Blog Oblok Oblok

Hot

Post Top Ad

Cerita Pendek, Namanya Massa

04.50 0
Cerita Pendek, Namanya Massa
INI memang kota Jakarta! di kafe ini, saya ketemu massa, matanya bagus! Tapi, dia tak secantik maminya yang artis terkenal. Papinya sutradara andalam dalam dunia perfilman kita. Massa acuh tak acuh saja, kala Mas Beny, teman sama-sama wartawan mengajaknya ngobrol. Dia minum wiski (seperti minum air putih). Saya mungkin kelewat asyik melihatnya, sehingga Mas Beny berbisik,"Kalau kau sudah lama di Jakarta, ada banyak perempuan, seperti itu. 

Barangkali, sulit bagiku untuk menyesuaikan diri dengan watak kota Jakarta. Sejak ditugaskan sebagai wartawan di Jakarta, saya merasa sering sepi dan jenuh dengan pekerjaan yang sudah saya geluti selama tujuh tahun. Dalam malam yang hujannya rintik-rintik ini, di diskotik yang musiknya hingar bingar, saya temukan Massa yang mabuk. Saya antarkan dia sampai ke rumahnya. Saya memotret Massa yang sedang mabuk. Mengapa keinginan itu muncul? Karena, saya lihat anaknya Bony (menurut Mas Beny anaknya di luar nikah dengan salah satu pemain film papinya), yang mungkin baru berumur tiga tahun, biasa-biasa saja, melihat Massa yang sedang mabuk itu. 

Saya dan Mas Beny melihat hasil foto Massa yang mabuk. Mas Beny bilang, "Foto ini kelihatannya bisa dijual. Massa kan anaknya orang terkenal. Tanyakan ke redaksi apakah foto ini bisa dimuat di media kita. Kalau tidak, jual saja ke media itu, pasti laku! Karena, ada nilai beritanya." 

***
SEBELUM saya beranjak ke ruang redaksi, ada telepon dari Massa. "Ini alamat pengacara orangtuaku, kau kan butuh uang! Apa kau tidak butuh uangku? Lantas, apa kau ingin tidur denganku? Juga tidak! Kalau begitu jelaskan apa maumu, jangan berbelit-belit." 

Saya dengar suara Massa menangis, sebelum telepon ini diputusnya. Dan malam itu, saya ke rumahnya menemui Massa. Dia sedang minum wiski (dia minum seperti air putih), "Don, kalau foto ini tidak membahayakan kebahagiaan Boni kelak, saya tidak akan risi, sekalipun foto itu dimuat di media massa. Kau tanyakan siapa bapak Boni, saya sudah lupa. Sekarang saya adalah bapak dan ibunya Boni. Oleh karena itu, saya keras mendidiknya, agar kelak dia jadi laki-laki yang sehat jiwanya." 

Saya tahu, malam itu Massa ingin bercerita banyak (istriku tidak mau mengakui kalau saya bisa jadi pendengar yang baik). 
"Don kau tanyakan, apakah saya bahagia menjadi anaknya orang terkenal. Entahlah. Yang saya ingat, saya lebih sering di rumah hanya dengan pembantu. Don, waktu itu saya kelas dua SMP. Saya baru saja menceritakan kepada orangtuaku, kalau saya diangkat sebagai ketua rombongan paduan suara sekolah kami yang akan bertanding dengan SMP di luar Jakarta. Kala saya sedang sibuk mengatur ini dan itu, temanku bilang, "Massa, semalam kamu dimana? Kala orangtuamu mengumumkan perceraiannya, kok mau disuruh foto berdua, mesra lagi! Itu akting atau beneran sih?"

"Kamu bohong! Semalam orangtuaku shooting di luar kota. Dan sampai hari ini, mereka masih berada di tempat shooting. Ayahkku punya pengacara yang bisa menuntut orang yang menfitnah." 

"Don, seketika dia menyodorkan koran yang memuat perceraian orangtuaku. Yah, bukan hanya satu koran, tapi berpuluh koran. Saya seperti masuk ke sumur tanpa dasar. Sejak itu, saya malu bersekolah. Sekalipun orangtuaku bilang perceraian itu bisa terjadi pada pernikahan siapa pun, bahkan zaman sekarang, raja dan ratu pun bisa bercerai. Keluar dari sekolah dan masih berumur empat belas tahun, saya diterima bekerja sebagai penata lampu di sebuah diskotik. Karena bekerja di sana, saya berkenalan dengan banyak laki-laki. Pengalamanku dengan laki-laki itu, membuat saya cepat mengerti hidup ini. Kau tahu nama-nama ini kan? Mereka cuma bisa omong besar di luar ranjang. 

"Saya tahu sekarang pacarmu, ada tiga orang. Mengapa kau tidak menikah dengan salah satu dari mereka? Atau kalau kau mau kan bisa menikah denganku," saya berseloroh.

"Don, saya akan menikah kalau pacarku yang di Jerman sudah selesai sekolahnya. Dia tahu kelahiran Boni. Dia bisa bilang itu kesalahan manusiawiku. Sementara ketiga pacarku itu, sangat saya perlukan. Sebab yang satu bisa jadi Bapak Boni, dia dan Boni saling menyanyangi. Pacarku yang anak konglomerat adalah penyandang danaku. Uang saku dari orangtuaku tidak pernah cukup. Yang mahasiswa itu teman mengasah intelektual, kami cocok di ranjang." 

"Kau tanyakan, mengapa saya tidak jadi bintang film saja? Don, saya berbakat menjadi pelukis. Tapi orangtuaku tidak percaya. Cuma eyang yang tahu, waktu saya di Malang, Eyang menyuruhku belajar pada seorang pelukis. Eyang masih menaruh di kamarnya lukisanku waktu kecil. Don, kalau Boni sudah berumur empat tahun, saya akan jual rumah ini untuk biaya hidupku dengan Boni di mancanegara. Saya ingin belajar melukis di sana." 

Saya seperti mendengarkan sebuah imajinasi, tapi dongeng memang tidak harus sama dengan realitas ini. Saya lihat mata Massa melihatku lekat-lekat. "Massa, saya kira kau pasti bisa sama besarnya dengan orangtuamu." 

***

SUATU kali dengan alasan yang tidak jelass, redaksi marah kepadaku. Dia bilang beritaku kurang konfirmasi sekalipun aktual sehingga tidak layak muat. Dengan kesal saya keluar dari kantor. Di rumahnya, saya lihat Massa asyik nonton film di laser disk. "Kamu ini enak betul. Kalau setiap orang harus stres dalam mencari biaya hidup dan pekerjaannya, jam segini kau sudah bisa berleha-leha." 

Massa, menciumku. "Don, cobalah bir kalengan ini, ringan kok. Don, sebagai seorang seniman saya harus mencari pengalaman di mana saja, juga di film ini. Sebelum berkontemplasi. Tapi, kau tidak bisa seenaknya ke rumahku, kalau kelak saya sudah jadi pelukis, waktu itu untukku." 

"Saya kepingin punya koran sendiri. Koranku pasti bisa menjawab semua aspirasi masyarakat, karena apresiasi kami yang jujur dan intelek," kataku. 

Massa melebarkan matanya yang bagus, "Don, itu sebuah gagasan yang bagus. Sebabnya banyak media massa sekarang, beritanya seragam. Sehingga kita tidak tahu, apakah berita tersebut, dan siapakah sasaran pembacanya." 

Untuk pertama kali sejak kami berteman, malam itu kami tidur bersama. Setelah itu, tidak ada lagi percakapan, yang rasanya perlu kami ucapkan. 

***

SUATU kali, waktu liburan sekolah, saya minta cuti seminggu. Anakku Bunga dan istri mengajak liburan ke Toraja. Kami sangat menikmati liburan ini. Dan setelah cuti ini habis, dengan sangat malas saya kembali ke Jakarta untuk bekerja. Kala saya sedang mengetik berita, ada telepon dari Massa. "Don, saya perlu kamu. Bisa datang kan? OK, saya tunggu kamu." 

Massa memegang tanganku erat sekali. "Massa, ada yang bisa saya bantu?" 

Matanya basah. Massa merokok secara beruntun dan minum wiski (saya kira lebih dari kita yang suka minum air putih). 

"Don, tadi tanteku telepon dan bilang, Eyang sakit dan ingin sekali ketemu aku. Don, kau tahu kan sejak kelas dua SD sampai tamat SD saya ikut Eyang. Kalau saja mami tidak membawaku kembali ke Jakarta, pasti saya sudah jadi istri dan ibu yang baik seperti cita-cita Eyang. Don, Eyang memang tidak pernah diberitahu kalau saya sudah punya anak Boni. Kalau saya ke Malang tak mungkin meninggalkan Boni dengan susternya di sini. Saya khawatir kalau Eyang sedih, karena saya sekarang punya anak. Sering sekali diceritakan kepada orang yang dikenalnya, bahwa saya akan menjadi ibu dan istri saja. Dan tidak pernah ingin menjadi bintang film." 

"Massa pulang sajalah agar baik kau maupun Eyang tidak tambah stres. Saya memang belum mengenal Eyang, tapi saya kira dengan lapang dada beliau akan menerima anakmu." 

Massa menghapus air matanya pelan-pelan.

***

 SUATU kali saya pulang ke Malang untuk menengok anak dan istriku. Rini istriku yang dokter dan biasanya kelewat sibuk dengan pasien-pasiennya, bilang ingin berbicara denganku. "Don, saya kira kau sudah terlampau jauh dengan Massa. Maksudku kau mulai menyukainya. Kau sekarang bisa memilih salah salah satu diantara kami. Jangan berdalil seperti ini, "Rini, kamu sih tak mau saya ajak pindah ke Jakarta. Padahal kau tahu setiap laki-laki yang sudah berkeluarga, kalau pulang kerja kepingin pulang ke rumah di mana tempatnya yang paling aman itu ada istri dan anaknya. Don, sejak dulu kau tahu saya dosen dan dokter yang tak mudah untuk pindah kerja. Don, kalau kita berpisah saya tak akan meributkan harta bersama. Uangku cukup untuk membesarkan bunga. 

