dimana di tempat itu ia dapat melihat rombongan unta yang sedang berjalan menuju Samarkand, Bukhara atau ke tepi pantai Gading Emas.

"Kapan aku dapat ikut serta dalam khafilah itu," kata Habib bin Habib dalam hati, ketika melihat seorang tukang kuda sedang menyisir ekor kuda berwarna perak, milik pedagang dari Tabriz.

"Apa kau tertarik dengan kuda cantik milik majikanku ini?" tanya tukang kuda itu. "Kau masih kecil, lebih pantas menggunakan keledai."

"Suatu hari, aku akan jadi seorang pedagang," aku akan punya kuda seperti itu, aku akan punya sekantong emas dan kawin dengan seorang putri."

"Enyahlah, kau, anak kecil," teriak tukang kuda itu. "Lebih baik kau menjauh dari kuda ini atau kau akan ditendang."

Melihat gelagat yang tidak baik dari si tukang kuda itu, Habib bin Habib pun pergi. Ketika sampai di rumah, ayahnya telah menunggunya . Di tangannya tampak sebuah tongkat.
"Hai, anak malas!" teriak ayahnya. "Aku mau menyuruhmu memilah-milah kain wol berwarna, tapi kau tidak ada. Kemana saja kau? Ke tempat rombongan khafilah itu lagi? Bekerjalah, atau aku akan memukulmu dengan keras."

"Ayah, kalau aku bisa ikut serta bersama rombongan khafilah ke tempat-tempat yang menarik, ayah pasti bangga. Aku yakin, pasti bisa." jawab Habib bin Habib pada ayahnya.

"Masih saja kau bermimpi!" Teriak ayahnya. "Ayo sana, pergi ke toko karpet."

Akhirnya Habib bin Habib pergi ke toko karpet. Karena lelahnya, di sana. Ia pun tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi kabur dari rumahnya. Ia memutuskan untuk bergabung dengan khafilah yang akan berangkat besok pagi. Ia membawa sebuah karpet kecil yang paling tua di toko itu. Tak ada seorang pun yang tahu keberadaan karpet itu, karena terletak di pojok toko itu.

Tempat pertama yang dituju olehnya adalah pasar. Di sana banyak sekali unta yang sedang bersimpuh. Unta-unta itu dilengkapi deingan pakaian dan bel. Sementara itu, para pedagang sibuk dengan pekerjaannya, yaitu menata sadel dan keranjang di punggung unta.

Habib bin Habib mendekati seorang tua berjanggut dan berkata kepadanya,"Tuan yang baik, bolehkah aku ikut rombonganmu."

"O, tidak boleh, Nak." kata orang tua itu. "Kecuali kalau kau membawa surat ijin dari ayahmu."

Lalu Habib bin Habib pergi lagi ke pedagang lainnya, "Aku akan menjaga untamu, tapi bolehkah aku ikut denganmu?"

Pedagang itu menjawab, "Kau masih terlalu kecil, Nak. Lagipula, aku sudah punya anak yang bertugas memberi minum unta. Karena itu, pulanglah, nanti orangtuamu akan mencari-carimu."

Bersamaan dengan berkokoknya ayam jago, unta-unta yang sedang tidur mulai menaikkan badannya sedikit-sedikit, kemudian berjalan melewati pintu gerbang kota.

"Hai, anak kecil, kulihat kau sendirian. Apa kau mau ikut denganku ke Samarkand." Tiba-tiba seorang laki-laki yang menunggangi unta paling akhir dalam khafilah itu mengajaknya.

Mendengar tawaran itu, Habib bin Habib senang sekali. Ia melompat-lompat kegirangan. Laki-laki itu juga senang, karena ia memang butuh seorang teman, barang dagangan yang dibawa oleh untanya sangat berat. Nama laki-laki itu Qadir. Ia seorang pedagang kain wol.

"Kalau kau mau membantuku, akan kuberi kau uang satu dinar perak setiap bulan." Kata Qadir kepada Habib bin Habib.

Hari demi hari, malam demi malam, dilewati Habib bin Habib dengan perasaan gembira. Gunung, padang pasir, panas, hujan dilaluinya, dan akhirnya sampailah mereka di Samarkand.
Di sana, Habib bin Habib memperoleh uang dinar pertamanya. Dengan uang itu, ia berjalan-jalan di Samarkand, mencari sesuatu untuk dibelinya. Ia membeli sebuah topi putih yang dihiasi oleh sulaman sutera dan baju hijau yang terbuat dari katun. Begitu gembiranya, malam itu ia tidak dapat tidur. Ia duduk diatas karpet yang ia bawa dari rumah sambil melihat anting-anting yang ia beli untuk ibunya di rumah.

