Blog Oblok Oblok

Hot

Post Top Ad

Cerita Rakyat Propinsi Nusa Tenggara Barat, Makam Embung Puntiq

06.06 0
Cerita Rakyat Propinsi Nusa Tenggara Barat, Makam Embung Puntiq
Alkisah pada suatu desa yang bernama Bayan, tinggallah sebuah keluarga. Sang Ayah bernama Panji Bayan Ullah Petung Bayan, sedangkan anaknya bernama Panji Bayan Sangge. Suatu hari tatkala Panji Bayan Sangge masih kanak-kanak, entah karena apa, ia pergi meninggalkan desa kelahirannya untuk mengembara. 

Setelah melewati berbagai lembah dan bukit, akhirnya Panji Bayan Sangge tiba di suatu daerah yang bernama Batu Dendeng. Hutang memang harus di bayar, takdir juga harus di jalani. Singkat cerita, di Batu Dendeng, Panji Bayan Sangge dijadikan anak angkat oleh sepasang suami-istri yang tidak mempunyai anak, bernama Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol. Ia dianggap dan diperlakukan seperti anak kandungnya sendiri. Ia tidak merasakan kejanggalan apapun juga. Inaq dan Amaq Bangkol dianggap sebagai orang tuanya sendiri. Mereka saling mengasihi, mencintai dan pada segi-segi tertentu saling menghormati. Hari berganti minggu, bulan demi bulan datang siling berganti, tahun demi tahun menyusul, akhirnya Panji Bayan Sangge beranjak dewasa. Ia telah menjadi seorang pemuda.

Pada suatu hari ia mengemukakan niatnya pada Inaq Bangkol untuk menggarap sebuah ladang. Setelah membuat petak ladang dan memagarinya, maka oleh Inaq Bangkol diberikan beberapa bibit tanaman seperti; jagung, berbagai jenis kacang, gandum dan lain-lain tanaman yang pantas atau cocok untuk ditanam di ladang. Setelah beberapa waktu, bibit yang diberikan oleh Inaq Bangkol di tanam. Bibit-bibi itu tumbuh dengan suburnya. Panji Bayan Sangge merasa sangat gembira. Ia semakin giat mengurus ladang.

Beberapa minggu kemudian, pemandangan pada ladang itu telah berwarna-warni oleh berbagai jenis bunga. Tampaknya tak lama lagi semua tanaman akan berbuah. Itu berarti semua pengorbanan dan jerih payah Panji Bayan Sangge tidak akan sia-sia. Namun, seperti kata pepatah, untung tak dapat diraih dan malang tak dapat di tolak. Pada suatu pagi yang cerah ketika Panji Bayan Sangge mendatangi ladangnya, ia menjadi terkejut bukan main. Semua bunga yang pada senja kemarin masih baik dan utuh, sekarang musnah semuanya. Panji Bayan Sangge segera pulang ke rumah dan menceritakan semua yang dilihat kepada ibunya. 

"Ibu, tadi pagi ketika ananda ke ladang, semua bunga tanaman itu telah hilang. Kalau dikatakan itu adalah perbuatan babi atau kera, rasanya tak mungkin. Karena tak satupun tangkainya yang patah. Karena itu ananda bermaksud untuk mengadakan pengintaian. Barangkali ada tangan-tangan jahil yang sengaja merusak tanaman kita." 

"Baik, bunda setuju dengan rencana itu. Jagalah dirimu baik-baik dan jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Bertindaklah dengan jujur dan tidak boleh berbuat kasar kepada siapa pun. Segala persoalan pasti dapat diselesaikan dengan baik. Dengar dan perhatikan nasehat bunda ini." Demikian kata-kata Inaq Bangkol kepada Panji Bayan Sangge sesaat sebelum berangkat ke ladang. 

Pada malam harinya, Panji Bayan Sangge mulai melakukan pengintaian. Dengan cermat ia mengawasi ladangnya. Semua sudut ladang tak lepas dari perhatiannya. Namun, sudah hampir semalam suntuk tak ada sesuatu pun yang mencurigakan. Hening, sepi, tak ada sesuatu atau seseorang yang mendatangi ladangnya. 

Saat menjelang fajar, ketika Panji Bayan Sangge sedang bergulat menahan kantuk, tiba-tiba dari arah yang tak dapat dilihatnya, sembilan orang bidadari turun dari langit dan dengan asyiknya mengisap dan merusak bunga tanaman itu. Pengisapan dan perusakan bunga terus dilakukann dari satu pohon ke pohon yang lain. Melihat tingkah bidadari itu, hati Panji Bayan Sangge menjadi gemas. 

"Akan kuapakan perempuan-perempuan yang merusak tanamanku ini?" Bila aku biarkan pasti bunga-bunga ini akan habis. Apakah hasilku nanti?" Ah, lebih baik kutangkap saja barang seorang," pikirnya. 

Lalu dengan sigap Panji Bayan Sangge menangkap salah seorang dari bidadari itu. Sang bidadari mengadakan perlawanan sekuat tenaga. Namun, apa daya, Panji Bayan Sangge memilik tenaga yang jauh lebih besar. Melihat peristiwa yang tak diinginkan itu, bidadari yang lain menjadi ketakutan dan melarikan diri. Panji Bayan Sangge segera membawa bidadari yang tertangkap itu pulang ke rumahnya. 

Setelah tiba di rumah, ia mencari dan memberitahu Inaq Bangkol, "Ibu dialah yang merusak tanaman kita di ladang. Hukuman apa yang akan kita berikan kepadanya?" 

"Anakku, bila bidadari ini merusak tanaman kita di ladang, ibu hanya berdoa, memohon kepada Yang Maha Kuasa, semoga ananda dijodohkan dengan dia, janganlah dihukum. Dia akan kujadikan anak dan menantu. Terjadinya peristiwa ini, hanyalah merupakan takdir semata. Terimalah dengan penuh tawakkal. Semoga kebahagiaan senantiasa meliputi kalian." 

Singkat cerita, Panji Bayan Sangge pun akhirnya mengawini bidadari itu. Tetapi selama berumah tangga, mereka tak pernah berbicara. Demikianlah, kehidupan mereka beberapa lama sampai mereka memperoleh seorang anak. Karena telah lama kawin, namun tidak pernah mendengar satu patah kata pun dari istrinya, Panji Bayan Sangge menjadi penasaran. Berbagai akal dicoba agar istrinya mau berbicara. Dan sebab-sebabnya pun selalu diselidi, mengapa ia membisu. Satu hal yang selalu menarik perhatian Panji Bayan Sangge ialah apabila isterinya akan mengambil air ke sumur. Sebelum berangkat ia selalu masuk ke dalam rumah. Setelah itu barulah pergi ke sumur. Apa gerangan maksudnya? Ada apa di dalam rumah? Hal inilah yang ingin oleh Panji Bayan Sangge. Barangkali dengan mengetahui latar belakang peristiwa ini dia akan dapat mengetahui mengapa istrinya selalu membisu. 

Pada suatu hari ketika selesai makan dan segala-galanya sudah dikembalikan ke tempatnya, ia memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh isterinya. Benar juga, Isterinya masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama, lalu keluar lagi dan pergi mengambil air ke sumur, yang letaknya agak jauh dari rumah itu. Setelah diperkirakan isterinya sampai di sumur, yang letaknya agak jauh dari rumah. Panji Bayan Sangge masuk ke dalam rumah. 

Setelah beberapa lama memperhatikan apa yang ada di dalam rumah, perhatian Panji Bayan Sangge tertuju pada gulungan tikar. Ia segera membuka gulungan tikar itu. Dan apa yang didapatinya? Ia menemukan sebuah selendang yang tergulung dan sengaja disembunyikan di tempat itu. Selendang itu bernama Lempot Umbaq yang tak pernah dilepaskan oleh istrinya, kecuali pada waktu mengambil air. "Ada apa dengan selendang ini?" demikian pikirnya.

Dia yakin bahwa bahwa selendang itu sangat besar artinya bagi istrinya. "Kalau selendang ini kusembunyikan. Istriku pasti akan menanyakannya. Dalam kesempatan inilah nanti aku akan berbicara dengannya.

Maka, Lempot Umbaq itu disembunyikan di tempat lain. Setelah itu, Panji Bayan Sangge berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian istrinya kembali dari sumur. Panji Bayan Sangge memperhatikan terus istrinya secara diam-diam apa yang akan dilakukannya. Setelah air ditaruh pada tempatnya. Istrinya segera naik ke dalam rumah. Bukan main terkejutnya terkejutnya bidadari itu, karena Lempot Umbaq yang tadi ditaruh di bawah gulungan tikar sudah tidak ada lagi di tempatnya. Ia tertegun dan berpikir sejenak. Kemudian, ia mencari ke setiap sudut di dalam rumah itu. Namun yang dicari tidak ditemukan.

Ia lalu keluar rumah. Dengan liar serta pandangan tajam ia terus mencari. Air matanya sudah tak dapat ditahan lagi. Ia mencari sambil menangis. Melihat hal itu, Panji Bayan Sangge mendekat dan menegur istrinya, "Apa yang sedang kau cari istriku? Bolehkah aku mengetahuinya? Barangkali aku dapat membantumu."

Istrinya diam. Tak ada jawaban. Sikapnya tetap seperti sedia kala. Namun Panji Bayan Sangge tak berputus asa. Ia bertanya lagi, "Cobalah katakan apa yang sedang kau cari istriku! Mungkin aku dapat menolongmu. Atau mungkin tak percaya pada diriku?"

Kali ini pun istrinya masih tetap membisu seribu bahasa. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, hanya air mata yang terus mengalir. Panji Bayan Sangge bertanya lagi, "Telah beberapa kali kukatakan padamu. Katakanlah dengan sebenarnya, apakah yang sedang kau cari. Aku bersedia membantumu untuk menemukan kembali."

Pada saat itulah istrinya menjawab dengan singkat. Dia hanya mengatakan "Lempot Umbaq". Setelah berkata demikian, ia seketika menghilang tanpa bekas. Semua berlangsung dalam hitungan detik. Tak ada yang mengetahui ke mana perginya. Kejadian itu membuat Panji Bayan Sangge menjadi bingung.
Ia bingung memikirkan nasib istrinya yang tiba-tiba menghilang. Demikian pula nasib bayi yang ditinggalkan. Tidak terpikir olehnya ke mana harus disusukan. Kemana pula ia harus mencari dan meminta bantuan. Ia menunggu, hingga tujuh hari, tetapi istrinya tak muncul juga. Akhirnya ia berkata dalam hati, "Ah, bila aku hanya berpangku tangan, tak mungkin istriku kembali. Dan anakku pasti akan mati. Lebih baik aku mencari upaya, supaya istriku dapat kubawa kembali."

Setelah berpikir lama, akhirnya Panji Bayan Sangge memutuskan untuk meninggalkan rumah dan mencari istrinya. Kepada Inaq Bangkol, ia berkata, "Ibu, sekarang ananda akan menyerahkan anakku ini kepada ibu. Ananda akan mencari upaya, agar istriku dapat kubawa kembali. Entah kemana ananda belum tahu dengan pasti. Mungkin berhasil, mungkin pula tidak. Ananda pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa. Tetapi bila kelak anak ini dewasa, sedangkan ananda tak kembali, beritahukanlah siapa orang tuanya yang sebenarnya. Oleh karena itu doa restu ibu sangat ananda harapkan."

Mendengar keinginan anak angkatnya itu, Inaq Bangkol sangat terkejut dan bersedih hati. Ia sayang kepada anaknya, " terlebih-lebih cucu angkatnya yang masih bayi itu. Namun, untuk menghalangi  maksud Panji Bayan Sangge. Dengan perasaan berat, ia melepaskannya sambil memanjatkan doa ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa semoga anaknya tetap dalam lindungan dan maksud perjalanannya dapat tercapai.

Setelah ditinggalkan, Inaq Bangkol merasa sedih. Selain itu, ia pun bingung tak tahu harus berbuat apa untuk menyusui cucunya. Ketika Inaq Bangkol sedang kebingungan, tiba-tiba ia mendengar suatu suara;
"Hai, Inaq Bangkol, bila kamu ingin melihat cucumu itu selamat dan dapat menyusu pada dirimu sendiri, aku akan memberi petunjuk yang harus kau patuhi. Ambil dan gosokkan sekujur tubuhmu dengan daun ini. Sesudah itu peras dan minumlah airnya."

Mendengar suara itu Inaq Bangkol segera mengambil daun yang tiba-tiba jatuh di hadapannya dan melaksanakan petunjuk dari suara gaib yang di dengarnya. Dan, air susu segera memancar dari kedua payudaranya. Akhirnya, sang cucu sudah dapat minum air susu kembali.

Sementara itu, Panji Bayan Sangge yang sedang dalam usaha mencari istrinya, telah lama berjalan tanpa suatu arah yang pasti sampai akhirnya ia berada di tengah-tengah hutan. Di hutan itu, Panji Bayan Sangge kemudian duduk bersila untuk bersemedi. Setelah beberapa lama bersemedi, tiba-tiba ia mendengar suara gaib;

"Hai, Panji Bayan Sangge, jika kamu hendak mencari istrimu, kamu harus mempersiapkan syaratnya. Kamu harus mendapatkan merang yang berasal dari ketan hitam. Merang ini harus kamu bakar di atas sebuah batu. Sewaktu asapnya mengepul ke udara, lompatilah merang itu. Maka kamu akan menjumpai istrimu. Tetapi jangan kau bingung bila berhadapan dengan banyak perempuan yang rupanya mirip dengan istrimu. Oleh karena itu, kamu keberikan seekor lalat emas yang ditaruh dalam kotak emas pula. Kalau kesulitan dalam menentukan yang mana istrimu, lepaskanlah lalat ini. Di mana lalat ini hinggap dan tidak berpindah lagi, itulah istrimu."

