Blog Oblok Oblok

Hot

Post Top Ad

Cerita Pendek 'Ziarah Lebaran'

18.35 0
Cerita Pendek 'Ziarah Lebaran'
PADA Lebaran pagi itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka makan hidangan khas yang dimasak Eyang Putri. Opor Ayam, sambal goreng ati, dendeng ragi, dan lontong, beserta bubuk kedelai. Mereka makan dengan lahap karena masakan Eyang memang selalu enak. Yusuf selalu senang setiap kali dia datang menginap di rumah mertua perempuannya itu. Selain dia senang dapat melepas rindunya kepada Eko, anak tunggalnya., dia juga senang senang merasa ikut dimanja dengan berbagai hidangan dan penganan oleh mertuanya. Kenapa tidak, desah Yusuf. Sejak Siti, istrinya, dan jauh sebelumnya mertua laki-lakinya meninggal, apalah kesibukan dan perhatian ibu tua itu selain tertumpu kepada cucu tunggal dan menantu yang menduda itu. 

"Eko mau paha sepotong lagi? Dan kau Sup, sambel goreng dan dendeng ragi lagi?"

"Tentu, Yang, pahanya satu lagi. Eko kan sukanya paha."

Yusuf melihat anaknya menyergap paha ayam yang ditawarkan eyangnya. Karena sergapan itu, kuah opor muncrat kesana kemari. Kalau Siti masih ada, pikirnya, pasti akan ditegurnya anaknya itu. Tetapi Eyang Putri...

"Sudah Bu. Sudah cukup saya. Semuanya seperti biasa enak. Nuwun, Bu."

"Lho, kok sudah, Sup. Tumben."

Sambil menggelengkan kepalanya Yusuf berpikir apakah betul dia menolak itu karena sudah kenyang, atau karena beban pikiran lain. Segera saja dia memutuskan pasti karena beban pikiran lain.

***

MULA-MULA, waktu keberaniannya sudah terkumpul dan dengus hawa hidungnya sudah terasa panas, begitu saja Yati, teman sejawatnya itu diciumnya. Waktu dilihatnya Yati tidak melawan dan hanya memejamkan matanya Yusuf menjadi lebih berani lagi. Diciumnya berkali-kali mulut dan pipi gadis itu. Naluri atau nafsu laki-laki yang sudah menduda tiga tahun itu, agaknya, sudah tidak dapat ditahan-tahan lagi. Dan sejak itu mereka semakin sering bertemu, berkencan melihat film, makan direstoran, bahkan sekali dua kali menginap di hotel. 

"Yat, kau suka anak kecil nggak?"

"Tergantung anaknya bagaimana dan anak siapa." 

"Wah"

Pelan-pelan, bertahap, Yusuf menyatakan cintanya kepada Yati. Diyakinkannya perempuan itu bahwa dia tidak mau hit and run dalam hubungan cinta mereka. Dia ingin mengawini Yati. Dia ingin Yati menjadi ibu Eko. Dan waktu Yati akhirnya menjawab: mau, mau,.... Yusuf memutuskan untuk mengakhiri masa dudanya dan menggendong kembali Eko ke rumahnya.

***

ACARA lebaran selalu sama. Sembahyang Ied di lapangan kompleks perumahan, sungkem bermaaf-maafan dengan Eyang Putri, makan pagi, ziarah ke makam ayah mertuanya dan makam Siti. Ziarah ke makam orangtuanya sendiri nyaris hanya sekali-kali dilakukan. Kenapa ya, pikirnya. Mungkin karena orangtuanya sudah lama meninggal, mungkin karena adik-adiknya (sembari mengumpatnya) yang selalu menziarahi dan mengurus makam-makam itu. Atau karena makam Siti, istrinya yang cantik berambut panjang sekali itu, lebih mengikatnya untuk menziarahi. Atau karena Eko yang diasuh ibu mertuanya? Melepas rindu kepada anak tunggal, yang hanya sempat dikunjungi setahun sekali lewat perjalanan kereta api yang melelahkan dan untel-untelan, bukankah juga sangat, sangat penting. 

"Wah, setiap tahun kok semakin banyak saja kere-kere berderet di kuburan," gumam ibu mertuanya. 

Di dalam hati Yusuf mengiyakan pernyataan itu. Kok di kota sekecil itu kere-kere bertambah, pikirnya. Mau dientaskan bagaimana itu, gumamnya. 

"Kok kere-kere yang di makam semuanya cacat, Yang?" 

Yusuf tersenyum bangga. Pikirnya, anaknya untuk usianya sangat tajam pengamatannya.

"Kalau tidak cacat tentu mereka bisa bekerja, tidak mengemis, Ko." 

Di makam Siti mereka mencabuti rumput-rumput yang di sana-sini tumbuh. Lantas mereka menabur bunga. Kemudian Eko mengambil alih upacara. 

"Karena Eko sudah biasa Al-Fatihah, Eko akan berdoa keras, Eyang Putri dan Bapak mengikuti." 

"Boleh, boleh, Ko." 

"Iyo, Le." 

Dan dengan lancar Eko, mungkin setengah pamer, mengucapkan Al-Fatihah diikuti Eyang Putri dan ayahnya. Sehabis itu Eko merangkul Eyang Putrinya dan Eyang Putrinya pun menciumi pipi cucunya. Sekali lagi Yusuf merasa bangga dan sadar juga bahwa anaknya memang sudah lebih besar daripada setahun yang lalu. Kemudian tanpa disangka Eko sambil menekuri makam ibunya berkata kepada makam ibunya.

"Ibu di sorga. Ini Eko, Bu. Eko sudah gede, Bu. Eko sekarang bisa jaga Eyang Putri di sini, Bu. Bapak jaga Eyang Putri dan Eko dari Jakarta, Bu. Oh, ya, Bapak bawa oleh-oleh mainan Nitendo. Baguus sekali, Bu..."

Yusuf bangkit dari jongkoknya. Rasanya tulang-tulangnya lebih ngilu. Dipandangnya anaknya yang masih jongkok dan masih juga terus dielus-elus kepalanya oleh neneknya yang nampak terisak-isak menangis. 

***

DALAM perjalanan pulang ke Jakarta, di kereta api yang penuh sesak orang-orang yang baru pulang dari mudik, Yusuf mendesah. Udara pengap, gerah, keringat di tubuhnya terasa lengket. Bau apak dan penguk lagi. Mungkin tahun depan, pada Lebaran lagi, dia akan lebih punya nyali, punya keberanian yang lebih mantap lagi untuk mengemukakan itu semua kepada ibu mertuanya, kepada Eko. Bahwa dia akan mengawini Yati, bahwa dia akan menggendong Eko ke Jakarta. Ya, tahun depan. Pasti, tekadnya. 

Waktu dia menatap jendela kereta, dia berharap dapat menatap senyum Yati sekilas-sekilas yang dia harap juga akan merangsang berahinya. Tetapi tidak. Yang terlihat sawah-sawah kebanjiran, jembatan-jembatan putus, dan jalan-jalan yang semerawut oleh bus dan mobil.

 Kompas, 20 Maret 1994

Sumber
Penulis : Umar Kayam
Buku Laki-laki yang Kawin Dengan Peri ( Cerita Pilihan "Kompas" 1995) 
Penerbit. PT. Kompas Media Nusantara, Juni 1995
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Banten "Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari"

19.19 0
Cerita Rakyat Propinsi Banten "Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari"
Di tengah sebidang kebun manggis, seorang Putri yang cantik jelita duduk termenung. Sorot matanya kosong, bibirnya terkatup rapat menandakan dia sedang bermuram durja. Tidak jauh dari tempat sang Putri duduk, melintaslah seorang lelaki paruh baya dengan karung di pundaknya. Lelaki itu tertegun sesaat manakala melihat sang Putri. Wajah lelaki itu tampak penuh kekhawatiran. 

"Sampurasun," sapanya.

Sang Putri tak menyahut. Dia benar-benar larut dalam kesedihannya, sehingga tak menyadari kehadiran lelaki itu. 

"Sampurasun," Lelaki itu mengulang sapa. 

"Ra... rampes," Sang Putri terkejut. "Si...siapa?" 

"Maaf jika saya telah mengejutkan Tuan Putri," kata lelaki itu seraya menundukkan kepalanya. 

Sang Putri tidak segera menjawab. Dia memperhatikan dengan penuh seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Wajah lelaki itu tidaklah tampan, kulitnya pun legam. Namun Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik. Seumpama buah manggis; hitam dan pahit kulitnya, tapi putih dan manis buahnya. 

"Sedari tadi saya perhatikan. Tuan Putri tampak gundah gulana. Ada apa gerangan?" 

"Saya kira tak ada guna menceritakan masalah yang saya hadapi kepada orang lain." 

"Kalau begitu, maafkan saya telah mengganggu Tuan Putri. Saya berharap Tuan Putri berkenan melupakan pertanyaan saya tadi," ujar lelaki itu seraya hendak berlalu. 

"Tunggu, Kisanak. Jangan pergi dulu!" Sang Putri mencegah. 

Lelaki itu mengurungkan niatnya. Sejenak dia melirik sang Putri. 

"Maafkan saya," pinta sang Putri. "Bukan maksud saya menyinggung perasaan Kisanak, apalagi menganggap rendah." 

Beberapa saat sang Putri terdiam. Kemudian tiba-tiba saja matanya membasah. Sang Putri menangis. Lelaki itu duduk di dekat sang Putri. Hatinya diliputi keingintahuan yang besar tentang apa yang sebenarnya terjadi. 

"Siapa nama Kisanak?" tanya sang Putri. 

"Saya..., saya pembuat gelang, Pande Gelang. Orang-orang sering menyebut saya dengan Ki Pande. 

"Baiklah, Ki Pande. Saya akan bercerita, mudah-mudahan cerita saya akan menghilangkan rasa penasaran Ki Pande. Selama ini saya tidak pernah menceritakan masalah ini kepada orang lain karena saya merasa hanya akan sia-sia belaka. Tidak akan ada seorang pun yang bisa membantu saya," jelas sang Putri dengan mata berkaca-kaca. 

"Tapi mengapa Tuan Putri mau menceritakannya kepada saya?" 

"Saya hanya ingin menghilangkan penasaran Ki Pande." 

Ki Pande tidak berkata-kata lagi. Dia hanya menundukkan kepala dengan dipenuhi rasa iba. 

"Nama saya Putri Arum..." Sang Putri memulai ceritanya. Menurut Putri Arum, dirinnya sedang mendapat tekanan dari seorang pangeran bernama Pangeran Cunihin. Meskipun tampan, Pangeran Cunihin sangatlah bengis dan kejam. Selain itu, Pangeran Cunihin pun sangat berkuasa dan sakti mandraguna. Apapun yang di inginkannya, harus terpenuhi, semua titah tak bisa berbantah. 

"Saya sangat sedih, Ki, karena dia akan menjadikan saya sebagai istrinya," Putri Arum mengakhiri ceritanya. 

