Blog Oblok Oblok

Hot

Post Top Ad

Aku Tidak Bisu

03.36 0
aku tidak bisu
Ingin sekali kuteriakkan kata-kata itu, berulang-ulang agar orang yang baru kukenal tahu bahwa aku sebenarnya tidak bisu. Tetapi justru itulah yang dipikirkan orang mengenai diriku.

Aku memang anak yang pemalu, sangat pemalu. Aku tidak berani menegur orang lebih dulu. Kalau pun ditegur, biasanya aku tidak mampu menjawabnya. Bibirku seperti terkunci dan kerongkonganku serasa tersumbat.






Naywa, teman sebangkuku anak yang cerewet. Setiap hari dia mengajakku bercerita. Setiap hari dia mengajakku bercerita. Ada saja yang diceritakannya, tentang kucingnya baru beranak, tentang buku-buku ceritanya yang baru, atau tentang teman barunya di rumah. Dan, aku biasanya hanya mendengarkan dan tidak berani mengomentari ceritanya. Kalau selesai bercerita, biasanya dia bertanya padaku, siapa temanku di rumah atau buku apa yang sudah kubaca, Tetapi aku hanya bisa menjawabnya dengan menggeleng dan mengangguk.

Lama-lama dia bosan juga mengajakku mengobrol. Lalu dia pindah duduk di sebelah Mosa. Kudengar mereka berdua langsung asyik mengobrol seperti dua orang yang sudah kenal lama. Kini tinggal aku yang duduk sendirian di bangkuku, karena tidak ada yang mau duduk bersamaku.

Suatu hari Mama memaksaku pergi ke pesta ulang tahun Erika. Dia tinggal satu blok dari rumahku. Ibunya teman Mama. Itu sebabnya Mama menginginkan aku hadir di pesta ulang tahun itu.

"Kita harus menghargai orang yang mengundang kita," Kata Mama.

Terpaksa aku pergi. Memang, Mama menemaniku ke sana. Mama memperkenalkan aku kepada Tante Rita dan Erika. Tetapi setelah itu Tante Rita mengajak Mama masuk ke dalam.

Aku benar-benar tidak bisa menikmati pesta itu. Mula-mula, sih, Erika mau mengajakku mengobrol.

"Rumah kamu di blok apa? Kok, aku tidak pernah melihat kamu?" tanyanya.

Wajahku langsung memerah dan tanganku gemetar. Aku hanya membisu. Mulutku serasa kering. Kerongkonganku tersumbat. Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata untuk menjawab pertanyaannya.

Dia menatapku heran, tetapi masih berusaha mengajakku mengobrol. "Kamu kelas berapa? Sepertinya, aku juga tidak pernah melihatmu di sekolah.

Aku memaksakan diri untuk menjawab pertanyaannya, tetapi yang keluar dari mulutku hanya suara desis yang aneh. Akhirnya dia bosan, lalu meninggalkan aku untuk bergabung dengan teman-temannya.

Aku sendirian lagi. Itulah yang biasa terjadi pada diriku. Di sekolah, di pesta, atau di rumah. Aku sendirian, meski di sekelilingku ada banyak orang. Sementara teman-teman yang lain asyik bersenda gurau, aku hanya duduk tegak di kursiku sambil meremas-remas gaun pestaku, sendirian.

Akhirnya aku tidak tahan lagi. Aku keluar dari ruangan itu, bermaksud pulang ke rumah sendiri. Tetapi, ketika aku tiba di pintu, seseorang masuk dari arah depan dengan tergesa-gesa. Aku tidak melihatnya sehingga badan kami bertabrakan. Dia jatuh. Lebih sial lagi, tubuhku menimpa tubuhnya.

"Maaf," kataku buru-buru dengan wajah memerah. Aku hampir tersedak ketika menyadari aku bisa mengeluarkan suara di hadapan orang yang belum kukenal. Aneh. Benar-benar aneh.

Dia tertawa lepas. Wajahnya yang bulat dihiasi kaca mata tebal, sehingga kelihatan lucu sekali ketika dia tertawa. Aku merasakan adanya ketulusan dalam tawa lepasnya itu.

"Tidak apa-apa. Aku juga salah kok, jalan sambil melamun," katanya.

"Mau kubantu?" tanyaku ketika melihat dia belum juga berdiri. Sekali lagi aku merasa heran. Kenapa aku bisa tiba-tiba cerewet di hadapan orang yang belum kukenal?

Dia mengedipkan mata dengan lucu. "Kamu yakin bisa mengangkat tubuhku yang gemuk ini?"

Aku tertawa. Dia juga tertawa sambil mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Lalu dia melongok ke dalam lewat bahuku. "Pestanya sudah dimulai, ya?"

"Sudah sejak tadi," sahutku.

"Kalau begitu kenapa kita masih berdiri di sini? Ayo masuk!" katanya sambil menggandeng tanganku.

Kini aku tidak sendirian lagi. Bersama Santi, teman baruku itu, aku bisa menikmati pesta ulang tahun Erika. Aku yakin, bersama santi hari-hariku tidak akan sepi lagi. Aku pun semakin yakin, aku tidak bisu.

Oleh: Kemala P 
Sumber: Majalah Bobo Edisi 14 Terbit 11 Juli 2013.
Read More

Gara-Gara Jorok

08.19 0
cerita fabel: gara-gara jorok
Dulu, Uci, Guk-Guk, dan Tesi saling bersahabat. Mereka selau berjalan seiring dalam mencari makan. Bila ada potongan tulang, mereka selalu berbagi. Tidak jarang, Guk-guk dan Uci menunggui Tesi makan, Maklum tubuh tesi paling kecil. Sehingga makan sering tertinggal.

"Terima kasih, kalian selalu menungguiku makan. Sehingga perut kita sama-sama kenyang. Ini namanya persahabatan." Ujar Tesi sambil mengelus perutnya.

"Persahabatan memang indah." Timpal Uci sambil mengelus kumisnya. Guk-guk tertawa. Tak lama kemudian, Dia pergi ke sebuah pohon lalu kencing sambil berdiri.


"Hi...hi...hi..." Uci tertawa. "Kau kencing seenaknya, apakah tidak malu dengan sang Kelinci?" Guk-guk tersenyum kecut. Tiba-tiba hatinya kesal.

"Apa urusannya dengan aku? Aku adalah aku. Dia adalah dia." Suara Guk-guk meninggi.

"Aduuuuh...." Uci memegang perutnya. Wajahnya meringis seperti menahan beban.

"Ada apa Uci?" Tanya Tesi heran.

"Kau mau buang air besar, kan? Aku mau lihat apakah kau mempunyai rasa malu?" Ujar Guk-guk.

Uci rupanya mau buang air besar. Dia tidak tahan lagi. Lalu berlari ke arah rumpun pohon.