Setelah suara itu hilang, ia sadar kembali dan pikirannya dapat dipulihkan. Ketika itu, ia pun segera mencari dan menyiapkan merang ketan hitam yang diperlukan sebagai syarat untuk bertemu dengan istrinya. Dengan tidak membuang waktu lagi. Ia pun menaiki sebuah batu dan dibakarnyalah merang ketan hitam itu. Saat asap merang mulai mengepul ke udara, ia pun melompat. Dan, ketika, berada di tengah-tengah asap, seketika ia membumbung tinggi ke udara, menuju suatu tempat yang tidak dapat dijangkau oleh manusia. Bersamaan dengan habisnya asap merang itu, tibalah ia pada suatu tempat yang ajaib sekali. Di hadapannya berdiri sebuah istana yang megah, dikelilingi tembok yang kokoh. Tatkala ia berada di dekatnya, tiba-tiba pintu gerbang istana itu terbuka sendiri.

Panji Bayan Sangge kemudian memasuki bangunan istana, ia harus melewati halaman yang sangat luas. Saat berjalan di halaman itu, ia melihat seorang laki-laki paruh baya sedang duduk di Berugaq Sekapat. Laki-laki itu menegur;
"Hai orang muda, dari mana asalmu, Apa pula maksud kedatanganmu ke mari? Siapa yang membawamu, hingga berada di tempat ini.?"

Dengan hormatnya Panji Bayan Sangge menjawab, "maaf paman, kedatanganku kemari memang sengaja untuk menyusul istriku,"

Dengan terkejut, laki-laki itu bertanya," menyusul istrimu? Mana mungkin. Tak seorang pun dari anak-anakku pernah kawin. Jangankan kawin, keluar istana ini pun tak pernah. Berkatalah yang sebenarnya, jangan mengada-ngada. Siapa yang memberi petunjuk, siapa yang mengatakan padamu, dan dimana pula kamu pernah menjumpai anakku? Cobalah ceritakan kepadaku!"

Panji Bayan Sangge tetap menjawa dengan sikap yang pasti, "Dalam petunjuk sudah jelas, bahwa istriku berada di tempat ini. Tak mungkin berada di tempat lain. Saya yakin benar bahwa istriku berada di tempat ini."

Orang tua itu berkata, "Sekarang aku akan keluarkan semua anakku. Cobalah engkau tunjukkann nanti, yang manakah yang kau anggap sebagai istrimu. Tetapi harus diingat, apabila nanti kau tak dapat menunjukkan dengan tepat kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."

"Saya sanggup, " kata Panji Bayan Sangge.

Maka lelaki tua itu pun mengeluarkan anak-anaknya yang berjumlah sembilan orang. Mereka didudukkan berderet, berhadapan dengan Panji Bayan Sangge. Agak bingung juga Panji Bayan Sangge melihat mereka yang semuanya sebaya dan mempunyai wajah yang hampir sama pula. Namun akhirnya dia dapat menguasai diri. Ia ingat akan kotak serta lalat emas yang terdapat di dalam sakunya.Dengan diam-diam kotak itu dibukanya. Lalat emas itu pun keluar lalu terbang di antara semua wanita yang berderet itu dan akhirnya hinggap di dada seorang di antara mereka. Sesudah lalat itu diam dan tak berpindah lagi, maka Panji Bayan Sangge telah mengetahui yang mana istrinya dengan penuh kepastian. Panji Bayan Sangge menunjuk salah seorang diantara kesembilan bidadari itu.

Laki-laki itu kemudian bertanya, "Dari mana kau dapat mengetahui bahwa dia itu adalah istrimu?"

Panji Bayan Sangge pun memberikan keterangan tentang kegunaan lalat yang dibawanya. Lalu katanya, " lalat itu hinggap di dada istri saya, karena mencium bau amis yang keluar dari susunya, karena dia telah melahirkan seorang putra yang kini sedang diasuh oleh ibu saya."

"Di mana kau memperoleh lalat itu?" tanya orang tua itu selanjutnya.

"Lalat itu diberikan oleh sebuah suara gaib ketika saya sedang bersemedi dan mencari upaya untuk menemukan kembali istri saya ini."

"Nah bila demikian halnya baiklah. Aku percaya sekarang. Tak ada lagi yang aku ragukan. Pertemuan kalian ini rupanya sudah menjadi suratan takdir. Tuhan telah menjodohkan kalian. Sekarang apa sebab kamu ditinggal oleh istrimu? Pernahkah kalian dahulu berbicara waktu kalian berkeluarga?"

"Tak sekali jua pun,"jawab Panji Bayan Sangge.

Jawaban itu makin menambah keyakinan orang tua itu, bahwa anak muda yang ada di hadapannya itu memang benar menantunya. Lalu orang tua itu memberikan keterangan selanjutnya. "Begini anakku, istrimu selalu membisu, disebabkan karena istrimu mengetahui bahwa dia belum memenuhi persyaratan. Persyaratan itu belum pernah dilakukan. Sekarang di tempat ini akan kita penuhi persyaratan itu. Adapun syarat itu ialah apa yang sering disebut dengan nama Umbaq Lempot. Syarat inilah yang dahulu dibutuhkan oleh istrimu. Di sinilah sekarang kita buat untukmu. Dan, inilah yang harus dilakukan keturunanmu kelak. Cara membuatnya ialah dengan motif Ragi Saja (nama motif kain tenun sasak). Jadi nama lengkap syarat itu adalah Umbaq Lempot Ragi Saja. Nah, inilah kebutuhan utama untuk memenuhi hidup di dunia."

Beberapa hari setelah Umbaq Lempot Ragi Saja selesai dibuat. Panji Bayan Sangge dan istrinya pun turun ke bumi. Mereka tiba di tempat yang sama ketia Panji Bayan Sangge membakar merang ketan hitam. Dari tempat itu, kemudian mereka pulang ke rumah orang tua angkat Panji Bayan Sangge untuk berkumpul lagi dengan putera mereka yang sudah lama ditinggalkan.

Setelah Panji Bayan Sangge bersama dengan istrinya kembali di rumah, putranya yang diberi nama Mas Panji Pengendeng pun sudah agak besar. Karena ibunya adalah seorang bidadari, maka Mas Panji Pengendeng tidak hanya tampan, melainkan juga mempunyai kekuatan-kekuatan tertentu yang membuatnya sakti mandraguna.

Singkat cerita, beberapa tahun kemudian setelah Mas Panji Pengendeng menjadi dewasa, ia meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk membuat dan menempati desa baru, yaitu Desa Selong Semoyong. Sebelum putra tunggalnya itu pergi, kedua orang tuanya memberitahukan  syarat-syarat agar bisa hidup di dunia dengan aman dan sentosa, yaitu dengan membuat Umbaq Lempot. Selain itu ada lagi syarat lain yang harus dilaksanakan yaitu harus mendirikan Baruraq Sekepat. Pada Baruraq Sekepat inilah akan hadir para leluhur tatkala ada kegiatan-kegiatan atau upacara sedang dilakukan.

Setelah Mas Panji Pengendeng telah lama menetap di Desa Selong Semoyong dan telah beranak pinak, terjadilah peperangan di Kerajaan Klungkung di Pulau Bali. Sebelumnya Raja Klungkung pernah mendapat berita bahwa di bumi Selaparang terdapat seorang ksatria perkasa. Yang dimaksud tidak lain adalah Mas Panji Pengendeng sendiri. Maka dibuatlah surat oleh Raja Klungkung, meminta Mas Panji Pengendeng bersedia membantunya menghadapi musuh.

Ketika undangan dibaca oleh Mas Panji Pengendeng, ia merasa malu jika tidak memenuhi undangan Raja Klungkung itu. Akhirnya undangan itu diterima dengan baik dan disanggupi bahwa ia akan pergi dan membantu Raja Klungkung. Keberangkatan ke Kerajaan Klungkung itu tidak hanya membawa pasukan tentara atau laskar biasa, tetapi disertai juga oleh bala samar sebanyak empat puluh empat.

Setelah tiba di Klungkung dan disambut langsung oleh Raja, maka tanpa membuang waktu lagi ia minta ditunjukkan lokasi peperangan dan langsung maju berperang. Di tengah peperangan yang sedang berkecamuk nasib malang menimpa Mas Panji Pengendeng yang terkenal sakti mandraguna serta sukar dicari tandingannya itu. Ia terjatuh akibat kakinya tersandung oleh dodotnya sendiri yang bermotif Benang Dua Ragi Poleng (nama motif kain tenun sasak). Karena malu ia kemudian memerintahkan bala samarnya untuk menggotongnya keluar dari medan perang dan langsung kembali ke Lombok tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada Raja Klungkung.

Namun, saat sampai di tanah Lombok, ia tidak pulang ke Selong Semoyong, tetapi menuju Gawah Toaq. Setelah tiga hari berada di Gawah Toaq, ia pun memerintahkan bala samarnya agar pergi ke Selong Semoyong untuk memberitahukan keluarganya. Setelah berita itu tiba di Selong Semoyong. Keluarganya sangat terkejut dan panik. Mereka lalu menyiapkan semua kebutuhan, dan segera berangkat menuju Gawah Toaq. Saat seluruh keluarga telah berada di Gawah Toaq, mereka meminta agar Mas Panji Pengendeng bersedia dibawa pulang ke Selong Semoyong. Dan, kemauan keluarga ini dipenuhi Mas Panji Pengendeng. Mereka pun berjalan beriringan meninggalkan Gawah Toaq menuju Selong Semoyong.

Tatkala rombongan tiba di daerah Embung Puntiq, kondisi Mas Panji Pengendeng kelihatan makin parah. Mas Panji Pengendeng berkata;
" Sebaiknya kita beristirahat di sini. Aku sudah terlalu payah dan mungkin tak dapat sampai ke Selong Semoyong. Oleh karena itu mendekatlah kemari semua anak-anakku dan yang lainnya. Dengarkan baik-baik. Seandainya nanti aku meninggal dunia di tempat ini, kuminta janganlah jenazahku dimakamkan atau dibakar. Agar kelak bila ada anak cucuku ingin menziarahiku, mereka terbebas dari perasaan enggan. Biarlah agar semua orang dapat berkunjung ke tempat ini. Bila mereka datang menziarahiku, hendaklah mereka berkeliling sekurang-kurangnya satu kali. Boleh juga dilakukan tiga, lima, tujuh ataupun sembilan kali. Maksudnya supaya anak cucuku yang beragama Islam kelak dapat meniatkan diri belajar tawaf di Mekkah. Juga aku pesankan pada kalian agar mengunjungi sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun. Yaitu menjelang musim penghujan, ketika bibit padi sudah mulai disiapkan. Dan kedua, sewaktu menanam padi telah selesai. Melalui tempat inilah kalian memohon kepada Yang Maha Kuasa agar selalu diberikan rahmat-NYA. Dan, janganlah membawa alat-alat pecah belah. Tempat ini adalah hutan, kalau kalian terjatuh akan mengalami kerugian. Cukuplah dengan membawa takilan saja. Lauk-pauknya janganlah mewah. Yang penting kalian tetap datang ketempat ini pada waktu yang telah kusebutkan tadi. Satu hal lagi yang terlarang bagimu kemari adalah memakai kain sebangsa Ragi Poleng, karena penderitaanku ini akibat tersandung dodot Benag Dua Ragi Poleng dalam peperangan di Klungkung."

Setelah mengucapkan wasiat itu, Mas Panji Pengendeng meminta disiapkan tempat tidur. Ia ingin beristirahat karena merasa lukanya bertambah parah. Setelah tenda dan tempat tidurnya siap. Mas Panji Pengendeng dipapah dan dibaringkan di situ. Beberapa saat kemudian, para penggiring mengira bahwa Mas Panji Pengendeng sedang tidur dengan pulasnya. Mereka tidak menyadari bahwa junjungannya itu telah tiada. Mas Panji Pengendeng telah meninggalkan dunia yang fana ini dan segera menghadap Tuhan.

Pagi harinya, setelah tahu bahwa Mas Panji Pengendeng telah wafat, seluruh rombongan menjadi panik. Mereka tidak tahu apa yang harus di lakukan terhadap jenazah Mas Panji Pengendeng. Akan di bawa kembali ke Selong Semoyong tak mungkin, karena wasiat sudah digariskan lain. Sampai siang mereka bingung tak tentu apa yang harus dilakukannya. Tetapi tatkala akan menjenguk jenazah, ternyata jenazah itu tidak ada di tempatnya hilang entah ke mana, yang tinggal hanyalah tempat tidurnya saja. Kain penutup jenazah juga tidak ada lagi. Peristiwa ini cocok benar dengan wasiat yang telah diberikan, jenazahnya jangan dikuburkan atau dibakar. Rupanya peristiwa inilah yang dimaksudkan.

Maka oleh masyarakat Selong Semoyong pada tempat di mana Mas Panji Pengendeng meninggal dunia dan akhirnya menghilang dibuat sebuah makam. Dan, makam itu hingga saat ini terkenal dengan nama Makam Embung Puntiq.

 Sumber: 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011)
Read More

Ceritak Rakyat Propinsi Bali "I Teruna Tua"

05.51 1
Ceritak Rakyat Propinsi Bali "I Teruna Tua"
Di sebuah desa ada seorang bujangan yang sudah lanjut usia alias bujang lapuk yang bernama I Teruna Tua. Orang ini kira-kira berumur lebih dari lima puluh tahun. Sampai umur setua itu ia masih melajang, karena ia hanya mau mengambil istri apabila ada perempuan yang hari lahirnya sama dengan dirinya. 

Setelah menunggu bertahun-tahun, pada suatu hari yang bertepatan dengan hari ulang tahunnya, di desanya ada seorang bayi perempuan lahir. Tiga hari kemudian, saat si bayi telah lepas tali pusatnya. I Teruna Tua segera membuat tongkat dari tongkol jagung. Setelah tongkat jadi, ia langsung menuju ke rumah orang tua si bayi. 