"Saya ikut bersedih,"Ki Pande tak kuasa menahan air mata. "Maafkan saya, karena tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu Putri." 

"Saya mengerti, Ki. Tidak ada seorang pun yang bisa mengakhiri angkara Pangeran Cunihin," ujar Putri Arum lirih. "Tadinya saya mengira wangsit yang saya terima benar adanya." 

"Wangsit?" tanya Ki Pande. 

"Ya. Menurut wangsit, saya harus menenangkan diri di bukit manggis ini. Kelak katanya akan ada seorang pangeran yang baik hati, manis budi pekertinya, dan sakti mandraguna yang datang menolong saya. Namun penantian ini hampir sia-sia. Tiga hari lagi Pangeran Cunihin akan datang dan memaksa saya kawin dengannya. Barangkali ini sudah suratan takdir saya, Ki, sebab setelah sekian lama, dewa penolong yang hatinya seputih dan semanis buah manggis itu ternyata tak kunjung tiba," tutur Putri Arum mengiba. Mendengar hal tersebut, Ki Pande mengernyitkan dahi, seolah ada yang tengah dipikirkannya. 

"Oh, tadi Aki mengatakan bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membantu saya?" tanya Putri Arum, teringat kata-kata Ki Pande. 

"Benar," jawab Ki Pande. 

"Itu berarti, meskipunn sedikit ada yang bisa Aki lakukan untuk saya!" seru Putri Arum penuh harap. 

"Barangkali itu tidaklah berarti." kata Ki Pande. 

"Katakan saja, Ki," Putri Arum penasaran. 

"Saya hanya ingin menyumbang saran. Terima saja keinginan Pangeran Cunihin itu."

"Apa Aki sudah gila? Bagaimana saya mau dipersunting lelaki yang sangat saya benci?" sergah Putri Arum dengan wajah memerah. 

Ki Pande sangat terkejut dengan perubahan itu, tapi dia berusaha tetap tenang. "Maksud saya, terima saja keinginan dia tapi dengan syarat." 

"Dengan syarat?" tanya Putri Arum setengah bergumam.

 "Ya, dengan syarat yang sangat susah dipenuhi."

"Hal apa yang tidak bisa dilakukan Pangeran Cunihin? Dia sangat sakti mandraguna. Laut saja bisa dikeringkannya!"

"Yakinlah, Tuan Putri. Tidak semua orang akan jaya selamanya," Ki Pande berusaha meyakinkan Putri Arum.

"Kalau begitu, apa syarat yang Aki maksudkan?"

"Pangeran Cunihin  harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Kemudian batu tersebut harus diletakkan di pesisir pantai. Semuanya harus dikerjakan tidak lebih dari tiga hari," Ki Pande menjelaskan.

"Bukankah syarat itu dengan mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?"

"Tapi tidak semua orang mau melakukannya, sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari kemampuan orang tersebut akan hilang."

"Setelah itu?" tanya Putri Arum.

"Serahkan semuanya kepada saya!"

Mendengar seluruh penjelasan Ki Pande, akhirnya Putri Arum menyetujui. Ki Pande kemudian mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya, sambil membawa karung yang berisi alat-alat membuat gelang.

Perjalanan menuju tempat tinggal Ki Pande sangat melelahkan Putri Arum. Sudah hampir setengah hari perjalanan, mereka belum juga sampai. Putri Arum pun jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas. Orang-orang kampung membantu Ki Pande membawa Putri Arum ke rumah salah seorang penduduk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang tetua kampung mengatakan bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui batu cadas.

Beberapa orang kampung bergegas mencari sumber air batu cadas. Dan keajaiban pun terjadi, Putri Arum kembali sehat setelah meminum air yang berasal dari batu cadas itu. Penduduk kampung lalu memanggil Putri Arum dengan sebutan baru yaitu Putri Cadasari.

Sementara itu, Ki Pande tengah menyiapkan rencana baru. Dia membuat gelang yang sangat besar, yang bisa dilalui manusia. Menurut Ki Pande, gelang tersebut akan dipasang pada lingkaran lubang batu keramat yang dibuat Pangeran Cunihin. 

Waktu yang ditentukan Pangeran Cunihin pun tiba. Dia datang menemui Putri Cadasari dan menagih jawaban. Putri Cadasari pun mengajukan syarat kepada Pangeran Cunihin.

"Hahaha, itu syarat yang sangat gampang, Tuan Putri. Tapi apa maksud dari syarat itu?" tanya Pangeran Cunihin.

Putri Cadasari terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Tapi dia segera menyembunyikan keterkejutannya. "Saya hanya ingin agar bulan madu kita tidak terganggu, Pangeran. Duduk diatas batu sambil menikmati birunya laut, bukankah itu sangat menyenangkan, Pangeran?" Jelas Putri Cadasari.

"Wah, Tuan Putri memang sangat romantis!" puji Pangeran Cunihin pula.

Tak sampai tiga hari dan tanpa halangan yang berarti, Pangeran Cunihin berhasil menemukan batu keramat yang disyaratkan. Batu keramat itu kemudian dibawanya ke sebuah pesisir yang sangat indah. Ki Pande dan Putri Cadasari diam-diam mengikuti dari kejauhan. Di tempat yang terlindung mereka bersembunyi menyaksikan apa yang dilakukan Pangeran Cunihin.

Pangeran Cunihin tampak duduk bersila dihadapan batu keramat. Dengan konsentrasi penuh, Pangeran Cunihin menempelkan dua telapak tangannya ke batu keramat. Tiba-tiba tangan Pangeran Cunihin bergetar. Sesaat kemudian batu keramat itu pun retak dan berjatuhan. Sungguh ajaib, sebuah lubang yang sangat besar tercipta di tengah batu keramat itu.

"Hahaha, aku berhasil. Tuan Putri akan segera menjadi milikku!" Pangeran Cunihin mengangkat kedua tangannya seraya berlari mencari Putri Cadasari.

Kesempatan itu tak disia-siakan Ki Pande untuk memasang gelang besar pada batu keramat yang telah berlubang itu. Setelah itu, dia kembali hendak bersembunyi, tapi didengarnya sebuah bentakan keras.

"Heh tua bangka, sedang apa kau di sini?!

Ternyata Pangeran Cunihin telah berada kembali disitu, bersama Putri Cadasari.

"Oh, aku tahu. Rupanya kau sedang mengagumi mahakaryaku. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa kau tidak pantas menjadi pemenang. Kau hanya pantas menjadi pecundang! Hahaha!" Pangeran Cunihin tertawa puas. "Lihatlah, sang Putri telah menjadi milikku. Kau tidak bisa lagi memilikinya!"

Putri Cadasari terkejut heran mendengar omongan Pangeran Cunihin. Seolah telah mengenal Ki Pande sebelumnya. Namun, belum lagi keheranan itu terjawab, Pangeran Cunihin telah menarik tangan Putri Cadasari untuk melihat batu keramat yang telah berlubang itu.

"Tuan Putri, lihatlah! Keinginan Tuan Putri telah terwujud. Sebuah batu besar berlubang di pesisir pantai. Sungguh sebuah tempat yang indah dan romantis," kata Pangeran Cunihin. Putri Cadasari berusaha bersikap tenang dan mencoba menunjukkan kegembiraan, walau di dalam hatinya dia merasa sangat takut impian buruknya menjadi pendamping Pangeran Cunihin akan menjadi kenyataan.

"Apa karena terlalu gembira, saya seakan tidak bisa melihat bahwa batu ini telah berlubang?" kata Putri Cadasari.

"Hm, baiklah. Jika Tuan Putri tidak percaya, saya akan melewati batu ini untuk membuktikannya," jawab Pangeran Cunihin.

Tanpa pikir panjang, Pangeran Cunihin kemudian melewati lubang batu keramat itu. Tapi tiba-tiba Pangeran Cunihin merasakan tubuhnya sakit luar biasa. Dia berteriak-teriak sekuat tenaga. Suaranya memecah angkasa. Lalu seluruh kekuatannya pun menghilang. Dia terduduk lemah, tak kuasa berdiri. Perlahan, Pangeran Cunihin berubah menjadi seorang tua renta tanpa daya, seolah telah melewati lorong waktu. Sementara itu, Ki Pande pun berubah menjadi seorang pemuda tampan.

"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Putri Cadasari tidak mengerti menyaksikan keanehan-keanehan itu.

"Sebenarnya ini semua akibat perbuatan Pangeran Cunihin. Dulu kami berteman. Tapi setelah mendapat kesaktian dari guru, dia mencuri seluruh ilmu dan kesaktian saya, lalu menjadikan saya sebagai seorang yang sudah tua. Saya kemudian mencari kesaktian untuk mengembalikan keadaan saya. Ternyata hanya satu yang bisa mengembalikan keadaan itu, yaitu jika Pangeran Cunihin melewati gelang buatan saya," terang Ki Pande seraya menatap ke arah Pangeran Cunihin yang terkulai tak berdaya.

"Kini saya telah kembali seperti sedia kala. Ini semua karena jasa Tuan Putri. Untuk itu saya menghaturkan terima kasih," ujar Pangeran Pande Gelang.

"Ah, sayalah yang seharusnya berterima kasih, Pangeran. Ternyata wangsit yang saya terima itu memang benar."

Akhirnya, keduanya meninggalkan batu keramat berlubang itu. Beberapa waktu kemudian mereka pun menikah dan hidup berbahagia sampai akhir hayatnya.

Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan Kampung Kramatwu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan tempat sang Putri melaksanakan wangsit di bukit manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Manggis dalam bahasa Sunda berarti Manggu dan pasir berarti bukit. Sementara tempat Putri disembuhkan dari sakitnya sampai kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang membuat gelang.

Sumber: 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Jawa Timur "Naga Baru Klinting"

00.42 0
Cerita Rakyat Propinsi Jawa Timur "Naga Baru Klinting"
Alkisah, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya dikutuk oleh seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam. Luka itu  tak pernah mau kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar. Akhirnya, tak ada seorang pun yang mau bersahabat dengannya. Jangankan berdekatan, bertegur sapa pun mereka enggan. Setiap berpapasan mereka pasti melengos. Tak ingin bersinggungan, karena takut tertular.

Bocah ini pun mulai berkelana dari satu tempat lain untuk menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Hingga kemudian dalam mimpinya, ia bertemu seorang wanita yang baik hati. Kelak dialah yang sanggup melepaskan mantera jahat tersebut sehingga ia bisa pulih seperti semula.  Akhirnya, tak dinyana tak diduga, dia pun tiba di sebuah kampung yang kebanyakan orang-orangnya sangat sombong. Tak banyak orang miskin ditempat itu. Kalaupun ada, pasti akan diusir atau dibuat tak nyaman dengan berbagai cara. Kemunafikan orang-orang kampung ini mengusik nurani bocah kecil tadi, yang belakangan diketahui bernama Baru Klinting. Dalam sebuah pesta yang meriah, bocah tersebut berhasil menyelinap masuk. Namun apa mau dikata, ia pun harus rela diusir paksa karena ketahuan. 