"Mengapa kamu tergesa-gesa?" Tanya Tesi. Sementara Guk-guk tertawa mengejek.

Uci tampak bingung. Dia melihat setumpuk pasir. Kemudian membuang kotorannya. Sesudah itu, kotorannya diuruk  dengan pasir tapi tidak rata. Tercium bau menyengat. Guk-guk marah.

"Kotoranmu bau! Bau! Aku tidak tahan!" Pekik Guk-guk. Sedang Tesi menutup hidungnya.

Beginilah nasib persahabatan. Hal sepele bisa jadi permusuhan. Sementara Tesi bersiul-siul, sebab dia tidak membuat jengkel teman-temannya. Sejak kejadian itu mereka tidak berjalan beriring lagi.

Suatu malam Guk-guk dan Uci sepakat bertemu di rumah Tuan Banu. Tuan Banu adalah saudagar kaya yang rumahnya berantakan. Mereka sepakat mencari kesalahan Tesi.

"Nah, itu Tesi sedang bergerilya." Ujar Uci kepada Guk-guk.

Guk-guk dan Uci mendekati persembunyian Tesi. "Aih apaan nih? Kakiku kok menginjak benda lengket?" Ujar Uci. Ternyata yang mereka injak kotoran tikus! Tentu saja keduanya kesal. Tesi buang kotoran di mana-mana.

"Ternyata kau sama joroknya dengan kami. Sekarang cucikan dulu kaki kami!" Pekik Guk-guk. Tesi di kejar Uci. Sedang Uci dikejar Guk-guk. Mereka bertiga berputar-putar mengeluarkan suara gaduh, sehingga Tuan Banu terbangun.

Lalu,"Zing...Zing...Zing...!" Tiga peluru katapel menghajar mereka. Ketiganya lari terbirit-birit dengan arah yang berbeda.

Sejak saat itu mereka saling bermusuhan. Tidak lagi makan dalam kebersamaan.

Sumber: Buku Seri Pengantar Tidur 1
Gara-gara jorok
Cerita: Kak Rasyid Akbar
Penerbit: Bestari
Read More

Kecerdikan Sang Kancil

06.48 0
cerita fabel: kecerdikan sang kancil
Kancil dan kura-kura sudah lama bersahabat. Pada suatu hari mereka pergi menangkap ikan disebuah danau. Berjumpalah mereka dengan seekor zebra. Zebra ingin ikut. Lalu mereka pergi bertiga.

Sampai di sebuah bukit mereka bertemu dengan seekor rusa. Rusa juga ingin ikut. Segera rusa bergabung dalam rombongan.  



Dalam perjalanan, disebuah lembah berjumpalah mereka dengan seekor babi hutan. Babi hutan menanyakan apakah ia boleh ikut. "Tentu saja, itu gagasan yang baik, daripada hanya berempat lebih baik berlima," jawab kura-kura.

S etiba di bukit yang berikutnya, berjumpalah mereka dengan seekor beruang. Lalu mereka berenam melanjutkan perjalanannya.

Kemudian mereka bertemu dengan seekor badak. "Bagaimana kalau aku ikut," tanya Badak. "Mengapa tidak", jawab semua.

B ahkan lalu bergabung pula seekor banteng. "Bagaimana kalau aku ikut," tangya banteng. "Mengapa tidak?", jawab mereka serentak..

Kali berikutnya rombongan kancil bertemu dengan seekor kerbau yang akhirnya ikut serta. Begitu pula ketika mereka dengan seekor gajah. Demikianlah, mereka bersepuluh berjalan berbaris beriringan mengikuti kancil dan akhirnya mereka sampai ke danau yang dituju. Bukan main banyaknya ikan yang berhasil ditangkap. 

 Keesokan harinya, beruang bertugas menjaga ikan-ikan, ketika yang lainnya sedang pergi menangkap ikan. Tiba-tiba seekor harimau mendekat.

Tak lama kemudian beruang dan harimau terlibat dalam perkelahian seru. Beruang jatuh pingsan dan ikan-ikan habis disantap harimau. 

Berturut-turut harimau kemudian mengalahkan yang bertugas menjaga ikan. Gajah, banteng, badak, kerbau, babi hutan, zebra dan kijang, semuanya menyerah.  

Sekarang tinggal kura-kura dan kancil yang belum terkena giliran menunggu ikan. Kura-kura dianggap tidak mungkin berdaya menghadapi harimau, maka diputuskanlah kancil yang akan menjaga. Sebelum teman-temannya pergi menangkap ikan, dimintanya mereka mengumpulkan rotan sebanyak-banyaknya. Lalu masing-masing dipotong kira-kira satu hasta. Tak lama kemudian kancil sedang sibuk membuat gelang kaki, gelang badan, gelang lutut dan gelang leher.

Sebentar-sebentar kancil memandang ke langit, seolah-olah ada yang sedang diperhatikannya. Harimau terheran-heran, lalu perlahan-lahan mendekati si kancil. Kancil pura-pura tidak mempedulikan harimau.

Harimau bertanya,"Buat apa gelang rotan bertumpuk-tumpuk itu?". Jawab kancil, "Siapa yang memakai gelang-gelang ini akan dapat melihat apa yang sedang terjadi di langit". Lalu dia menengadah sambil seolah-olah sedang menikmati pemandangan diatas. Terbit keinginan harimau untuk melihat apa yang sedang terjadi di langit.

Bukan main gembiranya kancil mendengar permintaan harimau. Dimintanya harimau duduk di tanah melipat tangan dan kaki. Lalu dilingkarinya kedua tangan, kedua kaki dan leher harimau dengan gelang rotan sebanyak-banyaknya sehingga harimau tidak dapat bergerak lagi.

Setelah dirasa cukup, rombongan si kancil berniat kembali pulang ke rumah, akan tetapi mereka bertengkar mengenai bagian masing-masing. Mereka berpendapat, siapa yang berbadan besar akan mendapatkan bagian yang besar pula. Kancil sebenarnya tidak setuju dengan usulan tersebut. Lalu dia mencari akal.

Tiba-tiba melompatlah kancil dan memberi tanda ada marabahaya. Semuanya ketakutan dan terbirit-birit melarikan diri. Ada yang jatuh tunggang langgang, ada yang terperosok ke lubang dan ada pula yang tersangkut akar-akar. Hanya kancil dan kura-kura yang tidak lari. Berdua mereka pulang dan berjalan berdendang sambil membawa ikan yang banyak.

Sumber: Buku Dunia Binatang
Penerbit: Pustaka Daffa
Read More

Takdir Untuk Si Gagak

19.25 0
cerita fabel: burung gagak
Hari sangat cerah. Perkampungan burung tampak ramai. Rupanya mereka sedang berbagi cerita. Sayang, Titi si burung sriti membawa kabar buruk.
" Aku baru saja diusir Leta si burung walet!" ujarnya kesal.