Sesampai di rumah si bayi, I Teruna Tua disambut oleh ayah si bayi;
"Oh, Kakak datang," Ayah bayi itu memanggil Kakak, Karena I Teruna Tua lebih tua darinya. 

"Kata orang, istrimu baru saja melahirkan tiga hari yang lalu. Laki-laki atau perempuan?" Tanya I Teruna tua.

"Oh, perempuan."

"Apakah sehat?"

"Ya, sehat keadaannya."

"Kapan melakukan upacara tanggal tali pusat?"

"Hari ini."

"Baiklah. Sekarang begini saja, karena kebetulan hari ini engkau akan melakukan upacara, saya akan menitipkan tongkat di sini."

"Ya. Silakan taruh di bawah kolong bale ini!"

I Teruna Tua lantas menaruh tongkat di kolong bale dan kemudian berkata, "Tongkat ini jangan diberikan jika ada orang yang memintanya."

"Tidak," jawab orang tua bayi itu.

Setelah berselang beberapa bulan lamanya, I Teruna Tua mendatangi lagi rumah si bayi.

"Kak, mengapa sudah lama tak pernah kemari? tanya orang si Bayi.

Tanpa menghiraukan pertanyaan tuan rumah. I Teruna Tua malah balik bertanya," Sekarang di mana tongkatku? Kenapa tak kelihatan?"

Saat itu di bawah bale tempat dahulu tongkat I Teruna Tua diletakkan, ada banyak sekali rayap yang sedang memakan tongkat. Oleh karena tongkat sudah hampir habis dimakan rayap, maka I Teruna Tua berkata pada si pemilik rumah yang bernama Pan Kayan: "Sekarang begini saja Pan Kayan, karena tongkatku sudah habis dimakan rayap, maka rayap itu menjadi milikku, dan akan kutitipkan lagi di sini."

Beberapa bulan kemudian I Teruna Tua kembali lagi ke rumah Pan Kayan untuk melihat rayap-rayap miliknya. Saat tiba di rumah Pan Kayan, ia melihat rumah rayapnya sedang di rusak oleh ayam milik Pan Kayan. I Teruna Tua bergegas menemui Pan Kayan dan segera bertanya: "Aduh, ini mengapa dihabiskan rayapku oleh ayammu?"

"Aduh saya lupa mengusirnya?" jawab Pan Kayan.

"Rayapku habis dimakan oleh ayamm, sekarang ayammu yang kuminta. Tetapi, aku akan tetap menitipkannya di sini," kata I Teruna Tua.

Oleh karena ayam yang sekarang menjadi milik I Teruna Tua adalah betina, maka lama-kelamaan ayam itu bertelur dan menetas menjadi beberapa ekor anak ayam. Pada saat I Teruna Tua berkunjung lagi ke rumah Pan Kayan, ayam-ayamnya sedang berkumpul mencari makan di halaman samping rumah. Pada waktu itu, tiba-tiba anjing milik Pan Kayan datang menyergap. Melihat kedatangan anjing itu, induk ayam menjadi marah dan langsung menyerang. Namun karena ukurannya jauh lebih kecil, maka sang induk ayam itu pun akhirnya mati diterkam anjing.

Dan, sama seperti tongkat, rayap dan ayam, anjing milik Pan Kayan itu pun akhirnya menjadi milik I Teruna Tua.

Anjing itu dititipkan lagi pada Pan Kayan. Namun tidak berapa lama kemudian, anjing milik I Teruna Tua mulai berulah lagi. Ia mengejar dan hendak menerkam anak kerbau yang baru lahir milik Pan Kayan. Melihat hal itu induk kerbau menjadi marah dan langsung menanduk si Anjing hingga mati.

Beberapa bulan kemudian, I Teruna Tua datang lagi untuk melihat keadaan anjingnya. Setelah bertemu dengan Pan Kayan, I Teruna Tua diberi penjelasan tentang anjingnya yang telah mati ditanduk oleh kerbau milik Pan Kayan. Mendengar penjelasan itu, I Teruna Tua berkata: "Sekarang induk kerbau itu pun akan kuambil sebagai ganti anjingku. Namun, karena saya kasihan melihat anak kerbau itu yang masih kecil, maka saya meminjamkan induknya kepadamu.

Suatu hari saat Pan Kayan selesai memandikan kerbau milik I Teruna Tua, kerbau itu kemudian diikatnya di sebuah pohon mangga yang besar dan sangat lebat buahnya. Namun, nasib naas menimpa si kerbau. Tidak berapa lama setelah si kerbau ditambatkan. Sebuah cabang pohon mangga tiba-tiba patah dan menimpa leher si Kerbau hingga mati. Pada waktu itu kebetulan sekali. I Teruna Tua melihatnya, "Wah kenapa ini, badan kerbauku terkujur ditimpa pohon mangga?"

"Wah sial, Patah cabang mangga yang besar ini karena terlalu lebat buahnya," jawab Pan Kayan. "Wah kalau begitu pohon mangga akan kuambil sebagai ganti kerbauku ," kata I Teruna Tua.

"Ya. Apa boleh buat. Ambillah," demikian kata Pan Kayan.

Selang beberapa tahun kemudian, anak Pan Kayan sudah tumbuh dewasa. Pada saat itu, secara kebetulan buah mangga milik I Teruna Tua sedang berbuah. Namun, I Teruna Tua belum juga berkunjung kesana. Ia hanya mengintai sampai buah mangganya tinggal dua buah, anak perempuan Pan Kayan itu mengambil dan mengupasnya. Belum selesai mengupas, tiba-tiba I Teruna Tua datang dan berkata: "Mengapa sudah habis manggaku?"

"Ini masih dua buah," jawab anak Pan Kayan yang bernama Wayan.

"Siapa yang mengupas?"

"Saya sendiri yang memungut dan mengupasnya," jawab Wayan.

I Teruna Tua langsung mendatangi Pan Kayan dan berkata: "Anakmu telah menghabiskan manggaku. Oleh karena itu, dia akan kuambil sebagai pengganti manggaku."

"Apa yang akan aku perbuat sekarang?" tanya Pan Kayan.

"Terserahlah, sebab aku melihat sendiri anakmu yang mengupas manggaku."

"Jika demikian baiklah," jawab Pan Kayan.

Singkat cerita, anak itu tidak dititipkan kepada Pan Kayan, melainkan diambil dan dikawini sendiri I Teruna Tua. Beberapa bulan kemudian, istrinya hamil dan akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan.

Suatu hari, saat akan menumbuk padi, isterinya berkata," Pak, tolong bawakan anak kita."

"Jangan panggil Bapak, sebaiknya panggil kakak saja!" kata suaminya.

"Ya Kak. Tolong kakak jaga anak ini, saya akan menumbuk padi," sahut istrinya.

"Baiklah!"

Saat ditinggal oleh istrinya itu, anaknya selalu menangis. Untuk menghentikan tangisan anaknya. I Teruna Tua kemudian menyanyikan lagu tentang asal-usul si Anak itu.
"Diam anakku, 
Ibumu asal mulanya adalah sebuah tongkat. 
Setelah tongkat menjadi rayap
Setelah rayap menjadi ayam 
Setelah ayam menjadi anjing 
Setelah anjing menjadi kerbau
Setelah kerbau menjadi mangga
Setelah mangga baru menjadi ibumu sendiri." 

Isterinya yang mendengar nyanyian itu menjadi marah serta melemparkan alunya. Kemudian ia mendatangi I Teruna Tua dan berkata: "Peliharalah anakmu itu. Aku ini orang hina yang berasal dari tongkat. "Setelah itu isterinya pergi meninggalkan I Teruna Tua menuju ke rumah orang tuanya.

Setelah isterinya pergi. I Teruna Tua segera menyusulnya. Sampai di rumah mertuanya, I Teruna Tua berkata pada isterinya: "Kasihanilah anakmu. Mari kita kita pulang!"

"Aku tak akan ke sana dan menjadi pelayan orang tua bangka sepertimu. Walaupun dijemput dengan juli emas*) aku tak mau kembali," demikian kata isterinya.

Demikianlah, walaupun I Teruna Tua terus membujukj, namun isterinya tetap tidak mau pulang. Akhirnya karena putus asa, I Teruna Tua lalu memberikan anaknya pada mertuanya untuk dipelihara. Kemudian ia kembali pulang ke rumahnya.

Setelah sekian lama peristiwa itu berlalu. Suatu hari mertuanya akan melakukan upacara ngrasakin**)  di bawah pohon mangga yang dahulu menjadi milik I Teruna Tua. Mendengar mertuanya akan mengadakan upacara. I Teruna Tua yang masih kesal karena ditinggalkan isterinya berniat akan mempermainkan mertuanya. I Teruna Tua segera menuju ke rumah mertuanya dan memanjat pohon mangga itu.

 Tidak berapa lama kemudian mertuanya pun datang dan langsung membakar dupa dan mempersiapkan tepung tawar ***) di bawah pohon mangga tempat I Teruna Tua bersembunyi. Setelah itu Pan Kayan pun berkata:
"Dewa Ratu Jero Sedahan Abian. Hamba sekarang menghaturkan tepung tawar majagau."

"Cek...cek...cek...cek...cek," sahut menantunya dari atas seperti suara cicak.

"Hamba menghaturkan asap kemenyan majagau dan babi guling supaya Jero Sedahan Abian sudi menikmati baktiku ini," kata Pan Kayan.

"Cek...cek ... cek...cek... cek, jika tak disediakan juga satu paha babi guling untuk menantumu, tak akan kuterima baktimu!" ujar I Teruna Tua dari atas pohon.

"Baiklah, Jero Sedahan Abian, tetapi bagaimana caranya saya memberikan paha babi guling pada menantu saya?"

"Suruh saja supaya anakmu membawakannya ke rumah suaminya," demikian kata I Teruna Tua.

Singkat cerita, Esoknya, Istri I Teruna Tua lalu disuruh oleh ayahnya ke rumah suaminya untuk menghantarkan paha babi guling. Setelah berada di sana, dengan segala bujuk rayunya, akhirnya I Wayan bersedia berkumpul dan hidup serumah lagi dengan I Teruna Tua. Begitulah suami isteri itu hidup rukun kembali hingga akhir hayat.

*) Juli mas adalah semacam kursi yang pada zaman dahulu dipakai untuk mengusung raja. Dewasa ini Joli semacam itu di Bali masih berfungsi untuk mengusung orang-orang yang melakukan upacara potong gigi. 

**) Ngrasakin adalah nama upacara yang ditujukan kepada dewa pertanian atau makhluk halus penghuni halaman rumah. Salah satu syarat dalam upacara Ngrasakin ini adalah adanya babi guling untuk disuguhkan pada dewa

***) Tepung tawar adalah himpunan dari beberapa bahan (daun intaran, beras, kelapa diparut, kunir, nasi dan lain-lainnya) yang dipakai dalam upacara pembukaan


Sumber: 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Pendek 'Ziarah Lebaran'

18.35 0
Cerita Pendek 'Ziarah Lebaran'
PADA Lebaran pagi itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, mereka makan hidangan khas yang dimasak Eyang Putri. Opor Ayam, sambal goreng ati, dendeng ragi, dan lontong, beserta bubuk kedelai. Mereka makan dengan lahap karena masakan Eyang memang selalu enak. Yusuf selalu senang setiap kali dia datang menginap di rumah mertua perempuannya itu. Selain dia senang dapat melepas rindunya kepada Eko, anak tunggalnya., dia juga senang senang merasa ikut dimanja dengan berbagai hidangan dan penganan oleh mertuanya. Kenapa tidak, desah Yusuf. Sejak Siti, istrinya, dan jauh sebelumnya mertua laki-lakinya meninggal, apalah kesibukan dan perhatian ibu tua itu selain tertumpu kepada cucu tunggal dan menantu yang menduda itu. 

"Eko mau paha sepotong lagi? Dan kau Sup, sambel goreng dan dendeng ragi lagi?"

"Tentu, Yang, pahanya satu lagi. Eko kan sukanya paha."

Yusuf melihat anaknya menyergap paha ayam yang ditawarkan eyangnya. Karena sergapan itu, kuah opor muncrat kesana kemari. Kalau Siti masih ada, pikirnya, pasti akan ditegurnya anaknya itu. Tetapi Eyang Putri...

"Sudah Bu. Sudah cukup saya. Semuanya seperti biasa enak. Nuwun, Bu."

"Lho, kok sudah, Sup. Tumben."

Sambil menggelengkan kepalanya Yusuf berpikir apakah betul dia menolak itu karena sudah kenyang, atau karena beban pikiran lain. Segera saja dia memutuskan pasti karena beban pikiran lain.

***

MULA-MULA, waktu keberaniannya sudah terkumpul dan dengus hawa hidungnya sudah terasa panas, begitu saja Yati, teman sejawatnya itu diciumnya. Waktu dilihatnya Yati tidak melawan dan hanya memejamkan matanya Yusuf menjadi lebih berani lagi. Diciumnya berkali-kali mulut dan pipi gadis itu. Naluri atau nafsu laki-laki yang sudah menduda tiga tahun itu, agaknya, sudah tidak dapat ditahan-tahan lagi. Dan sejak itu mereka semakin sering bertemu, berkencan melihat film, makan direstoran, bahkan sekali dua kali menginap di hotel. 

"Yat, kau suka anak kecil nggak?"

"Tergantung anaknya bagaimana dan anak siapa." 