Saya kaget mendengarkan omongan Rini. Seharusnya dia tahu tidak ada hubungan khusus antara saya dan Massa. Saya kira kami cuma berteman biasa, dan rasanya memang tidak mungkin untuk membesarkan Bunga bersama Massa. Yah, waktu awal kenalan sudah saya ceritakan tentang Massa pada Rini. Waktu itu istriku cima tersenyum dan bilang," Don jangan sok tahu perasaan Massa. Kamu tidak pernah tahu perasaan perempuan, sekalipun saya sudah lama menjadi istrimu." 

"Rini, kamu salah paham dan argumentasimu kali ini lemah..." 

Rini melihat saya dengan kemarahan dan keras kepala. "Don, ini bukan forum diskusi, yang saya minta kau cepat menentukan pilihanmu. Buatku, cinta itu tidak bisa dibagi-bagi. Sorry, saya tak bisa lama-lama ngobrol denganmu. Ada pasien penting, Pak Walikota yang harus dicek terus-menerus kesehatannya." 

"Rini, kalau begitu kapan kau punya waktu? Agar saya bisa menerangkan persoalan ini." 

Rini tidak menjawab. Dengan bergegas dia masuk ke mobilnya. 

***

Saya benci sekali dengan sikap Rini kali ini. Sejak awal pernikahan, kita sudah sepakat untuk mendiskusikan secara terbuka yang terasa tidak enak di hati, agar tercapai titik temu di antara kami. Kami juga sepakat untuk bebas berteman dengan siapa saja. Bukankah Rini kelihatan akrab dengan teman sekerjanya, dokter Rudi. Saya tidak pernah marah  dia dan Rudi saling menelepon, keluar bersama untuk mengurus pekerjaan mereka. Saya berjalan ke sembarang arah. Tahu-tahu sudah memijat bel rumah eyangnya Massa. 

"Don, Suprise sekali kita bisa bertemu di Malang!" kata Massa sambil merangkulku. 

Saya lihat Massa, dan juga merasa surprise, di tempat eyangnya, Massa kelihatan polos sekali. Kemudian, dia memperkenalkan saya dengan eyangnya. Seorang perempuan yang tidak kehilangan kehangatannya, sekalipun sakit. 

"Gus, jadi kamu temannya Massa di Jakarta. Sekarang kan sama-sama di Malang. Sering-seringlah main ke sini, biar Massa punya teman ngobrol yang sama mudanya. Massa, tadi tamunya sudah dibikinkan air minum? Gus, jangan cepat-cepat pulang, kita makan siang bersama. Eyang kan bisa makan enak, kalau punya teman makan."

Saya memang sering ke sini. Dan merasa diterima dengan hangat di sini daripada di rumah. Sekalipun Rini tidak mengungkit-ungkit hubunganku dengan Massa lagi, tapi sikapnya yang dingin dan formal membuat saya tidak betah. 

Kala saya main lagi ke rumah eyangnya Massa, Eyang ingin bicara denganku. 

"Gus, saya ini sudah berumur delapan puluh lima tahun, sakit jantung sudah lama sekali. Eyang ingin mati, tapi tak mungkin bisa mati, karena nazarnya Eyang belum terlaksana. Gus, memang banyak sekali cucu-cucu Eyang. Tapi, yang paling menderita itu Massa! Waktu itu, Eyang merasa tidak enak hati dan ingin ke Jakarta saja. Tanpa memberi tahu siapa pun Eyang ke rumah maminya Massa. Yang saya temukan, Massa yang waktu itu berumur enam tahun dihajar oleh pembantunya sampai luka-luka. Langsung hari itu juga, Massa Eyang bawa ke Malang. Maminya, yang anakku itu memang keras kepala, setelah tamat SD dibawanya kembali Massa ke Jakarta. Akibatnya Massa membuat kekeliruan dengan melahirkan Boni. Gus, kalau kau belum punya istri, nikahlah dengan cucuku. Dia adalah perempuan yang baik, percayalah pada Eyang. Tapi jadi pengantinnya di sini saja, agar Eyang bisa membayar nazar." 

Setelah Eyang tidur, Massa mengajakku ke beranda. "Don, harusnya secara tegas kau tadi bilang begini kepada Eyang, "Eyang saya sudah punya istri! Saya ingin membesarkan Bunga dengan ibunya, agar jiwanya tidak pecah. Eyang, Massa cantik, pasti banyak yang mau menikah dengannya. Hubungan kami selama ini... cuma teman. Dan belum tentu, Massa mau menikah dengan saya yang cuma wartawan biasa. "Don, saya memang cuma ingin menikah dengan pacarku yang di Jerman. Kisah cinta kita lebih indah daripada sayap-sayap patahnya Khalil Gibran. Karena itu kami akan mengakhiri percintaan kami dengan pernikahan." 

Saya rikuh mendengarkan ucapan Massa, bagaimana dia tahu jalan pikiranku. "Massa, kita masih teman kan?" 

Massa seperti tidak berada di tempat ini. Dia di dunianya dan enggan berbagi dengan siapapun. Saya merasa tidak bisa ngobrol lagi dengannya. Tiba-tiba seperti ada yang putus...

***

SAYA sedang sibuk mengetik di muka personal komputer ini. Mas Beny dengan tergesa-gesa bilang, "Don, setengah jam yang lampau ayahnya Massa mati terbunuh! Kamu dan saya dapat tugas meliput di sana. Don, kamu kan akrab dengan Massa, koreklah darinya hal-hal yang bisa menarik pembaca. Ayolah, nanti keburu diliput oleh wartawan lain. Ini berita besar! Ayolah Don, tunggu apa lagi." 

Saya memasukkan tape ini ke tas. Tiba-tiba saya ingat omongan Rini, juga omongan Massa. "Don, kamu ini penggali berita yang handal. Tapi, kau sekarang tidak peka lagi dengan perasaan manusia yang seharusnya menjadi subyek dari tulisanmu di media massa." 

Saya termangu di muka personal komputer ini.


Kompas, 16 Januari 1994

Sumber
Penulis : Ratna Indraswari Ibrahim
Buku Laki-laki yang Kawin Dengan Peri ( Cerita Pilihan "Kompas" 1995) 
Penerbit. PT. Kompas Media Nusantara, Juni 1995
Read More

Cerita Rakyat Bengkulu, Legenda Ular n'Daung

04.30 0
Cerita Rakyat Bengkulu, Legenda Ular n'Daung
Dahulu kala, di kaki sebuah gunung di daerah Bengkulu hiduplah seorang wanita tua dengan tiga orang anaknya. Mereka sangat miskin dan hidup hanya dari penjualan hasil kebunnya yang sangat sempit. Pada suatu hari, perempuan tua itu sakit keras. Orang pintar di desanya itu meramalkan bahwa wanita itu akan tetap sakit apabila tidak diberikan obat khusus. Obatnya adalah daun-daunan hutan yang dimasak dengan bara gaib dari puncak gunung. 

Alangkah sedihnya keluarga tersebut demi mengetahui kenyataan itu. Persoalannya adalah bara dari puncak gunung itu konon dijaga oleh seekor ular gaib. Menurut cerita penduduk desa, ular tersebut akan memangsa siapa saja yang mencoba mendekati puncak gunung itu. 

Di antara ketiga anak perempuan ibu tua itu, hanya si Bungsu yang menyanggupi persyaratan tersebut. Dengan perasaan takut ia mendaki gunung kediaman si Ular n'Daung. Benar seperti cerita orang, tempat kediaman ular ini sangatlah menyeramkan. Pohon-pohon di sekitar gua itu besar dan berlumut. Daun-daunnya menutupi sinar matahari sehingga tempat tersebut menjadi temaram. 

Belum habis rasa khawatir si Bungsu, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dan raungan yang keras. Tanah bergetar. Inilah pertanda si Ular n'Daung mendekati gua kediamannya. Mata ular itu menyorot tajam dan lidahnya menjulur-julur. Dengan sangat ketakutan si Bungsu mendekatinya dan berkata, "Ular yang keramat, berilah saya sebutir bara gaib guna memasak obat untuk ibuku yang sakit. Tanpa diduga, ular itu menjawab dengan ramahnya, "Bara itu akan kuberikan kalau engkau bersedia menjadi istriku!"

Si Bungsu menduga bahwa perkataan ular ini hanyalah untuk mengujinya. Maka ia pun menyanggupinya. Keesokan harinya setelah ia membawa bara api pulang, ia pun menepati janji pada ular n'Daung. Ia kembali ke gua puncak gunung untuk diperistri si ular. Alangkah terkejutnya si Bungsu menyaksikan kejadian ajaib. Yaitu, pada malam harinya, ternyata ular itu berubah menjadi seorang ksatria tampan bernama Pangeran Abdul Rahman Alamsjah.

Pagi harinya, ia akan kembali menjadi ular. Hal itu disebabkan karena ia disihir oleh pamannya menjadi ular. Pamannya tersebut menghendaki kedudukannya sebagai calon Raja.

Setelah kepergian si Bungsu, ibunya menjadi sehat dan hidup dengan kedua kakaknya yang pendengki. Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi dengan si Bungsu. Maka mereka pun berangkat ke puncak gunung. Mereka tiba di sana pada malam hari.

Alangkah terkejutnya mereka saat menjumpai seorang pria tampan di sana, bukannya seekor ular ganas. Timbul perasaan iri dalam diri mereka bahwa pria itu telah memperistri adiknya. Mereka pun menyusun sebuah rencana jahat untuk menyingkirkan adiknya.

Mereka mengendap ke dalam gua dan mencuri kulit ular itu, kemudian mereka membakar kulit ular tersebut. Mereka mengira dengan demikian ksatria tersebut akan marah dan mengusir adiknya. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya. Dengan dibakarnya kulit ular tersebut, secara tidak sengaja mereka membebaskan pangeran itu dari kutukan. Ketika menemukan kulit ular itu terbakar. Pangeran menjadi sangat gembira. Ia berlari dan memeluk si Bungsu. Diceritakannya bahwa sihir pamannya itu akan sirna jika ada orang yang secara sukarela membakar kulit ular itu.