Geri si burung gereka juga sedang bersedih.
"Sarang baruku di rusak oleh manusia," keluhnya.

"Itu tidak seberapa," kata Toba si burung kenari.
"Kau masih bisa membuat sarang lagi! Sedangkan aku terpisah dari keluarga. Kami terlambat berlindung saat hujan datang...."

Sementara itu, Pak Burhan si burung hantu hanya berdiam diri . Matanya terlihat lelah.

"Apakah kau masih mengantuk, Pak Burhan?" tanya Geri.

"Ayo, berceritalah, Pak Burhan," bujuk Toba," agar beban pikiranmu berkurang."

"Tidak ada masalah apa-apa," jawab Pak Burhan lesu. "Aku 'kan mencari makan di malam hari. Jadi, wajar saja kalau pagi harinya aku mengantuk sekali," lanjut Pak Burhan sambil sesekali menguap,"Ooaaemm...."

"Hmm, rasanya memang tak ada masalah serius," gumam Titi.

"Hei, bukankah pengalaman adalah guru terbaik kita?" seru Toba.

"Ya!" sahut Titi. "Barangkali kita bisa mengambil pelajaran dari pengalaman Pak Burhan."

"Tapi, aku tidak memiliki pengalaman," ujar Pak Burhan.

"Malam hari kuhabiskan untuk mencari makan."

Tiba-tiba, terdengar suara mengejek dari balik pohon. "Ha ha ha, kau memang diciptakan tanpa pengalaman!" O-o....rupanya Giko si burung gagak yang ada di sana. Dia sedang tertawa terpingkal-pingkal.

"Tapi, kau tak perlu menertawakan Pak Burahan, Giko," tegur Titi. "Setiap binatang pasti memiliki kekurangan. Bukankah kau juga memiliki kekurangan? Kau selalu memakan bangkai binatang lain.

"Benar," tambah Toba. "Aku tak mengerti mengapa kau melakukan itu," kecam Toba

"Yah, beginilah keadaanku, teman! ujar Giko ringan."Tanpa bangkai, aku tak bisa hidup!" lanjut Giko memberi alasan.

Geri menjadi gemas. "Tapi, apa alasanmu melakukan itu?" cecarnya.

"Ya, apa alasanmu?" tambah Toba.

"Bukankah di hutan masih banyak buah-buahan atau serangga yang bisa kau makan?".

Giko mengeleng. "Tidak mungkin!" katanya. "Ribuan anak serangga akan bersedih jika aku memangsa orangtua mereka. Karena itu, aku tak mau memakan serangga."

"Hmm, kalau begitu, Giko memang ditakdirkan menjadi pemakan bangkai," kata Toba. Ia ikut prihatin.

Mendengar hal itu, Giko menangis. Pak Burhan segera menghampirinya dan berkata bijak,
"Tak perlu bersedih, Giko. Justru dengan memakan bangkai itu, kau sudah banyak berjasa. Tanpa kau, bangkai itu bisa menyebarkan penyakit di perkampungan ini."

Hati Giko menjadi lega. Pak Burhan sungguh memberinya semangat.

Geri, Titi dan Toba hanya tercenung. Ya, tak ada makhluk yang diciptakan tanpa arti.

Sumber: Buku Seri Pengantar Tidur 5
Takdir untuk si Gagak
Cerita: Kak Rasyid Akbar
Penerbit Bestari

Read More

Doa Katie Terkabul

06.22 0
cerita fabel: Doa Katie Terkabul
Di sebuah lubang, Katie seekor Katak tampak sedang bicara dengan Tesi seekor Tikus.

"Panen padi sebentar agi tiba, tentu perutku akan kekenyangan lagi seperti musim-musim yang lalu." Kata Tesi kepada Katie.

Katie menarik nafas panjang, Dia Sedih.
"Di musim panen itu butiran padi akan kau nikmati. Sedang aku tak dapat apa-apa."ujar Katie

Tesi melamun. Yang dikatakan Katie benar. Jika panen perutnya selalu kenyang. Sementara sahabatnya Katie tidak mendapat apa-apa karena dia tidak memakan padi.

Sinar matahari menerobos ke dalam lubang. Sehingga sebagian lubang menjadi terang.

"Sebetulnya kau berjasa kepada Pak Tani. Kau selalu berdoa minta hujan. Walaupun malam semakin larut."

Katie terdiam. Dia membenarkan ucapan Tesi bahwa warga Katak selalu berdoa agar hujan turun.
Tesi dan Katie keluar dari lubang. Keduanya tak tahan dengan panas yang menyengat. Dari sekujur tubuh mereka tampak keringat bercucuran.

"Aku ada usul," Kata Tesi tiba-tiba. Secercah harapan tampak di wajah Katie.

"Usulmu aku tampung. Coba sebutkan apa usulmu itu?" Tanya Katie penasaran.

Tesi tampak tersenyum sambil memandang ke sawah. Kali ini Katie bingung. Dia menerka-nerka senyum Tesi.

"Berdoalah pada tuhan agar menunda turunnya hujan." kata Tesi kemudian. Katie tertawa terpingkal-pingkal.

"Untuk apa aku melakukan itu?" tanya Katie.

"Agar manusia bersyukur pada Tuhan," Jawab Tesi.

Keinginan Katie terkabul. Hujan tak turun. Manusia berkeluh kesah karena kekurangan air. Udara panas seperti membakar bumi. Bumi pun Kering Kerontang.

"Apa salah kita sehingga Tuhan tidak menurunkan hujan?" Ujar seorang petani sambil menatap ke atas langit.

Tesi keluar dari persembunyiannya. "Pak Tani," Kata Sang Tikus.
"Semua ini karena manusia lupa berdoa pada Tuhan dan mendoakan katak."
"Ketika manusia terlelap, katak selalu beroda agar hujan turun. Tapi manusia lupa mendoakan katak agar dapat makanan."

Para petani bermusyawarh. Mereka khilaf, lupa berdoa pada Tuhan. Para petani sepakat untuk membalas budi Sang Katak. Petak-petak sawah akan diberi air dan ditebar ikan-ikan kecil. Sehingga Katak dapat makan dengan kenyang.

Niat para petani disampaikan Tesi kepada Katie. Wajah Katie menjadi cerah. Dia bahagia manusia mau membantunya.

Akhirnya Katie berdoa pada Tuhan agar diturunkan hujan. Tiba-tiba kelompok hujan datang.
"Rupanya Sang Katak rindu kepada kita. Mari kita datangi Sang Katak," Ujar Kelompok Hujan.