"Wah"

Pelan-pelan, bertahap, Yusuf menyatakan cintanya kepada Yati. Diyakinkannya perempuan itu bahwa dia tidak mau hit and run dalam hubungan cinta mereka. Dia ingin mengawini Yati. Dia ingin Yati menjadi ibu Eko. Dan waktu Yati akhirnya menjawab: mau, mau,.... Yusuf memutuskan untuk mengakhiri masa dudanya dan menggendong kembali Eko ke rumahnya.

***

ACARA lebaran selalu sama. Sembahyang Ied di lapangan kompleks perumahan, sungkem bermaaf-maafan dengan Eyang Putri, makan pagi, ziarah ke makam ayah mertuanya dan makam Siti. Ziarah ke makam orangtuanya sendiri nyaris hanya sekali-kali dilakukan. Kenapa ya, pikirnya. Mungkin karena orangtuanya sudah lama meninggal, mungkin karena adik-adiknya (sembari mengumpatnya) yang selalu menziarahi dan mengurus makam-makam itu. Atau karena makam Siti, istrinya yang cantik berambut panjang sekali itu, lebih mengikatnya untuk menziarahi. Atau karena Eko yang diasuh ibu mertuanya? Melepas rindu kepada anak tunggal, yang hanya sempat dikunjungi setahun sekali lewat perjalanan kereta api yang melelahkan dan untel-untelan, bukankah juga sangat, sangat penting. 

"Wah, setiap tahun kok semakin banyak saja kere-kere berderet di kuburan," gumam ibu mertuanya. 

Di dalam hati Yusuf mengiyakan pernyataan itu. Kok di kota sekecil itu kere-kere bertambah, pikirnya. Mau dientaskan bagaimana itu, gumamnya. 

"Kok kere-kere yang di makam semuanya cacat, Yang?" 

Yusuf tersenyum bangga. Pikirnya, anaknya untuk usianya sangat tajam pengamatannya.

"Kalau tidak cacat tentu mereka bisa bekerja, tidak mengemis, Ko." 

Di makam Siti mereka mencabuti rumput-rumput yang di sana-sini tumbuh. Lantas mereka menabur bunga. Kemudian Eko mengambil alih upacara. 

"Karena Eko sudah biasa Al-Fatihah, Eko akan berdoa keras, Eyang Putri dan Bapak mengikuti." 

"Boleh, boleh, Ko." 

"Iyo, Le." 

Dan dengan lancar Eko, mungkin setengah pamer, mengucapkan Al-Fatihah diikuti Eyang Putri dan ayahnya. Sehabis itu Eko merangkul Eyang Putrinya dan Eyang Putrinya pun menciumi pipi cucunya. Sekali lagi Yusuf merasa bangga dan sadar juga bahwa anaknya memang sudah lebih besar daripada setahun yang lalu. Kemudian tanpa disangka Eko sambil menekuri makam ibunya berkata kepada makam ibunya.

"Ibu di sorga. Ini Eko, Bu. Eko sudah gede, Bu. Eko sekarang bisa jaga Eyang Putri di sini, Bu. Bapak jaga Eyang Putri dan Eko dari Jakarta, Bu. Oh, ya, Bapak bawa oleh-oleh mainan Nitendo. Baguus sekali, Bu..."

Yusuf bangkit dari jongkoknya. Rasanya tulang-tulangnya lebih ngilu. Dipandangnya anaknya yang masih jongkok dan masih juga terus dielus-elus kepalanya oleh neneknya yang nampak terisak-isak menangis. 

***

DALAM perjalanan pulang ke Jakarta, di kereta api yang penuh sesak orang-orang yang baru pulang dari mudik, Yusuf mendesah. Udara pengap, gerah, keringat di tubuhnya terasa lengket. Bau apak dan penguk lagi. Mungkin tahun depan, pada Lebaran lagi, dia akan lebih punya nyali, punya keberanian yang lebih mantap lagi untuk mengemukakan itu semua kepada ibu mertuanya, kepada Eko. Bahwa dia akan mengawini Yati, bahwa dia akan menggendong Eko ke Jakarta. Ya, tahun depan. Pasti, tekadnya. 

Waktu dia menatap jendela kereta, dia berharap dapat menatap senyum Yati sekilas-sekilas yang dia harap juga akan merangsang berahinya. Tetapi tidak. Yang terlihat sawah-sawah kebanjiran, jembatan-jembatan putus, dan jalan-jalan yang semerawut oleh bus dan mobil.

 Kompas, 20 Maret 1994

Sumber
Penulis : Umar Kayam
Buku Laki-laki yang Kawin Dengan Peri ( Cerita Pilihan "Kompas" 1995) 
Penerbit. PT. Kompas Media Nusantara, Juni 1995
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Banten "Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari"

19.19 0
Cerita Rakyat Propinsi Banten "Pangeran Pande Gelang dan Putri Cadasari"
Di tengah sebidang kebun manggis, seorang Putri yang cantik jelita duduk termenung. Sorot matanya kosong, bibirnya terkatup rapat menandakan dia sedang bermuram durja. Tidak jauh dari tempat sang Putri duduk, melintaslah seorang lelaki paruh baya dengan karung di pundaknya. Lelaki itu tertegun sesaat manakala melihat sang Putri. Wajah lelaki itu tampak penuh kekhawatiran. 

"Sampurasun," sapanya.

Sang Putri tak menyahut. Dia benar-benar larut dalam kesedihannya, sehingga tak menyadari kehadiran lelaki itu. 

"Sampurasun," Lelaki itu mengulang sapa. 

"Ra... rampes," Sang Putri terkejut. "Si...siapa?" 

"Maaf jika saya telah mengejutkan Tuan Putri," kata lelaki itu seraya menundukkan kepalanya. 

Sang Putri tidak segera menjawab. Dia memperhatikan dengan penuh seksama lelaki yang berdiri di hadapannya. Wajah lelaki itu tidaklah tampan, kulitnya pun legam. Namun Putri merasa yakin, lelaki itu adalah lelaki baik. Seumpama buah manggis; hitam dan pahit kulitnya, tapi putih dan manis buahnya. 

"Sedari tadi saya perhatikan. Tuan Putri tampak gundah gulana. Ada apa gerangan?" 

"Saya kira tak ada guna menceritakan masalah yang saya hadapi kepada orang lain." 

"Kalau begitu, maafkan saya telah mengganggu Tuan Putri. Saya berharap Tuan Putri berkenan melupakan pertanyaan saya tadi," ujar lelaki itu seraya hendak berlalu. 

"Tunggu, Kisanak. Jangan pergi dulu!" Sang Putri mencegah. 

Lelaki itu mengurungkan niatnya. Sejenak dia melirik sang Putri. 

"Maafkan saya," pinta sang Putri. "Bukan maksud saya menyinggung perasaan Kisanak, apalagi menganggap rendah." 

Beberapa saat sang Putri terdiam. Kemudian tiba-tiba saja matanya membasah. Sang Putri menangis. Lelaki itu duduk di dekat sang Putri. Hatinya diliputi keingintahuan yang besar tentang apa yang sebenarnya terjadi. 

"Siapa nama Kisanak?" tanya sang Putri. 

"Saya..., saya pembuat gelang, Pande Gelang. Orang-orang sering menyebut saya dengan Ki Pande. 

"Baiklah, Ki Pande. Saya akan bercerita, mudah-mudahan cerita saya akan menghilangkan rasa penasaran Ki Pande. Selama ini saya tidak pernah menceritakan masalah ini kepada orang lain karena saya merasa hanya akan sia-sia belaka. Tidak akan ada seorang pun yang bisa membantu saya," jelas sang Putri dengan mata berkaca-kaca. 

"Tapi mengapa Tuan Putri mau menceritakannya kepada saya?" 

"Saya hanya ingin menghilangkan penasaran Ki Pande." 

Ki Pande tidak berkata-kata lagi. Dia hanya menundukkan kepala dengan dipenuhi rasa iba. 

"Nama saya Putri Arum..." Sang Putri memulai ceritanya. Menurut Putri Arum, dirinnya sedang mendapat tekanan dari seorang pangeran bernama Pangeran Cunihin. Meskipun tampan, Pangeran Cunihin sangatlah bengis dan kejam. Selain itu, Pangeran Cunihin pun sangat berkuasa dan sakti mandraguna. Apapun yang di inginkannya, harus terpenuhi, semua titah tak bisa berbantah. 

"Saya sangat sedih, Ki, karena dia akan menjadikan saya sebagai istrinya," Putri Arum mengakhiri ceritanya. 

"Saya ikut bersedih,"Ki Pande tak kuasa menahan air mata. "Maafkan saya, karena tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk membantu Putri." 

"Saya mengerti, Ki. Tidak ada seorang pun yang bisa mengakhiri angkara Pangeran Cunihin," ujar Putri Arum lirih. "Tadinya saya mengira wangsit yang saya terima benar adanya." 

"Wangsit?" tanya Ki Pande. 

"Ya. Menurut wangsit, saya harus menenangkan diri di bukit manggis ini. Kelak katanya akan ada seorang pangeran yang baik hati, manis budi pekertinya, dan sakti mandraguna yang datang menolong saya. Namun penantian ini hampir sia-sia. Tiga hari lagi Pangeran Cunihin akan datang dan memaksa saya kawin dengannya. Barangkali ini sudah suratan takdir saya, Ki, sebab setelah sekian lama, dewa penolong yang hatinya seputih dan semanis buah manggis itu ternyata tak kunjung tiba," tutur Putri Arum mengiba. Mendengar hal tersebut, Ki Pande mengernyitkan dahi, seolah ada yang tengah dipikirkannya. 

"Oh, tadi Aki mengatakan bahwa tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membantu saya?" tanya Putri Arum, teringat kata-kata Ki Pande. 

"Benar," jawab Ki Pande. 

"Itu berarti, meskipunn sedikit ada yang bisa Aki lakukan untuk saya!" seru Putri Arum penuh harap. 

"Barangkali itu tidaklah berarti." kata Ki Pande. 

"Katakan saja, Ki," Putri Arum penasaran. 

"Saya hanya ingin menyumbang saran. Terima saja keinginan Pangeran Cunihin itu."

"Apa Aki sudah gila? Bagaimana saya mau dipersunting lelaki yang sangat saya benci?" sergah Putri Arum dengan wajah memerah. 

Ki Pande sangat terkejut dengan perubahan itu, tapi dia berusaha tetap tenang. "Maksud saya, terima saja keinginan dia tapi dengan syarat." 

"Dengan syarat?" tanya Putri Arum setengah bergumam.

 "Ya, dengan syarat yang sangat susah dipenuhi."

"Hal apa yang tidak bisa dilakukan Pangeran Cunihin? Dia sangat sakti mandraguna. Laut saja bisa dikeringkannya!"

"Yakinlah, Tuan Putri. Tidak semua orang akan jaya selamanya," Ki Pande berusaha meyakinkan Putri Arum.

"Kalau begitu, apa syarat yang Aki maksudkan?"

"Pangeran Cunihin  harus melubangi batu keramat supaya bisa dilalui manusia. Kemudian batu tersebut harus diletakkan di pesisir pantai. Semuanya harus dikerjakan tidak lebih dari tiga hari," Ki Pande menjelaskan.

"Bukankah syarat itu dengan mudah dilakukan oleh Pangeran Cunihin?"

"Tapi tidak semua orang mau melakukannya, sebab dengan melubangi batu keramat, setengah dari kemampuan orang tersebut akan hilang."

"Setelah itu?" tanya Putri Arum.

"Serahkan semuanya kepada saya!"

Mendengar seluruh penjelasan Ki Pande, akhirnya Putri Arum menyetujui. Ki Pande kemudian mengajak Putri Arum ke tempat tinggalnya, sambil membawa karung yang berisi alat-alat membuat gelang.

Perjalanan menuju tempat tinggal Ki Pande sangat melelahkan Putri Arum. Sudah hampir setengah hari perjalanan, mereka belum juga sampai. Putri Arum pun jatuh pingsan di atas sebuah batu cadas. Orang-orang kampung membantu Ki Pande membawa Putri Arum ke rumah salah seorang penduduk dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Salah seorang tetua kampung mengatakan bahwa Putri Arum bisa segera pulih jika minum air gunung yang memancar melalui batu cadas.

Beberapa orang kampung bergegas mencari sumber air batu cadas. Dan keajaiban pun terjadi, Putri Arum kembali sehat setelah meminum air yang berasal dari batu cadas itu. Penduduk kampung lalu memanggil Putri Arum dengan sebutan baru yaitu Putri Cadasari.

Sementara itu, Ki Pande tengah menyiapkan rencana baru. Dia membuat gelang yang sangat besar, yang bisa dilalui manusia. Menurut Ki Pande, gelang tersebut akan dipasang pada lingkaran lubang batu keramat yang dibuat Pangeran Cunihin. 

Waktu yang ditentukan Pangeran Cunihin pun tiba. Dia datang menemui Putri Cadasari dan menagih jawaban. Putri Cadasari pun mengajukan syarat kepada Pangeran Cunihin.

"Hahaha, itu syarat yang sangat gampang, Tuan Putri. Tapi apa maksud dari syarat itu?" tanya Pangeran Cunihin.

Putri Cadasari terkejut mendapat pertanyaan seperti itu. Tapi dia segera menyembunyikan keterkejutannya. "Saya hanya ingin agar bulan madu kita tidak terganggu, Pangeran. Duduk diatas batu sambil menikmati birunya laut, bukankah itu sangat menyenangkan, Pangeran?" Jelas Putri Cadasari.

"Wah, Tuan Putri memang sangat romantis!" puji Pangeran Cunihin pula.

Tak sampai tiga hari dan tanpa halangan yang berarti, Pangeran Cunihin berhasil menemukan batu keramat yang disyaratkan. Batu keramat itu kemudian dibawanya ke sebuah pesisir yang sangat indah. Ki Pande dan Putri Cadasari diam-diam mengikuti dari kejauhan. Di tempat yang terlindung mereka bersembunyi menyaksikan apa yang dilakukan Pangeran Cunihin.