Kemudian, si Ular n'Daung yang sudah selamanya menjadi Pangeran Alamsjah memboyong si Bungsu ke istananya. Pamannya yang jahat diusir dari istana. Si Bungsu pun kemudian mengajak keluarganya tinggal di istana, tetapi kedua kakaknya yang sirik menolak karena merasa malu akan perbuatannya.

Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Sumatera Selatan, Hikayat Antu Ayek

23.59 0
Cerita Rakyat Sumatera Selatan, Hikayat Antu Ayek
Konon kabarnya, dahulu kala di wilayah Sumatera Selatan, hiduplah seorang gadis dari keluarga sederhana bernama Juani. Juani merupakan gadis kampung yang elok rupawan, berkulit kuning langsat dan memilik rambut yang hitam lebat. Keelokan wajah Juani telah terkenal di kalangan masyarakat, wajar kiranya jika banyak bujang yang berharap bisa duduk bersanding dengannya. Namun apalah daya. Gadis Juani belum mau menentukan pilihan hati kepada satu bujang pun di kampungnya. Hingga, pada suatu masa, bapak Gadis Juani terpaksa menerima pinangan dari Bujang Juandan, karena terjerat hutang dengan keluarga Bujang Juandan. Bujang Juandan adalah pemuda dari keluarga kaya raya, namun yang menjadi masalah adalah Bujang Juandan bukanlah pemuda tampan. Bahkan tidak sekedar kurang tampan, Bujang Juandan pun menderita penyakit kulit di sekujur tubuhnya, sehingga ia pun dikenal sebagai Bujang Kurap. 

Mendengar kabar itu, Gadis Juani pun bersedih hati. Ia hendak menolak. Namun, tak kuasa karena kasihan kepada bapaknya. Berhari-hari ia menangisi nasibnya yang begitu malang. Namun apa hendak dikata, pesta pernikahan pun telah dipersiapkan. Orang sekampung ikut sibuk menyiapkan upacara perkawinan Gadis Juani dan Bujang Juandan. Akhirnya malam perkawinan itu pun tiba, Gadis Juani yang cantik itu dirias dan mengenakan pakaian pengantin yang begitu anggun, ia menunggu di kamar tidurnya sambil berurai air mata. 

Ketika orang serumah turun menyambut kedatangan arak-arakan rombongan Bujang Juandan, hati Gadis Juani semakin hancur. Di tengah kekalutan pikiran, ia pun mengambil keputusan, dengan berurai air mata ia keluar lewat pintu belakang dan berlari menuju sungai. Akhirnya dengan berurai air mata Gadis Juani pun mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Kematiannya yang penuh derita menjadikannya arwah penunggu sungai yang dikenal sebagai Antu Ayek yang sering mencari korban anak-anak.

Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Jambi, Putri Cermin Cina

22.17 0
Cerita Rakyat Propinsi Jambi, Putri Cermin Cina
Dahulu kala di daerah Jambi, terdapat sebuah negeri yang diperintah oleh Seorang raja yang bernama Sutan Mambang Matahari. Sutan mempunyai seorang anak laki-laki bernama Tuan Muda Selat dan seorang anak perempuan bernama Putri Cermin Cina.

Tuan Muda Selat adalah seorang anak muda yang tampan, namun sifatnya agak ceroboh. Putri Cermin Cina berwajah cantik jelita, Ia memiliki hati yang tulus dan penyayang.

Pada suatu hari, datanglah seorang saudagar Muda ke daerah itu. Ia bernama Tuan Muda Senaning. Mulanya tujuan kedatangan saudagar itu memang hanya untuk berdagang, namun saat ia dijamu di rumah Raja. Tuan Muda Senaning berjumpa dengan Putri Cermin Cina. Kecantikan putri raja itu memukaunya, Seketika Tuan Muda Senaning jatuh hati pada gadis jelita itu. Demikian pula, diam-diam Putri Cermin Cina juga menaruh hati pada Tuan Muda Senaning.

Namun, sebagai seorang gadis, tidak mungkin ia mengutarakan isi hatinya lebih dahulu. Pada suatu kesempatan kedua muda-mudi itu sempat bertemu. Kesempatan yang baik itu tidak disia-siakan oleh si pemuda. Akhirnya Putri Cermin Cina menyarankan kepada Tuan Muda Senaning untuk menghadap ayahandanya, Sutan Mambang Matahari untuk melamarnya. 

Tidak lama kemudian, Tuan Muda Senaning datang menghadap Sutan Mambang untuk melamar Putri Cermin Cina. Sutan Mambang  Matahari dengan senang hati menerima lamaran Tuan Muda Senaning karena memang Tuan Muda Senaning mempunyai perangai yang baik dan sopan. Tapi, Sutan Sutan Mambang Matahari terpaksa menunda pernikahan Tuan Muda Senaning dengan Putri Cermin Cina selama tiga bulan karena Sutan Mambang harus berlayar untuk mencari bekal pesta pernikahan putrinya. Sebelum berangkat berlayar, Sutan Mambang Matahari berpesan kepada Tuan Muda Selat agar menjaga adiknya Putri Cermin Cina dengan baik. 

Pada suatu hari, selepas keberangkatan Sutan Mambang Matahari, Tuan Muda Senaning dan Tuan Muda Selat asyik bermain gasing di halaman istana. Mereka tertawa bergelak-gelak, makin lama, makin asyik sehingga orang yang mendengar ikut tertawa senang. Hal itu membuat Putri Cermin Cina penasaran dan ingin melihat keasyikan kakak dan calon suaminya, ia melihat dari jendela.

Kehadiran Putri Cermin Cina terlihat oleh kedua orang itu. Sambil melihat ke jendela, Tuan Muda Senaning melepaskan gasingnya. Gasing Tuan Muda Senaning mengenai gasing Tuan Muda Selat. Karena berbenturan keras, Gasing Tuan Muda Selat melayang dan terpelanting tinggi.

Gasing itu terpelanting ke arah Putri Cermin Cina yang melihat dari jendela.  Gasing itu berputar persis di atas kening Putri Cermin Cina. Putri Cermin Cina menjerit kesakitan. Kening Putri Cermin Cina berlumuran darah, ia jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Semua orang panik dan berusaha menolong Putri Cermin Cina. Namun, takdir berkata lain, Putri yang cantik jelita itu akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir.

Tuan Muda Senaning sangat merasa bersalah atas kematian Putri Cermin. Ia menjadi putus asa dan gelap mata. Ia melihat ada dua buah tombak bersilang di dinding.  Secepat kilat ditariknya tombak itu dan ditancapkan ke tanah dengan posisi mata tombak mencuat ke atas. Kemudian, dengan gerakan yang sukar diikuti mata. Tuan Muda Senaning melompat ke halaman. Tubuhnya meluncur ke arah mata tombak yang mencuat ke atas. Seketika, Mata tombak menembus perut hingga ke punggungnya. Tuan Muda Senaning meninggal dunia seketika menyusul calon istrinya, Putri Cermin Cina. 

Sementara kerabat istana merawat jenazah kedua insan yang saling jatuh cinta itu, hati Tuan Muda Selat kacau balau. Tak dapat dibayangkan, bagaimana marahnya si Ayahanda Sutan Mambang Matahari bila mengetahui kejadian ini.

Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, ia minta agar kedua mayat itu orang yang disayanginya itu dikuburkan segera. Mayat Putri Cermin Cina dimakamkan di tepi sungai. Sedangkan mayat Tuan Muda Senaning dibawa anak buahnya ke kapal. Kapal itu berlayar ke seberang dan Mayat Tuan Muda Senaning dikuburkan di sana. Tempat itu kemudian diberi nama Dusun Senaning.

Sejenak Tuan Muda Selat merasa lega. Namun tatkala ingat betapa Ayahandanya sebentar lagi akan datang, maka pikirannya menjadi kacau. Bukankah ia telah diserahi Ayahandanya untuk menjaga Putri Cermin Cina agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?. Kenyataannya, adik yang sangat dikasihi oleh semua orang itu ternyata telah meninggal dunia. Dan salah satu penyebab kematian adiknya adalah dia sendiri.

Akhirnya Tuan Muda Selat pergi meninggalkan negerinya bersama orang-orang kampung. Orang-orang yang ikut dengannya ditinggal di suatu tempat dan tempat itu akhirnya disebut Kampung Selat.

Tidak lama kemudian, Sutan Mambang Matahari tiba di kampungnya. Sutan bingung karena kampungnya begitu sepi, ia menuju istananya, namun hanya tersisa beberapa orang saja yang menjaga istana. Setelah Sutan tahu tentang kejadian sebenarnya. Sutan Mambang Matahari merasa sedih, kemudian ia beserta pengikutnya pergi meninggalkan kampungnya. Mereka pergi ke seberang dusun dan mendirikan kampung di sana. Kampung itu terletak di antara kuburan Tuan Muda Senaning dan Kapat Tuan Muda Selat. Kampung itu diberi nama Dusun Tengah Lubuak Ruso.

Legenda cerita ini oleh rakyat daerah Jambi dianggap benar-benar terjadi karena ada hubungannya dengan nama-nama kampung di Kabupaten Batanghari, Jambi.

Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Riau, Putri Tujuh

20.02 0
Cerita Rakyat Provinsi Riau, Putri Tujuh
Dulu Dumai hanyalah desa nelayan yang sepi, berada di pasir timur Provinsi Riau, Indonesia. Kini, Dumai yang kaya akan minyak bumi itu menjelma menjadi kota Pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1999. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat di pelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur di sekitar pelabuhan  menjadikan kota Dumai pada malam hari gemerlapan bak permata berkilauan. 

Kekayaan Kota Dumai adalah keanekaragaman tradisi. Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang di kalangan masyarakat Kota Dumai, yaitu tradisi tulisan dan lisan. Salah satu tradisi lisan. Salah satu tradisi lisan yang sangat populer di daerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun temurun. Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya. Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal mula nama Kota Dumai. 

Konon pada zaman dahulu kala, di daerah Dumai berdiri sebuah kerajaan Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang ratu bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok rupawan, yang dikenal dengan sebutan Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai. 

Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi di lubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersenda gurau, ketujuh putri itu tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat di daerah itu. Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih," Gadis cantik di Lubuk Umai .... cantik di Umai. Ya, ya .... d'umai ....d'umai ..." kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya. 

Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang putri yang diketahuinya bernama Putri Mayang Mengurai.Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai tanda pinangan raja kepada keluarga kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar di antara tujuh buah combol yang ada dalam tepak itu. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. 

Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran. "Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri Bunga belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai." 

Mendengar laporan itu, sang Raja pun naik pitam karena rasa malu yang amat sangat. Sang Pangeran tak lagi peduli dengan adat yang berlaku di negeri Seri Bunga Tanjung. Amarah yang menguasai hatinya tak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan di pinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi. 

Di tengah berkecamuknya perang tersebut, Ratu Cik Sima segera melarikan ketujuh putrinya ke dalam hutan dan menyembunyikan mereka di dalam sebuah lubang yang beratapkan tanah dan terlindung oleh pepohonan. Tak lupa pula Sang Ratu membekali ketujuh putrinya makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, sang Ratu kembali ke kerajaan untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Pangeran Empang Kuala. Sudah tiga bulan berlalu, namun pertempuran antara kedua kerajaan itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima meminta bantuan jin yang sedang bertapa di bukit Hulu Sungai Umai. 

Pada suatu senja, pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat di hilir Umai. Mereka berlindung di bawah pohon-pohon bakau. Namun menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan para pasukan Pangeran Empang Kuala. Tak sampai separuh malam, pasukan Pangeran Empang Kuala dapat dilumpuhkan. Pada saat pasukan Kerajaan Empang Kuala tak berdaya, datanglah utusan Ratu Cik Sima menghadap Pangeran Empang Kuala. 

Melihat kedatangan utusan tersebut, sang Pangeran yang masih terduduk lemas menahan sakit langsung bertanya, "Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?" 

Sang Utusan menjawab, "Hamba datang untuk menyampaikan pesan Ratu Cik Sima agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita ini telah merusakkan bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa, sebaliknya siapa yang datang dengan niat baik ke negeri Seri Bunga Tanjung, akan sejahteralah hidupnya," kata utusan Ratu Cik Sima menjelaskan. 

Mendengar penjelasan utusan Ratu Cik Sima, sadarlah Pangeran Empang Kuala, bahwa dirinyalah yang memulai peperangan tersebut. Pangeran langsung memerintahkan pasukannya agar segera pulang ke Negeri Empang Kuala. 

Keesokan harinya, Ratu Cik Sima bergegas mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya di dalam hutan. Alangkah terkejutnya Ratu Cik Sima, karena ketujuh putrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mati karena haus dan lapar. Ternyata Ratu Cik Sima lupa, kalau bekal yang disediakan hanya cukup untuk tiga bulan. Sedangkan perang antara Ratu Cik Sima dengan Pangeran Empang Kuala berlangsung sampai empat bulan. 

Akhirnya, karena tak kuat menahan kesedihan atas kematian ketujuh putrinya, maka Ratu Cik Sima pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai kini, pengorbanan Putri Tujuh itu tetap dikenang dalam sebuah lirik: 
Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut di rumpun buluh 
Jemput mari dayang dijemput 
Mari dijemput turun bertujuh 
Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading 
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending

Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata "D'umai" yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai. 

Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggrahan Putri Tujuh yang terletak di dalam komplek kilang minyak PT. Pertamina Dumai. Selain itu, ada beberapa nama tempat di Kota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, di antaranya: kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh; bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit.


Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Sumatera Barat, Malin Kundang

07.27 0
Cerita Rakyat Sumatera Barat, Malin Kundang
Pada zaman dahulu, hiduplah sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatera. Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki yang diberi nama Malin Kundang. Karena kondisi keuangan keluarga memprihatinkan, sang ayah memutuskan untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas.

Maka tinggallah si Malin dan Ibunya di gubug mereka. Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, bahkan 1 tahun lebih lamanya, ayah Malin tidak juga kembali ke kampung halamannya. Sehingga ibunya harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya terluka oleh batu tersebut. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah beranjak dewasa, Malin Kundang merasa kasihan pada ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Ia berfikir untuk mencari nafkah di negeri seberang dengan harapan nantinya ketika kembali ke kampung halaman, ia sudah menjadi seorang yang kaya raya. Malin tertarik dengan ajakan seorang nahkoda kapal yang dulu miskin sekarang menjadi kaya raya.


Malin kundang mengutarakan maksudnya kepada ibunya. Ibunya semula kurang setuju dengan maksud Malin Kundang, tetapi karena Malin terus mendesak, Ibu Malin akhirnya menyetujui walau dengan berat hati. Setelah mempersiapkan bekal dan perlengkapan secukupnya, Malin segera menuju ke dermaga dengan diantar oleh ibunya."Anakku, jadi orang yang berkecukupan , jangan kau lupa dengan ibumu dan kampung halamanmu ini, nak", ujar ibu Malin Kundang sambil berlinang air mata.

Kapal yang dinaiki Malin semakin lama semakin jauh. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal di rampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin kundang sangat beruntung dirinya tidak dibunuh oleh para bajak laut, Malin segera bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan sisa tenaga yang ada, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Sesampainya di desa tersebut, Malin Kundang di tolong oleh masyarakat di desa tersebut setelah sebelumnya menceritakan kejadian yang menimpanya. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, lama kelamaan ia berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin Kundang setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberpa lama menikah , Malin dan istrinya melakukan pelayaran dengan kapal yang besar dan indah disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak Ibu Malin Kundang yang setiap hari menunggui anaknya, melihat kapal yang sangat indah itu masuk ke pelabuhan. Ia melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Malin Kundang pun turun dari kapal. Ia di sambut oleh ibunya. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka di lengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang." Malin Kundang, anakku, mengapa engkau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?" katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tapi apa yang terjadi kemudian? Malin Kundang segera melepaskan pelukan ibunya dan mendorongnya hingga terjatuh." Wanita tak tahu diri, sembarangan saja mengaku sebagai ibuku". kata Malin Kundang pada ibunya. Malin Kundang pura pura tidak mengenali ibunya, karena malu dengan ibunya yang sudah tua dan mengenakan baju compang camping.

" Wanita itu ibumu?" tanya istri Malin Kundang." Tidak, ia hanya seorang pengemis yang pura pura mengaku sebagai ibuku agar mendapatkan hartaku," sahut Malin kepada istrinya. Mendengar pernyataan dan perlakuan yang semena-mena oleh anaknya, ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menengadahkan tangannya sambil berkata, " Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi ia menjadi sebuah batu",

Tidak berapa lama kemudian angin bergemuruh kencang dan badai dahsyat datang menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini batu Mali Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat.
 
Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Sumatera Utara, Sampuraga

19.15 0
Cerita Rakyat Sumatera Utara, Sampuraga
Alkisah pada zaman dahulu kala di daerah Padang Bolak, hiduplah seorang janda tua dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Sampuraga. Mereka tinggal di sebuah gubug yang telah reot dimakan usia. Meskipun hidp miskin, mereka tetap saling menyayangi. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka setiap hari bekerja sebagai tenaga upahan di ladang milik orang lain. Keduanya sangat rajin bekerja dan jujur, sehingga banyak orang kaya yang suka kepada mereka. 

Pada suatu siang, Sampuraga bersama majikannya beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang setelah bekerja sejak pagi. Sambil menikmati makan siang, mereka berbincang-bincang dalam suasana yang akrab, seakan tidak ada jarak antara majikan dan buruh. 

"Wahai, Sampuraga! Usiamu masih sangat muda. Jika boleh saya menyarankan. Sebaiknya kamu pergi ke sebuah negeri yang sangat subur dan penduduknya sangat makmur.," kata sang majikan. 

"Negeri manakah yang Tuan maksud?" tanya Sampuraga penasaran. 

"Negeri Mandailing namanya. Di sana, rata-rata penduduknya memiliki sawah dan ladang. Mereka juga sangat mudah mendapatkan uang dengan cara mendulang emas di sungai karena tanah di sana memiliki kandungan emas," jelas sang Majikan.

Keterangan sang Majikan melambungkan impian Sampuraga. "Sebenarnya, saya sudah lama bercita-cita ingin pergi merantau dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Saya ingin membahagiakan ibu saya," kata Sampuraga dengan sungguh-sungguh.

"Cita-citamu sangat mulia, Sampuraga! Kamu memang anak yang berbakti" puji sang Majikan.

Sepulang dari bekerja di ladang majikannya, Sampuraga kemudian mengutarakan keinginannya tersebut kepada ibunya.

"Bu, Raga ingin pergi merantau dan mencari pekerjaan yang lebih baik. Raga ingin mengubah nasib kita yang sudah lama menderita ini," kata Sampuraga kepada ibunya.

"Kemanakah engkau akan pergi merantau, anakku?" tanya ibunya.

"Ke negeri Mandailing, bu. Pemilik ladang itu yang memberitahu Raga bahwa penduduk di sana hidup makmur dan sejahtera, karena tanahnya sangat subur," jelas Sampuraga kepada ibunya.

"Pergilah, anakku! Meskipun ibu sangat khawatir kita tidak bisa bertemu lagi, karena usia ibu sudah semakin tua, tapi ibu tidak memiliki alasan untuk melarangmu pergi. Ibu minta maaf, karena selama ini ibu tidak pernah membahagiakanmu, anakku" kata ibu Sampuraga dengan rasa haru.

"Terima kasih, bu! Raga berjanji akan segera kembali jika Raga sudah berhasil. Doakan Raga, ya bu!" Sampuraga meminta doa restu kepada ibunya.

"Ya, anakku! Siapkanlah bekal yang akan kamu bawa!" seru sang ibu.

Setelah mendapat doa restu dari ibunya, Sampuraga segera mempersiapkan segala sesuatunya. Keesokan harinya, Sampuraga berpamitan kepada ibunya,"Bu Raga berangkat! Jaga diri ibu baik-baik, jangan terlalu banyak bekerja keras!" saran Sampuraga kepada ibunya.

"Berhati-hatilah di jalan! Jangan lupa cepat kembali jika sudah berhasil!" harap sang ibu.