Tidak lama kemudian Sang Hujan turun dengan deras membasahi bumi. Para petani bersorak. Tesi ega Sang Hujan kembali bersahabat dengan manusia. Katie merasa tubuhnya segar. Karena bersahabat dengan Sang Hujan.

"Senang berjumpa denganmu, Katie. Tubuhku sudah berat sekali di atas langit sana," Kata Sang Hujan.

"Terima kasih kembali Sang Hujan. Mudah-mudahan manusia tidak lupa lagi. Mau berdoa kepada Tuhan dan saling tolong-menolong.."

Sementara Tesi tersenyum mendengar perbincangan Sang Hujan dengan Katie. Persahabatan dan kebersamaan memang sangat indah bagi kehidupan.

Sumber: Seri Pengantar Tidur 2
Doa Katie Terkabul
Penerbit Bestari, Jakarta Timur
Read More

Juara Pemalas

04.29 0
juara pemalas
 "Aduuuh, rajinnya! Pagi-pagi sudah baca buku pelajaran," goda Rigo. Ia tersenyum padaku, meletakkan tas punggung di meja, lalu menduduki kursi di sebelahku dengan santai. Aku nyengir ke arah teman sebangkuku yang baru datang ini. "Nyindir, ya? Ini namanya malas, bukan rajin! Saking malasnya belajar, aku baru belajar waktu mau ulangan. Beda sama kamu, Rigo, si Anak Paling Rajin di Kelas!" kataku gemas seraya menutup bukuku.



Rigo tertawa."Aaah, sebenarnya aku enggak rajin. Bisa dibilang, aku adalah anak paling malas di kelas ini,"

Aku ternganga, tak percaya pada ucapan temanku yang langganan rangking satu itu.

Aku mengangkat alis."Ah, anak di kelas ini, gak bakal percaya omonganmu!"

"He he he." Rigo terkekeh dengan gaya cuek.

"Yaah, malah tertawa!" Aku pura-pura marah.

"Ya sudah, kenapa tidak membandingkan saja antara kita berdua, siapa yang lebih pemalas? Aku yakin, akulah juaranya." Rigo Menantang.

"Oke! Kita lihat siapa yang nanti keluar sebagai juara pemalas!" Aku bersedekap menerima tantangannya dengan senang hati.

"Pertama, soal PR." Rigo memulai.

"Kalau aku, saking malasnya, aku mengerjakan PR kalau sudah malam atau pagi-pagi, atau malah ketika sudah ada di sekolah,"kataku.

"Kalau aku, saking malasnya, setelah pulang, makan siang, dan istirahat sebentar, aku langsung mengerjakan PR."

Aku melotot. "Dimana letak kemalasannya?"

Rigo malah tertawa. "Aduuuh, mengerjakan PR di malam hari, atau pagi-pagi waktu mau berangkat sekolah? Membayangkannya saja aku sudah malas minta ampun! Lebih malas lagi kalau harus mengerjakannya di Sekolah. Kalau malam, enaknya cepat tidur. Di pagi hari, enaknya juga kalau bisa santai sambil sarapan. Setelah sampai di Sekolah atau ketika jam istirahat, juga lebih enak digunakan untuk bersantai atau ngobrol."

Aku terbelalak. Ah, masuk akal juga!

"Apalagi?" tanya Rigo.

"Saking malasnya. Aku lebih suka melamun saat pelajaran. Aku nggak mau repot-repot belajar tiap hari. Aku baru belajar semalam suntuk sebelum tes," kataku.

Rigo tersenyum,"Hmmam, kalau aku, saking malasnya lebih suka memperhatikan pelajaran baik-baik di kelas. Jadi aku enggak harus repot-repot belajar lagi. Membayangkan harus begadang semalam suntuk saja sudah bikin malas. Kalau ada ulangan, lebih baik kita tidur yang cukup. Jadi ketika ulangan, otak dan tubuh masih segar."

Ugh, memang benar! Begadang untuk belajar itu bikin repot. Besok juga belum tentu ingat pada apa yang dipelajari mendadak di malam hari.

"Coba lihat! Hampir semua anak rajin sekali. Walau ini masih pagi, semua sudah membaca buku pelajaran. Enggak seperti aku. Saking malasnya, aku lebih suka duduk istirahat, sambil menunggu jam ulangan dimuai," lanjut Rigo.

"Kamu enggak pernah belajar sebelum ulangan karena sudah pintar," potongku.

"Eeeeh, enggak begitu! Supaya tidak begadang, aku mencari cara paling aman. Ketika pelajaran diberikan di kelas, aku betul-betul mendengar dan menyerapnya. Jadi, waktu membaca ulang, tidak perlu terlalu lama. Dan kamu, kenapa menyebut dirimu malas? Kamu tetap belajar, kan? Itu masuk dalam kategori rajin!" Rigo tetap tersenyum simpul.

Ugh, aku tak bisa berkutik. Aku tetap belajar karena tidak mau mendapatkan nilai jelek. Tetapi, kata-kata Rigo memang benar. Kalau aku ini pemalas, berarti aku enggak akan mau repot-repot belajar keras, sampai kepala puyeng begini.

"Bagaimana?" Rigo tersenyum penuh kemenangan. "Siapa yang lebih malas?"

Aku manyun, enggan untuk mengakui kekalahan. "Dasar! Juara pemalas, kok, malah bangga."

"Yaaah, siapa yang duluan membanggakan diri sebagai seorang pemalas?" Rigo Tergelak senang.

"Hmph! Ya..ya... aku memang bangga kalau terlihat malas. Malas tetapi dapat nilai bagus itu terlihat keren."

"Ha ha ha, aku tahu! Sekarang ini banyak sekali yang malu kalau kelihatan rajin. Tetapi, malas atau rajin itu sama saja. Yang paling penting. Kita harus memanfaatkan waktu sebaik-baiknya."Rigo bergaya sok bijak.

 Tepat setelah itu, bel masuk berbunyi.

O-OW, aku belum selesai belajar! Masih ada beberapa teori yang belum kuhafal! Dan sekarang aku harus menghadapi ulangan!

Ugh, memang lebih enak jadi pemalas versi Rigo.

"Malas" yang lebih menguntungkan.

Oleh: Nina Setyowati
Sumber: Majalah Bobo

Read More

Terjebak di Kolong

16.36 0
terjebak di koong
Rere dan Lia baru senang main petak umpet, saat bermain mereaka tak mau diganggu, termasuk oleh Ibu. Besok, Ibu repot sekali. Ada pesanan kue. Ibu pandai bikin kue. Banyak tetangga yang memesan. Rere dan Lia senang sekali sebab Ibu akan membuat kue pelangi dan Lumpia.