Saat tengah diseret, ia berpesan agar sudi kiranya mereka memperhatikan orang-orang tak mampu, karena mereka juga manusia. Diperlakukan begitu, ia tak begitu ambil pusing. Namun amarahnya mulai memuncak, saat puluhan orang mulai mencibir sembari meludahi dirinya. "dasar anak setan, anak buruk rupa", begitu maki mereka. 

Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini. Tak percaya dengan omongan sang bocah, masing-masing orang mulai mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, lidi itu tak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya orang-orang mulai takut dengan omongan si Bocah. "Jangan-jangan akan ada apa-apa?" pikir mereka. 

Benar saja, dalam beberapa hari, tak ada seorang pun yang sanggup melepas lidi tersebut. Hingga akhirnya, secara diam-diam ia kembali lagi ke tempat itu dan mencabutnya. Seorang warga yang kebetulan lewat melihat aksinya, langsung terperangah. Ia pun menceritakan kisah itu kepada orang-orang yang lain. Tak lama kemudian, tetesan air pun keluar dari lubang tadi. Makin lama makin banyak, hingga akhirnya menenggelamkan kampung tersebut dan membuatnya menjadi telaga. 

Konon tak banyak orang yang selamat, selain warga yang melihat kejadian dan ada seorang janda tua yang berbaik hati memberinya tumpangan. Janda ini pula yang merawatnya, hingga secara ajaib, penyakit tersebut berangsur-angsur hilang. Namun, penyihir jahat, tetap tak terima, hingga suatu ketika, Baru Klinting kembali di kutuk. Namun aneh, kali ini kutukan bukan berupa penyakit, tapi malah merubah tubuhnya menjadi ular yang sangat besar dengan kalung yang berdentang pada lehernya. 

Versi lain menyebutkan, ular ini sering keluar dari sarangnya tepat pukul 00.00 WIB. Setiap ia bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi; klentang-klenting. Akhirnya, bunyi ini pula yang membuatnya dikenal sebagai Naga Baru Klinting. Konon, nelayan yang sedang kesusahan karena tidak mendapat ikan, pasti akan beruntung jika Baru Klinting lewat tak jauh dari tempatnya. Itu yang membuat legenda kehadirannya telah menjadi semacam berkat yang paling ditunggu-tunggu. 

Sumber: 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Yogya, Asal Mula Kanjeng Kyai Plered

10.02 0
Dahulu kala, ada seorang tumenggung bernama Wilatikta. Sang Tumenggung mempunyai dua orang anak bernama Raden Sahid dan Rasa Wulan. Ketika kedua orang anaknya itu telah menginjak dewasa, Tumenggung Wilatikta memanggil mereka berdua. Kepada anak laki-lakinya, Tumenggung Wilatikta berkata, "Sahid, kau sekarang kau sudah dewasa, nak. Ayahmu telah tua. Kaulah yang akan menggantikan kedudukan ayahmu menjadi Tumenggung bila ayah sudah tidak mampu melaksanakannya.

Raden Sahid mendengarkan kata-kata ayahnya dengan cermat. Dia duduk bersila di hadapan ayahnya. Kepalanya menunduk menandakan hormat kepada ayahnya.

"Untuk itu, aku dan ibumu mengharapkan agar engkau segera beristri, Sahid. Katakanlah, gadis mana yang cocok dengan pilihanmu. Nanti akulah yang akan melamarkan untukmu."

Mendengar kata-kata ayahnya itu, merenunglah Raden Sahid. Sebenarnya dia belum memiliki rencana untuk beristri. Di dalam hati dia menolak suruhan ayahnya untuk beristri, tetapi akan menolaknya secara terus terang dia tidak memiliki keberanian. Khawatir akan membuat sedih hati ayah dan ibunya. Beberapa saat lamanya Raden Sahid diam saja, dalam kebimbangan.

"Mengapa engkau diam saja. Sahid?" tanya Tumenggung Wilatikta. "Apakah kau menolak keinginanku?"

"Ampun ayahanda," kata Raden Sahid dengan hormatnya. "Sama sekali saya tidak bermaksud menolak permintaan ayahanda."

"Tetapi mengapa engkau diam saja?" kata Tumenggung Wilatikta. "Mengapa engkau tidak segera menjawab?"

"Ampun Ayahanda," kata Raden Sahid. "Soal isteri, hamba tak dapat melaksanakannya dengan segera."

"Jadi engkau menolak perintah ayahmu!" Tumenggung Wilatikta membentak.

"Bukan begitu, ayahanda," kata Raden Sahid. "Sampai saat ini hamba masih dalam taraf menimbang-nimbang gadis mana yang cocok untuk menjadi menantu ayahanda."

"Baiklah kalau begitu," kata Tumenggung Wilatikta. "Pertimbangkanlah masak-masak. Dan hati-hatilah kau memilih calon jodohmu."

Sesudah itu Raden Sahid diperkenankan mundur dari hadapan Sang Tumenggung. Selanjutnya, kepada anak perempuannya, yaitu Rasa Wulan, Tumenggung Wilatikta juga menyuruh agar segera mempersiapkan diri untuk menerima lamaran orang lain. Rasa Wulan tanpa membantah menyanggupi suruhan ayahmya, lalu minta diri mundur dari hadapan ayahandanya.

Malam harinya, Raden Sahid gelisah. Sampai larut malam dia tak dapat tidur. Sedih hatinya, mengingat suruhan ayahnya untuk segera beristeri, padahal sama sekali belum punya niat untuk itu. "Aku harus pergi dari sini, untuk menghindari paksaan ayah," begitu pikir Raden Sahid. Dengan tekad demikian, maka pada waktu larut malam, ketika seisi Ketumenggungan sedang lelap beristirahat (tidur), diam-diam Raden Sahid keluar dari dalam kamarnya, lalu pergi.

Pagi harinya, Rasa Wulan mengetahui bahwa Raden Sahid tidak ada di kamarnya . Dia khawatir, jangan-jangan kakaknya itu minggat. Dengan harap-harap cemas Rasa Wulan mencari kakaknya kemana-mana. Setelah tidak berhasil menemukannya meski sudah mencarinya ke berbagai tempat, yakinlah Rasa Wulan, bahwa kakaknya telah meninggalkan rumah. Dia mengetahui alasannya mengapa sang kakak pergi, tidak lain ialah agar terhindar dari paksaan ayahnya untuk beristri.

"Mengapa dia tidak mengajak aku," kata Rasa Wulan dalam hati. Aku juga bermaksud pergi dari sini, supaya terhindar dari paksaan ayah untuk segera bersuami." Kemudian Rasa Wulan masuk ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian. Setelah itu ia pun pergi menyusul kakaknya. Malam harinya, barulah orang-orang seisi rumah Ketumenggungan mengetahui bahwa Raden Sahid dan Rasa Wulan pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mendengar laporan bahwa kedua orang anaknya pergi, terkejutlah Tumenggung Wilatikta. Cepat-cepat ia menyebar bawahannya ke berbagai tempat, namun tidak berhasil menemukan Raden Sahid dan Rasa Wulan. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun dilakukan pelacakan, tetapi usaha untuk menemukan kedua orang anak Tumenggung Wilatikta itu tidak menemukan hasil.

Bertahun-tahun Raden Sahid mengembara, mengalami pahit dan getirnya penderitaan, serta menghadapai berbagai cobaan, sehingga di kemudian hari ia dikenal sebagai seorang wali yang sangat mashur, bernama Kanjeng Sunan Kalijaga.

Adapun Rasa Wulan, di dalam pengembaraannya mencari Raden Sahid, setelah bertahun-tahun tidak berhasil menemukan kakaknya itu, akhirnya dia bertapa di tengah hutan Glagahwangi. Di hutan itu Rasa Wulan bertapa ngidang.*)

Di dalam hutan itu, ada sebuah danau bernama Sendhang Beji. Tepat di tepi danau itu tumbuhlah sebatang pohon yang besar dan rindang. Batang pohon itu condong dan menaungi permukaan danau. Pada salah satu cabang yang menjorok keatas permukaan air danau Sendhang Beji itu, ada orang yang sedang bertapa. Orang itu bernama Syekh Maulana Mahgribi. Pada cabang pohon besar itu, Syekh Maulana Mahgribi bertapa ngalong.**)

Pada suatu siang yang cerah, datanglah Rasa Wulan ke Sendhang Beji itu untuk mandi, karena memancarkan sinarnya yang sangat terik. Perlahan-lahan Rasa Wulan menghampiri Sendhang Beji yang airnya jernih dan segar. Sama sekali ia tidak tahu bahwa diatas permukaan air Sendhang Beji itu ada seorang laki-laki yang sedang bertapa. Karena mengira tidak ada orang lain kecuali dia sendiri di tempat itu, maka dengan tenang dan tanpa malu-malu Rasa Wulan membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya. Dengan perlahan-lahan Rasa Wulan berjalan menghampiri danau. Dengan tenangnya dia mandi di Sendhang Beji itu, kesejukan air danau itu membuat kesegaran yang terasa sangat nyaman pada tubuhnya.

Sementara itu Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas air danau tempat Rasa Wulan mandi, memandang kemolekan tubuh Rasa Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan wajah dan tubuh Rasa Wulan yang sedang mandi tepat di bawahnya, bangkitlah birahi Syekh Maulana Mahribi. Meneteslah air mani Syekh Maulana Mahgribi jatuh tepat pada tempat Rasa Wulan Mandi.

Karena peristiwa itu, maka hamillah Rasa Wulan. Akhrinya Rasa Wulan tahu, bahwa ada orang laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atas danau itu. Dan laki-laki itulah yang menyebabkan kehamilannya.
"Mengapa kau berbuat demikian?" Rasa Wulan memprotes, dengan menunjuk-nunjuk ke arah Syekh Maulana Mahgribi. "Mengapa engkau menghamiliku?"

Menerima dampratan demikian itu, Syekh Maulana Mahgribi diam saja, seakan-akan sama sekali tidak mendengar apa-apa.

"Kamulah yang menghamiliku," kata Rasa Wulan. "Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."

"Mengapa kau menuduhku," tanya Syekh Maulana Mahgribi

"Lihat. Aku hamil ," kata Rasa Wulan. "Dan kamulah yang menghamili."

"Kamu yakin bahwa aku yang menyebabkan kamu hamil?" tanya Syekh Maulana Mahgribi.

"Ya, aku yakin," kata Rasa Wulan . "Aku yakin bahwa kamulah yang menyebabkan aku hamil."

"Mengapa?" tanya Syekh Maulana Mahgribi. "Mengapa aku yang kau tuduh menghamili kamu?"

"Di tempat ini tidak ada orang laki-laki lain kecuali kamu," kata Rasa Wulan. "Maka kamulah yang kutuduh menghamiliku."