Sebelum meninggalkan gubug reotnya. Sampuraga mencium tangan sang Ibu yang sangat di sayanginya itu. Suasana haru pun menyelimuti hati ibu dan anak yang akan berpisah itu. Tak terasa, air mata keluar dari kelopak mata sang ibu. Sampuraga pun tidak bisa membendung air matanya. Ia kemudian merangkul ibunya, sang Ibu pun membalasnya dengan pelukan yang erat lalu berkata: "Sudahlah, Anakku! jika Tuhan menghendaki, kita akan bertemu lagi," kata sang Ibu.

Setelah itu berangkatlah Sampuraga meninggalkan ibunya seorang diri. Berhari-hari sudah Sampuraga berjalan kaki menyusuri hutan belantara dan melewati beberapa perkampungan. Suatu hari, sampailah ia di kota Kerajaan Pidoli, Mandailing. Ia sangat terpesona melihat negeri itu. Penduduknya ramah tamah, masing-masing mempunyai rumah dengan bangunan yang indah beratapkan ijuk. Sebuah istana berdiri megah ditengah-tengah keramaian kota. Candi yang terbuat dari batu bata terdapat di setiap sudut kota. Semua itu menandakan bahwa penduduk negeri itu hidup makmur dan sejahtera.

Di kota itu, Sampuraga mencoba melamar pekerjaan. Lamaran pertamanya pun langsung diterima. Ia bekerja pada seorang pedagang yang kaya raya. Sang Majikan sangat percaya padanya, karena ia sangat rajin bekerja dan jujur. Oleh karena itu sang Majikan ingin memberinya modal untuk membuka usaha sendiri. Dalam waktu singkat, usaha dagang Sampuraga berkembang dengan pesat. Keuntungan yang diperolehnya ia tabung untuk menambah modalnya, sehingga usahanya semakin lama semakin maju. Tak lama kemudian, ia pun terkenal sebagai pengusaha muda yang kaya raya.

Sang Majikan sangat senang melihat keberhasilan Sampuraga. Ia berkeinginan menikahkan Sampuraga dengan putrinya yang terkenal paling cantik di wilayah Kerajaan Pidoli.

"Raga, engkau adalah anak yang baik dan rajin. Maukah engkau aku jadikan menantuku ?" tanya sang Majikan.

"Dengan senang hati, Tuan! Hamba bersedia menikah dengan putri Tuan yang cantik jelita itu," jawab Sampuraga.

Pernikahan mereka diselenggarakan secara besar-besaran sesuai adat Mandailing. Persiapan mulai dilakukan satu bulan sebelum acara tersebut diselenggarakan. Puluhan ekor kerbau dan kambing yang akan disembelih disediakan. Gordang Sambilan dan Gordang Boru yang terbaik juga telah dipersiapkan untuk menghibur para undangan.

Berita tentang pesta pernikahan yang meriah itu telah tersiar sampai ke pelosok-pelosok daerah. Seluruh warga telah mengetahui berita itu, termasuk ibu Sampuraga. Perempuan itu hampir tidak percaya jika anaknya akan menikah dengan seorang gadis bangsawan, putri seorang pedagang yang kaya raya.

"Ah, tidak mungkin anakku akan menikah dengan putri bangsawan yang kaya, sedangkan ia adalah anak seorang janda yang miskin. Barangkali namanya saja yang sama," demikian yang terlintas dalam pikiran janda tua itu.

Walaupun masih ada keraguan dalam hatinya, ibu tua itu ingin memastikan berita yang telah diterimanya. Setelah mempersiapkan bekal secukupnya berangkatlah ia ke negeri Mandailing dengan berjalan kaki untuk menyaksikan pernikahan anak satu-satunya itu. Setibanya di wilayah Kerajaan Pidoli, tampaklah sebuah keramaian dan terdengar pula suara Gordang Sambilan bertalu-talu. Dengan langkah terseok-seok, ibu tua itu mendekati keramaian. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya sedang duduk bersanding dengan seorang putri yang cantik jelita. Pemuda itu adalah Sampuraga, anak kandungnya sendiri.

Oleh karena rindu yang sangat mendalam, ia tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba ia berteriak memanggil nama anaknya. Sampuraga sangat terkejut mendengar suara yang sudah tidak asing di telinganya. "Ah, tidak mungkin itu suara ibu," pikir Sampuraga sambil mencari-cari sumber suara itu di tengah-tengah keramaian. Beberapa saat kemudian seorang ibu tua berlari mendekatinya.

"Sampuraga..... Anakku! Ini aku ibumu, Nak! seru ibu tua itu sambil mengulurkan kedua tangannya hendak memeluk Sampuraga. Sampuraga yang sedang duduk bersanding dengan istrinya sangat terkejut. Wajahnya tiba-tiba berubah menjadi merah membara, seakan terbakar api. Ia sangat malu kepada para undangan yang hadir, karena ibu tua itu tiba-tiba mengakuinya sebagai anak.

"Hei perempuan jelek! Enak saja kamu mengaku-ngaku sebagai ibuku. Aku tidak punya ibu jelek seperti kamu! Pergi dari sini! Jangan mengacaukan acaraku!" hardik Sampuraga.

"Sampuragaaaaa......., Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Kenapa kamu melupakan ibu? Ibu sudah lama sekali merindukanmu. Rangkullah ibu, Nak!" Iba perempuan itu.

"Tidak! Kau bukan ibuku! Ibuku sudah lama meninggal dunia. Pengawal! Usir nenek tua ini!" Perintah Sampuraga.

Hati Sampuraga benar-benar sudah tertutup. Ia tega sekali mengingkari dan mengusir ibu kandungnya sendiri. Semua undangan yang menyaksikan kejadian itu menjadi terharu. Namun, tak seorang pun yang berani menengahinya.

Perempuan tua yang malang itu kemudian diseret oleh dua orang pengawal bayaran Sampuraga untuk meninggalkan pesta itu. Dengan derai air mata, perempuan tua itu berdoa: "Ya, Tuhan! Jika benar pemuda itu adalah Sampuraga, berilah ia pelajaran! Ia telah mengingkari ibu kandungnya sendiri.

Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara itu ibu Sampuraga menghilang entah kemana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya.

Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain tiu, juga terdapat dua onggokan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama "Kolam Sampuraga". Hingga kini, tempat itu telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.


Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Aceh, Si Kepar

16.53 0
Cerita Rakyat Aceh, Si Kepar
Pada zaman dahulu kala, di sebuah daerah di Kabupaten Aceh Tenggara, hiduplah seorang janda bersama dengan anak laki-lakinya yang bernama Si Kepar. Ayah dan ibu Si Kepar bercerai sejak ia masih berusia satu tahun, oleh karenanya ia tidak mengenal sosok ayahnya. Sebagai anak yatim, Si Kepar sering diejek oleh teman-teman sepermainannya sebagai jazah (anak tak berayah). Oleh karena itu Si Kepar ingin mengetahui siapa ayahnya sebenarnya. 

Pada suatu hari, Si Kepar menanyakan hal itu kepada ibunya. Pada awalnya, ibunya enggan menceritakan siapa dan di mana ayah Si Kepar. Akhirnya, ia terpaksa menceritakan semuanya setelah Si Kepar mengancam akan bunuh diri jika ibunya tidak bercerita. Setelah jelas siapa dan di mana ayahnya, Si Kepar pun berniat untuk menemui ayahnya di atas sebuah gunung yang sangat jauh.

Setelah berpamitan pada ibunya, Si Kepar berangkat untuk menemui ayahnya dengan membawa bekal secukupnya. Ia berjalan sendiri melewati hutan belantara, menyeberangi sungai dan mendaki gunung. Akhirnya, sampailah ia pada tempat yang dimaksud ibunya. Dari kejauhan, tampaklah seorang laki-laki setengah baya yang sedang menyiangi rumput di tengah-tengah ladangnya. Si Kepar pun segera menghampiri dan menyapanya.

"Selamat siang, Pak!"

"Siang juga, Nak!" jawab bapak itu.

"Siapakah namamu dan dari mana asalmu?" tanya bapak itu kemudian.

"Saya Si Kepar. Berasal Tanah Alas," jawab Si Kepar.

"Tanah Alas?" Bapak itu tersentak kaget mendengar jawaban Si Kepar.

"Kenapa bapak kaget mendengar nama itu?" tanya Si Kepar.

"Oh, tidak, Nak! Tidak ada apa-apa," jawab bapak itu.

"Apa yang membawa kamu ke sini, Par ?" tanya bapak itu. 

Si Kepar pun menceritakan maksud kedatangannya, namun ia tidak bercerita tentang ibunya yang masih hidup. Setelah mendengar cerita Si Kepar, tahulah Bapak itu bahwa Si Kepar adalah anaknya. 

Sejak itu, Si Kepar mulai silih berganti tinggal bersama ayah atau ibunya. Dalam seminggu, terkadang Si Kepar tidur tiga malam di tempat ayahnya, baru kembali ketempat ibunya. Bahkan, ia mengatakan kepada ibunya, bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Semua ini dilakukan oleh Si Kepar agar kedua orang tuanya menyatu kembali, sehingga ia tidak lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah. 
Segala daya dan upaya dilakukannya agar keinginannya dapat tercapai, meski ia harus berbohong kepada kedua orangtuanya. Setelah berdoa sehari semalam, Si Kepar mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa. Petunjuk itu adalah agar Si Kepar menyatakan kehendaknya kepada ibunya untuk memiliki ayah tiri. Harapan ini juga disampaikan kepada ayahnya untuk memiliki ibu tiri. Pada suatu malam, Si Kepar menyampaikan harapan itu kepada ibunya. 
"Ibu, sebenarnya Kepar kasihan melihat ibu yang setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika ibu ingin menikah lagi. Kepar tidak keberatan memiliki ayah tiri." 
Mendengar perkataan Kepar itu, ibunya termenung sejenak, lalu berkata, "Benarkah kamu tidak keberatan, Par?" 

"Tidak, Bu! Kepar sangat senang jika memiliki ayah lagi, agar teman-teman Kepar tidak mengejek Kepar sebagai Jazah," Kepar menjelaskan alasan sebenarnya ingin memiliki ayah lagi. 

"Tapi...., siapa lagi yang mau menikah dengan ibu yang sudah tua ini," kata ibu Kepar merendah. 