Pangeran Cunihin tampak duduk bersila dihadapan batu keramat. Dengan konsentrasi penuh, Pangeran Cunihin menempelkan dua telapak tangannya ke batu keramat. Tiba-tiba tangan Pangeran Cunihin bergetar. Sesaat kemudian batu keramat itu pun retak dan berjatuhan. Sungguh ajaib, sebuah lubang yang sangat besar tercipta di tengah batu keramat itu.

"Hahaha, aku berhasil. Tuan Putri akan segera menjadi milikku!" Pangeran Cunihin mengangkat kedua tangannya seraya berlari mencari Putri Cadasari.

Kesempatan itu tak disia-siakan Ki Pande untuk memasang gelang besar pada batu keramat yang telah berlubang itu. Setelah itu, dia kembali hendak bersembunyi, tapi didengarnya sebuah bentakan keras.

"Heh tua bangka, sedang apa kau di sini?!

Ternyata Pangeran Cunihin telah berada kembali disitu, bersama Putri Cadasari.

"Oh, aku tahu. Rupanya kau sedang mengagumi mahakaryaku. Bukankah aku pernah mengatakan kepadamu bahwa kau tidak pantas menjadi pemenang. Kau hanya pantas menjadi pecundang! Hahaha!" Pangeran Cunihin tertawa puas. "Lihatlah, sang Putri telah menjadi milikku. Kau tidak bisa lagi memilikinya!"

Putri Cadasari terkejut heran mendengar omongan Pangeran Cunihin. Seolah telah mengenal Ki Pande sebelumnya. Namun, belum lagi keheranan itu terjawab, Pangeran Cunihin telah menarik tangan Putri Cadasari untuk melihat batu keramat yang telah berlubang itu.

"Tuan Putri, lihatlah! Keinginan Tuan Putri telah terwujud. Sebuah batu besar berlubang di pesisir pantai. Sungguh sebuah tempat yang indah dan romantis," kata Pangeran Cunihin. Putri Cadasari berusaha bersikap tenang dan mencoba menunjukkan kegembiraan, walau di dalam hatinya dia merasa sangat takut impian buruknya menjadi pendamping Pangeran Cunihin akan menjadi kenyataan.

"Apa karena terlalu gembira, saya seakan tidak bisa melihat bahwa batu ini telah berlubang?" kata Putri Cadasari.

"Hm, baiklah. Jika Tuan Putri tidak percaya, saya akan melewati batu ini untuk membuktikannya," jawab Pangeran Cunihin.

Tanpa pikir panjang, Pangeran Cunihin kemudian melewati lubang batu keramat itu. Tapi tiba-tiba Pangeran Cunihin merasakan tubuhnya sakit luar biasa. Dia berteriak-teriak sekuat tenaga. Suaranya memecah angkasa. Lalu seluruh kekuatannya pun menghilang. Dia terduduk lemah, tak kuasa berdiri. Perlahan, Pangeran Cunihin berubah menjadi seorang tua renta tanpa daya, seolah telah melewati lorong waktu. Sementara itu, Ki Pande pun berubah menjadi seorang pemuda tampan.

"Bagaimana semua ini bisa terjadi?" Putri Cadasari tidak mengerti menyaksikan keanehan-keanehan itu.

"Sebenarnya ini semua akibat perbuatan Pangeran Cunihin. Dulu kami berteman. Tapi setelah mendapat kesaktian dari guru, dia mencuri seluruh ilmu dan kesaktian saya, lalu menjadikan saya sebagai seorang yang sudah tua. Saya kemudian mencari kesaktian untuk mengembalikan keadaan saya. Ternyata hanya satu yang bisa mengembalikan keadaan itu, yaitu jika Pangeran Cunihin melewati gelang buatan saya," terang Ki Pande seraya menatap ke arah Pangeran Cunihin yang terkulai tak berdaya.

"Kini saya telah kembali seperti sedia kala. Ini semua karena jasa Tuan Putri. Untuk itu saya menghaturkan terima kasih," ujar Pangeran Pande Gelang.

"Ah, sayalah yang seharusnya berterima kasih, Pangeran. Ternyata wangsit yang saya terima itu memang benar."

Akhirnya, keduanya meninggalkan batu keramat berlubang itu. Beberapa waktu kemudian mereka pun menikah dan hidup berbahagia sampai akhir hayatnya.

Tempat mengambil batu keramat tersebut kemudian dikenal dengan Kampung Kramatwu, dan batu besar berlubang di pesisir pantai kini dikenal dengan nama Karang Bolong. Sedangkan tempat sang Putri melaksanakan wangsit di bukit manggis, kini orang mengenalnya dengan kampung Pasir Manggu. Manggis dalam bahasa Sunda berarti Manggu dan pasir berarti bukit. Sementara tempat Putri disembuhkan dari sakitnya sampai kini bernama Cadasari di daerah Pandeglang, tempat Pangeran Pande Gelang membuat gelang.

Sumber: 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Jawa Timur "Naga Baru Klinting"

00.42 0
Cerita Rakyat Propinsi Jawa Timur "Naga Baru Klinting"
Alkisah, hiduplah seorang bocah yang karena kesaktiannya dikutuk oleh seorang penyihir jahat. Akibatnya, bocah itu memiliki luka di sekujur tubuh dengan bau yang sangat tajam. Luka itu  tak pernah mau kering. Jika mulai kering, selalu saja muncul luka-luka baru, disebabkan memar. Akhirnya, tak ada seorang pun yang mau bersahabat dengannya. Jangankan berdekatan, bertegur sapa pun mereka enggan. Setiap berpapasan mereka pasti melengos. Tak ingin bersinggungan, karena takut tertular.

Bocah ini pun mulai berkelana dari satu tempat lain untuk menemukan seseorang yang mampu menyembuhkan penyakitnya. Hingga kemudian dalam mimpinya, ia bertemu seorang wanita yang baik hati. Kelak dialah yang sanggup melepaskan mantera jahat tersebut sehingga ia bisa pulih seperti semula.  Akhirnya, tak dinyana tak diduga, dia pun tiba di sebuah kampung yang kebanyakan orang-orangnya sangat sombong. Tak banyak orang miskin ditempat itu. Kalaupun ada, pasti akan diusir atau dibuat tak nyaman dengan berbagai cara. Kemunafikan orang-orang kampung ini mengusik nurani bocah kecil tadi, yang belakangan diketahui bernama Baru Klinting. Dalam sebuah pesta yang meriah, bocah tersebut berhasil menyelinap masuk. Namun apa mau dikata, ia pun harus rela diusir paksa karena ketahuan. 

Saat tengah diseret, ia berpesan agar sudi kiranya mereka memperhatikan orang-orang tak mampu, karena mereka juga manusia. Diperlakukan begitu, ia tak begitu ambil pusing. Namun amarahnya mulai memuncak, saat puluhan orang mulai mencibir sembari meludahi dirinya. "dasar anak setan, anak buruk rupa", begitu maki mereka. 

Tak terima dengan perlakuan itu, ia pun langsung menancapkan sebatang lidi yang kebetulan ada di sana. Lalu dengan wajah berang ia pun bersumpah, bahwa tak ada seorang pun yang sanggup mengangkat lidi ini. Tak percaya dengan omongan sang bocah, masing-masing orang mulai mencoba mencabut lidi tersebut. Namun, lidi itu tak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya orang-orang mulai takut dengan omongan si Bocah. "Jangan-jangan akan ada apa-apa?" pikir mereka. 

Benar saja, dalam beberapa hari, tak ada seorang pun yang sanggup melepas lidi tersebut. Hingga akhirnya, secara diam-diam ia kembali lagi ke tempat itu dan mencabutnya. Seorang warga yang kebetulan lewat melihat aksinya, langsung terperangah. Ia pun menceritakan kisah itu kepada orang-orang yang lain. Tak lama kemudian, tetesan air pun keluar dari lubang tadi. Makin lama makin banyak, hingga akhirnya menenggelamkan kampung tersebut dan membuatnya menjadi telaga. 

Konon tak banyak orang yang selamat, selain warga yang melihat kejadian dan ada seorang janda tua yang berbaik hati memberinya tumpangan. Janda ini pula yang merawatnya, hingga secara ajaib, penyakit tersebut berangsur-angsur hilang. Namun, penyihir jahat, tetap tak terima, hingga suatu ketika, Baru Klinting kembali di kutuk. Namun aneh, kali ini kutukan bukan berupa penyakit, tapi malah merubah tubuhnya menjadi ular yang sangat besar dengan kalung yang berdentang pada lehernya. 

Versi lain menyebutkan, ular ini sering keluar dari sarangnya tepat pukul 00.00 WIB. Setiap ia bergerak, dentingan kalung di lehernya selalu berbunyi; klentang-klenting. Akhirnya, bunyi ini pula yang membuatnya dikenal sebagai Naga Baru Klinting. Konon, nelayan yang sedang kesusahan karena tidak mendapat ikan, pasti akan beruntung jika Baru Klinting lewat tak jauh dari tempatnya. Itu yang membuat legenda kehadirannya telah menjadi semacam berkat yang paling ditunggu-tunggu. 

Sumber: 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Yogya, Asal Mula Kanjeng Kyai Plered

10.02 0
Dahulu kala, ada seorang tumenggung bernama Wilatikta. Sang Tumenggung mempunyai dua orang anak bernama Raden Sahid dan Rasa Wulan. Ketika kedua orang anaknya itu telah menginjak dewasa, Tumenggung Wilatikta memanggil mereka berdua. Kepada anak laki-lakinya, Tumenggung Wilatikta berkata, "Sahid, kau sekarang kau sudah dewasa, nak. Ayahmu telah tua. Kaulah yang akan menggantikan kedudukan ayahmu menjadi Tumenggung bila ayah sudah tidak mampu melaksanakannya.

Raden Sahid mendengarkan kata-kata ayahnya dengan cermat. Dia duduk bersila di hadapan ayahnya. Kepalanya menunduk menandakan hormat kepada ayahnya.

"Untuk itu, aku dan ibumu mengharapkan agar engkau segera beristri, Sahid. Katakanlah, gadis mana yang cocok dengan pilihanmu. Nanti akulah yang akan melamarkan untukmu."

Mendengar kata-kata ayahnya itu, merenunglah Raden Sahid. Sebenarnya dia belum memiliki rencana untuk beristri. Di dalam hati dia menolak suruhan ayahnya untuk beristri, tetapi akan menolaknya secara terus terang dia tidak memiliki keberanian. Khawatir akan membuat sedih hati ayah dan ibunya. Beberapa saat lamanya Raden Sahid diam saja, dalam kebimbangan.

"Mengapa engkau diam saja. Sahid?" tanya Tumenggung Wilatikta. "Apakah kau menolak keinginanku?"

"Ampun ayahanda," kata Raden Sahid dengan hormatnya. "Sama sekali saya tidak bermaksud menolak permintaan ayahanda."

"Tetapi mengapa engkau diam saja?" kata Tumenggung Wilatikta. "Mengapa engkau tidak segera menjawab?"

"Ampun Ayahanda," kata Raden Sahid. "Soal isteri, hamba tak dapat melaksanakannya dengan segera."

"Jadi engkau menolak perintah ayahmu!" Tumenggung Wilatikta membentak.

"Bukan begitu, ayahanda," kata Raden Sahid. "Sampai saat ini hamba masih dalam taraf menimbang-nimbang gadis mana yang cocok untuk menjadi menantu ayahanda."

"Baiklah kalau begitu," kata Tumenggung Wilatikta. "Pertimbangkanlah masak-masak. Dan hati-hatilah kau memilih calon jodohmu."

Sesudah itu Raden Sahid diperkenankan mundur dari hadapan Sang Tumenggung. Selanjutnya, kepada anak perempuannya, yaitu Rasa Wulan, Tumenggung Wilatikta juga menyuruh agar segera mempersiapkan diri untuk menerima lamaran orang lain. Rasa Wulan tanpa membantah menyanggupi suruhan ayahmya, lalu minta diri mundur dari hadapan ayahandanya.

Malam harinya, Raden Sahid gelisah. Sampai larut malam dia tak dapat tidur. Sedih hatinya, mengingat suruhan ayahnya untuk segera beristeri, padahal sama sekali belum punya niat untuk itu. "Aku harus pergi dari sini, untuk menghindari paksaan ayah," begitu pikir Raden Sahid. Dengan tekad demikian, maka pada waktu larut malam, ketika seisi Ketumenggungan sedang lelap beristirahat (tidur), diam-diam Raden Sahid keluar dari dalam kamarnya, lalu pergi.

Pagi harinya, Rasa Wulan mengetahui bahwa Raden Sahid tidak ada di kamarnya . Dia khawatir, jangan-jangan kakaknya itu minggat. Dengan harap-harap cemas Rasa Wulan mencari kakaknya kemana-mana. Setelah tidak berhasil menemukannya meski sudah mencarinya ke berbagai tempat, yakinlah Rasa Wulan, bahwa kakaknya telah meninggalkan rumah. Dia mengetahui alasannya mengapa sang kakak pergi, tidak lain ialah agar terhindar dari paksaan ayahnya untuk beristri.

"Mengapa dia tidak mengajak aku," kata Rasa Wulan dalam hati. Aku juga bermaksud pergi dari sini, supaya terhindar dari paksaan ayah untuk segera bersuami." Kemudian Rasa Wulan masuk ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian. Setelah itu ia pun pergi menyusul kakaknya. Malam harinya, barulah orang-orang seisi rumah Ketumenggungan mengetahui bahwa Raden Sahid dan Rasa Wulan pergi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Mendengar laporan bahwa kedua orang anaknya pergi, terkejutlah Tumenggung Wilatikta. Cepat-cepat ia menyebar bawahannya ke berbagai tempat, namun tidak berhasil menemukan Raden Sahid dan Rasa Wulan. Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan bertahun-tahun dilakukan pelacakan, tetapi usaha untuk menemukan kedua orang anak Tumenggung Wilatikta itu tidak menemukan hasil.