Untuk menghindarkan diri dari tuduhan itu, maka Syekh Maulana Mahgribi lalu mencabut kemaluannya. Kemudian ia menyingkapkan sarungnya dan menunjukkan kepada Rasa Wulan bahwa dia tidak mempunyai kemaluan, berkatalah Syekh Maulana Mahgribi," lihatlah, aku bukan laki-laki, mana mungkin aku menghamilimu."

"Bagaimanapun, aku tetap menuduh bahwa kamulah yang menghamili diriku," kata Rasa Wulan. "Maka kamu harus bertanggung jawab terhadap kehidupan bayi yang kukandung ini."

"Aku harus bertanggung jawab?" tanya Syekh Maulana Mahgribi.

"Ya, kamu harus bertanggung jawab," kata Rasa Wulan. "Kamulah yang harus mengasuh dan memelihara anak ini kelak setelah lahir.

Syekh Maulana Mahgribi tidak dapat lagi mengelak. Setelah anak yang dikandung Rasa Wulan itu lahir, lalu diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi. Anak itu diberi nama Kidangtelangkas. Keturunan Kidangtelangkas itu kelak secara turun-temurun menjadi Raja di tanah Jawa.

Namun, terjadi suatu keajaiban. Kemaluan Syekh Maulana Mahgribi yang dicabut itu berubah wujud menjadi sebilah mata tombak. Tombak yang terjadi dari kemaluan Syekh Maulana Mahgribi itu akhirnya menjadi "Sipat Kandel" (senjata andalan) raja-raja jawa. Tombak itu dinamakan Kanjeng Kyai Plered.

Secara turun-temurun tombak Kanjeng Kyai Plered itu diwariskan kepada raja-raja yang bertahta. Pada waktu Dhanang Sutawijaya berperang tanding melawan Arya Penangsang. Dhanang Sutawijaya dipersenjatai tombak Kyai Plered, dan dengan senjata andalan itu pula Sutawijaya berhasil membunuh Arya Penangsang. Selanjutnya Dhanang Sutawijawa menjadi Raja Mataram, dan Kanjeng Kyai Plered merupakan senjata pusaka kerajaan Mataram. Saat ini tombak Kanjeng Kyai Plered itu menjadi senjata pusaka di Keraton Yogyakarta.

*) "Ngidang" berasal dari kata "Kidang" yang berarti kijang. Jadi Ngidang berarti seperti kijang. Tapa Ngidang berarti bertapa seperti kijang, hidup bersama-sama kawanan kijang dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh kijang, termasak makan makanan yang biasa dimakan oleh kijang. 

**) Tapa Ngalong berarti bertapa seperti kalong (kelelawar), bergantungan pada cabang pohon.


 Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Jawa Tengah, Timun Mas

16.29 0
Cerita Rakyat Propinsi Jawa Tengah, Timun Mas
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun. 

"Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan," kata Raksasa. 

"Terima kasih Raksasa," kata suami istri itu. 

"Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku ," sahut Raksasa. Suami istri sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju. 

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan. Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu "Timun Mas".

Tahun demi tahun berlalu. Timun mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang Raksasa datang kembali. Raksasa itu menagih janji untuk mengambil Timun Mas.

Petani itu mencoba tenang. "Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya," katanya. 

Petani itu segera menemui anaknya. "Anakku, ambillah ini," katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. "Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin," katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri. 

Suami istri sediah atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. 

Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu, ia mengejar Timun Mas ke hutan. Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu, garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah. 

Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah Raksasa itu. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa itu berteriak kesakitan. Sementara itu Timun Mas berlari menyelamatkan diri. 

Tapi Raksasa sungguh kuat, ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah pohon mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang sangat segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur. 

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama-kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi keajaiban terjadi. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerambab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam. 

Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. 
"Terima kasih Tuhan, Kau telah menyelamatkan anakku," kata mereka gembira. Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

 Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Pendek "Yang Tersisa"

21.36 0
cerita pendek yang tersisa
TOHIR mau kemana setiap sore ngeluyur melulu?" 

"Ah 'Mak biasa jalan-jalan sore, bosan di rumah.!" 

"Kamu selalu jawab semaumu begitu, sekali-kali jaga adik-adik di rumah! lihat si Malik, Minah, Tumin masih kecil-kecil, ajarin pekerjaan sekolahnya... Kamu kan kakaknya! Tohir! Balik sini!" teriak Mak Suminah sampai serak.

Tohir tidak peduli, ia susuri gang demi gang sambil kadang-kadang membetulkan model rambutnya yang mulai gondrong.

"Saya capai dan gerah selalu ngurusin orang lain, nggak pernah kesampaian mau bergaul dengan teman, nikmati penghasilan sendiri tanpa dibagi-bagikan sama adik-adik, 'Mak, dan saudara-saudara lainnya. Urus si Lik, nungguin di WC umum sampai enek...Urus seluruh dunia! saya nekat mau pelit dan tidak akan peduli pada siapa pun mulai hari ini!" jerit Tohir di dalam hatinya. 

  ***
BANGUN pagi hari Tohir langsung mandi ke ujung gang, tempat pemandian umum. Buru-buru ia berpakaian dan langsung meninggalkan rumah tanpa basa-basi. Hitungan hari kedua, hari kebebasan untuk dirinya. Bebas tugas dari beban keluarga. Bekerja di sebuah percetakan sebagai tukang sapu merangkap kebersihan segala macam, office boy kerennya, dijalaninya sudah hampir tiga tahun. Satu hari mendapat uang makan sejumlah Rp 1.500 dan gaji bulanan sebanyak Rp 45.000, merupakan kenikmatan tersendiri baginya. Karena sebelum ia mendapat pekerjaan tetap, sudah beberapa kali ia berpindah-pindah kerja, menjadi kondektur, calo muatan, juga tukang parkir liar di pojok Matraman. Dan terahir ia diajak kawannya melamar ke kawasan industri, langsung gol dan cocok.

"Hir' Tohir ada yang nyari di depan!"

Dengan segan Tohir mendatangi gardu satpan dan menemukan Malik adiknya.

"Mau apa kamu ke sini! Sana pulang aku lagi kerja nanti dipecat ngobrol-ngobrol nggak keruan begini, pergi pulang!" usir Tohir ketus.

"Bang... Mak cariian, kok pagi nggak pamit, nggak ninggalin duit lagi...? Jadi kita di rumah nggak ada yang dimasak..."

"Duit! Saya nggak ada duit, tongpes... seluruh dunia sudah tahu aku lagi bokek, sana pergi!"

"Jadi bilang apa sama 'Mak, saya takut pulang, 'Mak tadi nangis kesal katanya Abang sudah dua hari ini nggak ngomong di rumah...., jawab Malik agak gemetaran.

"Mau ketawa, nangis, mau pergi, makan, tidur, jalan-jalan sore, itu urusan saya sendiri! saya capai ngeladeni kalian semua, Lik kamu juga sudah besar bisa bantu kita semua. Jangan saya melulu yang mesti mikirin makan kalian, baju si Minah, pekerjaan rumah si Tumin, uang sekolah kalian. Bangkrut! Untuk saya sisa apa, kamu kerja dong! Mikirin pingin sekolah ini itu, duit dari mana, cari duit mulai hari ini, aku nggak akan bantu lagi! Ingat ya Lik, saya sudah hampir sepuluh tahun ngurusin kalian yang manja-manja ini! Ah... sebodo kamu bilang apa di rumah!"
Malik sendiri bengong kebingungan.

***
HARI berganti, bulan pun bertambah. Tahun silih berlalu. Tohir masih kerja rutin di percetakan. Ia sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak. Menengok Ibu dan adik-adiknya tidak pernah sekali pun disempatkannya. Mak pun makin tua, mulai sakit-sakitan, ketiga adiknya mulai kocar-kacir tak terurus. Malik telah lama berhenti sekolah dan sudah bekerja sebagai pembantu di sebuah kios kecil Slipi menjual barang kelontong, peralatan rumah tangga. 

Keluarga kecil milik mereka sudah tidak utuh lagi. Walaupun tekad, impian maupun amanat suami Mak Suminah untuk tetap bersama dalam suka maupun susah, ternyata tidak tercapai. 

Tersisa kini sebuah rumah petak kusam berisikan beberapa manusia yang rapuh kehilangan semangat. 
***

"HIR... cepat bawa ini ke gudang, sebentar lagi ada pemeriksaan, kamu mulai malas kerjanya, mau saya laporin ya!" bentak Mandor Komar. 

"Jangan gitu Bos, saya selalu kerja rapi..." 

"Rapih apa, datang sering kesiangan, Izinmu sudah hampir satu minggu kalau dihitung-hitung, kerja nggak benar! Cari kerja tempat lain kalau malas... Kita nggak terima orang-orang yang loyo di sini!

"Bukan begitu Bos... saya belakangan ini kurang tidur, mana istri sakit-sakitan, mesti urus dua anak yang masih kecil-kecil . Kami masih numpang sama Agus warteg pojok sana. Mesti sering nemanin dia main kartu, begadang, namanya orang nebeng..." 

"Brengsek kamu Hir! Kerja sudah nggak becus dan ngaco! Saya masih kasih kesempatan satu bulan ini, kalau masih tidak disiplin langsung saya serahkan laporan harianmu ke personalia lantai empat, ngerti!" 

Mandor Komar pergi dengan geram.
***

"LIK... Malik cari Tohir, 'Mak kangen, bagaimana keadaannya...," jerit pilu Mak Suminah.

"Mak.. Bang Tohir sehat walafiat, nggak usah dipikirin. Sekarang kan Malik dan adik-adik yang ngurus 'Mak."

"Sudah lama 'Mak nggak ketemu, mungkin dia sakit Lik." 

"Mak saya sudah bilang... nggak ada yang sakit, nggak ada yang susah. Malah sekarang yang kurang sehat itu 'Mak dan kita semua perhatiin... Biar saja kalau Bang Tohir nggak sempat, mungkin dia sibuk, bisa saja dia lembur setiap malam, atau dia kerja keras cari duit untuk kita semua... Saya kan sudah bisa urus adik-adik...," jawab Malik menyenangkan hati ibunya.

"Tapi kamu cari kabar... kali-kali dia sakit... 'Mak kasihan kalau mesti nyusahin orang lain, dia masih saudara kamu, bagaimana kalau ada apa-apa, kita tidak diberi kabar ... Aduh... Tohir, di mana kamu Nak...,"Mak Suminah pun menangis.

'Mak..., nggak usah pikirin, Bang Tohir. Besok-besok juga balik pulang... Bawa uang, ketemu 'Mak, beri oleh-oleh banyak untuk Minah dan Tumin. Semua yang dia lakukan selama ini untuk kebaikan kita bersama... jangan diingat-ingat, nanti dia malah nggak benar kerjanya, gelisah...," Malik berusaha membujuk ibunya.

"Kenapa dia nggak pamit, marah sama 'Mak barangkali. Sudah hampir tiga tahun tidak ada kabarnya. Dia dari dulu ngurusi kita semua. Mungkin Mak salah, maksa dia berhenti sekolah untuk cari uang... Hir....," Mak merintih sedih.