"Ibu tidak perlu khawatir. Serahkan saja masalah itu kepada Kepar," jawab Kepar dengan perasaan lega, karena jawaban ibunya menandakan bersedia menikah lagi. Keesokan harinya, Kepar pergi ke gunung menemui ayahnya untuk menyampaikan harapan yang sama. 

"Ayah! Bolehkah Kepar meminta sesuatu kepada ayah?" tanya Kepar kepada ayahnya. 

"Apakah itu anakku!" jawab ayah Kepar penasaran?

"Sebenarnya Kepar merasa kasihan melihat ayah yang setiap hari harus bekerja di ladang dan memasak sendiri. Jika tidak keberatan, Kepar akan mencarikan seorang perempuan yang pantas untuk mendampingi ayah," kata Kepar kepada ayahnya. 

"Siapa lagi yang mau dengan ayah yang sudah tua ini?" jawab ayah tersenyum.

"Tenang, ayah! Masih banyak janda-janda yang sebaya dan pantas untuk ayah di Tanah alas," kata Kepar kepada ayahnya memberi harapan.

"Ah, yang benar saja, Par!" jawab ayah Kepar dengan santainya.

Mendengar jawaban itu, Kepar pun tahu kalau ayahnya bersedia menikah lagi. Akhirnya, kedua orang tuanya menyetujui harapan Si Kepar. Namun, mereka belum mengetahui siapa jodohnya yang telah mereka percayakan kepada Si Kepar.

Setelah itu, Kepar mulai mengatur taktik dan strategi untuk mempertemukan kedua orang tuanya yang semula beranggapan bahwa pasangan mereka sudah meninggal sebagaimana keterangan Si Kepar.

Si Kepar mempertemukan mereka di sebuah dusun yang berada di lereng gunung, tidak jauh dari tempat tinggal ayahnya. Pertemuan ini tidak dilakukan di tanah alas, agar ayahnya tidak teringat dengan tempat itu, karena ayahnya dulu pernah tinggal di sana selama puluhan tahun.

Akhirnya, berkat usaha Kepar, kedua orang tuanya bersatu kembali. Mereka hidup harmonis seperti sedia kala. Melihat keadaan itu, kini saatnya Si Kepar menceritakan keadaan yang sebenarnya, bahwa perempuan yang dinikahi ayahnya itu adalah istrinya sendiri yang dulu pernah ia nikahi. Demikian sebaliknya, laki-laki yang menikahi ibunya itu adalah suaminya sendiri yang dulu pernah menikahinya. Setelah mendengar keterangan dari Si Kepar tersebut, tahulah keduanya (ayah dan ibu Kepar) keadaan yang sebenarnya. Meskipun keduanya telah dibohongi oleh anaknya, keduanya tidak marah. Keduanya saling memaafkann atas kesalahan masing-masing yang menyebabkan mereka bercerai. Mereka juga berterima kasih kepada Si Kepar, karena telah menyatukan mereka kembali. Si Kepar pun sangat senang menyambut kehadiran ayahnya. Akhirnya mereka bertiga hidup dalam sebuah keluarga yang rukun, damai dan penuh kebahagiaan. Sejak itu pula, Si Kepar tidak pernah lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah. 

Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Provinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011



Read More

Laki-Laki Yang Kawin Dengan Peri

00.48 0
Laki-Laki Yang Kawin Dengan Peri
Mau jadi anggota DPR? Boleh, asalkan dengar cerita ini. Namanya Kromo Busuk. Disebut busuk karena baunya, entah karena luka di kakinya atau keringatnya, wallahu'alam. Menurut ilmu hakekat, yang layak busuk itu hanya hati, tetapi maklumlah orang desa. Disebut kromo, atau suto atau noyo, itu sama saja, karena begitulah orang jawa diberi nama oleh orang sekitar. Kabarnya ia pernah kawin dan punya anak di desa lain. 

Pada mulanya, ia tinggal di tengah desa seperti orang-orang umumnya. Ia juga mempunyai sepetak sawah. Untuk yang tidak berkeluarga seperti dia cukuplah. Ia dapat berkebun, memelihara ayam, dan sesekali menukarkan hasil kebun ke pasar untuk garam dan pakaian. Dalam keadaan ekonomi yang bagaimanapun ia akan bisa bertahan, sebab ia tidak tergantung pada kebaikan hati pasar.

Tetapi rupanya ketenangan itu terganggu sejak tetangganya punya menantu orang luar desa. Menantu inilah yang mula-mula menyebabkan orang menuduh Kromo berbau busuk. Itu dimulai pada malam pertamanya. 

"Kau belum mandi sejak pagi," katanya pada istri. Itu sungguh diluar dugaan. Biasanya ia diam saja meskipun (calon) istri itu tidak mandi barang tiga hari. Ketika istrinya bersumpah bahwa sudah mandi, malah dikatakannya bahwa untuk menghadapi hari itu sengaja dipilihnya sabun yang paling . wangi, menantu itu pun mencari-cari sumber bau itu. Mula-mula mertuanya laki-laki. Laki-laki itu tersinggung, katanya lebih baik tidak punya menantu. Terpaksa orang banyak menyabarkannya. Untuk sementara menantu itu mengalah dan kamar pengantin itu tenang sekali. Tetapi kamar itu ribut ketika menantu minta istrinya untuk menanyakan apakah ibu mertua hari itu tidak lupa mandi. Tentu saja permintaan itu ditolak. Hanya ketika menantu itu mengancam akan menanyakan langsung, istri itu mengalah. Istri itu bisa membayangkan betapa ibunya akan marah, pengalaman dengan ayah yang disangkanya akan tersenyum dengan tuduhan itu sudah membuatnya berhati-hati. Ia tidak langsung menanyakan pada ibunya. Dengan berputar-putar akhirnya ia tahu bahwa ibunya sudah mandi.

Akan tetapi itu tidak membuat suaminya puas. Bau tidak juga hilang dari hidungnya. Maka di kamar itu terjadi lagi keributan. Sekarang giliran tetangga terdekat untuk ditanyai apakah mereka sudah mandi. Kemudian tetangga jauh mendapat giliran. Ternyata tidak juga mau menghilang bau itu.

"Ini sudah keterlaluan," kata ayah. Ketika kemarahan akan ditujukan pada menantu karena tuduhan yang tidak-tidak, tiba-tiba datang orang-orang dari Pos Kamling. Mereka juga menanyakan asal bau busuk itu.  Malam itu juga diadakan penggeledahan. Usaha itu ternyata tidak mudah, terbukti mereka tidak berhasil.

Begitulah, berkat orang-orang dari gardu, seperti kena tenung, tiba-tiba seluruh penduduk desa jadi sadar akan bau itu. Anak-anak di sekolah, di surau, di sungai saling menuduh teman-temannya. Bahkan mereka yang di ladang atau di sawah dapat menciumnya. Pendek kata, sedang bersama atau sendiri. Akhirnya diadakan penelitian dari rumah ke rumah. Pada waktu itu ketahuan bahwa sumber bau busuk itu itu ialah Pak Kromo. Sudah barang tentu hal itu tidak diakui Pak Kromo sendiri. Katanya ia sudah mandi, suruh pakai sabun sudah, suruh minum jamu juga sudah, padahal ia tidak luka sedikit pun.

 ***
DIAM-DIAM Kromo membangun gubug baru di pinggir desa dan pindah ke sana. Akan tetapi, ternyata hal itu tidak memecahkan masalah. Bau busuk tidak juga hilang dari hidung orang desa. Pada malam hari orang masih mengeluh. Ketika Kromo pergi ke warung, warung itu akan ditinggalkan pembeli. Demikian pula kalau dia nonton wayang, orang akan bubar dan tinggal dalang, pesinden, dan niyaga yang melanjutkan dengan menutup hidung sekenanya. Para gadis desa tidak laku, karena jejaka-jejaka takut dengan bau yang akan menghalangi. Malam bulan purnama juga sepi. Desa itu jadi sarang hantu. Pencuri berkeliaran dengan leluasa di malam hari, karena gardu ronda tidak dijaga 

Kromo menyadari hal itu. Malam hari dia akan keluar desa untuk tidur di tengah sawah yang berbatu-batu, dan tidak dikerjakan, karena orang percaya itu tempat angker. Kromo sudah bertekat karena mati pun tidak ada orang kehilangan. Orang sudah berusaha mencegahnya dengan mengatakan bahwa tempat tinggalnya yang di pinggiran desa itu sudah lebih dari cukup. Tetapi ia sudah bertekad bulat. Menjelang malam orang akan melihat dia mengempit selembar tikar usang menuju ke batu di tengah sawah untuk tidur. Baru pagi-pagi ia pulang. Praktis ia tidak bisa bekerja, sebab orang akan bubar untuk menjauhinya. 

Suatu malam, seorang wanita cantik tiba-tiba sudah ada di dekatnya. Ia tidak tahu dari mana perempuan itu datang. 

"Jangan takut, kaki. Saya ingin tahu kenapa kenapa setiap malam kau di sini." 

Entah apa sebanya, tetapi rasa takutnya hilang. Maka ia pun bercerita tentang kesulitannya dengan orang. Ketika dia mengakhiri ceritanya perempuan itu berkata; 
" Sudah, kaki. Kalau bangsa manusia tidak mau mengerti, jangan susah." 

Malam berikutnya, ia dikawinkan di depan penghulu Naib Kecamatan yang sudah dikenalnya. Dihadirkan juga saksi-saksi. Perempuan yang dikawininya rasa-rasanya ia pernah ketemu sebelumnya tetapi ia lupa di mana. Ia enggan bertanya, pokoknya wanita itu cantik di luar bayangan orang yang paling gila sekalipn. Dan Malam itu dia memberikan kenikmatan yang luar biasa - yang tidak mungkin diceritakan demi sopan santun. 

Malam berikutnya, beberapa orang yang kurang pekerjaan mencoba mengikutinya. Tetapi mereka akan kehilangan jejak ketika Kromo sudah memasuki sawah berbatu-batu dan tak ditanami itu. 