Bertahun-tahun Raden Sahid mengembara, mengalami pahit dan getirnya penderitaan, serta menghadapai berbagai cobaan, sehingga di kemudian hari ia dikenal sebagai seorang wali yang sangat mashur, bernama Kanjeng Sunan Kalijaga.

Adapun Rasa Wulan, di dalam pengembaraannya mencari Raden Sahid, setelah bertahun-tahun tidak berhasil menemukan kakaknya itu, akhirnya dia bertapa di tengah hutan Glagahwangi. Di hutan itu Rasa Wulan bertapa ngidang.*)

Di dalam hutan itu, ada sebuah danau bernama Sendhang Beji. Tepat di tepi danau itu tumbuhlah sebatang pohon yang besar dan rindang. Batang pohon itu condong dan menaungi permukaan danau. Pada salah satu cabang yang menjorok keatas permukaan air danau Sendhang Beji itu, ada orang yang sedang bertapa. Orang itu bernama Syekh Maulana Mahgribi. Pada cabang pohon besar itu, Syekh Maulana Mahgribi bertapa ngalong.**)

Pada suatu siang yang cerah, datanglah Rasa Wulan ke Sendhang Beji itu untuk mandi, karena memancarkan sinarnya yang sangat terik. Perlahan-lahan Rasa Wulan menghampiri Sendhang Beji yang airnya jernih dan segar. Sama sekali ia tidak tahu bahwa diatas permukaan air Sendhang Beji itu ada seorang laki-laki yang sedang bertapa. Karena mengira tidak ada orang lain kecuali dia sendiri di tempat itu, maka dengan tenang dan tanpa malu-malu Rasa Wulan membuka seluruh pakaian penutup tubuhnya. Dengan perlahan-lahan Rasa Wulan berjalan menghampiri danau. Dengan tenangnya dia mandi di Sendhang Beji itu, kesejukan air danau itu membuat kesegaran yang terasa sangat nyaman pada tubuhnya.

Sementara itu Syekh Maulana Mahgribi yang sedang bertapa tepat di atas air danau tempat Rasa Wulan mandi, memandang kemolekan tubuh Rasa Wulan dengan penuh pesona. Melihat kecantikan wajah dan tubuh Rasa Wulan yang sedang mandi tepat di bawahnya, bangkitlah birahi Syekh Maulana Mahribi. Meneteslah air mani Syekh Maulana Mahgribi jatuh tepat pada tempat Rasa Wulan Mandi.

Karena peristiwa itu, maka hamillah Rasa Wulan. Akhrinya Rasa Wulan tahu, bahwa ada orang laki-laki yang bergantungan pada cabang pohon di atas danau itu. Dan laki-laki itulah yang menyebabkan kehamilannya.
"Mengapa kau berbuat demikian?" Rasa Wulan memprotes, dengan menunjuk-nunjuk ke arah Syekh Maulana Mahgribi. "Mengapa engkau menghamiliku?"

Menerima dampratan demikian itu, Syekh Maulana Mahgribi diam saja, seakan-akan sama sekali tidak mendengar apa-apa.

"Kamulah yang menghamiliku," kata Rasa Wulan. "Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu."

"Mengapa kau menuduhku," tanya Syekh Maulana Mahgribi

"Lihat. Aku hamil ," kata Rasa Wulan. "Dan kamulah yang menghamili."

"Kamu yakin bahwa aku yang menyebabkan kamu hamil?" tanya Syekh Maulana Mahgribi.

"Ya, aku yakin," kata Rasa Wulan . "Aku yakin bahwa kamulah yang menyebabkan aku hamil."

"Mengapa?" tanya Syekh Maulana Mahgribi. "Mengapa aku yang kau tuduh menghamili kamu?"

"Di tempat ini tidak ada orang laki-laki lain kecuali kamu," kata Rasa Wulan. "Maka kamulah yang kutuduh menghamiliku."

Untuk menghindarkan diri dari tuduhan itu, maka Syekh Maulana Mahgribi lalu mencabut kemaluannya. Kemudian ia menyingkapkan sarungnya dan menunjukkan kepada Rasa Wulan bahwa dia tidak mempunyai kemaluan, berkatalah Syekh Maulana Mahgribi," lihatlah, aku bukan laki-laki, mana mungkin aku menghamilimu."

"Bagaimanapun, aku tetap menuduh bahwa kamulah yang menghamili diriku," kata Rasa Wulan. "Maka kamu harus bertanggung jawab terhadap kehidupan bayi yang kukandung ini."

"Aku harus bertanggung jawab?" tanya Syekh Maulana Mahgribi.

"Ya, kamu harus bertanggung jawab," kata Rasa Wulan. "Kamulah yang harus mengasuh dan memelihara anak ini kelak setelah lahir.

Syekh Maulana Mahgribi tidak dapat lagi mengelak. Setelah anak yang dikandung Rasa Wulan itu lahir, lalu diserahkan kepada Syekh Maulana Mahgribi. Anak itu diberi nama Kidangtelangkas. Keturunan Kidangtelangkas itu kelak secara turun-temurun menjadi Raja di tanah Jawa.

Namun, terjadi suatu keajaiban. Kemaluan Syekh Maulana Mahgribi yang dicabut itu berubah wujud menjadi sebilah mata tombak. Tombak yang terjadi dari kemaluan Syekh Maulana Mahgribi itu akhirnya menjadi "Sipat Kandel" (senjata andalan) raja-raja jawa. Tombak itu dinamakan Kanjeng Kyai Plered.

Secara turun-temurun tombak Kanjeng Kyai Plered itu diwariskan kepada raja-raja yang bertahta. Pada waktu Dhanang Sutawijaya berperang tanding melawan Arya Penangsang. Dhanang Sutawijaya dipersenjatai tombak Kyai Plered, dan dengan senjata andalan itu pula Sutawijaya berhasil membunuh Arya Penangsang. Selanjutnya Dhanang Sutawijawa menjadi Raja Mataram, dan Kanjeng Kyai Plered merupakan senjata pusaka kerajaan Mataram. Saat ini tombak Kanjeng Kyai Plered itu menjadi senjata pusaka di Keraton Yogyakarta.

*) "Ngidang" berasal dari kata "Kidang" yang berarti kijang. Jadi Ngidang berarti seperti kijang. Tapa Ngidang berarti bertapa seperti kijang, hidup bersama-sama kawanan kijang dan mengerjakan apa yang dikerjakan oleh kijang, termasak makan makanan yang biasa dimakan oleh kijang. 

**) Tapa Ngalong berarti bertapa seperti kalong (kelelawar), bergantungan pada cabang pohon.


 Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Jawa Tengah, Timun Mas

16.29 0
Cerita Rakyat Propinsi Jawa Tengah, Timun Mas
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum dikaruniai seorang anak pun. Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun. 

"Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan," kata Raksasa. 

"Terima kasih Raksasa," kata suami istri itu. 

"Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku ," sahut Raksasa. Suami istri sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju. 

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan. Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu "Timun Mas".

Tahun demi tahun berlalu. Timun mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang Raksasa datang kembali. Raksasa itu menagih janji untuk mengambil Timun Mas.

Petani itu mencoba tenang. "Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya," katanya. 

Petani itu segera menemui anaknya. "Anakku, ambillah ini," katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. "Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin," katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri. 

Suami istri sediah atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. 

Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu, ia mengejar Timun Mas ke hutan. Raksasa segera berlari mengejar Timun Mas. Raksasa semakin dekat. Timun Mas segera mengambil segenggam garam dari kantung kainnya. Lalu, garam itu ditaburkan ke arah Raksasa. Tiba-tiba sebuah laut yang luas pun terhampar. Raksasa terpaksa berenang dengan susah payah. 

Timun Mas berlari lagi. Tapi kemudian Raksasa hampir menyusulnya. Timun Mas kembali mengambil benda ajaib dari kantungnya. Ia mengambil segenggam cabai. Cabai itu dilemparnya ke arah Raksasa itu. Seketika pohon dengan ranting dan duri yang tajam memerangkap Raksasa. Raksasa itu berteriak kesakitan. Sementara itu Timun Mas berlari menyelamatkan diri. 

Tapi Raksasa sungguh kuat, ia lagi-lagi hampir menangkap Timun Mas. Maka Timun Mas pun mengeluarkan benda ajaib ketiga. Ia menebarkan biji-biji mentimun ajaib. Seketika tumbuhlah pohon mentimun yang sangat luas. Raksasa sangat letih dan kelaparan. Ia pun makan mentimun-mentimun yang sangat segar itu dengan lahap. Karena terlalu banyak makan, Raksasa tertidur. 

Timun Mas kembali melarikan diri. Ia berlari sekuat tenaga. Tapi lama-kelamaan tenaganya habis. Lebih celaka lagi karena Raksasa terbangun dari tidurnya. Raksasa lagi-lagi hampir menangkapnya. Timun Mas sangat ketakutan. Ia pun melemparkan senjatanya yang terakhir, segenggam terasi udang. Lagi-lagi keajaiban terjadi. Sebuah danau lumpur yang luas terhampar. Raksasa terjerambab ke dalamnya. Tangannya hampir menggapai Timun Mas. Tapi danau lumpur itu menariknya ke dasar. Raksasa panik. Ia tak bisa bernapas, lalu tenggelam. 

Timun Mas lega. Ia telah selamat. Timun Mas pun kembali ke rumah orang tuanya. Ayah dan Ibu Timun Mas senang sekali melihat Timun Mas selamat. Mereka menyambutnya. 
"Terima kasih Tuhan, Kau telah menyelamatkan anakku," kata mereka gembira. Sejak saat itu Timun Mas dapat hidup tenang bersama orang tuanya. Mereka dapat hidup bahagia tanpa ketakutan lagi.

 Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Cerita Pendek "Yang Tersisa"

21.36 0
cerita pendek yang tersisa
TOHIR mau kemana setiap sore ngeluyur melulu?" 

"Ah 'Mak biasa jalan-jalan sore, bosan di rumah.!" 

"Kamu selalu jawab semaumu begitu, sekali-kali jaga adik-adik di rumah! lihat si Malik, Minah, Tumin masih kecil-kecil, ajarin pekerjaan sekolahnya... Kamu kan kakaknya! Tohir! Balik sini!" teriak Mak Suminah sampai serak.

Tohir tidak peduli, ia susuri gang demi gang sambil kadang-kadang membetulkan model rambutnya yang mulai gondrong.

"Saya capai dan gerah selalu ngurusin orang lain, nggak pernah kesampaian mau bergaul dengan teman, nikmati penghasilan sendiri tanpa dibagi-bagikan sama adik-adik, 'Mak, dan saudara-saudara lainnya. Urus si Lik, nungguin di WC umum sampai enek...Urus seluruh dunia! saya nekat mau pelit dan tidak akan peduli pada siapa pun mulai hari ini!" jerit Tohir di dalam hatinya. 

  ***
BANGUN pagi hari Tohir langsung mandi ke ujung gang, tempat pemandian umum. Buru-buru ia berpakaian dan langsung meninggalkan rumah tanpa basa-basi. Hitungan hari kedua, hari kebebasan untuk dirinya. Bebas tugas dari beban keluarga. Bekerja di sebuah percetakan sebagai tukang sapu merangkap kebersihan segala macam, office boy kerennya, dijalaninya sudah hampir tiga tahun. Satu hari mendapat uang makan sejumlah Rp 1.500 dan gaji bulanan sebanyak Rp 45.000, merupakan kenikmatan tersendiri baginya. Karena sebelum ia mendapat pekerjaan tetap, sudah beberapa kali ia berpindah-pindah kerja, menjadi kondektur, calo muatan, juga tukang parkir liar di pojok Matraman. Dan terahir ia diajak kawannya melamar ke kawasan industri, langsung gol dan cocok.

"Hir' Tohir ada yang nyari di depan!"

Dengan segan Tohir mendatangi gardu satpan dan menemukan Malik adiknya.

"Mau apa kamu ke sini! Sana pulang aku lagi kerja nanti dipecat ngobrol-ngobrol nggak keruan begini, pergi pulang!" usir Tohir ketus.

"Bang... Mak cariian, kok pagi nggak pamit, nggak ninggalin duit lagi...? Jadi kita di rumah nggak ada yang dimasak..."

"Duit! Saya nggak ada duit, tongpes... seluruh dunia sudah tahu aku lagi bokek, sana pergi!"

"Jadi bilang apa sama 'Mak, saya takut pulang, 'Mak tadi nangis kesal katanya Abang sudah dua hari ini nggak ngomong di rumah...., jawab Malik agak gemetaran.

"Mau ketawa, nangis, mau pergi, makan, tidur, jalan-jalan sore, itu urusan saya sendiri! saya capai ngeladeni kalian semua, Lik kamu juga sudah besar bisa bantu kita semua. Jangan saya melulu yang mesti mikirin makan kalian, baju si Minah, pekerjaan rumah si Tumin, uang sekolah kalian. Bangkrut! Untuk saya sisa apa, kamu kerja dong! Mikirin pingin sekolah ini itu, duit dari mana, cari duit mulai hari ini, aku nggak akan bantu lagi! Ingat ya Lik, saya sudah hampir sepuluh tahun ngurusin kalian yang manja-manja ini! Ah... sebodo kamu bilang apa di rumah!"
Malik sendiri bengong kebingungan.

***
HARI berganti, bulan pun bertambah. Tahun silih berlalu. Tohir masih kerja rutin di percetakan. Ia sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak. Menengok Ibu dan adik-adiknya tidak pernah sekali pun disempatkannya. Mak pun makin tua, mulai sakit-sakitan, ketiga adiknya mulai kocar-kacir tak terurus. Malik telah lama berhenti sekolah dan sudah bekerja sebagai pembantu di sebuah kios kecil Slipi menjual barang kelontong, peralatan rumah tangga. 