"Kalau 'Mak begini terus saya dan adik-adik sedih, kita semua jadi sakit. Biarkan Bang Tohir menentukan apa maunya. Dia bilang mau hidup sendiri, nikmati hasil keringatnya, mungkin dia sudah berkeluarga, tidak peduli kita lagi... dia capai urus saya, Minah... Min..., biarin dia pergi, saya nggak mau bebani dia lagi, saya juga laki-laki bisa bantu 'Mak dan dan adik, biarkan Bang Tohir puasin dirinya, kita nggak perlu maksa untuk ingat rumah ini! Saya bisa 'Mak, saya anak 'Mak juga dan tidak akan meninggalkan 'Mak sampai kapan pun....," Malik mulai emosi.

Minah dan Tumin ikut duduk dekat ibunya yang terlentang beralas sehelai tikar, terisak bareng. Malik berdiri membenahi seadanya rongsokan nggak karuan pojok bilik mereka. Dia segan memperlihatkan air matanya yang sudah menetes.

Mak Suminah bingung mendengar keluhan Malik begitu bertubi-tubi. Kepalanya sakit dan jantungnya berdebar-debar.

"Maksud kamu apa Lik? Tohir ke mana? Ada apa sebenarnya kakakmu itu... Jangan bohong Lik..."

Perlahan-lahan Malik bersimpuh balik dekat ibunya, digenggam erat tangan ibunya, ditatapnya wajah tua tak karuan dan...

"Maaf... saya berbohong demi kebaikan kita semua, keluarga kecil ini. Bang Tohir sudah nggak mau ngurus kita semua. Dia mau bebas, dia bosan jadi orang miskin, dia punya pekerjaan dan ingin memilikinya sendiri... Tetapi nggak perlu rusuh, Bang Tohir pasti baik-baik saja. Biarlah begitu, dia sudah punya keluarga, tentu sekarang lebih mementingkan anak dan istrinya. Biarinlah! Kalau 'Mak sehat dan tabah kami semua senang."

"Tohir punya anak? Kapan Lik... kenapa nggak dibawa ke sini... Ada apa Lik.... Lik...," Mak Suminah bukannya kalem, malah makin nggak karuan, meraung-raung.

***

SUASANA rumah Malik makin memprihatinkan, Mak Suminah semakin parah sakitnya, dirawat seadanya. Minah juga mulai aneh, jarang bicara, melamun sepanjang hari. Tumin, apalagi malah menjadi berandalan di daerah mereka. Malik mulai panik, berusaha menghubungi Tohir.

Tetapi, selalu sia-sia, Tohir selalu menghindar dengan berbagai alasan. Hanya pesan lewat satpam, bahwa ia tidak punya uang. Malik mulai kalut, ia marah, karena kakaknya selalu curiga kedatangannya hanya untuk minta uang.

Malik mulai tidak konsentrasi dalam pekerjaannya lagi. Ia letih harus tampil tampak sebagai pahlawan di mata keluarga. Ia menjadi bimbang.

"Payah! Saya mulai nggak berguna di keluarga sendiri. Bos marah-marah, pikiran kalut begini, berantakan hidup ini, semua penuh perhitungan. Tohir main hitung-hitungan balas budi, mana si Min jadi preman, gila! Minah nggak waras bisanya bengong, Mak makin tua, ingatnya Tohir melulu! Tahun ke tahun tidak ada perubahan, saya kerja selama ini untuk keluarga tidak dianggap, saya ini apa!" keluh Malik blak-blakan dengan rekan kerjanya Sudin di sebuah warung.

Sudin hanya dapat diam, sambil pura-pura mengerti, mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bosan terlalu sering mendengar keluhan Malik.

"Lik... gini aja, daripada kamu ngomel-ngomel, mana duitmu pas-pasan ... Kerja dari pagi sampai malam, ngurus ibumu yang tua, urus adik-adik. Bagaimana kalau kamu juga cabut...! Pergi aja jauh, hidup sendiri, ngurus diri sendiri, kamu bisa puas beli apa saja. Sepertinya sekarang juga kamu harus ambil sikap... jangan kayak banci... mau ini itu takut!" nasihat santai dari mulut Sudin.

"Edan kamu!" teriak malik sambil menonjok muka Sudin. Orang-orang di warung lari kocar-kacir, menyelamatkan diri, karena perkelahian Malik dan Sudin tampak serius.

***

MEMANG segalanya berakhir tidak menggembirakan. Malik ditahan di sel polisi, karena tuntutan pemilik warung dan lagi pula Malik melukai Sudin sampai masuk rumah sakit, tampaknya parah dan mungkin tak tertolong lagi. 

Mak Suminah kehilangan seluruh anak-anaknya, yang semestinya merawat dan melindunginya. Keluarga Suminah berantakan, Tohir masih menjadi anak durhaka, Tumin lebih-lebih lagi bergabung preman kondang menguasai beberapa gang kumuh daerah rawan dan Minah satu-satunya anak perempuan pergi begitu saja bergabung dengan teman-teman seusianya dengan maksud mencari kerja, meninggalkan ibunya. 

***

MAK Suminah kini sendiri, ia bertahan hidup, walau dari belas kasihan para tetangga yang juga hampir serupa nasibnya. 

"Saya masih ingin hidup lama... Kalau Tuhan memberi kesempatan anak-anak untuk kembali.... entah apa saya bisa menerima mereka, entah... apa masih bisa mengenali mereka... entah... masih adakah kekuatan saya menjadi seorang ibu bagi empat orang anak....," pikir Mak Suminah terus sepanjang malam, sepanjang hari bertahun-tahun.

Jakarta, Desember 1993
 Kompas, 13 Februari 1994

Sumber
Penulis : Rayni N. Massardi
Buku Laki-laki yang Kawin Dengan Peri ( Cerita Pilihan "Kompas" 1995) 
Penerbit. PT. Kompas Media Nusantara, Juni 1995
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Jawa Barat, Majalengka

08.30 0
Alkisah pada zaman dahulu kala, terdapat suatu negeri yang aman dan makmur, yang dikenal dengan nama Negeri Panyidagan. Ratu yang memerintah negeri itu sangat cantik, ia bernama Ratu Ayu Panyidagan, ada juga yang menyebut Ratu Ayu Rambut Kasih, dan ada juga yang menyebut Nyi Rambut Kasih saja.

Kecantikan Ratu Ayu Panyidagan ini tiada tandingannya, sehingga jika dilukiskan dengan kata-kata oleh penyair seperti, Badannya ramping bagai pohon pinang, rambutnya hitam dan panjang bagai mayang terurai, wajahnya berseri bagai bulan empat belas hari, alisnya bagai bentuk taji,hidungnya mancung bagai bunga melur, matanya bagai bintang timur, telinganya bagai kerang,bibirnya bagai delima merekah, giginya bagai dua barisan mutiara, dagunya bagai lebah bergantung, jarinya bagai duri landak, pepat kukunya bagai paha belalang, betisnya bagai perut padi, tumitnya bagai telur burung.

Menurut cerita dari mulut ke mulut Ratu mendapat pujian Ratu Ramping Kasih karena semua orang (rakyat negeri ini) tidak berani menatap wajah Ratu yang cantik dan berwibawa itu, mereka hanya berani menatap bila Ratu telah pergi membelakangi mereka. Mereka hanya dapat melihat badannya yang ramping dan rambutnya yang hitam bergelombang menutupi badannya.Rambut Ratu yang indah itu menimbulkan rasa kasih setiap orang yang melihatnya sehingga semua orang memuji kecantikannya yang sesuai dengan tingkah lakunya yang ramah tamah dan baik budi bahasanya. Oleh sebab itu memberi julukan Ratu Ayu Rambut Kasih.Selain itu, beliau mempunyai ilmu lahir dan ilmu batin, lagi pula beliau dapat meramalkan kejadian yang akan dialaminya.

Dalam pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan yang adil dan bijaksana itu,kesejahteraan rakyat terjamin, baik petani maupun pedagang merasa aman dan tenteram menggarap pekerjaannya karena tak pernah ada pencuri dan perampok yang mengganggu kekayaannya. Pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan dibantu oleh para Patih yang terkenal dalam bidang kesejahteraan dan keamanan negara, yaitu Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur.

Pada suatu hari, Ratu Ayu Panyidagan mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh para menteri dan para punggawa negara, bahkan rakyat pun boleh mendengarkan asal tidak mengganggu suasana perundingan itu. Setelah semua undangan hadir, barulah Ratu Ayu Panyidagan keluar dari Kaputren menuju ruang pendopo kemudian duduk di hadapan para menteri dan punggawa negara. Semua yang hadir tak ada yang berbicara, semuanya diam, semuanya menundukkan kepalanya tanda hormat dan takut menghadapi Ratu Ayu Panyidagan yang berwibawa itu.

Setelah suasana di pendopo itu tertib, kemudian sang ratu bersabda;
"Para menteri dan para punggawa Negara Panyidagan yang hadir, sekarang sudah waktunya atas kehendak Sang Hyang, negara kita akan menghadapi cobaan. Menurut wangsit yang kami terima, kelak kerajaan ini akan berubah. Oleh sebab itu, hadirin harus waspada dan siap-siaga menghadapi malapetaka yang akan datang. Bila ada huru-hara di luar kerajaan, kalian harus cepat memusnahkannya, jangan sampai musuh dapat masuk dan mengganggu ketertiban negara. Lindungilah rakyat dari segala bencana yang mengancam negara kita. Tentramkanlah hati rakyat supaya mereka tenteram mengerjakan tugas masing-masing dengan baik. Para petani tentram bertani supaya hasilnya akan lebih baik, dan para pedagang tentram berdagang, jangan sampai dikejar-kejar hutang dan diganggu oleh pencuri atau perampok. Tapi, kalau ada utusan dari negara lain yang akan bersahabat dan berbuat demi kesejahteraan kita semua, terimalah dengan baik dan ramah tamah, Mengerti?"

"Yakseni, yakseni ..., hadirin serempak menjawab.

Sang Ratu bersabda lagi;
"Sebentar lagi kami akan menerima tamu. Menurut ramalanku, orang yang datang tegap dan cakap, tetapi orang itu akan menimbulkan bencana bagi diri kami, hanya saja kami belum tahu bencana apa yang akan terjadi. Akan tetapi, semua rakyat Panyidangan tidak akan mendapat bencana, hanya berubah keyakinan dan kepercayaan, sesudah kerajaan ini lepas dari tangan kami. Nah sekian nasehat kami. Sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan aman dan tentram."

Terhadap semua nasehat Ratu, tak ada yang berani menentangnya, sebab mereka yakin bahwa semua ucapan Ratu pasti terjadi. Demikian juga, Ki Gedeng Cigobang, Ki Dedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur menerima tugas menjaga negara. Setelah siap dan mengumpulkan segara perkakas mereka pergi ke sebelah utara untuk menjaga perbatasan negara. Setibanya di sana, ketiga Senapati itu segera membuat pondok penjaga. Dari tempat ini mereka dapat melihat ke seluruh penjuru dengan jelas. Baik siang maupun malam mereka dapat melihat siapa yang lewat melalui jalan masuk ke negeri Panyidangan. Setiap orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai terlebih dahulu, karena tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Tempat penjagaan Ki Gedeng Cigobang itu, sekarang terkenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata penjagaan).