Masih disaksikan oleh mereka angin bertiup sepoi-sepoi dan pucuk padi tertunduk teratur, seperti angin sedang berjalan diatasnya. Katak-katak berbunyi serempak juga kunang-kunang menuju tengah sawah. Udara menjadi dingin bukan main dan rasa kantuk yang tak tertahankan menyerang orang-orang dari gardu. Satu per satu mereka menguap dan tertidur di sembarang tempat. Kalau hari hujan dikabarkan bahwa tempat itu tidak kehujanan. 

***
BEGITULAH yang terjadi untuk beberapa lama. Kalau Kromo kesiangan, orang akan menemukannya sedang mendekap sebuah batu. Yang mengherankan ialah rambut Kromo yang tidak putih, meskipun orang sebayanya sudah. Adapun bau tidak juga hilang, malah lebih keras. Kalau dulu hanya di malam hari sekarang juga tercium di siang hari. Sampai-sampai anak-anak sekolah disuruh menimbuni sampah dan membersihkan semak-semak di sekitar sekolah. 

Pak Kromo hampir dilupakan orang, kalau tidak seseorang melihat orang itu tiba-tiba sudah tua renta. Komentar orang bermacam-macam. "Itu biasa karena sebayanya malah sudah mati". "Itu biasa, salahnya kawin dengan peri. Aku punya pengalaman daya sedot peri sungguh luar biasa, hingga tubuh bisa kering-kerontang kalau terlalu sering ketemu. Apalagi tiap malam." 

Pada suatu malam ada dua orang berpakaian seperti ketoprak datang di gardu ronda. Seorang dengan pakaian kesatria lengkap dengan kudanya, seorang lagi berpakaian lebih buruk tapi juga menunggang kuda. Nampaknya mereka pangeran dan pembantunya. Mereka menanyakan kenapa orang-orang desa menghina Pak Kromo, padahal dia orang baik-baik. Ia tidak pernah menyakiti orang, selalu berkata lembut, menundukkan muka, suka menolong, tidak sombong, dermawan dalam kemiskinannya, suka memberi dalam kefakirannya. Pendek kata ia termasuk orang-orang terbaik di desa. Tenta saja itu tidak butuh jawaban. Tidak seorang pun tahu ke mana para penunggang kuda itu pergi. Segera orang berkumpul. Perkara berkumpul tidak ada yang menandingi orang desa. Kemudian terdengar ledakan keras di tengah sawah, sementara bau wangi tercium di mana-mana. Mereka segera pergi ke sawah. Masih mereka saksikan asap membubung ke atas. Tahulah mereka bahwa Pak Kromo sudah meninggal dunia. Mereka hanya menemukan batu-batu, rumput, dan tikar. Mereka mengambil kesimpulan bahwa jenazah Pak Kromo dibawa ke dunia lelembut. Tiba-tiba orang merasa kehilangan. Sebagian orang merasa berdosa telah menyengsarakan Pak Kromo. 

Sejak itulah terjadi pageblug, epidemi, di desa. Tidak bayi, tidak remaja, tidak orang tua semua terkena. Pagi sakit sore mati, sore sakit pagi meninggal, siang masih mencangkul di sawah malam hari sakit, ibu-ibu kehabisan air susu. Orang sudah berusaha dengan membawa obor keliling desa, perempuan-perempuan telanjang mengelilingi rumah dan menyanyikan Dandanggula, "Ana kidung rumeksa ing wengi". Tapi keadaan tidak menjadi baik, malah sebaliknya yang terjadi. Habislah akal orang. 

Akhirnya datanglah kyai itu. Ia mengatakan kalau orang desa kurang bersyukur dan menganjurkan sedekah. Kemudian disepakati bahwa orang desa akan mengadakan kenduri dan mengaji sebagai layaknya orang menghormati yang sudah meninggal. Namun, yang mati tidak akan kembali lagi. Entah bagaimana nasibnya. Ada yang mengatakan dia jadi pengawal di sananya, ada yang mengatakan dia jadi pangeran di sana, ada yang mengatakan dia jadi sais di sana. Ada yang mengatakan dia jadi tukang rumput, dan ada pula yang mengatakan dia jadi rakyat biasa. Yang penting pakaiannya bagus-bagus dan dia jauh lebih muda. Ada yang pernah berjumpa, dan mengajaknya pulang. Betul dia menangis karena dunia ialah tempat yang sebaik-baiknya, meskipun penuh penderitaan, tetapi ia terikat perjanjian. 

Demikianlah cerita itu. Ibaratnya, jangan disia-siakan orang lemah, dia akan bekerja sama meski dengan siluman sekalipun. 
 
Yogyakarta, 14 April 1994
Kompas, 24 April 1994

Sumber: 
Penulis : Kuntowijoyo
Buku Laki-laki yang Kawin Dengan Peri ( Cerita Pilihan "Kompas" 1995) 
Penerbit. PT. Kompas Media Nusantara, Juni 1995
Read More

Mencari Calon Putra Mahkota

09.42 0
Cerita dongeng, Mencari Calon Putra Mahkota
Ada seorang raja tua yang mempunyai tiga orang anak laki-laki. Raja itu bingung memilih calon pengganti yang akan ditunjuk sebagai putra mahkota. Sebenarnya, bisa saja ia menunjuk salah seorang putra yang ia sukai, Akan tetapi, tetapi ia khawatir bahwa putra pilihannya itu tidak mencintai rakyatnya. Raja yang tidak cinta kepada rakyat tidak akan memikirkan nasib rakyat. Ia akan dimusuhi rakyatnya. 

Akhirnya raja mendapat ilham untuk menguji ketiga putranya. Ketiga putranya dipanggil menghadap. Raja berkata, "Anak-anakku tercinta, saat ini aku akan menguji kalian dengan satu pertanyaan. Siapa yang paling bagus jawabannya, pertanda ia berhak menjadi putra mahkota yang akan kunobatkan menjadi penggantiku. Bagaimana, siapkah kalian bertiga untuk menjawab?" 

"Siap, Ayah!" jawab ketiga putra itu. 

"Pertanyaannya begini, kalau kalian menjadi raja, seperti apa besar cintamu kepada rakyatmu?" 

Putra tertua mengacungkan tangan. Raja mempersilakan anak itu menjawab. 

"Cintaku kepada rakyatku setinggi gunung," jawab putra tertua. 

Kemudian putra kedua menjawab, " Cintaku kepada rakyatku setinggi bintang." 

"Kini, giliranmu untuk menjawab," kata raja kepada si bungsu. 

"Cintaku kepada rakyatku seperti garam," jawab si bungsu. 

"Sekarang aku ingin tahu, mengapa cintamu kepada rakyatmu setinggi gunung?" kata raja kepada putra tertua.
"Gunung itu tinggi dan besar. Di dunia ini tidak ada benda sebesar gunung. Karena itu, tak ada yang bisa menandingi cintaku kepada rakyatku," jawab putra tertua. 

"Di pulau Madura ini tak ada gunung, yang ada hanya bukit-bukit. Di manakah engkau pernah melihat gunung?" tanya raja. 

"Aku belum pernah melihat gunung. Kata orang di Jawa banyak gunung yang tinggi sampai ke awan." 

"Engkau telah membuat perumpamaan benda yang belum pernah engkau lihat," kata raja agak kecewa terhadap penjelasan putra tertua. Kemudian, ia menunjuk putra kedua untuk mengemukakan alasan. 

"Bintang itu benda paling tinggi, jika cintaku kepada rakyatku setinggi bintang, berarti cintakulah yang paling tinggi," kata putra kedua. 

"Mengapa cintamu kepada rakyatmu seperti garam?" tanya raja kepada si bungsu. 

"Karena hidupku sehari-hari membuat garam bersama orang-orang kecil. Selain itu, setiap manusia di dunia selalu memerlukan garam pada saat makan. Jika cintaku seperti garam, berarti semua orang akan merasakan secara nyata wujud cintaku. Tak seorangpun rakyatku yang tidak mendapat cintaku, Itu maksud cintaku seperti garam," jawab si bungsu. 

Mendengar jawaban si bungsu, raja mengangguk-angguk sambil tersenyum. Agaknya, raja puas sekali dengan jawaban terakhir itu. Setelah diam sejenak, raja pun berkata, "Sekarang tiba saatnya bagiku memberi penilaian terhadap jawaban kalian. Anakku tertua bermisal dengan benda yang belum pernah dilihat. Pikiranmu terpengaruh pada apa yang engkau dengar dari orang. Jawaban anakku nomor dua yang bermisal dengan bintang menunjukkan bahwa engkau terlalu berpikir tentang benda yang jauh dari bumi, sedangkan benda bumi sendiri kauabaikan. Kemudian, jawaban anakku yang bungsu menunjukkan bahwa engkau berpikir dengan kehidupan nyata yang ada di Pulau Madura ini. Cintamu kepada rakyatmu yang seperti garam sungguh jawaban yang sangat tepat. Hal itu menunjukkan bahwa engkau dekat dengan kehidupan rakyat kecil. Oleh karena itu, aku memutuskan, anak bungsuku yang berhak menjadi putra mahkota." 

Kesimpulan
Cerita ini bisa digolongkan ke dalam dongeng nasehat yang berisi ajaran penting bagi orang-orang yang akan menjadi pemimpin. Menurut cerita ini, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memikirkan kehidupan dan kepentingan rakyatnya sehari-hari. 
Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo
Read More

Pak Molla

00.24 0
cerita dongeng anak pak molla
Malam itu Pak Molla mendayung perahu kecilnya yang bercadik menuju laut lepas. Ketika berangkat meninggalkan kampung nelayan yang kecil itu, hujan gerimis membasahi tubuhnya. Jangankan hujan gerimis, hujan lebat pun kadang-kadang ia abaikan untuk memperoleh ikan di laut. 

Pak Molla adalah seorang nelayan di salah satu pulau di Kepulauan Sapeken. Pulau itu dapat ditempuh dengan berlayar selama lima belas jam dari Pulau Madura. Penghasilannya dari memancing ikan tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk belanja sehari-hari. 

Setelah perahunya agak jauh dari darat, Pak Molla mulai membuka layar. Angin sepoi-sepoi membawa perahu itu melaju di atas ombak yang tidak terlalu besar. Kemudian, ia melemparkan pancing ke laut. Ia bernyanyi-nyanyi menunggu pancingnya didekati ikan. 