Keluarga kecil milik mereka sudah tidak utuh lagi. Walaupun tekad, impian maupun amanat suami Mak Suminah untuk tetap bersama dalam suka maupun susah, ternyata tidak tercapai. 

Tersisa kini sebuah rumah petak kusam berisikan beberapa manusia yang rapuh kehilangan semangat. 
***

"HIR... cepat bawa ini ke gudang, sebentar lagi ada pemeriksaan, kamu mulai malas kerjanya, mau saya laporin ya!" bentak Mandor Komar. 

"Jangan gitu Bos, saya selalu kerja rapi..." 

"Rapih apa, datang sering kesiangan, Izinmu sudah hampir satu minggu kalau dihitung-hitung, kerja nggak benar! Cari kerja tempat lain kalau malas... Kita nggak terima orang-orang yang loyo di sini!

"Bukan begitu Bos... saya belakangan ini kurang tidur, mana istri sakit-sakitan, mesti urus dua anak yang masih kecil-kecil . Kami masih numpang sama Agus warteg pojok sana. Mesti sering nemanin dia main kartu, begadang, namanya orang nebeng..." 

"Brengsek kamu Hir! Kerja sudah nggak becus dan ngaco! Saya masih kasih kesempatan satu bulan ini, kalau masih tidak disiplin langsung saya serahkan laporan harianmu ke personalia lantai empat, ngerti!" 

Mandor Komar pergi dengan geram.
***

"LIK... Malik cari Tohir, 'Mak kangen, bagaimana keadaannya...," jerit pilu Mak Suminah.

"Mak.. Bang Tohir sehat walafiat, nggak usah dipikirin. Sekarang kan Malik dan adik-adik yang ngurus 'Mak."

"Sudah lama 'Mak nggak ketemu, mungkin dia sakit Lik." 

"Mak saya sudah bilang... nggak ada yang sakit, nggak ada yang susah. Malah sekarang yang kurang sehat itu 'Mak dan kita semua perhatiin... Biar saja kalau Bang Tohir nggak sempat, mungkin dia sibuk, bisa saja dia lembur setiap malam, atau dia kerja keras cari duit untuk kita semua... Saya kan sudah bisa urus adik-adik...," jawab Malik menyenangkan hati ibunya.

"Tapi kamu cari kabar... kali-kali dia sakit... 'Mak kasihan kalau mesti nyusahin orang lain, dia masih saudara kamu, bagaimana kalau ada apa-apa, kita tidak diberi kabar ... Aduh... Tohir, di mana kamu Nak...,"Mak Suminah pun menangis.

'Mak..., nggak usah pikirin, Bang Tohir. Besok-besok juga balik pulang... Bawa uang, ketemu 'Mak, beri oleh-oleh banyak untuk Minah dan Tumin. Semua yang dia lakukan selama ini untuk kebaikan kita bersama... jangan diingat-ingat, nanti dia malah nggak benar kerjanya, gelisah...," Malik berusaha membujuk ibunya.

"Kenapa dia nggak pamit, marah sama 'Mak barangkali. Sudah hampir tiga tahun tidak ada kabarnya. Dia dari dulu ngurusi kita semua. Mungkin Mak salah, maksa dia berhenti sekolah untuk cari uang... Hir....," Mak merintih sedih.

"Kalau 'Mak begini terus saya dan adik-adik sedih, kita semua jadi sakit. Biarkan Bang Tohir menentukan apa maunya. Dia bilang mau hidup sendiri, nikmati hasil keringatnya, mungkin dia sudah berkeluarga, tidak peduli kita lagi... dia capai urus saya, Minah... Min..., biarin dia pergi, saya nggak mau bebani dia lagi, saya juga laki-laki bisa bantu 'Mak dan dan adik, biarkan Bang Tohir puasin dirinya, kita nggak perlu maksa untuk ingat rumah ini! Saya bisa 'Mak, saya anak 'Mak juga dan tidak akan meninggalkan 'Mak sampai kapan pun....," Malik mulai emosi.

Minah dan Tumin ikut duduk dekat ibunya yang terlentang beralas sehelai tikar, terisak bareng. Malik berdiri membenahi seadanya rongsokan nggak karuan pojok bilik mereka. Dia segan memperlihatkan air matanya yang sudah menetes.

Mak Suminah bingung mendengar keluhan Malik begitu bertubi-tubi. Kepalanya sakit dan jantungnya berdebar-debar.

"Maksud kamu apa Lik? Tohir ke mana? Ada apa sebenarnya kakakmu itu... Jangan bohong Lik..."

Perlahan-lahan Malik bersimpuh balik dekat ibunya, digenggam erat tangan ibunya, ditatapnya wajah tua tak karuan dan...

"Maaf... saya berbohong demi kebaikan kita semua, keluarga kecil ini. Bang Tohir sudah nggak mau ngurus kita semua. Dia mau bebas, dia bosan jadi orang miskin, dia punya pekerjaan dan ingin memilikinya sendiri... Tetapi nggak perlu rusuh, Bang Tohir pasti baik-baik saja. Biarlah begitu, dia sudah punya keluarga, tentu sekarang lebih mementingkan anak dan istrinya. Biarinlah! Kalau 'Mak sehat dan tabah kami semua senang."

"Tohir punya anak? Kapan Lik... kenapa nggak dibawa ke sini... Ada apa Lik.... Lik...," Mak Suminah bukannya kalem, malah makin nggak karuan, meraung-raung.

***

SUASANA rumah Malik makin memprihatinkan, Mak Suminah semakin parah sakitnya, dirawat seadanya. Minah juga mulai aneh, jarang bicara, melamun sepanjang hari. Tumin, apalagi malah menjadi berandalan di daerah mereka. Malik mulai panik, berusaha menghubungi Tohir.

Tetapi, selalu sia-sia, Tohir selalu menghindar dengan berbagai alasan. Hanya pesan lewat satpam, bahwa ia tidak punya uang. Malik mulai kalut, ia marah, karena kakaknya selalu curiga kedatangannya hanya untuk minta uang.

Malik mulai tidak konsentrasi dalam pekerjaannya lagi. Ia letih harus tampil tampak sebagai pahlawan di mata keluarga. Ia menjadi bimbang.

"Payah! Saya mulai nggak berguna di keluarga sendiri. Bos marah-marah, pikiran kalut begini, berantakan hidup ini, semua penuh perhitungan. Tohir main hitung-hitungan balas budi, mana si Min jadi preman, gila! Minah nggak waras bisanya bengong, Mak makin tua, ingatnya Tohir melulu! Tahun ke tahun tidak ada perubahan, saya kerja selama ini untuk keluarga tidak dianggap, saya ini apa!" keluh Malik blak-blakan dengan rekan kerjanya Sudin di sebuah warung.

Sudin hanya dapat diam, sambil pura-pura mengerti, mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bosan terlalu sering mendengar keluhan Malik.

"Lik... gini aja, daripada kamu ngomel-ngomel, mana duitmu pas-pasan ... Kerja dari pagi sampai malam, ngurus ibumu yang tua, urus adik-adik. Bagaimana kalau kamu juga cabut...! Pergi aja jauh, hidup sendiri, ngurus diri sendiri, kamu bisa puas beli apa saja. Sepertinya sekarang juga kamu harus ambil sikap... jangan kayak banci... mau ini itu takut!" nasihat santai dari mulut Sudin.

"Edan kamu!" teriak malik sambil menonjok muka Sudin. Orang-orang di warung lari kocar-kacir, menyelamatkan diri, karena perkelahian Malik dan Sudin tampak serius.

***

MEMANG segalanya berakhir tidak menggembirakan. Malik ditahan di sel polisi, karena tuntutan pemilik warung dan lagi pula Malik melukai Sudin sampai masuk rumah sakit, tampaknya parah dan mungkin tak tertolong lagi. 

Mak Suminah kehilangan seluruh anak-anaknya, yang semestinya merawat dan melindunginya. Keluarga Suminah berantakan, Tohir masih menjadi anak durhaka, Tumin lebih-lebih lagi bergabung preman kondang menguasai beberapa gang kumuh daerah rawan dan Minah satu-satunya anak perempuan pergi begitu saja bergabung dengan teman-teman seusianya dengan maksud mencari kerja, meninggalkan ibunya. 

***

MAK Suminah kini sendiri, ia bertahan hidup, walau dari belas kasihan para tetangga yang juga hampir serupa nasibnya. 

"Saya masih ingin hidup lama... Kalau Tuhan memberi kesempatan anak-anak untuk kembali.... entah apa saya bisa menerima mereka, entah... apa masih bisa mengenali mereka... entah... masih adakah kekuatan saya menjadi seorang ibu bagi empat orang anak....," pikir Mak Suminah terus sepanjang malam, sepanjang hari bertahun-tahun.

Jakarta, Desember 1993
 Kompas, 13 Februari 1994

Sumber
Penulis : Rayni N. Massardi
Buku Laki-laki yang Kawin Dengan Peri ( Cerita Pilihan "Kompas" 1995) 
Penerbit. PT. Kompas Media Nusantara, Juni 1995
Read More

Cerita Rakyat Propinsi Jawa Barat, Majalengka

08.30 0
Alkisah pada zaman dahulu kala, terdapat suatu negeri yang aman dan makmur, yang dikenal dengan nama Negeri Panyidagan. Ratu yang memerintah negeri itu sangat cantik, ia bernama Ratu Ayu Panyidagan, ada juga yang menyebut Ratu Ayu Rambut Kasih, dan ada juga yang menyebut Nyi Rambut Kasih saja.

Kecantikan Ratu Ayu Panyidagan ini tiada tandingannya, sehingga jika dilukiskan dengan kata-kata oleh penyair seperti, Badannya ramping bagai pohon pinang, rambutnya hitam dan panjang bagai mayang terurai, wajahnya berseri bagai bulan empat belas hari, alisnya bagai bentuk taji,hidungnya mancung bagai bunga melur, matanya bagai bintang timur, telinganya bagai kerang,bibirnya bagai delima merekah, giginya bagai dua barisan mutiara, dagunya bagai lebah bergantung, jarinya bagai duri landak, pepat kukunya bagai paha belalang, betisnya bagai perut padi, tumitnya bagai telur burung.

Menurut cerita dari mulut ke mulut Ratu mendapat pujian Ratu Ramping Kasih karena semua orang (rakyat negeri ini) tidak berani menatap wajah Ratu yang cantik dan berwibawa itu, mereka hanya berani menatap bila Ratu telah pergi membelakangi mereka. Mereka hanya dapat melihat badannya yang ramping dan rambutnya yang hitam bergelombang menutupi badannya.Rambut Ratu yang indah itu menimbulkan rasa kasih setiap orang yang melihatnya sehingga semua orang memuji kecantikannya yang sesuai dengan tingkah lakunya yang ramah tamah dan baik budi bahasanya. Oleh sebab itu memberi julukan Ratu Ayu Rambut Kasih.Selain itu, beliau mempunyai ilmu lahir dan ilmu batin, lagi pula beliau dapat meramalkan kejadian yang akan dialaminya.

Dalam pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan yang adil dan bijaksana itu,kesejahteraan rakyat terjamin, baik petani maupun pedagang merasa aman dan tenteram menggarap pekerjaannya karena tak pernah ada pencuri dan perampok yang mengganggu kekayaannya. Pemerintahan Ratu Ayu Panyidagan dibantu oleh para Patih yang terkenal dalam bidang kesejahteraan dan keamanan negara, yaitu Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur.

Pada suatu hari, Ratu Ayu Panyidagan mengadakan pertemuan di pendopo yang dihadiri oleh para menteri dan para punggawa negara, bahkan rakyat pun boleh mendengarkan asal tidak mengganggu suasana perundingan itu. Setelah semua undangan hadir, barulah Ratu Ayu Panyidagan keluar dari Kaputren menuju ruang pendopo kemudian duduk di hadapan para menteri dan punggawa negara. Semua yang hadir tak ada yang berbicara, semuanya diam, semuanya menundukkan kepalanya tanda hormat dan takut menghadapi Ratu Ayu Panyidagan yang berwibawa itu.

Setelah suasana di pendopo itu tertib, kemudian sang ratu bersabda;
"Para menteri dan para punggawa Negara Panyidagan yang hadir, sekarang sudah waktunya atas kehendak Sang Hyang, negara kita akan menghadapi cobaan. Menurut wangsit yang kami terima, kelak kerajaan ini akan berubah. Oleh sebab itu, hadirin harus waspada dan siap-siaga menghadapi malapetaka yang akan datang. Bila ada huru-hara di luar kerajaan, kalian harus cepat memusnahkannya, jangan sampai musuh dapat masuk dan mengganggu ketertiban negara. Lindungilah rakyat dari segala bencana yang mengancam negara kita. Tentramkanlah hati rakyat supaya mereka tenteram mengerjakan tugas masing-masing dengan baik. Para petani tentram bertani supaya hasilnya akan lebih baik, dan para pedagang tentram berdagang, jangan sampai dikejar-kejar hutang dan diganggu oleh pencuri atau perampok. Tapi, kalau ada utusan dari negara lain yang akan bersahabat dan berbuat demi kesejahteraan kita semua, terimalah dengan baik dan ramah tamah, Mengerti?"

"Yakseni, yakseni ..., hadirin serempak menjawab.

Sang Ratu bersabda lagi;
"Sebentar lagi kami akan menerima tamu. Menurut ramalanku, orang yang datang tegap dan cakap, tetapi orang itu akan menimbulkan bencana bagi diri kami, hanya saja kami belum tahu bencana apa yang akan terjadi. Akan tetapi, semua rakyat Panyidangan tidak akan mendapat bencana, hanya berubah keyakinan dan kepercayaan, sesudah kerajaan ini lepas dari tangan kami. Nah sekian nasehat kami. Sekarang kalian boleh pergi meninggalkan pertemuan ini dan silakan melanjutkan lagi pekerjaan masing-masing dengan aman dan tentram."