"Kuharap, aku bisa terbang bersama karpet ini." katanya di bawah tiupan angin sepoi-sepoi. Namun, belum selesai kata-kata itu keluar dari mulutnya, karpet itu bergerak sedikit demi sedikit ke arah atas dan membawanya terbang ke udara.

"Hah! Karpet ini bisa terbang? Karpet ajaib!" Teriaknya." Kalau begitu, bawalah aku ke istana di negeri ini."

Hari itu, sinar bulan terang sekali. Di suatu tempat, karpet itu mulai turun sedikit demi sedikit. Ternyata ia mendarat di atap sebuah istana marmer. Habib bin Habib terkagum-kagum melihat istana itu. Di sana, ia melihat seorang putri sedang bermain kelereng. Tampaknya, itu Putri Bunga Emas. Usianya tak jauh berbeda dengan usia Habin bin Habib. Melihat kedatangan Habib bin Habib, Puteri itu senang sekali, karena ia mempunyai seorang teman bermain. Sang putri mengajak Habib bin Habib untuk bermain kelereng dengannya.

Akan tetapi, belum lama mereka bermain, sang pengasuh putri datang ke arah mereka. "Tuan puteri harus kembali untuk tidur." kata pengasuh putri itu.
"Bagaimana seorang anak kampung yang dekil ini bisa masuk ke sini dan bermain dengan tuan putri?"

Melihat pengasuh putri itu, Habib bin Habib lalu melompat ke karpet ajaibnya dan menyuruhnya untuk terbang. Tak lama kemudian, karpet itu pun terbang meninggalkan putri dan wanita tua itu. Di atas, angin bertiup kencang sekali dan langit sangat gelap. Habib bin Habib mulai terserang rasa kantuk dan akhirnya ia pun tertidur.

"Bangun, bangun, Nak!" kata si pembuat karpet itu sambil mengguncang-guncangkan Habib dengan tongkat, "Apakah kau ingin ikut rombongan khafilah dan keliling dunia? Aku telah berencana dengan pedagang dari Baghdad untuk mengajakmu dalam sebuah perjalanan."

Habib bin Habib sangat kaget melihat ayahnya. O, jadi, tadi itu hanya sebuah mimpi? Tetapi, di tangannya masih ada kelereng merah."Lihat, kelereng dari batu merah delima ini aku dapatkan dari tuan puteri," katanya sambil menunjukkan kelereng itu pada ayahnya.

"Dari mana kau dapatkan ini?" Tanya Ayahnya. "Kalau betul kelereng ini batu merah delima, pasti kita akan kaya, kalau kita jual kelereng ini ke tukang permata."

"Aku mendapatkan kelereng ini dari tuan putri," kata Habib bin Habib sekali lagi, lalu ia menceritakan pengalaman itu dari awal hingga akhir.

Habib sangat prihatin melihat tingkah laku anaknya, lalu ia ceritakan hal tersebut kepada istrinya. Ketika ibunya meminta penjelasan lagi, Habib bin Habib pun menceritakan hal yang sama.

"Lalu, mana karpet terbangnya?" tanya ibunya.

Ternyata, karpet itu tidak ada. Melihat tingkah laku anaknya yang aneh itu, kedua orang tua itu merasa iba juga. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengikutsertakan Habib bin Habib pada rombongan khafilah pedagang dari Baghdad selama enam bulan seperti yang telah mereka rencanakan.

Beberapa tahun kemudian, Habib bin Habib tumbuh menjadi seorang laki-laki dewasa dan menjadi seorang pedagang karpet. Ia menjual karpetnya dari satu negeri ke negeri lain, dan ia menjadi seorang pedagang yang berhasil.

Suatu ketika, ia tiba di Negeri Sogdiana. "Siapa nama puteri di negeri ini," tanya Habib bin Habib kepada orang-orang yang sedang duduk di sebuah kedai teh.

"Puteri Bunga Emas," mereka menjawab.

"Hah! Kata Habib bin Habib kaget, lalu tanpa buang-buang waktu lagi, ia kirimkan hadiah kepada sang raja dan meminta izin untuk meminang puterinya.

"Terserah pada puteriku," jawab sang raja, sambil menyuruh puterinya untuk melihat anak muda itu melalui tirai-tirai rahasia yang ada di dinding ruang penerima tamu.

Melihat kegagahan pedagang karpet itu, sang puteri langsung jatuh cinta. Ia menyatakan setuju kawin dengannya. Pada pesta perkawinan itu, Habib bin Habib memberikan batu permata merah delima yang sangat mahal.

Sumber: Buku Kisah Anak-anak dari Asia Tengah "Petualangan Habib Bin Habib"
Penulis: Males Sutiasumarga 
Penerbit: Zikrul Hakim (Divisi Zikrul Kids) - Jakarta Timur

Read More

Post Top Ad