Pada suatu waktu, ketika Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang asyik berbincang-bincang, tidak diketahui dari mana datangnya, tahu-tahu kelihatan seorang pemuda sedang menyeberangi suangai, akan masuk ke Negeri Panyidagan. Alangkah terkejutnya mereka melihat kejadian itu. Mereka sudah meramalkan akan terjadi apa-apa kalau pemuda itu tidak segera ditangkap.

Ketiga Senapati itu memanggil orang yang sedang menyeberangi sungai,"Hai orang yang sedang menyeberangi sungai, siapa namamu dan mengapa kamu berani menyeberangi sungai tanpa ijin kami?"

Orang yang sedang menyeberang itu tidak menghiraukan teriakan ketiga senapati itu, ia terus menyeberangi sampai ke tepi sungai itu dan pergi menjauhi ketiga Senapai itu. Ketiga Senapati itu sangat marah melihat kelakuan pemuda tersebut, kemudian mereka lari mengejar orang itu dengan maksud akan mengeroyok, karena orang itu sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka.

Orang yang menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon, dengan maksud akan minta minta pertolongan Ratu Ayu Panyidangan. Ia akan minta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidangan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon, karena waktu itu di daerah Cirebon sedang terjangkit wabah penyakit yang harus diobati oleh Godongan buah maja yang banyak terdapat di daerah Panyidagan. Utusan itu bernama Pangeran Muhamad. Selain mendapat tugas mencari buah maja, dia juga mendapat tugas meng-Islamkan orang-orang yang masih menyembah berhala.

 Kita kembali menceritakan Pangeran Muhammad yang sedang dikejar oleh ketiga Senapati itu. Ia lari tunggang-langgang menuju ke arah barat. Ketiga Senapati itu berusaha menangkapnya dan akan menyerahkan kepada Ratunya. Tetapi Senapati itu kalah cepat, buronannya makin jauh. Akhirnya mereka menggunakan siasat baru dengan jalan mengepung Pangeran Muhamad dari beberapa penjuru. Seorang mengepung dari sebelah utara, yang seorang lagi dari sebelah barat, dan seorang lagi dari sebelah selatan. Akhirnya Pangeran Muhamad terkepung juga. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, akhirnya Pangeran Muhamad bersembunyi dalam suatu rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia terpekur minta perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mengucapkan syahadat tiga kali dan merentakkan kakinya. Tanah yang diinjak itu pun terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad masuk ke dalam lubang itu. Setelah Pangeran Muhamad. Setelah Pangeran Muhamad berada di dalam itu, tanah yang retak itu tertutup kembali seperti sedia kala.

Ketiga Senapati itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolak-balik kian-kemari mencarinya, setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang tak ada satu rumput pun yang disisakannya, tetapi orang itu belum dijumpai, menghilang tanpa bekas. Ketiga Senapati sudah putus asa, semua daya upaya sudah dilaksanakan, tetapi masih juga belum berhasil. Akhirnya mereka duduk bertekuk lutut memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada Sang Ratu. Setelah berunding, mereka pergi bersama-sama menuju ke dalam Panyidangan.

Setelah itu, Pangeran Muhamad yang ada di dalam tanah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. mohon diberi kekuatan agar dapat keluar dari dalam tanah. Ia mencoba keluar dari dalam tanah dengan jalan mengorek dan melubanginya, lama-kelamaan ia dapat keluar melalui lubang di dalam tanah itu dan muncul kembali di suatu tempat, yang sekarang terkenal dengan nama Kampung Munjul (muncul).

Penglihatan Pangeran Muhamad masih tetap gelap, segelap di dalam tanah walaupun ia sudah berada di atas tanah. Pangeran Muhamad melanjutkan perjalanan menuju ketempat datangnya cahaya, makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan itu dan akhirnya cahaya itu menghilang. Setelah diselidiki, ternyata cahaya yang memancar itu keluar dari "supa lumat" yang ada pada pohon-pohon jati yang berjejer di sepanjang jalan itu. Kemudian Pangeran Muhamad memberi nama tempat ini jadi pamor yaitu kebun jati yang berpamor atau bercahaya.

Sementara itu, ketiga Senapati yang sedang mencari Pangeran Muhamad. Mereka sudah ada di kadaleman dan akan melaporkan kejadian yang baru saja mereka alami kepada Ratu Ayu Panyidagan. Mereka duduk pada bangku sambil membicarakan buronan yang hilang.

Ketika sedang asyik bercakap-cakap, Ratu Ayu Panyidagan datang ke pendopo menuju ke arah ketiga Senapati yang menundukkan kepala karena malu dan bingung mencari kata-kata yang tepat untuk melaporkan.

Kemudian Ratu Ayu Panyidagan bersabda," Hai para Senapati! Mengapa kalian tidak melaksanakan tugas menjaga negara, kalau-kalau ada orang yang masuk ke kerajaan tanpa ijin."

"Ya Tuanku, hamba datang dari perbatasan negara akan melaporkan bahwa kemarin ketika hamba bertiga  sedang menjaga perbatasan, tiba-tiba ada orang yang sedang menyeberangi sungai di dekat perbatasan. Hamba bertiga menegurnya, tetapi orang itu tidak mau menjawab, bahkan ia lari tunggang-langgang. Hamba bertiga mengepungnya, kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. Semua rumpun telah hamba tebas sampai tak ada satupun rumpun pun yang tertinggal."

"Aku tak percaya terhadap berita itu. Sekarang kalian harus mencari orang itu sampai dapat, dan bawa kemari. Sebelum tertangkap, kalian tidak boleh kembali. Pergilah sekarang juga dan tangkap hidup-hidup."

Ketiga orang itu pergi meninggalkan pendopo untuk mencari buronan yang belum tertangkap itu. Mereka pergi lagi ketempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengobrak-abrik tempat itu, tetapi mereka masih belum juga menjumpainya. Sebenarnya Pangeran Muhamad sudah tidak ada di tempat itu, ia sudah sampai ke daerah Panyidagan.


Sementara, ketiga senapati tersebut terus mencari, hutan dijelajahi, gua-gua dimasuki, akhirnya sampailah ia ketempat Pangeran Muhamad sedang sedang beristirahat: yaitu di kebun jati yang penuh dengan jamur yang menempel pada kayu jati dan mengeluarkan sinar di waktu malam. Mereka gembira karena dari jauh terlihat seseorang sedang berjalan menuju kearah Panyidagan. Ketiga senapati itu sudah siap siaga akan menangkapnya. Mereka berjalan sambil membungkukkan badannya supaya buronan itu tidak melarikan diri atau menghilang lagi. Setelah dekat, mereka serentak menangkapnya dan dibawa kebawa ke kaputren.

Baru saja sampai di halaman kaputren, Ratu Ayu Panyidagan sudah keluar dan bersabda," Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. Perlakukan orang itu seperti menerima tamu."

Ketiga Senapati itu tidak bisa membantah, mereka melepaskan Pangeran Muhammad dan disuruhnya ia beristirahat dan mandi dulu sebelum menghadap ratu. Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Setelah itu Pangeran Muhammad disuruh menghadap ke kaputren. Ketika Pangeran Muhammad sedang berjalan menuju kaputren, Ratu Ayu Panyidagan memperhatikan dari jendela. Beliau terpesona melihat pemuda yang gagah dan cakap itu sehingga timbul rasa ingin dipersunting oleh pemuda itu.

Setelah Pangeran Muhammad berada di hadapannya, kemudian Ratu Ayu Panyidagan  bertanya, "Hai pemuda, kamu berasal dari daerah mana? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini, dan apa maksudmu datang kemari?"

"Hamba ini berasal dari Cirebon. Hamba datang kesini diutus oleh Sunuhun Jati, mencari buah maja yang ada di daerah kerajaan Panyidagan untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit demam. Oleh sebab itu, mudah-mudahan Tuan hamba bersedia menolong rakyat kerajaan yang sedang menderita sakit demam itu, dan mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah tuan hamba."

"Hanya itu permintaanmu?"

"Ya Tuanku, hanya itulah permohonan hamba ini!"

"Baiklah akan kami penuhi permintaanmu ini, bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu, asal kamu memenuhi syarat ini."

"Ya Tuanku, apa yang menjadi syaratnya?"

"Syaratnya sangat mudah, coba dengarkan! Saya adalah seorang Ratu yang termasyur dan dihormati oleh semua rakyat Panyidagan, para Menteri, Patih, serta para penggawa kami semuanya sangat setia. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diri saya. Saya ingin mempunyai keturunan untuk melanjutkan kerajaan Panyidagan ini. Pilihan yang paling sesuai untuk menjadi suamiku, hanyalah engkau seorang diri. Nah, itulah sebabnya syaratnya! Bagaimana, apakah dapat kamu laksanakan?"

"Ampun Tuan hamba, syarat ini terlalu berat. Bukan tidak mengagumi kecantikan Tuan Putri dan menurut perasaan hamba tidak ada yang tidak tertarik oleh kecantikan Tuanku. Bukan hamba menolak anugerah Tuan Putri ini, hanya ada rintangan yang sangat berat yaitu hamba ini sudah mempunyai istri. Dan lagi menurut agama hamba tidak baik mencintai orang yang sudah punya istri."

Sesudah Ratu Ayu Panyidagan mendengar jawaban Pangeran Muhammad, beliau sangat murka ditolak oleh pemuda itu. Beliau berteriak memanggil Patih. "Patih, tangkap orang ini, masukkan ke dalam penjara, jangan sampai dapat kembali ke Cirebon. Obat yang berupa buah maja tidak dapat dimilikinya dan dibawanya ke Cirebon, bahkan kebunnya pun kuhancurkan sampai akar-akarnya.

Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. Tidak berapa lama langit mendung, makin lama makin gelap, dan turunlah hujan yang sangat derasnya, sehingga orang-orang masuk ke rumah masing-masing karena merasa sangat takut oleh hujan yang sangat deras itu. Keesokan harinya langit cerah  dan matahari bersinar menyinari alam semesta. Rakyat Panyidagan akan pergi mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari. Semua orang terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang berubah, kaputren menghilang beserta Ratu Panyidagan. Kebun Maja yang lebat itu hilang tanpa bekas. Semua rakyat ribut sambil berteriak, "Gusti Ratu menghilang, maja................... langka, maja .................. langka, majalangka ......!" sejak itu timbul sebutan majalangka, yang sekarang terkenal dengan nama Majalengka.

Kemudian Pangeran Muhammad yang diutus Sinuhun Jati mencari buah maja lagi, akan tetapi tidak berhasil karena buah maja sudah tidak ada, kemudian ia bertapa di gunung Haur sampai meninggal. Jenazahnya dikebumikan di sana. Sejak itu Gunung Haur terkenal dengan nama Margatapa. Demikianlah asal muasal daerah Majalengka di Propinsi Jawa Barat.


Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Keli Si Kelinci Kecil

23.59 0
Keli Si Kelinci Kecil
PAGI yang cerah di hari Minggu seperti hari biasanya, Keli si kelinci kecil yang lucu mulai membantu mamanya memungut sisa-sisa wortel yang telah di panen. Keli mulai bosan dengan apa yang telah dikerjakan. Dia kemudian duduk di sudut ladang wortel dekat pondok yang didirikan oleh si pemilik kebun. Ia mulai menatap langit cerah sambil bergumam, "Hmm, kenapa ya kelinci kerjanya cuma memungut wortel sisa panen manusia? Kenapa tidak seperti hewan yang lainnya yang mencari makanan yang berbeda?"

Lama ia melihat langit cerah yang tidak ada awannya. Tiba-tiba ia melihat elang terbang di langit membawa seekor anak ayam. "Kemarin bawa ikan, sekarang bawa anak aya. Huh, enak banget hidup si elang," gumamnya lirih.

Tanpa ia sadari, mamanya memperhatikan semua gerak-geriknya. Mama Keli mulai mendekati anaknya. "Nak, elang itu dikasih tuhan sebuah kelebihan yakni punya sayap, sehingga ia bisa terbang dengan sayapnya dan mencari makanan."

"Tuhan nggak adil ma. Masa elang saja yang dikasih sayap. Kenapa kelinci nggak dikasih sayap juga?" jawab Keli.

"Kata siapa Tuhan itu nggak adil. Tuhan itu adil terhadap ciptaannya. Setiap hewan diberikan kelebihan masing-masing. Elang dikasih sayap untuk terbang, harimau dan singa dikasih taring dan kecepatan untuk berlari juga untuk menangkap mangsanya. Kancil dikasih kecerdasan yang luar biasa sehingga ia bisa memecahkan setiap permasalahan yang ada di hutan." ujar mamanya menerangkan dengan panjang lebar.

"Lalu kelinci dikasih kelebihan apa sama Tuhan ma?"

Mamanya berpikir sejenak. "Kelinci dikasih kelincahan dalam berlari dan juga wajah yang lucu dan manis, Sama kayak Keli."

"Ihh mama, cuma dikasih itu saja? Keli pengen juga dikasih sayap kayak elang, pengen nangkap ayam dan ikan, ingin kayak harimau dan singa yang selalu ditakuti semua binatang di hutan."

Mendengar keluhan Keli, mamanya hanya tersenyum tipis.

Keesokan harinya, setelah memilih wortel di ladang yang berbeda. Keli berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba datanglah pemburu. Ia mulai menembak elang yang sedang terbang. Tembakannya tepat mengenai badan si elang. Burung pemangsa itupun tumbang ke tanah. "Ha, ini dia si elang yang mencuri anak ayam saya dan ikan saya yang ada di kolam," gumam si pemburu.

Keli yang ketakutan, bersembunyi di balik pohon tepat di belakang si pemburu.

Setelah menembak elang, pemburu pun langsung memasukkan elang ke dalam karung dan dibawanya. Perjalanan pemburu itu pun dilanjutkan. Karena penasaran, Keli mengikuti sang pemburu dari belakang. Tiba-tiba pemburu melihat harimau. Dia bergumam, "Ini dia harimau yang mencuri kambing saya. "Pemburu itu langsung menembak si harimau. Door, harimau pun mati terkapar.

Karena terkejut, Keli terpeleset dan langsung mengenai tubuh si pemburu. Keli pun takut, takut kalau ia juga akan dibunuh seperti elang dan harimau. Si pemburu bergumam sambil tersenyum. "Ini dia si kelinci yang baik yang telah membantu saya memungut sisa wortel di kebun sehingga saya tidak merasa rugi."

Tiba-tiba si pemburu langsung menggendong Keli sambil menciumnya. "Kau kelinci yang manis, bulumu lembut, kau pantas hidup.

Lalu, si pemburu melepaskan kelinci. Keli berlari sekencang-kencangnya ke rumah. Sesampai di rumah Keli langsung terduduk di tempat tidur. Mamanya heran melihat kelakuan anaknya. Rupanya Keli bermimpi kalau ia bertemu kakeknya, dan kakeknya itu mengatakan, "Apa yang kau lihat hari ini, apakah setelah melihat kejadian hari ini kau masih mau menjadi elang, harimau. Kalau iya, biar saya ubah kau dengan kekuatan."

"Nggak kek, Keli hanya ingin jadi kelinci." Keli pun terbangun dari tidurnya, keringatnya pun bercucuran. Keesokan harinya Keli memungut wortel dengan semangat. Mamanya pun terheran-heran dengan apa yang dilakukan anaknya. Hanya Keli yang tahu bahwa ia bersyukur ditakdirkan sebagai seekor kelinci yang manis dan menjadi kesayangan si pemburu. Ia pun bersyukur kepada Tuhan atas segala kelebihan yang telah dikaruniakan kepadanya.

Sumber:
Harian Padang Ekspress, Minggu 10 Mei 2015
Penulis: Wetri Rahayu 
Read More

Cerita Rakyat Propinsi DKI Jakarta, Legenda Si Jampang Jawara Betawi

20.51 1
Cerita Rakyat Propinsi DKI Jakarta, Legenda Si Jampang Jawara Betawi
Terdapat sebuah rumah di atas perbukitan yang sangat tinggi, bukit itu disebut Gunung Kepuh. Rumah yang terdapat di sana merupakan sebuah perguruan bela diri yang terkenal seantero betawi. Pemimpin dari perguruan itu bernama Ki Samad ( Shomad ), ia seorang jawara yang terkenal dan sulit di cari tandingannya. Pak Samad atau Ki Samad mempunyai dua murid kesayangan yang bernama Jampang dan Sarba. Kedua pemuda itu konon selain gagah dan tampan, juga mempunyai ilmu silat yang tinggi dan tangguh. Setelah sekian lama Jampang dan Sarba menuntut ilmu, tibalah waktunya bagi mereka untuk kembali ke kampung halaman masing masing. Inti ringkasan dari nasihat Ki Samad yang selalu mereka ingat adalah "Berhati hatilah dalam mempergunakan ilmu kalian. Jangan sampai di amalkan di jalan yang salah."

Di tengah perjalanan Jampang dan Sarba mampir di sebuah warung nasi untuk mengisi perut mereka yang kosong setelah menempuh perjalanan jauh. Di sana mereka melihat Gabus dan Subro, dua orang anak buah Juragan Saud (Gan Saud), seorang tuan tanah. Dua orang ini terkenal karena perbuatannya yang semena mena, selalu berbuat onar, dan kebetulan pada waktu mereka telah makan di warung itu, tetapi tidak mau membayarnya.

Jampang dan Sarba pun tak mau tinggal diam. Mereka menghadapi centeng-centeng yang sombong itu. Gabus dan Subro merasa terkejut melihat ada dua orang pemuda yang berani menghalangi tindakan mereka. Selama ini setiap orang selalu takut dan tunduk kepada mereka. 

Mereka meremehkan Jampang dan Sarba. Saat terjadi pertarungan, mereka kena batunya, ternyata Jampang dan Sarba bukanlah orang biasa. Disinilah nama Jampang dan Sarba menjadi terkenal. Kedua centeng itu dibuat kewalahan, dan mereka berhasil kabur membawa dendam yang membara. 

Konon ceritanya, setelah menangani kedua orang itu, Jampang dan Sarba berpisah menuju kampung halamannya masing-masing. Di kampungnya, Jampang mengajarkan ilmu pengetahuan silatnya ke santri-santri Haji Baasyir.  Salah satu ucapan beliau," sebagai seorang muslim, kita tidak boleh lemah.Kita harus kuat agar bisa membela diri dan melindungi orang yang lemah dari para penjahat." Haji Baasyir sangat menyukai pemuda yang bersemangat seperti Jampang.

Suatu hari, Haji Baasyir memberi tugas kepada Jampang untuk mengantarkan sebuah surat kepada adik seperguruannya yang bernama Haji Hasan yang tinggal di Kebayoran. Jampang sangat patuh kepada Haji Baasyir dan menerima tugas itu dengan senang hati. Selepas dzuhur, Jampang telah berada di daerah Kebayoran dan melihat serombongan pejabat sedang mengontrol daerah kekuasaan mereka. Para penduduk yang berada di pinggir jalan menunduk seraya memberi hormat layaknya seorang raja jaman dahulu memberi hormat. 

Jampang merasa kesal. Untuk apa mereka memberi hormat seperti itu. "Sekarang bukan jamannya raja-raja. Setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama di hadapan Tuhan. Jadi apa perlunya memberi hormat seperti itu. Kekesalannya membuat tekad di hati dan pikirannya untuk membela dan berjuang bagi hak-hak rakyat kecil. 

Saat Jampang sedang berada di dekat aliran sungai. Ia mendengar suara seorang wanita menjerit meminta pertolongan. Tampak di matanya seorang laki-laki kasar hendak berbuat tidak senonoh kepada seorang wanita yang baru selesai mandi. Laki-laki bejat itu bernama Kepeng, anak buah si Jabrik, jawara di daerah itu, dan gadis itu bernama Siti, putri Pak Sudin. 

Dia pun marah dan menolong wanita tersebut. Pertarungan sengit tak bisa dielakkan. Dengan kesaktiannya Jampang berhasil mengalahkan Kepeng. Usai perkelahian itu, Jampang mengantar Siti ke Rumahnya. Lalu Pak Sudin orang tua Siti, mengantar beliau ke rumah Haji Hasan untuk mengantarkan sebuat surat titipan Haji Baasyir ke Haji Hasan.

Ternyata surat itu berisi anjuran agar Haji Hasan menyuruh agar anak muda asuhan beliau untuk belajar ilmu bela diri. Dengan demikian mereka mampu menjaga keamanan di daerahnya. Memang kala itu tanah-tanah di pinggir Kota Betawi sering tidak aman, dan Jampang mendapat tugas untuk melatih para pemuda itu. Jampang pun melakukan tugasnya dengan baik. Dididiknya para pemuda dengan sungguh-sungguh. Kehadiran Jampang di daerah itu membuat Jabrig dan anak buahnya merasa tidak aman dan berniat menyingkirkan beliau.

Suatu hari, gerombolan si jabrig menyerangnya, namun Jampang bukanlah pemuda sembarangan. Ia adalah jebolan perguruan silat Gunung Kepuh, baginya gebrakan Jabrig dan anak buahnya tidak berarti apa-apa. Ia bahkan mampu menghancurkan gerombolan itu. Keadaan kampung pun menjadi aman. Hancurnya gerombolan Jabrig membuat tugas Jampang selesai. Ia pun segera pamit untuk kembali ke kampung halamannya. Hal ini membuat nama Jampang kembali terkenal karena kehebatannya. 