Terhadap semua nasehat Ratu, tak ada yang berani menentangnya, sebab mereka yakin bahwa semua ucapan Ratu pasti terjadi. Demikian juga, Ki Gedeng Cigobang, Ki Dedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur menerima tugas menjaga negara. Setelah siap dan mengumpulkan segara perkakas mereka pergi ke sebelah utara untuk menjaga perbatasan negara. Setibanya di sana, ketiga Senapati itu segera membuat pondok penjaga. Dari tempat ini mereka dapat melihat ke seluruh penjuru dengan jelas. Baik siang maupun malam mereka dapat melihat siapa yang lewat melalui jalan masuk ke negeri Panyidangan. Setiap orang yang akan masuk ke negeri ini, harus menyeberangi sungai terlebih dahulu, karena tempat itulah satu-satunya jalan masuk ke Negeri Panyidagan. Tempat penjagaan Ki Gedeng Cigobang itu, sekarang terkenal dengan nama Pajagan (berasal dari kata penjagaan).

Pada suatu waktu, ketika Ki Gedeng Cigobang, Ki Gedeng Mardapa, dan Ki Gedeng Kulur sedang asyik berbincang-bincang, tidak diketahui dari mana datangnya, tahu-tahu kelihatan seorang pemuda sedang menyeberangi suangai, akan masuk ke Negeri Panyidagan. Alangkah terkejutnya mereka melihat kejadian itu. Mereka sudah meramalkan akan terjadi apa-apa kalau pemuda itu tidak segera ditangkap.

Ketiga Senapati itu memanggil orang yang sedang menyeberangi sungai,"Hai orang yang sedang menyeberangi sungai, siapa namamu dan mengapa kamu berani menyeberangi sungai tanpa ijin kami?"

Orang yang sedang menyeberang itu tidak menghiraukan teriakan ketiga senapati itu, ia terus menyeberangi sampai ke tepi sungai itu dan pergi menjauhi ketiga Senapai itu. Ketiga Senapati itu sangat marah melihat kelakuan pemuda tersebut, kemudian mereka lari mengejar orang itu dengan maksud akan mengeroyok, karena orang itu sudah berani memasuki daerah penjagaan tanpa ijin mereka.

Orang yang menyeberangi sungai itu ialah utusan dari negeri Sinuhun Jati Cirebon, dengan maksud akan minta minta pertolongan Ratu Ayu Panyidangan. Ia akan minta buah maja yang ditanam oleh Ratu Ayu Panyidangan untuk mengobati rakyat Sinuhun Jati Cirebon, karena waktu itu di daerah Cirebon sedang terjangkit wabah penyakit yang harus diobati oleh Godongan buah maja yang banyak terdapat di daerah Panyidagan. Utusan itu bernama Pangeran Muhamad. Selain mendapat tugas mencari buah maja, dia juga mendapat tugas meng-Islamkan orang-orang yang masih menyembah berhala.

 Kita kembali menceritakan Pangeran Muhammad yang sedang dikejar oleh ketiga Senapati itu. Ia lari tunggang-langgang menuju ke arah barat. Ketiga Senapati itu berusaha menangkapnya dan akan menyerahkan kepada Ratunya. Tetapi Senapati itu kalah cepat, buronannya makin jauh. Akhirnya mereka menggunakan siasat baru dengan jalan mengepung Pangeran Muhamad dari beberapa penjuru. Seorang mengepung dari sebelah utara, yang seorang lagi dari sebelah barat, dan seorang lagi dari sebelah selatan. Akhirnya Pangeran Muhamad terkepung juga. Melihat keadaan dirinya sudah terkepung, akhirnya Pangeran Muhamad bersembunyi dalam suatu rumpun yang tidak jauh dari tempat itu. Di sana ia terpekur minta perlindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mengucapkan syahadat tiga kali dan merentakkan kakinya. Tanah yang diinjak itu pun terbelah dan membentuk suatu lubang, kemudian Pangeran Muhamad masuk ke dalam lubang itu. Setelah Pangeran Muhamad. Setelah Pangeran Muhamad berada di dalam itu, tanah yang retak itu tertutup kembali seperti sedia kala.

Ketiga Senapati itu sudah sampai ke rumpun tempat persembunyian Pangeran Muhamad, mereka bolak-balik kian-kemari mencarinya, setiap rumpun ditebas, setiap pohon ditebang tak ada satu rumput pun yang disisakannya, tetapi orang itu belum dijumpai, menghilang tanpa bekas. Ketiga Senapati sudah putus asa, semua daya upaya sudah dilaksanakan, tetapi masih juga belum berhasil. Akhirnya mereka duduk bertekuk lutut memikirkan apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melaporkannya kepada Sang Ratu. Setelah berunding, mereka pergi bersama-sama menuju ke dalam Panyidangan.

Setelah itu, Pangeran Muhamad yang ada di dalam tanah berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. mohon diberi kekuatan agar dapat keluar dari dalam tanah. Ia mencoba keluar dari dalam tanah dengan jalan mengorek dan melubanginya, lama-kelamaan ia dapat keluar melalui lubang di dalam tanah itu dan muncul kembali di suatu tempat, yang sekarang terkenal dengan nama Kampung Munjul (muncul).

Penglihatan Pangeran Muhamad masih tetap gelap, segelap di dalam tanah walaupun ia sudah berada di atas tanah. Pangeran Muhamad melanjutkan perjalanan menuju ketempat datangnya cahaya, makin lama makin mendekati cahaya yang menyinari jalan itu dan akhirnya cahaya itu menghilang. Setelah diselidiki, ternyata cahaya yang memancar itu keluar dari "supa lumat" yang ada pada pohon-pohon jati yang berjejer di sepanjang jalan itu. Kemudian Pangeran Muhamad memberi nama tempat ini jadi pamor yaitu kebun jati yang berpamor atau bercahaya.

Sementara itu, ketiga Senapati yang sedang mencari Pangeran Muhamad. Mereka sudah ada di kadaleman dan akan melaporkan kejadian yang baru saja mereka alami kepada Ratu Ayu Panyidagan. Mereka duduk pada bangku sambil membicarakan buronan yang hilang.

Ketika sedang asyik bercakap-cakap, Ratu Ayu Panyidagan datang ke pendopo menuju ke arah ketiga Senapati yang menundukkan kepala karena malu dan bingung mencari kata-kata yang tepat untuk melaporkan.

Kemudian Ratu Ayu Panyidagan bersabda," Hai para Senapati! Mengapa kalian tidak melaksanakan tugas menjaga negara, kalau-kalau ada orang yang masuk ke kerajaan tanpa ijin."

"Ya Tuanku, hamba datang dari perbatasan negara akan melaporkan bahwa kemarin ketika hamba bertiga  sedang menjaga perbatasan, tiba-tiba ada orang yang sedang menyeberangi sungai di dekat perbatasan. Hamba bertiga menegurnya, tetapi orang itu tidak mau menjawab, bahkan ia lari tunggang-langgang. Hamba bertiga mengepungnya, kemudian ia lari ke balik rumpun dan menghilang tanpa bekas. Semua rumpun telah hamba tebas sampai tak ada satupun rumpun pun yang tertinggal."

"Aku tak percaya terhadap berita itu. Sekarang kalian harus mencari orang itu sampai dapat, dan bawa kemari. Sebelum tertangkap, kalian tidak boleh kembali. Pergilah sekarang juga dan tangkap hidup-hidup."

Ketiga orang itu pergi meninggalkan pendopo untuk mencari buronan yang belum tertangkap itu. Mereka pergi lagi ketempat Pangeran Muhamad menghilang dan mengobrak-abrik tempat itu, tetapi mereka masih belum juga menjumpainya. Sebenarnya Pangeran Muhamad sudah tidak ada di tempat itu, ia sudah sampai ke daerah Panyidagan.


Sementara, ketiga senapati tersebut terus mencari, hutan dijelajahi, gua-gua dimasuki, akhirnya sampailah ia ketempat Pangeran Muhamad sedang sedang beristirahat: yaitu di kebun jati yang penuh dengan jamur yang menempel pada kayu jati dan mengeluarkan sinar di waktu malam. Mereka gembira karena dari jauh terlihat seseorang sedang berjalan menuju kearah Panyidagan. Ketiga senapati itu sudah siap siaga akan menangkapnya. Mereka berjalan sambil membungkukkan badannya supaya buronan itu tidak melarikan diri atau menghilang lagi. Setelah dekat, mereka serentak menangkapnya dan dibawa kebawa ke kaputren.

Baru saja sampai di halaman kaputren, Ratu Ayu Panyidagan sudah keluar dan bersabda," Lepaskan dan biarkan orang itu beristirahat dulu. Perlakukan orang itu seperti menerima tamu."

Ketiga Senapati itu tidak bisa membantah, mereka melepaskan Pangeran Muhammad dan disuruhnya ia beristirahat dan mandi dulu sebelum menghadap ratu. Ki Gedeng Mardapa dan Ki Gedeng Kulur menyediakan makanan dan minuman. Setelah itu Pangeran Muhammad disuruh menghadap ke kaputren. Ketika Pangeran Muhammad sedang berjalan menuju kaputren, Ratu Ayu Panyidagan memperhatikan dari jendela. Beliau terpesona melihat pemuda yang gagah dan cakap itu sehingga timbul rasa ingin dipersunting oleh pemuda itu.

Setelah Pangeran Muhammad berada di hadapannya, kemudian Ratu Ayu Panyidagan  bertanya, "Hai pemuda, kamu berasal dari daerah mana? Mengapa kamu berani masuk ke negara ini, dan apa maksudmu datang kemari?"

"Hamba ini berasal dari Cirebon. Hamba datang kesini diutus oleh Sunuhun Jati, mencari buah maja yang ada di daerah kerajaan Panyidagan untuk mengobati rakyat kerajaan Cirebon yang terkena wabah penyakit demam. Oleh sebab itu, mudah-mudahan Tuan hamba bersedia menolong rakyat kerajaan yang sedang menderita sakit demam itu, dan mengijinkan hamba membawa buah maja yang ada di daerah tuan hamba."

"Hanya itu permintaanmu?"

"Ya Tuanku, hanya itulah permohonan hamba ini!"

"Baiklah akan kami penuhi permintaanmu ini, bahkan semua kebun maja dan seluruh daerah Panyidagan akan menjadi milikmu, asal kamu memenuhi syarat ini."

"Ya Tuanku, apa yang menjadi syaratnya?"

"Syaratnya sangat mudah, coba dengarkan! Saya adalah seorang Ratu yang termasyur dan dihormati oleh semua rakyat Panyidagan, para Menteri, Patih, serta para penggawa kami semuanya sangat setia. Hanya ada satu yang belum terpenuhi oleh diri saya. Saya ingin mempunyai keturunan untuk melanjutkan kerajaan Panyidagan ini. Pilihan yang paling sesuai untuk menjadi suamiku, hanyalah engkau seorang diri. Nah, itulah sebabnya syaratnya! Bagaimana, apakah dapat kamu laksanakan?"

"Ampun Tuan hamba, syarat ini terlalu berat. Bukan tidak mengagumi kecantikan Tuan Putri dan menurut perasaan hamba tidak ada yang tidak tertarik oleh kecantikan Tuanku. Bukan hamba menolak anugerah Tuan Putri ini, hanya ada rintangan yang sangat berat yaitu hamba ini sudah mempunyai istri. Dan lagi menurut agama hamba tidak baik mencintai orang yang sudah punya istri."

Sesudah Ratu Ayu Panyidagan mendengar jawaban Pangeran Muhammad, beliau sangat murka ditolak oleh pemuda itu. Beliau berteriak memanggil Patih. "Patih, tangkap orang ini, masukkan ke dalam penjara, jangan sampai dapat kembali ke Cirebon. Obat yang berupa buah maja tidak dapat dimilikinya dan dibawanya ke Cirebon, bahkan kebunnya pun kuhancurkan sampai akar-akarnya.

Kemudian pergilah Ratu Panyidagan ke dalam kaputren. Tidak berapa lama langit mendung, makin lama makin gelap, dan turunlah hujan yang sangat derasnya, sehingga orang-orang masuk ke rumah masing-masing karena merasa sangat takut oleh hujan yang sangat deras itu. Keesokan harinya langit cerah  dan matahari bersinar menyinari alam semesta. Rakyat Panyidagan akan pergi mencari nafkah untuk keperluan sehari-hari. Semua orang terpaku melihat keadaan daerah Panyidagan yang berubah, kaputren menghilang beserta Ratu Panyidagan. Kebun Maja yang lebat itu hilang tanpa bekas. Semua rakyat ribut sambil berteriak, "Gusti Ratu menghilang, maja................... langka, maja .................. langka, majalangka ......!" sejak itu timbul sebutan majalangka, yang sekarang terkenal dengan nama Majalengka.

Kemudian Pangeran Muhammad yang diutus Sinuhun Jati mencari buah maja lagi, akan tetapi tidak berhasil karena buah maja sudah tidak ada, kemudian ia bertapa di gunung Haur sampai meninggal. Jenazahnya dikebumikan di sana. Sejak itu Gunung Haur terkenal dengan nama Margatapa. Demikianlah asal muasal daerah Majalengka di Propinsi Jawa Barat.


Sumber 
Buku cerita rakyat Indonesia Super lengkap 33 Propinsi
Diceritakan kembali oleh : Daru Wijayanti 
Ilustrasi : Ganjar Darmayekti 
Penerbit : New Diglossia (Yogyakarta), 2011
Read More

Post Top Ad