Setelah dua jam di laut, beberapa ikan tongkol berhasil ditangkap Pak Molla. Hatinya mulai gembira. Gerimis pun mulai reda. 

Pada saat perahunya sedang melaju, tiba-tiba Pak Molla merasakan perahunya menabrak sesuatu. Dalam keadaan gelap, ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Lalu, ia menghentikan perahunya dan menyelidiki sekitar tempat perahunya menabrak tadi. Setelah mencari ke sana kemari, tiba-tiba ia melihat sebilah papan. Setelah diperhatikan agak cermat, ternyata ada orang memeluk papan itu.

"Pasti awak perahu yang kena musibah di laut," pikir Pak Molla menaikkan orang itu ke perahu. Orang yang ditolong itu hampir tidak punya daya. Pak Molla menanyakan sesuatu kepada orang itu, tetapi ia tak bisa menjawab. Agaknya, ia belum sanggup berbicara karena ingatannya belum pulih benar.

Saat itu juga, Pak Molla memutar haluan menuju kampungnya. Setelah tiba di pantai, ia menambatkan perahunya. Lelaki yang ia tolong itu digendong ke rumah. Pak Molla segera mengganti pakaian orang yang belum diketahui dari mana asalnya itu. Kemudian, orang itu ditidurkan di balai-balai.

Pak Molla segera menyuruh istrinya membuat bubur. Setelah matang, bubur itu disuapkan kepada lelaki yang tidak dikenal itu.

"Meskipun tidak enak. Anda harus berusaha makan agar sehat kembali," kata Pak Molla kepada orang itu.

Lelaki itu mulai membuka mulut. Istri Pak Molla menyuapinya. Setelah kira-kira sepuluh sendok, orang itu menggelengkan kepala. Ia merasa sudah cukup.

Setiap hari lelaki tidak dikenal itu mendapat perawatan dan pelayanan yang memuaskan dari Pak Molla dan istrinya. Bahkan sejak di rumahnya ada lelaki itu, Pak Molla tidak pergi memancing ke laut agar ia bisa memberikan pelayanan dan pengobatan yang baik kepada lelaki malang itu.

Empat hari kemudian, lelaki dari seberang itu sudah mulai duduk. Pak Molla sangat senang karena orang yang ditolongnya punya harapan untuk hidup,

"Saya ingin tahu asal-usul Anda," tanya Pak Molla.

"Saya berasal dari Tanah Bugis, Sulawesi," jawab lelaki itu dengan suara hampir tidak terdengar. Kemudian ia melanjutkan. "Saya seorang awak perahu yang sedang berlayar menuju Pulau Jawa. Setelah beberapa hari berlayar, tiba-tiba perahu saya menabrak batu karang pada malam buta. Perahu itu hancur berkeping-keping. Untunglah, saya dapat berpegangan pada sekeping papan. Saya dihanyutkan arus dan dipermainkan gelombang kesana kemari. Entah beberapa malam saya berada di laut lepas sebelum Bapak menemukan saya."

Setelah mendengarkan pengalaman hidup orang itu. Pak Molla bertanya, "Apa maksud Anda kalau sudah sembuh? Apakah Anda tetap mau berkumpul bersama saya di sini atau Anda ingin kembali ke kampung halaman Anda?"

"Saya ingin sekali pulang," kata laki-laki itu, " saya punya istri dan anak. Mereka tentu sangat mengharapkan kepulangan saya. Saya juga sangat merindukan mereka. Tetapi, apa mungkin saya bisa pulang? Kampung halaman saya sangat jauh dari sini, sehingga saya perlu biaya besar, padahal saya sudah tidak punya apa-apa lagi."

"Tenanglah sahabat," kata Pak Molla sambil memegang pundak lelaki yang mulai meneteskan air mata itu. "Berdoalah kepada Tuhan, agar Anda segera berjumpa dengan anak istri Anda."

Setelah seminggu berada di rumah , Pak Molla, orang yang ditemukan di laut itu sehat kembali. Ia bisa berjalan cepat menuju sumur untuk mandi. Ia sangat berterima kasih atas keikhlasan hati Pak Molla merawatnya sampai ia sehat kembali.

Siang itu, Pak Molla mengajak istrinya ke tepi pantai. Istrinya heran karena hal itu jarang dilakukan Pak Molla. Biasanya Pak Molla mengajak istrinya berjalan-jalan ke pantai pada malam bulan purnama, sambil melihat air laut pasang mengantarkan buih-puih ke pantai.

"Ada apa engkau mengajakku ke pantai pada siang hari seperti ini?" tanya istrinya.

"Ada sesuatu yang perlu kurundingkan denganmu," jawab Pak Molla.

"Kenapa kita tidak berunding di rumah saja?" tanya istrinya.

"Kalau dilakukan di rumah akan terdengar orang yang kita tolong itu. Perundingan ini tidak boleh ia ketahui.

"O, begitu," kata istri Pak Molla. "Ayo katakan segera, aku ingin tahu."

"Begini. Aku akan bertanya kepadamu, bagaimana jika seandainya aku dengan perahuku terdampar di sebuah negeri yang jauh? Kemudian, aku tidak bisa pulang karena tidak punya ongkos, sedangkan aku sangat rindu padamu."

"Aku dan anakmu pasti akan sedih," jawab istri Pak Molla.

"Kemudian, dalam keadaan susah seperti itu, ada seseorang mengulurkan tangan memberi uang secukupnya kepadaku untuk pulang."

"Engkau akan gembira. Aku dan anakmu akan sangat gembira. Kita sangat berterima kasih kepada orang yang memberimu uang itu," kata istrinya.

"Nah, orang yang sangat memerlukan pertolongan untuk bertemu anak istrinya itu sekarang ada di rumah kita. Betapa gembira anak istrinya kalau ia bisa pulang ke kampungnya," kata Pak Molla.

"Apa yang bisa kita bantu? Kita sendiri tidak punya uang," kata istrinya.

"Asalkan engkau mau menolong, bisa saja ia pulang ke kampungnya. Apakah engkau mau menolongnya?" tanya Pak Molla.

"Mau. Aku akan senang menolongnya," jawab istrinya.

"Kalung yang tergantung di lehermu itu kalau dijual kukira cukup sebagai ongkos pulang ke Tanah Bugis," kata Pak Molla.

"O, ya," ujar istri Pak Molla sambil tersenyum. Kemudian, ia melepaskan kalung itu dari lehernya." Juallah kalung ini, aku akan berbahagia  kalau ia bisa berkumpul dengan anak istrinya.

Hari itu juga kalung itu ditawarkan Pak Mola kepada tetangganya. Untunglah kalung emas itu terjual dengan harga yang pantas.

Keesokan harinya, Pak Molla dan istrinya naik perahu mengantarkan orang dari Tanah Bugis itu menuju pelabuhan Sapeken. Di pelabuhan Sapeken ia dilepas, ikut perahu besar menuju ke Surabaya. Dari Surabaya ia akan menumpang perahu ke Makasar, sekarang bernama Ujung Pandang.

Dua tahun telah berlalu, Pak Molla dan istrinya tetap hidup rukun dan damai. Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat keluarga itu agak susah. Sejak membantu orang dari Tanah Bugis itu, rezeki Pak Molla makin berkurang. Jika ia pergi memancing, hasilnya sangat sedikit, tidak sampai sepertiga dari pendapatannya dulu.

"Seandainya kalung Ibu tidak dijual untuk menolong orang Bugis itu, kita tidak akan mengalami paceklik seperti ini," kata anak perempuannya yang sudah remaja.

"Sabarlah, Anakku," jawab istri Pak Molla. "sesuatu yang telah disedekahkan kepada orang tak perlu diingat lagi."

"Ibumu melepaskan kalung itu dengan ikhlas," kata Pak Molla kepada anaknya. "Jangan menggagalkan amal baik yang telah kita perbuat dengan menyesalinya seperti itu. Sepantasnya kita berbahagia karena telah mengorbankan sesuatu kepada orang lain."

Pada suatu malam, saat bulan sedang purnama. Pak Molla tidak pergi memancing karena ia ingin bergembira dengan anak istrinya di pantai. Cahaya bulan yang keemasan terpantul di atas permukaan laut.

Ketika Pak Molla sekeluarga sedang duduk bercanda di atas pasir pantai, tiba-tiba datang seseorang sambil berkata, "Saya ingin menjumpai Pak Molla."

"Ya, saya Pak Molla," jawab Pak Molla agak terkejut. Ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang tidak dikenal itu karena orang itu membelakangi cahaya bulan.

"Saya akan menyampaikan kiriman dari orang yang pernah Bapak tolong di tengah laut," kata orang itu sambil menyerahkan kantong yang tidak jelas isinya. "Uang ini mohon dibelikan kelapa. Hasil panen kelapa itu, untuk biaya hidup Bapak sekeluarga."

Setelah menerima kantong itu, Pak Molla segera membukanya. Terlihat uang logam berkilauan di bawah sorotan cahaya bulan.

"Uang emas! Uang emas!" teriak istri Pak Molla.

Agak lama Pak Molla sekeluarga terpana melihat satu kantong uang emas itu, mereka takjub bercampur gembira. Setelah itu, Pak Molla menoleh untuk mengucapkan terima kasih kepada orang yang menyampaikan kiriman itu. Ternyata, orang itu sudah tidak ada di situ. Pak Molla melihat ke sana kemari. Tidak ada orang. Kemudian, Pak Molla dan anak istrinya melihat ke arah laut. Mereka melihat ada orang berjalan di atas permukaan laut menuju arah bulan purnama. Di kejauhan orang itu menoleh dan melambaikan tangan. Sesudah itu, ia tidak tampak lagi.

Beberapa minggu kemudian, Pak Molla telah membeli seribu batang pohon kelapa dan beberapa hektar tanah. Tidak mengherankan kalau Pak Molla kemudian hidup bahagia lahir dan batin.

Kesimpulan
Cerita ini termasuk dongeng. Hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini adalah orang yang ikhlas beramal untuk kemanusiaan pada suatu ketika akan mendapat berkat dari Tuhan.


Sumber : Buku Cerita Rakyat Dari Sumatera
Oleh : James Danandjaya
Penerbit : Grasindo
Read More

Post Top Ad