Setibanya di Kampung, sebuah fitnah menanti. Sebuah fitnah yang dibuat Subro dan Gabus yang menyatakan bahwa Jampang telah mencuri dua ekor kerbau milik Juragan Saud. Mereka yang pernah dikalahkan Jampang ternyata masih merasa dendam dan mereka ingin menjebloskan Jampang ke penjara dengan cara melaporkan Jampang ke pihak kepolisian. Jampang tahu bahwa ini adalah sebuah jebakan. Beliau menghadap Haji Baasyir untuk diberi petunjuk. Haji Baasyir menyarankan pada Jampang untuk menemui Juragan Saud dan menyadarkannya. 

Akhirnya Jampang pergi ke rumah Juragan Saud. Di sana ia malah mengambil kerbau dan barang-barang berharga milik Juragan Saud lalu membagikannya kepada masyarakat kecil yang membutuhkan. Juragan Saud yang kesal kepada Jampang yang ia fitnah , malah telah merampoknya. Ia meminta pihak kepolisian agar mengerahkan pasukan untuk menangkap beliau. Polisi pun dikerahkan di mana-mana. Mereka berhasil menemukan Jampang. Beberapa dari mereka telah menembak Jampang hingga tewas.

Namun menurut mitos yang beredar, Jampang tidaklah tewas. Dengan kesaktiannya, Jampang berhasil mengelabui mereka dengan mengubah sebuah batang pohon pisang seolah-olah menjadi dirinya. Jadi, yang mereka bunuh adalah sebuah batang pisang, bukan Jampang yang sebenarnya. Setelah keadaan aman, Jampang menikahi Siti, anak dari Pak Sudin, orang yang pernah ditolongnya dulu.

Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Kepulauan Riau, Putri Pandan Berduri

19.06 0
Cerita Rakyat Kepulauan Riau, Putri Pandan Berduri
Asal Mula Persukuan di Pulau Bintan

Pulau Bintan merupakan pulau terbesar di Propinsi Kepulauan Riau (Kepri). Di Pulau ini terdapat Kota Tanjung Pinang, Ibu kota Propinsi Kepulauan Riau. Pulau ini dihuni oleh berbagai macam suku bangsa seperti Melayu, Thionghoa, Minang, Batak, Jawa dan lain-lain. Dahulu, di Pulau Bintan juga pernah berdiam sekelompok suku bangsa yang terkenal dengan nama Suku Sampan atu Suku Laut. Terkait dengan hal ini, ada sebuah cerita rakyat yang masih hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Kepulauan Riau, khususnya masyarakat Bintan. Cerita ini berkisah tentang Batin Lagoi, pemimpin Suku Laut atau Suku Sampan di Pulau Bintan, yang menemukan seorang bayi perempuan du semak-semak pandan di tepi laut. Batin Lagoi kemudian mengangkat bayi itu sebagai anak dan diberinya nama Putri Pandan Berduri. Berikut ini adalah cerita lengkapnya. 

****
Alkisah pada zaman dahulu kala, di Pulau Bintan berdiam sekumpulan orang Sampan atau orang Suku Laut. Mereka dipimpin oleh Batin Lagoi yang gagah perkasa. Untuk masuk ke kawasan Batin Lagoi itu, harus melalui sebuah betung yang ditumbuhi semak belukar yang rimbun.

Pada suatu hari, Batin Lagoi menyusuri pantai. Ketika tengah berjalan santai, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara tangisan bayi dari arah semak-semak pandan. Dengan perasaan heran, ia menerobos semak pandan itu dengan hati-hati. Tak berapa lama didapatinya seorang bayi perempuan tergeletak beralaskan daun diantara semak pandan itu. "Anak siapakah ini? Mengapa berada di sini? Di manakah orang tuanya?" Batin Lagoi bertanya dalam hati. 

Setelah menengok ke sekelilingnya. Batin Lagoi tidak melihat tanda-tanda ada orang disekitarnya. Karena ia tidak mempunyai anak, terbersit keinginan untuk mengangkat bayi itu sebagai anak. Dengan hati-hati, di ambilnya bayi dan diambilnya dan dibawanya pulang. Bayi itu kemudian ia beri nama Putri Pandan Berduri. Ia membesarkan Putri Pandan Berduri dengan penuh kasih sayang layaknya memelihara seorang putri raja. Setiap hari Batin Lagoi juga memberinya pelajaran budi pekerti yang luhur. 

Waktu terus berjalan. Putri Pandan Berduri tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Tutur bahasa dan sopan-santunnya mencerminkan sifat seorang putri raja. Kecantikan dan keelokan perangai Putri Pandan Berduri mengundang decak kagum para pemuda di Pulau Bintan. Namun, tak seorang pun pemuda yang berani meminangnya, karena Batin Lagoi menginginkan putrinya menjadi istri seorang anak raja atau anak megat.

Sementara itu, di Pulau Galang tersebutlah seorang Megat yang mempunyai dua orang anak laki-laki. Anak yang tua bernama Julela dan yang muda bernama Jenang Perkasa. Sejak mereka kecil, Megat itu mendidik dua anaknya agar saling membantu dan saling menghormati. Setelah keduanya beranjak dewasa. Megat menginginkan Julela menjabat sebagai batin di Galang. Hal ini kemudian membuat Julela menjadi sombong. Ia sudah tidak peduli dengan adiknya, sehingga hubungan mereka menjadi tidak harmonis lagi. Mereka pun menjalani hidup masing-masing secara terpisah. 

 Dari hari ke hari kesombongan Julela semakin menjadi-jadi. Ia sering mencaci dan memusuhi adiknya tanpa sebab. Pada suatu hari, Julela berkata kepada adiknya, "Hei Jenang bodoh! kelak aku akan menjadi batin di kampung ini, maka kamu harus mematuhi segala perintahku. Jika tidak, kamu akan aku usir dari kampung ini." 

Jenang Perkasa sangat sedih mendengar ucapan abangnya itu. Ia merasa tidak lagi dianggap sebagai saudara. Hal ini menyebabkan Jenang Perkasa merasa semakin terasing dari keluarga. Oleh karena itu timbullah keinginannya untuk meninggalkan Pulau Galang. Keesokan harinya, secara diam-diam, Jenang Perkasa berlayar tak tentu arah. Setelah berhari-hari mengarungi lautan luas, sampailah ia di Pulau Bintan. Di sana, ia tidak mengaku sebagai anak seorang megat. Ia selalu bertutur kata lembut kepada setiap orang yang diajaknya berbicara. Sikap dan perilaku Jenang Perkasa itu telah menarik perhatian Batin Lagoi. 

Pada suatu hari, Batin Lagoi mengadakan perjamuan makan bersama orang-orang Suku Sampan lainnya. Tak ketinggalan pula Jenang Perkasa diundang dalam perjamuan itu. Jenang Perkasa pun pergi memenuhi undangan itu. Saat jamuan makan akan dimulai, ia memilih tempat yang agak jauh dari kawan-kawannya, agar air cuci tangannya tak jatuh di hidangan yang ia makan. Tanpa disadarinya, ternyata sejak ia datang sepasang mata telah memperhatikan perilakunya, yang tak lain adalah Batin Lagoi. Tingkah laku dan budi pekerti Jenang Perkasa itu sungguh mengesankan hati Batin Lagoi. 

Usai perjamuan, Batin Lagoi menghampiri Jenang Perkasa."Wahai, Jenang Perkasa! Aku sangat terkesan dan kagum dengan keelokan budi pekertimu. Bersediakah engkau aku nikahkan dengan putriku, Pandan Berduri?" tanya Batin Lagoi. 

"Dengan segala kerendahan hati, saya bersedia menerima putri tuan sebagai istri saya," jawab Jenang Perkasa dengan sopannya. 

Rupanya, Batin Lagoi sudah lupa dengan cita-citanya untuk menikahkan putrinya dengan anak raja atau megat. Meskipun sebenarnya Jenang Perkasa adalah anak seorang megat, tetapi Batin Lagoi tidak mengetahui hal itu. Ia sungguh-sungguh tertarik dengan perangai Jenang Perkasa yang baik itu. 

Seminggu kemudian, Jenang Perkasa pun dinikahkan dengan Putri Pandan Berduri. Pernikahan mereka dilangsungkan sangat meriah. Aneka minuman dan makanan dihidangkan. Tari-tarian juga disuguhkan untuk menghibur para pengantin dan para undangan. 

Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri pun hidup bahagia. Tak berapa lama kemudian, Batin Lagoi mengangkat Jenang Perkasa sebagai Batin di Bintan untuk menggantikan dirinya. Jenang Perkasa memimpin rakyat Bintan dengan bijaksana sesuai dengan adat yang berlaku di Bintan. 

Kepemimpinan Jenang Perkasa yang bijaksana itu terdengar oleh masyarakat Galang. Hingga suatu hari, datanglah sekumpulan orang dari Galang ke Pulau Bintan. 
"Wahai Jenang Perkasa! Kami sudah mengetahui tentang kepemimpinanmu di Pulau Bintan ini. Maksud kedatangan kami ke sini untuk mengajak engkau kembali ke Galang menggantikan abang Engkau yang sombong itu sebagai Batin," kata salah seorang dari mereka.

Namun Jenang Perkasa menolaknya. Ia lebih memilih menjadi Batin di Pulau Bintan. Sekumpulan orang dari Galang itu pun kembali dengan tangan hampa. 

Sementara itu Jenang Perkasa hidup berbahagia bersama Putri Pandan Berduri. Mereka mempunyai tiga orang putra, yang sulung bernama Batin Mantang, yang tengah bernama Batin Mapoi, dan yang bungsu bernama Batin Kelong. Jenang Perkasa mendidik ketiga anaknya dengan baik, agar mereka tidak menjadi orang yang sombong. Ia berharap kelak mereka akan menjadi pemimpin suku yang bertanggung jawab. Maka pada ketiga anaknya diadatkan dengan adat Suku Laut dan dinamakan dinamakan dengan adat kesukuan. 

Setelah beranjak dewasa, ketiga anaknya tersebut memimpin suku mereka masing-masing. Batin Mantang berhijrah ke bagian utara Pulau Bintan, Batin Mapoi dengan sukunya ke barat, dan Batin Kelong dengan sukunya ke timur Pulau Bintan. Ketiga suku tersebut kemudian menjadi suku terbesar dan termasyur di daerah Bintan. Jika mereka mengalami kesulitan, mereka kembali kepada yang pertama, yaitu adat kesukuan. 

Tak lama kemudian, Jenang Perkasa meninggal dunia, disusul Putri Pandan Berduri. Walaupun keduanya telah tiada, tetapi anak cucu mereka banyak sekali, sehingga adat kesukuan terus berlanjut. Hingga kini, Jenang Perkasa dan Putri Pandan Berduri tetap dikenang karena dari merekalah lahir persukuan di Teluk Bintan. Suku Laut atau Suku Sampan ini masih banyak ditemukan berdiam di perairan Pulau Bintan.

Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Post Top Ad