"Asyik, bikin lumpia yang banyak ya, Bu!" kata Rere.
 "Kue pelanginya juga!" timpal Lia.
 "Boleh, tetapi bantu ibu, ya. Ibu pasti repot sekali."

"Oke!" Lia berjanji menimbang tepung, Rere akan mencuci peralatan membuat kue. Wow, Ibu senang sekali.

Besoknya, pukul enam pagi Ibu sudah sibuk. Ibu ke kamar Rere dan Lia yang bersebelahan. Lo, kamarnya kosong? ibu mencari-cari."Aduh, pasti mereka sudah pergi bermain."

"Waaa!" Rere dan Lia muncul dari samping lemari sambil tertawa, mereka senang berhasil membuat Ibu terkejut.

"Aduh, bikin kaget! Rere, Lia, tolong ke warung. Ibu perlu gula lagi."

"Yaaah." Rere dan Lia mengeluh.

"Eh, kalian berjanji akan membantu. Ada hadiah kue, lo!"

Cemberut, Rere mengambil uang dari tangan Ibu.

"Cepat kembai, ya. Habis itu mandi dan bantu Ibu."

Rere dan Lia pergi ke warung Bu Min. Di jalan mereka bertemu Niki yang main lompat tali sendirian.

"Main, yuk!" ajak Niki. Rere dan Lia langsung setuju.




Pukul sepuluh pagi mereka bermain petak umpet. Sang tidak,seru sekali. Tiba-tiba, terdengar suara yang tidak asing,"Rere! Lia!"






"Gawat, Ibu mencari kita!" kata Rere pada Lia.

"Sembunyi saja di rumahku," Saran Niki.

"Betul ... Betul!" timpal Lia. Suara Ibu makin mendekat.


"Sembunyiii! Rere memberi komando. Ketiganya berlari ke rumah Niki. Setelah melepas sandal, Lia, Rere dan Niki masuk ruang depan. Niki menunjuk sebuah balai-balai antik, yaitu tempat dari kayu besar untuk menonton TV. Balai-Balai  itu mirip tempat tidur. Rere, Lia dan Niki masuk ke kolong. Kolong balai-balai itu rendah, tak akan mudah terlihat.

"Hi hi hi, keren! ibu pasti tak bisa menemukan kita di sini." Rere terkikik.



Suara Ibu tak terdengar lagi.Rere, Lia dan Niki hendak keluar kolong, Namun, serta merta terdengar pintu ruang depan terbuka. Ada suara mama Niki dan bunyi ramai yang riang.

"Silakan, masuk!Silakan masuk!" kata mama Niki.

Ketiga anak itu terkejut. Dari bawah kolong terlihat kaki-kaki bersepatu cepat memasuki ruang depan. Kaki-kaki yang banyak dan bunyi ramai celoteh para Ibu. Beberapa pasang kaki duduk di dekat balai-balai. Bahkan sepasang kaki kecil duduk  diatas balai-balai.


Muka Niki pucat." Aku lupa Pukul sepuluh ada arisan."

"Aduh, Nikii!" teriak Rere tertahan.

"Keluar saja yuk," ajak Lia cemas.

"Mana mungkin? Malu! tolak Rere. Baju mereka kotor. dan mereka juga belum mandi.
Terdengar suara mama Niki. "Ayo, dicicipi kuenya. Kue pelangi dan lumpia enak buatan ibu Elvina. Ibu Elvina jago bikin kue."

Rere dan Lia terbelalak. Jadi kue-kue yang dibuat ibu pagi ini adalah pesanan mama Niki?"
Terima kasih pujiannya, Bu Desy." Hah, itu suara Ibu.


Mama Niki mengeluarkan hidangan lainnya. Bakso, puding, cokelat dan es buah sirsak. Aroma lezat menyebar hingga ke bawah kolong.

"Idemu bersembunyi di sini, buruk sekali, Niki," bisik Lia dongkol.

"Maaf," sesal Niki.

Acara tak kunjung selesai, Rere, Lia dan Niki melihat kaki-kaki hilir mudik. Ibu-ibu menikmati hidangan, juga anak-anak yang ikut. Rere dan Lia menelan ludah. Lemas, lapar dan dingin. Sungguh tak enak lama-lama di kolong. Kue pelangi dan lumpia habis.


"Eh, kuenya masih ada, lo, di rumah. Sebenarnya itu untuk Rere dan Lia. Tetapi mereka mungkin bosan! suara Ibu keras sekali.
"Sebentar, ya, saya ambilkan,"
Rere dan Lia terkejut.

Ibu datang tak lama kemudian, Membawa piring besar berisi kue. Sebentar saja kue-kue itu habis.

"Kue kita!" Rere dan Lia saling pandang penuh sesal. Saat semua menikmatik kue bikinan Ibu. Mereka malah terjebak, di kolong balai-balai. Acara berakhir juga. Rere dan Lia cepat pulang.

"Dari mana kalian?"

Dari... Maafkan kami karena tidak membantu Ibu!" Rere dan Lia berlari masuk kamar, takut kena marah. Tetapi, eh, Ibu kok, senyum-senyum? Wah ternyata Ibu tahu tempat Rere dan Lia bersembunyi. Ibu melihat sandal-sandal mereka di depan rumah Niki.


Oleh Yuli Anita 
Sumber: Majalah Bobo



Read More

Payung Alice

16.41 0
Lili dan payung alice
Langit mendung. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Alice bergegas keluar rumah untuk mengangkat pakaian yang dijemur.

Tiba-tiba Alice melihat Lili melintas teragesa-gesa di depan rumahnya. Lili adalah tetangga Alice. Mereka sama-sama berumur 12 tahun dan satu kelas di sekolah.

"Lili, mau kemana?" tanya Alice heran. Wajah Lili terlihat sedih. Sepertinya ia habis menangis.

"Aku mau ke kota, Alice! Aku ingin menjual kalungku ini." Lili menunjuk kaLung yang melingkar di lehernya.

Kenapa kalung itu mau kamu jual?" Alice tahu, kalung Lili itu adalah adalah pemberian ibunya yang meninggal dua tahun lalu.

"Ayahku sakit. Aku butuh uang untuk membeli obat," jawab Lili sedih.

Alice ikut sedih. Ia ingin sekali membantu Lili. Tetapi, Alice juga tidak mempunyai uang.

"Aku harus pergi ke kota, Alice! Ayahku harus segera minum obat!" Lili menatap langit yang semakin hitam.

"Tunggu sebentar, Li!" tahan Alice. Ia bergegas masuk ke rumah. Sebentar kemudian, Alice kembali membawa payung yang cukup besar. "Bawalah payung ini, Li! Mungkin kamu perlu ini di perjalanan."

Lili ragu-ragu. Tentu agak repot membawa payung sebesar itu. Namun, ia tidak ingin mengecewakan Alice.

"Baiklah," akhirnya Lili menerimanya.

Di tengah jalan, hujan deras turun. Ah, untung Alice meminjamkan payungnya, jadi aku tidak usah berteduh, gumam Lili sambil melanjutkan perjalanan.

"Hei, gadis kecil!" Seorang bapak melambaikan tangan pada Lili. Lili segera menghampiri bapak yang berteduh di bawah pohon besar itu.

"Kamu mau ke mana, gadis kecil?" tanya bapak itu.

"Saya mau ke kota, Pak!" jawab Lili.

"Ah, kebetulan sekali. Bolehkah saya menumpang payungmu sampai ke halte bus di ujung jalan sana? Saya harus segera mengejar bus agar tidak terlambat ke kantor."

"Tentu saja boleh," jawab Lili ramah.

Lili dan bapak itu segera menuju halte bus. Sepuluh menit kemudian mereka sampai.

"Ah, untung busnya belum berangkat!' seru bapak itu dengan gembira. Ia merogoh saku mantel, lalu mengeluarkan dua keping perak. "Terimalah uang ini!"

Lili baru saja akan menolak, tetapi bapak itu sudah masuk ke dalam bus yang segera melaju meninggalkan halte.

Sambil mengucap syukur, Lili memasukkan dua keping perak itu ke saku mantel.

"Tunggu, gadis cilik?" tahan seorang nenek saat Lili hendak meninggalkan halte bus.

Lili menghampiri nenek itu. "Ada yang bisa saya bantu, Nek?"

"Maukah kamu mengantarkan Nenek ke toKo mainan di seberang jalan itu? Hari ini cucu Nenek ulang tahun. Nenek ingin memberinya kado."

Lili mengangguk. Dengan senang hati Lili mengantarkan nenek itu ke sebuah toko mainan di sudut kota.

"Terima kasih," ujar nenek itu sambil memberikan Lili dua keping uang perak.

"Tidak usah, Nek!" tolak Lili.

"Tidak apa-apa. Berkat kamu, Nenek tidak usah berteduh lama di halte."

Dengan gembira, Lili memasukkan dua keping perak itu ke saku mantel.

Saat hendak meninggalkan toko mainan, Lili melihat seorang anak perempuan berusia 10 tahun. Ia menangis di emperan toko mainan. Lili segera menghampiri anak itu.

"Kenapa menangis?" Lili mengelus kepala anak kecil itu.

"Sudah satu jam aku menunggu, tetapi hujan belum reda. Aku harus segera pulang. Ibu pasti khawatir mencariku."

"Kamu tinggal di mana?"

"Beberapa blok dari jalan ini. Ibu melarangku menerobos hujan, karena aku alergi air hujan."

"Ayo, kuantar sampai rumah!" Lili menggandeng anak kecil itu.

Lima belas menit kemudian, mereka sampai. Ibu anak itu menyambut gembira. "Terima kasih atas kebaikanmu. Terimalah ini." Ibu itu memberi Lili dua keping perak.

Lili hendak menolak, tetapi ibu itu terus memaksanya. Setelah mengucapkan terima kasih, Lili kembali melanjutkan niat menuju toko perhiasan.

Tiba-tiba, Lili ingat sesuatu, Ia merogoh saku mantel dan mengeluarkan enam keping uang perak. Lebih dari cukup untuk membeli obat untuk Ayah, gumam Lili. Lili tidak perlu menjual kalung pemberian ibunya.

Sampai di rumah, Lii segera menceritakan semuanya pada Alice. Alice tidak menyangka kalau pertolongan kecilnya bisa membuahkan hasil yang besar.

"Terima kasih atas bantuanmu, Alice," ucap Lili terharu.

Alice ikut terharu. Ia tidak pernah ragu lagi untuk menolong orang lain.


Oleh: Bambang Irwanto
Sumber: Majalah anak-anak Bobo
Read More

Diary Prita

05.24 0
diary prita
Kuamati sekelilingku. Di kamar luas bercat biru laut ini, tak kutemukan Prita. Mungkin ia belum pulang sekolah. Biasanya, jika datang, ia segera ganti baju, makan siang, kemudian menulis beberapa kalimat di tubuhku.

Perkenalkan, namaku Bori. Aku si diary warna biru. Lembar-lembarku sangat wangi. Aku ini kado dari sahabat Prita di kota Kolaka, Sulawesi Tenggara. Namanya Olla. Prita memang baru pindah dari Kolaka ke Surabaya, Kota ini, dua bulan lalu.

Meskipun hanya sebuah buku, aku sangat senang bisa menjadi sahabat Prita. Di kala senang, ia menulis peristiwa indah di tubuhku. Tentang ia yang mendapat juara tiga di kelas. Tentang perjumpaannya dengan ayahnya yang pulang dari tugas kemiliteran. Atau, tentang adik kecilnya yang berhasil ia buat tertawa.

Aku juga jadi sahabatnya di kala sedih. Saat nilai bahasa Indonesianya dapat angka enam. Atau saat ia ditertawakan teman-temannya karena ia berambut pirang.

Prita senang menulis. Bahasanya sungguh indah. Terdengar bunyi langka kaki. Oh, itu Prita! Wajahnya tidak bersinar seperti biasanya. Ia melangkah gontai, lalu menghambur ke kasur, merebahkan tubunya yang mungkin lelah.

Prita, ada apa denganmu?
Apakah teman-teman mengejekmu lagi dengan julukan pirang? Ah tak mengapa. Rambutmu sangat indah. Seindah rambut ibumu yang juga pirang. Teman-temanmu hanya iri.

"Prita, makan dulu, Nak. Mama buatkan sup jamur kesukaan kmau."
"Iya, Ma. Sebentar, ya."

Prita meraihku.
"Surabaya, 4 Maret 2012. 
Dear, Bori. 
Aku sedih. Dulu aku yang berpisah dengan Olla karena Ayah pindah tugas ke kota ini. Sekarang puput, teman sebangkuku yang harus pindah. Ayahnya juga pindah tugas ke kota lain. 

Tak ada lagi Puput yang bisa membuatku tertawa karena dahi dan telinganya bisa bergerak ke atas dan ke bawah. 

Puput yang memberiku semangat aga bangga dengan rambut pirangku. Dia juga pesaing sehatku agar dapat nilai bahasa Inggris sempurna. Mungkinkah aku bisa berkumpul dengannya lagi?

Oh, Prita kehilangan sahabat lagi. Tenang Prita, kamu pasti bisa menyelesaikan masalahmu. Perpisahan dengan Puput tak boleh membuatmu bersedih.

Prita keluar, makan siang bersama ibunya. Aku sendirian lagi di sini. Wush..wush..angin menerbangkan halaman-halamanku. Tubuhku terbuka pada lembaran ketiga.

Kolaka, 13 September 2011. 
Dear Bori. 
Aku dan Marsha, teman sekelasku, berusaha membuat combro, makanan khas Sunda. Ini tugas tata boga di sekolah. Tetapi aku belum mengenal resepnya, sungguh! Untunglah aku dapat ide. Aku minta bantuan kakak Marsha yang seorang mahasiswa untuk mencari resepnya di internet. Dan.. ketemu! Bekerja sama dengan ibu dan Marsha akhirnya tugas membuat combro berhasil.Yippi!

Tuh, kan, Prita selalu dapat menyelesaikan masalahnya dengan baik!

Wush..wush...kali ini angin kembali membolak-balik halamanku. Kini halaman tengahku yang terbuka. Tulisan di diary pada halaman itu berwarna-warni. Aku ingat kejadiannya.

Kolaka, 20 Desember 2011. 
Ayah, bagaimana kabarmu? Aku ingin menelponmu lagi. Semoga Ayah baik-baik saja. Aku bahagia di sini, dengan Ibu dan Bambi. Tetapi kebahagiaanku akan lengkap jika ayah pulang dari Surabaya. Tiap rindu, aku akan merajut syal buat ayah. Mungkin kelak aku bisa jadi pengusaha syal dan bisa dapat uang sendiri. he he he!

Lagi-lagi angin berhembus. Ups, tubuhku terjerambab karena letakku tadi di ujung meja. Halamanku terbuka pada lembaran bergambar seseorang berambut pirang.

Surabaya, 4 February 2012
Dear, Bori. 
Beberapa teman baru memanggilku si Pirang. Tetapi, aku tidak sedih. Aku bisa mencontoh Alice, tokoh film pemberani yang menumpas kejahatan dan membela kebenaran. Kubantu saja teman-temanku yang belum bisa bahasa Inggris. Mereka berterima kasih dan berhenti mengolokku. Ada Puput yang menyemangatiku. Ia jadi teman sebangkuku. Ia anak yang baik!

Biasanya, jika sedih, Prita menghibur dirinya dengan bermain bersama Bambi, adiknya. Ia juga membantu dan memijiti mamanya. Nah, benar saja! Setelah mencuci piring dan mandi sore, Prita memungutku dari bawah meja, lalu kembali membuka tulisan terbarunya. Ia tambahkan kalimat-kalimatnya.

"Tengang, Bori. 
Aku tidak akan begitu sedih. Baru saja Puput menelepon, lusa ia akan mengirimiku surat dari Bandung. Wah, senangnya! Aku punya sahabat pena lagi selain Olla. Dengan surat, kami bisa berbagi suka dan duka. Benar kata Ayah, jika berbuat baik, kita pun mendapat balasan yang baik."

Tuh, kan, benar! Prita memang hebat. Ia berhasil membuat dirinya ceria kembali.

Oleh Sri Mulyati, 
Sumber Majalah Bobo
Read More

Cheko yang Pemalas

08.59 0
cheko yang pemalas
Di sebuah desa di kaki gunung, tinggallah seorang anak gembala yang malas. Namanya Cheko. Sehari-hari, kerjanya hanya tidur-tiduran di pondok. Kasihan domba-dombanya. Mereka pergi sendiri mencari makan di padang rumput. Barulah ketika sore tiba, Cheko menggiring domba-domba kembali ke kandangnya. Setelah itu, Cheko pun mandi dan memasak makan malam.

Cheko berumur dua belas tahun dan hidup sendiri. Ayahnya meninggal satu bulan yang lalu
karena sakit. Ibunya sudah lama meninggal saat ia masih kecil. Sebelum meninggal ayah Cheko berpesan agar Cheko selalu memelihara dan menjaga domba-domba milik mereka. Tugas Cheko hanya menggiring domba ke padang rumput. Lalu menuntun mereka kembali ke kandang di sore hari. Sebulan sekali, ia harus menjual bulu-bulu domba yang telah dicukur di kota terdekat. Cheko juga harus menjual rumput kering yang sudah diolah menjadi jerami. Uang yang dihasilkan, pasti cukup untuk memenuhi keperluan Cheko selama satu bulan.

Namun, ayah Cheko tak yakin Cheko mau melakukan hal-hal itu. Maka sebelum meninggal, Ayah Cheko meminta tolong pada tetangganya, Kakek Ido untuk sering menasehati Cheko.

Suatu hari, tersiar kabar bahwa ada seekor serigala hitam besar yang memakan dua domba milik penduduk desa. akek Ido yang baik hati, segera memperingati Cheko untuk menjaga domba-dombanya.

"Ah, tak mungkin serigala hitam itu memakan dombaku. Aku pasti akan menangkapnya terlebih dahulu," Cheko meremehkan peringatan Kakek Ido.

"Terserah kau, Nak. Kakek sudah memperingatimu," Kata Kakek Ido, lalu masuk ke dalam rumahnya.

Malam pun tiba. Cheko terbangun dari tidurnya, Rupanya ia tertidur lama sekali. Ia lupa menggiring kembali domba-dombanya ke dalam kandang. Ia pun segera berlari ke padang rumput.

Cheko memiliki sepuluh ekor domba. Saat itu, jumlah domba Cheko berkurang satu. Sayangnya, Cheko tak menyadarinya. Setelah mengunci pintu kandang, Cheko memasak makan malam, lalu pergi tidur kembali.

Esoknya, hal yang sama terjadi lagi. Karena Cheko tidak waspada, dombanya berkurang satu lagi. Dan lagi-lagi ia tidak sadar. Ia tidak pernah menghitung jumlah domba-dombanya.

Hari-haripun berlalu. Cheko akhirnya sadar dombanya ternyata berkurang banyak. Sekarang tinggal 5 ekor. Cheko langsung teringat pada pesan Kakek Ido, tetangganya, tentang serigala hitam yang memangsa domba-domba penduduk desa.

Cheko menyesal tidak menuruti peringatan Kakek Ido. Ia ingin menangis tetapi tidak ada gunanya. Maka, Cheko pun menyusun rencana untuk menangkap si serigala hitam.

Sore hari berikutnya, Cheko membuat jebakan di dalam kandang domba. Ia meletakkan batu besar yang diikatkan pada tali pengait di atas pintu kandang. Kakek Ido membantunya memasang jebakan itu. Setelah jebakan selesai dipasang, keduanya sembunyi dan menunggu malam hari. Pintu kandang di buka lebar-lebar. Domba-domba diikat dengan tali agar tidak keluar dari kandang.

Malam haru pun tiba. Tiba-tiba, Serigala yang ditunggu-tunggu itu melangkah masuk ke dalam kandang. Ketika, Serigala itu berada tepat di bawah pintu kandang yang lebar, Cheko dan Kakek Ido melepaskan tali jebakan. Batu yang berada di atas pintu, langsung menghantam tubuh serigala hitam. Seketika, Serigala itu mati.

Cheko dan Kakek Ido sangat girang.
"Terima kasih, Kek. Kalau kakek tidak membantuk. Serigala ini tak mungkin tertangkap. Maafkan aku, ya, Kek.... karena tidak percaya pada peringatan Kakek," Mulai sekarang, aku akan menjaga domba-dombaku dengan baik. Aku berjanji tidak akan malas lagi," janji Cheko pada Kakek Ido.

Kakek Ido tersenyum bahagia. Ia mengusap-ngusap rambu Cheko.

Akhirnya, Cheko tinggal bersama Kakek Ido. Mereka saling menjaga dan menyayangi sampai Cheko dewasa dan berkeluarga.

Oleh Dwita Agustyarini S.P
Sumber : Majalah Bobo Edisi 04 tanggal 2 mei 2013
Read More

Pohon Salju

06.01 0
pohon salju atau kapuk
Negeri Cherry mengalami musim kemarau. Udara panas membuat suasana kelas para kurcaci menjadi riuh. Bu Mizella, guru kurcaci, membuka jendela kelas lebar-lebar agar angin masuk ruangan.

"Aduh!" Livina, kurcaci cantik, menjerit ketika sebuah gumpalan kertas mendarat di kepalanya. Ia memandang sekeliling. Tak seorang pun tampak mencurigakan.

Oscar, kurcaci jahil, tampak serius mengerjakan tugas menggambar yang diberikan Bu Mizella. Begitu Livina melanjutkan tugas menggambar, Oscar terkikik,"Hi hi hi," Ia kembali menyobek kertas, lalu menjadikannya gumpalan-gumpalan.
Di sudut kelas, Glody, Kurcaci gendut, berkali-kali menguap,"Uggghhh!" Glody buru-buru menutup mulut rapat-rapat. Beberapa kali gambar gedungnya tercoret karena ia mengerjakan sambil terkantuk-kantuk.

Missy, kurcaci pendiam, kali ini tampak berbeda. Ia menggerutu tentang udara panas sambil berkipas-kipas menggunakan buku gambar,"Hhhuu..."

Ini ketiga kalinya Betty, kurcaci ceriwis, mengeluarkan botol minum. Udara panas membuatnya selalu ingin minum. Ketiga kalinya pula Betty minta izin keluar kelas untuk membasuh muka agar tidak tertidur.

Piet, kurcaci jangkung, lagi-lagi mencoret hasil gambar yang dinilainya jelek. Udara panas membuatnya tak dapat menyelesaikan tugas menggambar dengan baik. Padahal Piet sangat senang pelajaran menggambar.

Bu Mizella memandang seisi kelas yang ribut, lalu pandangannya beralih ke halaman sekolah. Di tengah halaman sekolah ada sebuah pohon besar yang rindang. Saat kemarau seperti ini sungguh menyenangkan berteduh dibawahnya.

"Anak-anak!" Bu Mizella berdiri di depan kelas. Bawa peralatan menggambar kalian keluar, lalu kerjakan tugas di sana."

"Horrreee...." Enam kurcaci menyambut riang, lalu berlarian keluar. Masing-masing membawa buku gambar dan krayon.

Tanpa di komando, keenam kurcaci duduk melingkar membelakangi pohon besar. Mereka tekun menyelesaikan tugas menggambar dari Bu Mizella.

Oscar tak lagi iseng membuat gumpalan-gumpalan kertas. Livina tak lagi menjerit-jerit khawatir ada gumpalan kertas mendarat di kepala. Missy tak lagi menggerutu dan sibuk berkipas-kipas. Glody tak lagi tampak terkantuk-kantuk. Betty tak lagi bolak-balik ke luar kelas untuk membasuk muka. Piet dengan lancar dapat menyelesaikan tugas menggambar.

Hari itu Bu Mizella memindahkan semua kegiatan belajar ke bawah pohon besar, termasuk acara makan siang.
"Wah seperti piknik!" Betty senang.

"Yup! Piknik di bawah pohon sekolah." Oscar tertawa.
Udara panas tak lagi membuat mereka ribut.

Tiba-tiba... Pluk Pluk Pluk. Buah-buah kecil berbentuk lonjong dan berwarna coklat berjatuhan menimpa mereka.
"Apa ini"? Livina menjerit kaget ketika buah kecil itu jatuh ke kotak bekal makanannya. Ia memandang teman-temannya satu per satu.

"Bukan aku," Oscar menjawab cepat ketika Livina memandang ke arahnya.
"Wow!" Seru Missy. Selain buah-buah kecil cokelat berjatuhan, ada banyak gumpalan kecil putih berterbangan.
 "Ini salju"kata Missy.
 "Salju?" tanya Glody dengan tampang lucu.
 "Ini musim kemarau."
Ups! Mereka berpandangan.

Enam kurcaci meninggalkan kotak makanan mereka, lalu berlari menuju kelas."Bu Guru, ada salju di musim kemarau."
Bu Mizella terkejut. "Salju?"
"Lihat!" Anak-anak menunjuk pohon besar.
"Wow!" Bu Mizella memandangi gumpalan-gumpalan putih yang berguguran. "Gumpalan-gumpalan putih ini berguguran dari pohon besar ini,"Kata Piet.

"Pohon salju," Ujar Glody.

"Ini namanya pohon kapuk atau randu." Bu Mizella menjelaskan. "Gumpalan-gumpalan putih ini namanya kapuk." Bu Mizella mengambil gumpalan kapuk yang jatuh.

Bu Mizella juga mengambil buah kecil berbentuk lonjong dan berwarna coklat yang berjatuhan.

"Itu apa Bu?" Tanya Betty.

"Ini buah kapuk. Awalnya buah kapuk berwarna hijau. Saat matang, berubah warna menjadi coklat dan merekah. Sebagian isi buah kapuk yang berjatuhan ada yang tetap menempel di buahnya, sebagian lagi beterbangan.

"Coba kalian pegang, lembut dan halus" semua anak mengikuti Bu Mizella mengambil butiran-butiran kapuk yang jatuh.

"Aku tahu!. Seru Livina. "Kapuk ini biasa di pakai untuk isi bantal dan kasur".

"Betul" Bu Mizella mengangguk." Bulan Agustus - September adalah musim kapuk-kapuk berguguran. Seperti sekarang ini kalian bisa mengumpulkan kapuk-kapuk ini untuk membuat bantal."

"Horeeee!" enam kurcaci bersemangat mengumpulkan kapuk-kapuk yang berguguran seperti salju di musim kemarau.

Oleh Pupuy Hurriyah
Sumber: Majalah Bobo
Read More

Post Top Ad